Bagaimana Indonesia Jadi Pionir Biodiesel Sawit Melalui B40

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Bagaimana Indonesia Jadi Pionir Biodiesel Sawit Melalui B40 - Sumber: Kementerian ESDM

Indonesia tidak hanya sedang melakukan transisi energi; Indonesia sedang memimpinnya. Dalam kancah global, nama Indonesia kini menjadi rujukan utama bagi negara-negara yang ingin melepaskan ketergantungan pada bahan bakar fosil melalui pengembangan bahan bakar nabati. Penegasan ini mengemuka dalam ajang 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference and Expo (IPORICE) 2025, di mana Dr. Ir. Soni Solistia Wirawan, M.Eng, peneliti senior dari Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar BRIN, memaparkan bagaimana riset mendalam menjadi fondasi utama keberhasilan biodiesel tanah air.

Keunggulan dan Karakteristik Teknis yang Terus Disempurnakan

Sebagai pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Soni menekankan bahwa biodiesel berbasis sawit memiliki keunggulan komparatif yang signifikan. Selain statusnya sebagai sumber energi terbarukan yang mampu menekan emisi karbon secara drastis, biodiesel memiliki sifat pelumasan (lubricity) yang lebih baik daripada solar fosil. Hal ini membantu memperpanjang umur komponen mesin. Selain itu, kandungan sulfur yang sangat rendah menjadikannya bahan bakar yang jauh lebih ramah lingkungan.

Namun, perjalanan menuju bahan bakar yang sempurna tidaklah instan. Soni mengungkapkan bahwa BRIN terus melakukan riset intensif terhadap beberapa karakteristik teknis biodiesel agar tetap optimal saat digunakan oleh masyarakat luas. Beberapa parameter tersebut antara lain:

  • Hygroscopic (Higroskopis): Kemampuan bahan bakar menyerap air dari udara yang harus dikendalikan agar tidak memicu korosi.
  • Oxidation Stability: Menjaga agar bahan bakar tetap stabil dan tidak mudah teroksidasi selama penyimpanan.
  • Solidification: Memastikan biodiesel tidak membeku atau mengental saat kendaraan berada di suhu rendah atau daerah pegunungan.
  • Solvency: Sifat deterjen biodiesel yang mampu membersihkan endapan di mesin, namun perlu diawasi agar tidak merusak segel (seal) yang tidak kompatibel.

B40: Bukti Nyata Kepemimpinan Dunia

Sejak tahun 2020, Indonesia telah menancapkan standar baru dengan implementasi B40—sebuah tingkat campuran biodiesel yang belum mampu dicapai oleh negara lain manapun. Pencapaian ini membuat Indonesia menjadi laboratorium hidup bagi dunia internasional. Soni menjelaskan bahwa keberhasilan B40 bukan sekadar tentang mencampur bahan bakar, tetapi melibatkan serangkaian pengujian lapangan yang sangat ketat.

BRIN secara rutin melakukan road test yang melibatkan armada kendaraan menempuh jarak hingga 500 kilometer per hari. Setelah mencapai target jarak tertentu, mesin kendaraan tersebut dibongkar secara total (teardown) untuk diperiksa secara detail. Para peneliti melihat apakah muncul kerak karbon pada injektor, bagaimana kondisi ruang bakar, hingga mengevaluasi apakah ada komponen yang mengalami keausan dini. Transparansi data riset inilah yang membangun kepercayaan bahwa biodiesel aman bagi mesin kendaraan modern.

Tiga Faktor Kunci Menuju B50 dan Seterusnya

Menatap masa depan menuju B50, Soni menggarisbawahi tiga faktor krusial yang harus berjalan beriringan. Tiga hal tersebut yakni arga bahan baku, efisiensi proses produksi, dan efektivitas distribusi. Tanpa efisiensi di ketiga lini ini, biodiesel akan sulit bersaing secara ekonomi dengan bahan bakar fosil.

Riset yang dilakukan BRIN saat ini diarahkan untuk menekan biaya operasional produksi tanpa sedikit pun menurunkan kualitas. Soni mengingatkan bahwa setiap kenaikan level campuran—misalnya dari B40 menuju B50—membutuhkan tahapan riset yang lebih kompleks. “Semakin tinggi levelnya, semakin banyak perbaikan yang perlu dilakukan. Produk inovasi harus lebih baik dari yang sudah ada, baik dari segi kualitas maupun nilai ekonomisnya,” tegasnya.

Menjaga Standar dan Kontinuitas Masa Depan

Untuk memastikan program biodiesel berjalan sukses secara nasional, Soni menekankan pentingnya menjaga rantai pasok yang homogen dan akurat. Metode pengujian laboratorium harus tersertifikasi, dan monitoring kualitas di titik-titik penyimpanan harus dilakukan secara berkala. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa bahan bakar yang sampai ke tangki kendaraan masyarakat memiliki kualitas yang sama dengan saat diuji di laboratorium BRIN.

Optimisme Soni menutup diskusi tersebut dengan sebuah pesan kuat: Indonesia sudah membuktikan kemampuannya melalui B40. Dengan inovasi yang konsisten dan dukungan riset yang kuat, langkah menuju level biodiesel yang lebih tinggi bukan lagi sebuah mimpi. Melainkan target yang sangat realistis untuk dicapai demi kemandirian energi nasional.