{"id":4225,"date":"2020-07-08T07:00:20","date_gmt":"2020-07-08T07:00:20","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4225"},"modified":"2021-05-27T03:58:08","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:08","slug":"lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/","title":{"rendered":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Prokal.co | Selasa, 7 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Lebih\nRamah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (<em>Kelapa Sawit untuk\nKetahanan Energi Nasional)<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menjadi salah satu produsen\nminyak kelapa sawit tertinggi di dunia, Indonesia berpeluang besar memiliki\nketahanan energi yang mumpuni. Tentu jika program mandatori biodiesel terus\ndipercepat. Lima belas tahun silam pemerintah memulai program biofuel. Kala itu\ntersadar kebutuhan minyak tinggi dan sudah mulai impor. Padahal negara ini\nterkenal sebagai produsen minyak. Mengatasi hal tersebut, pemerintahan yang saat\nitu di bawah Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memilih mengembangkan biodiesel\ntahap pertama pada 2005. Pemerintah muncul dengan kebijakan mandatori biodiesel.\nSejak 2006 memulai B5, B10, dan B15. Era Presiden Joko Widodo, program ini\nsemakin diperkuat dengan B20 hingga teranyar tahun ini menjadi B30. Sawit\nsebagai bahan dasar unggulan biodiesel memiliki segudang keunggulan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ketua\nHarian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan<\/strong> menuturkan, biodiesel mampu\nmengurangi ketergantungan impor bahan bakar. Pemakaian bahan bakar di Indonesia\nsekitar 1,4 juta barel per hari. Sedangkan Indonesia menghasilkan hanya 778\nribu barel per hari. Berdasarkan data Aprobi, pengurangan impor minyak solar\nterlihat cukup signifikan sejak empat tahun terakhir. Contoh pada 2017,\nIndonesia mampu mengurangi 2,5 juta kiloliter (kl) atau setara USD 1,1 miliar.\nProyeksi 2020, pengurangan impor solar mencapai 9,6 juta kl atau setara USD 5\nmiliar. Kemudian dari sisi lingkungan, Indonesia telah mengurangi emisi dari\nminyak solar sebesar 45 persen pada 2019. Setara dengan 17,5 juta ton CO2\nequivalent. Artinya biodiesel jauh lebih ramah lingkungan. Lebih tidak beracun\ndibandingkan solar, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih kecil dan\nmengurangi polusi. Serta dampak ekonomi yang terasa begitu besar, tidak bisa\ndipandang sebelah mata oleh komoditas lainnya. Biodiesel mampu menghemat devisa\nsekitar Rp 50 triliun atau setara USD 3,34 miliar pada 2019. Paulus menuturkan\npada era B30, kapasitas saat ini 11,6 juta kl terpasang dari 19 perusahaan.\n\u201cProyeksi tahun ini kapasitas akan bertambah 3,5 juta kl kalau tidak ada\nCovid-19. Tahun selanjutnya bertambah 3 juta lagi,\u201d katanya. Kemudian industri\nini melibatkan 795 ribu tenaga kerja di sektor hulu. Tidak hanya meningkatkan\npendapatan petani, namun sekaligus mengurangi 25 juta ton CO2 equivalent.\nMenariknya, sawit tak hanya bisa dikelola sebagai biodiesel. Potensinya begitu\nluas untuk membuat energi terbarukan lainnya. Misalnya biofuels selain\nbiodiesel, yakni green diesel, green gasoline, dan green avtur. Kemudian\nbiogas, biomass, dan electricity. Dia meyakini, industri ini akan berdampak\nbesar nantinya. Jika industri maju, negara maju, tentu bahan bakar yang\ndibutuhkan akan lebih besar. \u201cSaya sering dengar negara lain mengurangi\nproduksi biofuel, tapi buktinya sampai sekarang produksi bahan bakar nabati\n(BBN) ini selalu bertambah 10 tahun terakhir. Bertambah 100 persen atau dua\nkali lipat,\u201d tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kontribusi\nsawit sebagai ketahanan