Biodiesel Bukan Sekadar Bahan Bakar, Tapi Jantung Ekonomi dan Solusi Iklim Indonesia
Di tengah perdebatan panjang mengenai masa depan industri sawit dan transisi energi, sebuah temuan ilmiah terbaru dari Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan perspektif yang sangat krusial. Disertasi doktoral Gusti Artama Gultom yang dipertahankan pada 22 Desember 2025 menunjukkan bahwa biodiesel bukan sekadar kebijakan energi hijau, melainkan instrumen ekonomi vital yang menentukan kesejahteraan jutaan petani dan stabilitas harga sawit nasional.
Bagi Indonesia, biodiesel adalah “jembatan” yang menghubungkan kedaulatan ekonomi di tingkat hulu dengan komitmen lingkungan di tingkat global. Saatnya kita percaya bahwa biodiesel adalah kunci untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060 tanpa mengorbankan nasib rakyat kecil.
Biodiesel sebagai Perisai Ekonomi Petani
Selama ini, banyak yang melihat biodiesel hanya dari kacamata teknis mesin atau emisi. Namun, riset Gusti Gultom dengan pendekatan ekonometrika Vector Error Correction Model (VECM) membuktikan secara ilmiah bahwa kebijakan biodiesel domestik berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga Crude Palm Oil (CPO) internasional.
Sebagai produsen terbesar di dunia, kebijakan Indonesia menyerap CPO untuk biodiesel secara otomatis mengurangi pasokan ekspor global, yang pada gilirannya mendongkrak harga internasional. Efek domino ini paling dirasakan oleh petani sawit rakyat. Peningkatan produksi biodiesel terbukti meningkatkan harga Tandan Buah Segar (TBS). Biodiesel berfungsi sebagai shock absorber (peredam kejut); ketika harga global jatuh, permintaan domestik untuk biodiesel tetap menjaga agar pendapatan petani tidak hancur. Inilah bentuk nyata dari kedaulatan ekonomi yang berpihak pada rakyat.
Pemimpin Global dalam Transisi Energi Nabati
Jika kita melihat peta dunia, Indonesia kini berdiri tegak sebagai pemimpin. Dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengembangkan bioenergi, langkah mandatori Indonesia adalah yang paling progresif:
- Indonesia: Sukses dengan B35 dan kini bergerak menuju B50 di tahun 2026 dengan alokasi mencapai 15,65 juta kiloliter (ESDM, 2025).
- Brasil: Menerapkan mandatori B14-B15, berfokus pada integrasi energi dan agrikultur.
- Malaysia: Tetangga terdekat kita mengimplementasikan B20 untuk menstabilkan harga pasar.
Indonesia membuktikan bahwa kita mampu melampaui standar dunia. Data dari Kementerian ESDM tahun 2025 mencatat bahwa penggunaan biodiesel telah berhasil menekan emisi gas rumah kaca hingga 32,2 juta ton CO2 ekuivalen. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti kontribusi nyata Indonesia dalam mendinginkan bumi.
Tantangan 2045: Menghindari Konflik Pangan vs Energi
Meski optimistis, kita harus waspada. Riset IPB tersebut juga memberikan peringatan dini. Pada tahun 2045, produksi CPO diproyeksikan mencapai 60 juta ton, sementara kebutuhan domestik (pangan + biodiesel) diperkirakan mencapai 50 juta ton. Jika produktivitas lahan tidak ditingkatkan sekarang, resiko benturan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan menjadi nyata.
Oleh karena itu, kebijakan biodiesel tidak boleh berdiri sendiri. Harus ada integrasi dengan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan peningkatan rendemen pabrik. Kita harus memproduksi lebih banyak di lahan yang sudah ada, bukan dengan membuka lahan baru.
Panggilan Aksi untuk Generasi Muda
Sebagai pemilik masa depan, generasi muda Indonesia harus mengambil peran aktif dalam mengawal transisi ini:
- Dukung Inovasi Hulu: Jadilah bagian dari riset pertanian untuk meningkatkan produktivitas sawit rakyat agar tantangan 2045 bisa teratasi.
- Lawan Stigma Negatif: Gunakan data ilmiah (seperti hasil disertasi IPB ini) untuk mengedukasi publik bahwa biodiesel sawit adalah solusi strategis, bukan musuh lingkungan.
- Kawal Kebijakan Berkelanjutan: Pastikan pemerintah tetap menjaga transparansi dalam penyaluran dana agar manfaatnya benar-benar sampai ke tangan petani kecil, bukan hanya industri besar.
Biodiesel adalah bukti nyata kedaulatan bangsa. Ia adalah instrumen yang menyelamatkan devisa negara sebesar Rp 139 triliun. Menyerap 1,9 juta tenaga kerja, dan menjaga langit kita tetap biru. Dengan dukungan seluruh elemen bangsa, terutama generasi muda, biodiesel akan mengantar Indonesia menuju kemandirian energi dan NZE 2060 dengan martabat ekonomi yang kuat.

