Strategi Mengejar Potensi 83 Juta Ton Biomassa Nasional

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Strategi Mengejar Potensi 83 Juta Ton Biomassa Nasional. Sumber: Satu Platform

Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan transformasi energi yang sangat krusial. Sebagai negara agraris dengan hamparan hutan dan perkebunan yang luas, Nusantara menyimpan harta karun tersembunyi yang belum dimanfaatkan secara optimal: biomassa. Berdasarkan data terbaru, potensi biomassa Indonesia untuk sektor bioenergi diproyeksikan mencapai angka yang fantastis, yakni 83,4 juta ton per tahun. Namun, realita di lapangan menunjukkan sebuah kesenjangan yang lebar; realisasi pemanfaatannya hingga saat ini baru menyentuh angka sekitar 22 juta ton.

Kesenjangan atau gap yang besar ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah peluang emas yang menanti untuk dikelola. Mengoptimalkan sisa potensi sebesar lebih dari 60 juta ton tersebut akan menjadi kunci vital dalam memperkuat kedaulatan energi nasional. Sekaligus menekan emisi karbon secara drastis di sektor ketenagalistrikan.

Pilar Baru Transisi Energi: Peran Strategis PLN EPI

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), sebagai sub-holding yang memegang peranan kunci dalam rantai pasok energi primer, kini tengah mengakselerasi pemanfaatan bioenergi. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan; bioenergi telah ditetapkan sebagai salah satu pilar utama dalam peta jalan transisi energi perusahaan menuju masa depan yang lebih hijau.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam keterangannya pada pertengahan Desember 2025, menjelaskan bahwa tren transisi menuju bioenergi sudah menjadi gerakan masif di kancah global. Negara-negara maju di Eropa Utara dan Tengah, seperti Finlandia, Swedia, dan Austria, telah berhasil membuktikan bahwa bioenergi bisa menjadi tulang punggung sistem energi terbarukan mereka. Keberhasilan negara-negara tersebut dalam mengonversi limbah kehutanan dan pertanian menjadi listrik serta pemanas domestik seharusnya menjadi inspirasi bagi Indonesia.

Hokkop menekankan bahwa saat ini tingkat pemanfaatan biomassa di Indonesia masih sangat rendah. Yakni berada di kisaran lima persen dari total potensi nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa kita memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas. Namun, tantangan terbesarnya bukan pada ketersediaan bahan baku. Melainkan pada pembangunan ekosistem rantai pasok (supply chain) yang tangguh dan berkelanjutan agar pasokan ke pembangkit listrik tetap konsisten.

Pemetaan Wilayah: Sumatra Sebagai lumbung Biomassa

Melalui kolaborasi intensif antara PLN dan pemerintah, pemetaan sumber daya biomassa telah dilakukan di seluruh pelosok negeri. Hasilnya menunjukkan bahwa kontribusi potensi terbesar berada di Pulau Sumatra. Sebagai pusat industri kelapa sawit dunia, Sumatra memiliki limpahan limbah padat. Berupa tandan kosong, cangkang, hingga batang sawit tua yang belum terserap secara maksimal untuk kebutuhan energi.

Selain limbah sawit, sumber biomassa dominan lainnya mencakup limbah kayu dari industri perkayuan serta limbah pertanian seperti sekam padi dan tongkol jagung. Selama ini, sebagian besar limbah tersebut hanya dianggap sebagai residu industri yang tidak memiliki nilai ekonomis tinggi. Bahkan sering kali menjadi beban lingkungan karena dibiarkan membusuk atau dibakar secara terbuka.

Strategi Dekarbonisasi Melalui Program Cofiring

Pemanfaatan bioenergi merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi dekarbonisasi PLN untuk mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Salah satu metode tercepat dan paling efisien yang diterapkan adalah melalui program cofiring. Program ini memungkinkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang saat ini masih menggunakan batu bara untuk mengganti sebagian bahan bakarnya dengan biomassa.

Langkah ini dianggap sangat strategis karena tidak memerlukan pembangunan pembangkit baru dari nol, melainkan mengoptimalkan infrastruktur yang sudah ada. Pemerintah Indonesia sendiri, melalui dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC), telah menetapkan target yang ambisius. Pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030. Target ini dipatok untuk mendukung keberhasilan program cofiring di berbagai PLTU milik PLN Group di seluruh Indonesia.

Membangun Masa Depan yang Berkelanjutan

Pekerjaan rumah ke depan bagi PLN EPI dan pemangku kepentingan lainnya adalah memastikan bahwa ekonomi biomassa ini memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Dengan membangun rantai pasok yang kuat, industri biomassa berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di daerah pedesaan. Mulai dari pengumpulan, pemrosesan, hingga distribusi bahan baku.

Secara keseluruhan, bioenergi berbasis biomassa bukan hanya soal mengganti satu jenis bahan bakar dengan yang lain. Ini adalah soal membangun ekosistem ekonomi baru yang selaras dengan kelestarian alam. Dengan potensi 83,4 juta ton yang dimiliki, Indonesia memiliki modal yang lebih dari cukup untuk berhenti bergantung pada bahan bakar fosil. Saatnya Indonesia mulai memimpin di panggung energi hijau dunia.