energi juga bisa terlihat dari program mandatori\nbiodiesel. Plt Asisten Deputi Perkebunan &amp; Hortikultura Kemenko\nPerekonomian Muhammad Saifulloh menjelaskan, sawit mampu mendorong Indonesia\nuntuk mandiri energi. Bahan bakar fosil diganti bahan bakar terbarukan yakni\nsawit. Dalam proyeksi 2020, B30 akan butuh 10 juta kl CPO. \u201cHemat devisa dari\nimpor migas hingga USD 8 miliar atau setara Rp 112,8 triliun,\u201d katanya. Ekspor\nproduk kelapa sawit terus meningkat setiap tahunnya. Ada lima negara importir\nutama sawit di antaranya Tiongkok, Uni Eropa, India, Pakistan, dan Malaysia.\nIni juga bukti potensial besar. Rinciannya volume ekspor sawit 37,1 juta ton\npada 2017. Kemudian meningkat lagi sebesar 40,2 juta ton pada 2018. Selanjutnya\nmeningkat lagi menjadi 42,16 juta ton pada 2019. Hingga April 2020 jumlah\nekspor sebesar 11,45 juta ton. Namun bagaimana pun harga crude palm oil (CPO)\nfluktuatif. Ketika pasar global tujuan andalan ekspor seperti Uni Eropa dan\nTiongkok mengurangi impor, terjadi penurunan demand. Itu membuat stok berlimpah\ndan otomatis CPO tertahan. Dampaknya harga CPO mengalami penurunan cukup\nsignifikan. Program mandatori biodiesel salah satu pilihan untuk membuat\nstabilitas harga. Sejak 2016 -2019 pemerintah menggaungkan B20 dan tahun ini\ngencar B30. Dalam riset James Fry (2013) menyebutkan, program mandatori\nbiodiesel menjadi salah satu instrumen stabilisasi harga CPO. \u201cKarena setiap\npengurangan 1 juta stok CPO akan menaikkan harga CPO sekitar USD 96 per metrik\nton,\u201d jelasnya. Program B30 diproyeksikan akan mengurangi stok 2,8 juta ton CPO\npada 2020. Kini penggunaan biodiesel domestik sudah menyerap 15,49 juta kl.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika\nsaat ini kelapa sawit program masih sebatas fatty acid methyl ester (FAME),\npenggunaan bahan dasar sawit untuk biodiesel masih 20 persen dan 30 persen.\nNamun untuk memastikan sawit sebagai ketahanan energi, pemerintah ke depan\ntelah mempersiapkan program bio-hydrocarbon fuel. Program ini sudah berjalan\npilot project pada 2019. Terdiri dari tiga jenis, yaitu green diesel, green\ngasoline, dan green fuel jet (avtur). \u201cSaat ini masih butuh riset dan\nstandardisasi semacam SNI. Misalnya seperti avtur untuk pesawat terbang butuh\nhigh safety,\u201d jelasnya. Pihaknya telah mempersiapkan industrial vegetable oil\n(IVO). Baik dari sisi teknologi yang membutuhkan penelitian dan pengembangan\nkatalis yang terus berlangsung. Kemudian alokasi perkebunan energi sekitar 8,8\nhektare dari perkebunan kelapa sawit yang sudah ada dan pengembangan varietas\nbibit unggul. Serta insentif untuk berinvestasi pada generasi kedua pengolahan\nindustri kelapa sawit. \u201cSemakin banyak industri hilir membuat nilai tambah\nsemakin banyak yang didapatkan,\u201d ucapnya. Masih dalam menjaga tingkat produktivitas\nkelapa sawit, pemerintah mengeluarkan program peremajaan sawit rakyat (PSR).\nLuas sawit dengan potensi PSR 16,38 juta yang tersebar di 21 provinsi. \u201cPSR ini\nuntuk meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan sawit rakyat dan\nmenyelesaikan masalah legalitas lahan,\u201d tuturnya. Penyaluran dana PSR\nberdasarkan luas lahan 98.935 hektare sebesar Rp 2,47 triliun (Desember 2019).\nBelum lagi, produktivitas sawit tidak perlu diragukan. Komoditas ini memiliki\nkeunggulan dibandingkan BBN lainnya. Sebagai contoh kedelai dengan luas 122\njuta hektare hanya menghasilkan 45,8 juta ton dan produktivitas hanya 0,4 ton\nper hektare. Berbeda jauh dengan sawit hanya dengan luas kebun 16 juta hektare\nsaja mampu menghasilkan 65 juta ton. Terdapat produktivitas 4 ton per hektare.