Pelita Air Resmi Terbang Pakai Bioavtur SAF Dari Minyak Jelantah

| Articles, News
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Pelita Air Resmi Terbang Pakai Bioavtur SAF Dari Minyak Jelantah. Sumber: Detik

Pelita Air Terbang Pakai SAF

Tonggak sejarah baru dalam transisi energi Indonesia telah ditorehkan. Pertamina secara perdana meluncurkan dan menyalurkan Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar ramah lingkungan yang diproses dari minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO). Penerbangan bersejarah yang menggunakan SAF ini dioperasikan oleh Pelita Air dengan rute Jakarta-Bali pada Rabu (20/8/2025).

Langkah progresif ini memperkuat komitmen Indonesia dalam dekarbonisasi sektor aviasi dan mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2050.

Ekonomi Sirkular dan Peran Strategis Pertamina

Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, menegaskan peran Pertamina tidak hanya sebagai distributor, tetapi juga sebagai penyedia bahan baku utama. Minyak jelantah (UCO) yang menjadi bahan baku SAF ini dikumpulkan langsung dari masyarakat, termasuk rumah tangga, restoran, hingga usaha kecil.

“Kami memastikan distribusi Pertamina SAF berjalan dengan baik sehingga penerbangan perdana ini dapat terlaksana dengan lancar,” kata Mars Ega. Beliau menekankan bahwa upaya ini tidak hanya memperkuat ekosistem energi berkelanjutan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif masyarakat, sehingga menghadirkan ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi.

“Dengan cara ini, pengembangan ekosistem Pertamina SAF tidak hanya mendukung transisi energi. Tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat,” tambahnya, menunjukkan bahwa bioavtur ini memiliki dimensi sosial-ekonomi yang mendalam.

SAF Sebagai Instrumen Geopolitik dan Ketahanan Nasional

Inovasi SAF ini dilihat lebih dari sekadar pencapaian teknis. Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, menegaskan bahwa Pertamina SAF telah menjadi instrumen strategis dalam geopolitik dan diplomasi energi Indonesia di tingkat global.

“Pertamina Group harus menjadi pelopor. Seharusnya kita sebagai negara yang mampu, yang pertama dan satu-satunya di ASEAN yang membuat SAF sendiri bisa memiliki hak dalam konteks riset, pemasaran, dan kebijakan. Indonesia itu punya aset untuk menjadi pemimpin di kawasan global,” ujar Havas.

Pengembangan SAF ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan Asta Cita di bidang ketahanan dan kemandirian energi, serta swasembada. Pertamina SAF juga telah naik kelas karena memiliki sertifikasi keberlanjutan yang diakui global, memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional.

Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur & Pembangunan Kewilayahan, Odo R.M. Manuhutu, menambahkan bahwa langkah selanjutnya yang penting adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat ekosistem SAF global.

“Kita memenuhi komitmen Net Zero Emission di sektor aviasi pada 2050. Peta jalan SAF ini adalah salah satu upaya kita mencapainya. Harapannya nanti Indonesia bukan hanya pengguna, tapi juga pusat inovasi. Tujuannya menjadikan Indonesia benar-benar pusat, Indonesia harus menjadi nomor satu paling tidak di Asia Tenggara,” pungkas Odo.

Penyaluran perdana Pertamina SAF ini menandai babak baru bagi Indonesia. Indonesia memimpin inovasi bioenergi dan membuktikan bahwa komitmen iklim dapat diwujudkan melalui kolaborasi industri dan masyarakat.