Strategi Berani Indonesia Menuju Bebas Impor Bensin 2027

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Strategi Berani Indonesia Menuju Bebas Impor Bensin 2027. Sumber: Metro TV

Januari 2026 menjadi saksi pernyataan paling berani dalam sejarah kebijakan energi nasional. Di hadapan Kompleks DPR RI, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan sebuah garis batas yang jelas: Indonesia tidak boleh lagi didikte oleh kepentingan asing melalui ketergantungan impor bahan bakar. Dengan semangat Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, pemerintah kini tancap gas menuju kedaulatan energi total, dengan target ambisius untuk menghentikan impor bensin jadi pada tahun 2027.

Bioetanol E10: Senjata Substitusi Penghemat Devisa

Salah satu pilar utama dalam strategi ini adalah implementasi mandatori E10 (pencampuran 10% etanol ke dalam bensin). Bahlil mengungkapkan angka yang fantastis terkait potensi kebijakan ini. Jika mandatori E10 berjalan penuh, Indonesia mampu memangkas impor BBM hingga 3,9 juta kiloliter (kL) per tahun.

Pengurangan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Penurunan impor sebesar itu berarti penghematan devisa yang masif, yang selama ini menguap ke luar negeri. Etanol diposisikan sebagai substitusi strategis untuk RON 92, 95, dan 98. Namun, menteri menekankan bahwa tantangan besar saat ini adalah meningkatkan produksi etanol dalam negeri agar bahan baku E10 sepenuhnya berasal dari tanah air, bukan justru membuka keran impor baru untuk etanol.

Peta Jalan 2027: Stop Impor Bensin, Fokus pada Minyak Mentah

Visi Bahlil sangat spesifik: per 2027, Indonesia ditargetkan tidak lagi mengimpor produk bensin siap pakai (finished product). Sebagai gantinya, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude oil) untuk diolah di kilang-kilang domestik.

Mengapa strategi ini penting?

  • Nilai Tambah: Pengolahan di dalam negeri memastikan nilai tambah ekonomi tetap berada di Indonesia.
  • Lapangan Kerja: Operasional kilang dan industri bioetanol akan membuka jutaan lapangan kerja baru bagi anak bangsa.
  • Kedaulatan Teknis: Indonesia memiliki kendali penuh atas stok dan kualitas bahan bakar tanpa bergantung pada rantai pasok produk jadi dari negara lain.

“Tahun 2027, tidak boleh kita impor lagi. Saya sudah minta Pertamina, saya pimpin rapat sampai jam 2 malam supaya mampu memproduksi sendiri,” tegas Bahlil, menunjukkan betapa seriusnya pemerintah mengejar target ini.

RDMP Balikpapan: Mesin Utama Kemandirian

Target bebas impor ini bukan sekadar janji politik, karena didukung oleh infrastruktur yang nyata. Peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menjadi tonggak sejarah baru. Kilang raksasa ini diproyeksikan menjadi motor utama kemandirian energi dengan kapasitas produksi solar dan bensin mencapai 5,8 juta kiloliter.

Kehadiran RDMP Balikpapan akan secara drastis mengubah peta energi kita:

  • 2025: Impor BBM masih berkisar antara 24–25 juta kL.
  • 2026: Dengan operasional penuh RDMP, angka tersebut ditargetkan turun tajam menjadi 19 juta kL.
  • 2027: Target eliminasi total impor bensin jadi.

Melawan Dominasi Asing di Sektor Energi

Dalam pernyataan yang penuh emosi dan ketegasan, Bahlil menyebut bahwa ketergantungan impor selama ini seolah “didesain” (by design) agar Indonesia terus bergantung pada pihak asing. Dengan lantang, ia memposisikan dirinya sebagai menteri yang anti-impor.

“Bicara kedaulatan, kedaulatan itu tidak boleh asing mengintervensi kita. Kalau bicara kedaulatan tapi masih berpikir asing, ya percuma, dan saya tidak mau jadi Menteri ESDM yang diatur oleh asing.” Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia bukan sekadar isu lingkungan, melainkan isu harga diri bangsa. Kemandirian energi adalah harga mati yang harus dicapai agar Indonesia tidak mudah diintervensi dalam mengambil kebijakan strategis nasional.

Langkah berani menuju E10 dan optimalisasi kilang RDMP Balikpapan adalah bukti bahwa Indonesia sedang melakukan perlawanan terhadap status quo ketergantungan energi. Dengan target bebas impor bensin pada 2027, Indonesia bersiap menjadi raksasa energi yang mandiri, di mana setiap tetes bahan bakar yang membakar mesin kendaraan rakyatnya adalah hasil dari bumi dan kerja keras bangsa sendiri.