\n\u201cIni akan selalu menjadi propaganda persaingan pasar global selama sawit masih\nmenjadi minyak nabati dengan harga yang bersaing,\u201d tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Besarnya\npotensi sawit juga didukung oleh Bidang Sustainability Gerakan Asosiasi\nPengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Bandung Sahari. Dia mengatakan,\nbiodiesel dari minyak sawit sangat ditakutkan oleh Eropa. Mengingat mereka\nberkomitmen untuk menggunakan seluruhnya biodiesel pada 2030. \u201cTapi biodiesel\nyang paling potensial di dunia hanya dari minyak sawit. Karena dari soya mahal\nluar biasa, begitu pula bunga matahari,\u201d sebutnya. Apabila pada akhirnya mereka\nsemua butuh biodiesel, maka artinya butuh Indonesia untuk mendapatkan minyak\nnabati. \u201cTidak ada minyak nabati lain yang bisa menyaingi sawit. Hanya dengan\nbunga matahari dan rapeseed tidak bisa mencukupi, bahkan kebutuhan pangan di\nEropa. Hanya 75 persen. Sedangkan 25 persen dari soya dan sawit,\u201d ungkapnya.\nSoya pun tidak bisa bersaing dengan sawit karena terlalu mahal. Dalam mencapai\nefektivitas kinerja sawit, butuh peran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa\nSawit (BPDPKS). Bertugas menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana yang\nberasal dari pungutan ekspor sawit. BPDPKS turut berkontribusi dalam kesuksesan\nprogram. Termasuk dalam pengembangan industri sawit berkelanjutan. Caranya memperkuat\nindustri hilir. Mulai dari riset pengembangan program konversi sawit menjadi bio-hydrocarbon\nfuel dan program hilirisasi lainnya. Salah satunya, BPDPKS memberikan dukungan pendanaan\nbiodiesel. Program biodiesel merupakan cara bisa menyerap CPO dalam negeri\nsecara langsung. Terutama menjaga supply dan demand bisa membuat stabilisasi\nharga. \u201cDengan begitu harga TBS akan terjaga. Kami berharap yang menikmati petani\nyang selama ini jual TBS,\u201d ungkap Kepala Dewan Pengawas BPDPKS Rusman Heriawan.\nItu semua yang sudah dirasakan selama konsisten melaksanakan B30. \u201cWalau harga\nturun masih tidak terlalu dalam alias landai dibanding dari solar. Kalau CPO\ndan TBS stabil yang menikmati petani,\u201d tuturnya. Dukungan pendanaan biodiesel\ndari BPDPKS menunjukkan sejumlah kontribusi yang baik. Selama Agustus 2015 \u2013\nDesember 2019, BPDPKS bisa mengurangi gas rumah kaca 20,35 juta.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada\npun penggunaan biodiesel berbahan sawit meningkat sebesar 15,49 juta kl.\n\u201cKontribusi penerimaan pajak negara (PPN) sebesar Rp 3,02 triliun yang masuk\nsebagai penerimaan negara,\u201d tuturnya. Tidak kalah penting penghematan devisa\nmelalui pengurangan impor minyak bumi senilai USD 5,39 miliar. \u201cAwalnya kita\npakai buat impor minyak bumi. Tapi kita mulai pakai sendiri jadi bisa\nmenghemat,\u201d imbuhnya. Saat ini, BPDPKS terus berupaya menciptakan pasar baru\nuntuk produk sawit. Sebab jangan sampai Indonesia kalah dengan negara tetangga.\nArtinya tidak hanya ekspor ke negara unggulan selama ini. \u201cNamun harus mulai\nekspansi ke negara potensial seperti Asia Tengah, Timur Tengah, dan Afrika,\u201d\nbebernya. Sehingga tak sebatas mengandalkan pasar utama yang sudah ada. BPDPKS\nhadir mendukung dengan melakukan sinkronisasi kegiatan promosi dan advokasi.