Kado Hijau Untuk Libur Natal dan Tahun Baru

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Kado Hijau untuk Libur Natal dan Tahun Baru. Sumber: PNGTree

Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu identik dengan kehangatan berkumpul bersama keluarga, kerlap-kerlip lampu kota, dan tradisi mudik atau berwisata. Namun, dibalik kemeriahan tersebut, terdapat tantangan lingkungan yang masif. Lonjakan mobilitas masyarakat di penghujung tahun memberikan tekanan besar pada konsumsi energi dan emisi karbon nasional. Di sinilah Bahan Bakar Nabati (BBN), seperti biodiesel dan bioavtur, hadir sebagai “kado hijau” yang memungkinkan kita merayakan momen spesial tanpa harus membebani bumi secara berlebihan.

Lonjakan Mobilitas dan Tantangan Emisi Natal dan Tahun Baru

Berdasarkan data proyeksi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI, pergerakan masyarakat pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 diperkirakan mencapai lebih dari 110 juta orang di seluruh Indonesia. Angka ini mencerminkan peningkatan aktivitas transportasi darat, laut, dan udara secara signifikan.

Masalahnya, sektor transportasi secara historis merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar kedua di Indonesia. Penggunaan solar fosil dalam skala besar selama liburan panjang berpotensi meningkatkan konsentrasi polutan di atmosfer. Tanpa adanya intervensi energi bersih, kegembiraan tahun baru akan dibarengi dengan peningkatan jejak karbon yang mempercepat pemanasan global.

Biodiesel: Penyangga Energi Bersih di Jalur Darat

Dalam menghadapi lonjakan konsumsi bahan bakar di jalur darat, Indonesia telah memiliki benteng pertahanan bernama Mandatori Biodiesel. Saat ini, Indonesia telah sukses mengimplementasikan campuran B35 (35% minyak sawit dalam solar) dan sedang bersiap menuju B40 hingga B50.

Data dari Kementerian ESDM dan GAPKI (2025) menunjukkan bahwa sepanjang tahun ini, penggunaan biodiesel telah berhasil mengurangi emisi hingga 32,2 juta ton CO2 ekuivalen. Saat jutaan kendaraan bergerak membelah jalur Trans-Jawa atau Trans-Sumatra selama libur Nataru, keberadaan biodiesel di setiap liter solar yang digunakan secara otomatis menekan pengeluaran emisi karbon “tua” dari fosil.

Berbeda dengan solar murni, biodiesel bersifat terbarukan dan memiliki karakteristik pembakaran yang lebih sempurna. Artinya, asap knalpot dari bus-bus pariwisata dan truk logistik yang menyalurkan bahan pangan selama Natal menjadi jauh lebih ramah lingkungan. Inilah yang menjaga kualitas udara di daerah tujuan wisata tetap terjaga meskipun terjadi kepadatan kendaraan.

Bioavtur (SAF): Inovasi untuk Liburan Udara yang Berkelanjutan

Tak hanya di darat, revolusi hijau juga merambah ke langit. Libur Nataru seringkali diwarnai dengan penuhnya jadwal penerbangan. Untuk menekan emisi di sektor aviasi, Indonesia melalui Pertamina telah mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau Bioavtur yang berbasis pada minyak inti kelapa sawit (Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil).

Mengutip laporan Pertamina One Solution (2025), pengembangan SAF merupakan langkah strategis untuk memenuhi target Net Zero Emission 2060. Dalam uji coba penerbangan komersial, penggunaan SAF terbukti mampu menurunkan emisi karbon pesawat terbang tanpa memerlukan modifikasi pada mesin. Ini memberikan harapan bahwa di masa depan, perjalanan udara untuk liburan akhir tahun tidak lagi menjadi beban bagi lapisan ozon.

Menuju Natal dan Tahun Baru yang Rendah Karbon: Peran Generasi Muda

Kemandirian energi melalui bahan bakar nabati bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau korporasi besar. Generasi muda memiliki peran kunci untuk memastikan perayaan tahun-tahun mendatang semakin hijau. Beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan adalah:

  1. Memilih Transportasi Umum Berbasis BBN: Menggunakan bus atau moda transportasi yang telah mendukung program biodiesel pemerintah.
  2. Literasi Energi: Memahami bahwa setiap liter bahan bakar nabati yang dikonsumsi adalah kontribusi nyata bagi NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia dalam menurunkan emisi 29-41% pada 2030.
  3. Kampanye Liburan Hijau: Menggunakan kekuatan media sosial untuk menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan destinasi wisata dan memilih energi yang ramah lingkungan.

Perayaan Natal dan Tahun Baru adalah momentum untuk refleksi dan memulai awal yang baru. Dengan mengintegrasikan penggunaan Bahan Bakar Nabati ke dalam sistem transportasi nasional, Indonesia membuktikan bahwa pembangunan ekonomi dan mobilitas masyarakat bisa berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Data penurunan emisi yang konsisten menunjukkan bahwa biodiesel dan bioavtur bukan sekadar tren. Melainkan fondasi utama bagi Indonesia untuk merayakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.