\nTepatnya BPDPKS dan Kementerian Luar Negeri atau lembaga\/instansi terkait\nlainnya. Saat ini permohonan kerja sama kampanye sawit dengan dana BPDPKS\nsecara rutin berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian, Kemenlu, Kemendag, dan\nsebagainya. BPDPKS berperan di bawah 9 peraturan yang menjadi dasar hukum dan\nberbagai kementerian yang menangani badan tersebut. Misalnya Perpres 61 Tahun\n2015. \u201cPenghimpunan dana ditujukan untuk mendorong pengembangan perkebunan\nkelapa sawit yang berkelanjutan atau sustainable palm oil,\u201d ucapnya. Jadi\nsetiap langkah, misi dan program kegiatan yang dilaksanakan BPDPKS harus\nberorientasi pada hal tersebut. Prinsipnya penuh kehati-hatian. \u201cMuruah BPDPKS\nmenjaga sustainable harga untuk industri sawit agar tetap menjadi tumpuan\nperekonomian,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/kaltim.prokal.co\/read\/news\/373862-lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar\/6\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Prokal.co | Selasa, 7 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dorong\nKonsumsi CPO Dalam Negeri, Pengusaha Dukung Pengembangan B100 pada 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengembangan\nB100 yang direncanakan pemerintah berlangsung mulai tahun depan diharapkan bisa\nterwujud. Sebab, hingga saat ini, harga CPO dan tandan buah segar (TBS) kelapa\nsawit masih rentan berfluktuasi. Terlalu bergantung kondisi pasar dunia dan\npermintaan negara pengimpor. Belum lagi banyak dihadapkan dengan kampanye\nnegatif. Dewan Penasihat Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)\nKaltim Azmal Ridwan mengatakan, bila penggunaan bahan bakar nabati dari minyak\nsawit mentah bisa terlaksana ini akan menjadi potensi besar bagi Indonesia dan\nKaltim. \u201cIni akan menjadi kemandirian energi. Karena produksi lokal bisa kami\nakomodasi,\u201d ungkapnya, (5\/7). Azmal menyampaikan, Pertamina telah memiliki\nrencana bakal memproduksi B100 di Kilang Cilacap. Pengusaha tentu menyambut\npositif rencana ini. Apalagi belakangan telah terjadi diskriminasi produk sawit\nIndonesia, terutama di kawasan Uni Eropa. Saat ini produksi CPO Indonesia\nmencapai 40 juta ton. Bila B100 diterapkan maka kita butuh bahan baku CPO 50\njuta ton. \u201cArtinya kita butuh 10 ton lagi. Jika terpenuhi, tentu kita bisa\nmengurangi ekspor dan kita pergunakan sendiri,\u201d ujarnya. Sementara itu, di\nKaltim, hingga April lalu, produksi TBS sawit di Kaltim mencapai 18,4 juta ton,\ndengan produksi minyak sawit mentah (CPO) sebanyak 4,04 juta ton. \u201cJadi, kita\ntidak peduli dengan protes-protes yang diberikan oleh Uni Eropa kepada produk\nCPO kita,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia\nmengatakan, permasalahan dalam sawit bukan lagi soal penghentian pembelian CPO\noleh Uni Eropa. Lebih dari itu, masalah yang segera harus diperbaiki adalah\nsoal tata kelola. Menurut dia, hingga saat ini masalah yang ada di kalangan\npetani adalah soal legalitas dan adanya lahan petani masuk tata ruang atau\nkawasan hutan. \u201cPemerintah daerah, baik itu di tingkat provinsi ataupun\nkabupaten kota serta seluruh stakeholder dalam sawit ini harus bersinergi,\u201d\nkatanya. Hingga kini, sambungnya, Pemprov terus fokus dalam percepatan program\nperemajaan tanaman kelapa sawit perkebunan Kaltim. Dengan diterapkannya B100,\nmaka masa depan kelapa sawit Indonesia akan tetap cerah. \u201cFluktuasi harga di\nsubsektor perkebunan dan pertanian itu biasa. Tidak perlu khawatir, bahkan\nbisnis benih sawit pun masih cerah,\u201d katanya. Sejauh ini, B20 dan B30 sudah\ndigunakan untuk BBM. \u201cKami tunggu B100,\u201d serunya. Kepala Dinas Perkebunan\nKaltim Ujang Rachmad menyebutkan, luasan lahan potensial di Bumi Etam untuk\nkegiatan usaha subsektor perkebunan mencapai 3,26 juta hektare. Ini setara\ndengan 25 persen dari luas daratan Kaltim. Sedangkan total luas realisasi tanam\nuntuk seluruh komoditas perkebunan mencapai 1,38 juta hektare. Jumlah tersebut\nterdiri atas komoditas kelapa sawit seluas 972.522 hektare. Sisanya sekitar\n415.850 hektare untuk berbagai komoditas perkebunan. \u201cHingga saat ini masih\nterdapat perusahaan pemegang izin lokasi sebanyak 380 izin dengan luas 2,82\nhektare. Pemegang izin usaha perkebunan 336 izin seluas 2,55 hektare dan hak\nguna usaha 204 izin seluas 1,19,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/kaltim.prokal.co\/read\/news\/373857-dorong-konsumsi-cpo-dalam-negeri-pengusaha-dukung-pengembangan-b100-pada-2021.html\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Medcom.id | Selasa, 7 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah\nDiminta Komitmen Kembangkan Energi Terbarukan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Majelis\nPermusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) mendorong pemerintah agar\ntetap berkomitmen dalam pengembangan energi terbarukan di tengah merosotnya\nharga energi fosil, seperti mengembangkan pengganti energi fosil biodiesel\nB-30. Hal itu penting guna mewujudkan ketahanan energi guna menyokong aktivitas\nperekonomian Tanah Air. Hal itu diungkapkan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo\nlantaran merosotnya harga energi fosil, seperti harga minyak dan batu bara\nsebagai salah satu dampak dari pandemi covid-19. Ia mengingatkan pemerintah,\nmeskipun situasi tersebut diprediksi hanya sementara, pemerintah tetap harus\nfokus. &#8220;Dan berupaya untuk melakukan langkah-langkah yang tepat dalam\nmemenuhi target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi nasional pada\n2025,&#8221; kata Bamsoet, sapaan akrabnya, seperti dikutip Selasa, 7 Juli 2020.\nIa juga mendorong pemerintah dan PT Pertamina berkomitmen agar tidak dengan\nmudah mengubah kebijakan, meskipun saat ini harga energi fosil sedang murah,\ndikarenakan ketidakkonsistenan pemerintah dapat berdampak pada ketidakpastian\nbagi investor yang berinvestasi dalam pengembangan energi baru dan terbarukan\ndi Indonesia. &#8220;Mendorong pemerintah dan pemerintah daerah dapat\nmengoptimalkan dan meningkatkan pemanfaatan potensi energi di wilayahnya\nmasing-masing, sehingga tercipta ketahanan energi di Indonesia,&#8221; ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian,\nia meminta pemerintah dapat berinovasi dan menentukan langkah strategi seperti\nmembangun pembangkit listrik tenaga surya dalam skala besar, dan membangun\ntenaga listrik dengan memanfaatkan kekuatan angin, sehingga diperoleh harga\nyang kompetitif. Lebih lanjut, dirinya mengingatkan pemerintah selalu mampu\nuntuk menghadapi persoalan-persoalan yang muncul dengan mempersiapkan strategi\ndan langkah yang tepat. &#8220;Khususnya selama pandemi covid-19, sehingga tetap\ntercipta penguatan industri,&#8221; tuturnya. Sementara itu, sepanjang\n2015-2019, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas\nBumi (SKK Migas) mampu menjaga target produksi migas nasional di atas target\nyang ditetapkan di dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). &#8220;Dengan\ncapaian produksi di atas RUEN, volume minyak yang perlu diimpor Indonesia dapat\nditekan sehingga membantu mengurangi defisit anggaran pemerintah,&#8221; kata\nKepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Berdasarkan RUEN 2015, Indonesia memposisikan\ndiri berada dalam masa transisi energi menuju era Energi Baru dan Terbarukan\n(EBT). Hal ini terlihat dari persentase bauran energi, EBT yang semakin\nmeningkat setiap tahunnya, sedangkan untuk porsi dari migas semakin turun.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun\ndemikian, realita secara nominal kebutuhan energi migas semakin meningkat\nsetiap tahun meskipun secara persentase penggunaan energi fosil diharapkan\nmenurun. Berdasarkan data tersebut, tanpa adanya peningkatan produksi migas\nnasional maka gap antara produksi dan konsumsi akan semakin besar sehingga\nberdampak pada defisit anggaran yang semakin besar. Dwi mengatakan saat ini\nIndonesia masih memiliki potensi migas yang besar mengingat masih terdapat 128\ncekungan. Dari jumlah tersebut 68 di antaranya belum dieksplorasi. &#8220;Kami\nbersama KKKS berupaya memaksimalkan potensi ini, untuk itu SKK Migas telah\nmencanangkan rencana jangka panjang produksi satu juta barel minyak per hari\n(bopd) pada 2030, visi ini diciptakan karena kami optimistis dengan potensi\nmigas Indonesia,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/m.medcom.id\/ekonomi\/bisnis\/dN609ERk-pemerintah-diminta-komitmen-kembangkan-energi-terbarukan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Gridoto.com | Selasa, 7 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cegah\nAir Muncul di Tangki Bahan Bakar Mobil Diesel, Simpel Banget Sob<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cegah\nkandungan air muncul di tangki bahan bakar mobil diesel, ternyata cukup simpel\nSob. Bahan bakar diesel cenderung menyerap kandungan air cukup banyak, terutama\nkualitas jelek dengan angka cetane rendah. Tentu kandungan air ini kalau sampai\nmasuk ke sistem pembakaran mesin diesel bisa memicu kerusakan yang cukup\nserius. &#8220;Sebenarnya gampang, jangan biarkan tangki bahan bakar mobil\nselalu kosong apalagi dalam jangka waktu cukup lama,&#8221; buka Tri\nYuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara\nInstitut Teknologi Bandung kepada GridOto.com. Menurut Tri, dengan kondisi\ntangki bahan bakar kosong berarti akan ada rongga yang terisi oleh udara.\n&#8220;Bahan bakar yang terpapar udara akan bereaksi sehingga terjadi kondensasi\ndi dalam tangki dalam jangka waktu tertentu,&#8221; terang Tri. Lanjut Tri,\nselama proses kondensasi akan terjadi perubahan molekul air dari udara dan\nbahan bakar menjadi embun sehingga membentuk lapisan baru kandungan air di\ntangki bahan bakar. &#8220;Udara itu kan mengandung unsur oksigen, dimana dia\nterdapat molekul air yang berubah menjadi uap air ketika terjadi\nkondensasi,&#8221; tambah Tri. Untuk itu Tri menyarankan untuk selalu mengisi tangki\nbahan bakar dalam kondisi penuh jika sudah mulai kosong. &#8220;Bukan karena faktor\nkerusakan, tapi semakin sedikit udara di dalam tangki kemungkinan bereaksi dengan\nbahan bakar juga jadi lebih kecil,&#8221; ujar Tri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gridoto.com\/read\/222229918\/cegah-air-muncul-di-tangki-bahan-bakar-mobil-diesel-simpel-banget-sob\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Gridoto.com | Selasa, 7 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Waspada\nDeposit yang Bikin Mampat Injektor Mobil Mesin Diesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Waspada\nterhadap gejala deposit yang bisa bikin mampat injektor mobil dengan mesin\ndiesel. Salah satu komponen vital pada mobil mesin diesel adalah injektor yang\ndilengkapi dengan valve injector untuk mengatur suplai bahan bakar ke ruang\nbakar mesin. Tentu injektor mesin diesel cukup sensitif terhadap kualitas bahan\nbakar diesel yang digunakan untuk hasil pembakaran yang optimal. &#8220;Bahan\nbakar diesel mengandung partikel kotoran dari sulfur yang menjadi penyebab\ninjektor tersumbat,&#8221; buka Nurcholis, National Technical Leader PT\nToyota-Astra Motor dalam acara NGOVI bertema &#8220;Pakai BBM Rekomendasi\nPabrikan, Untung atau Buntung?&#8221; yang digelar GridOto.com (27\/6). Lanjut\nNurcholis, penyumbatan injektor mesin diesel akibat partikel kotoran sulfur\nbahan bakar diesel disebut dengan deposit. &#8220;Deposit terjadi pada saat\nmesin mobil dimatikan, masih ada sisa bahan bakar dari aliran common rail di\ndalam injektor,&#8221; terang Nurcholis. Tambah Nurcholis, injektor yang berisi\nbahan bakar masih dalam kondisi panas lama-lama menjadi dingin dan terjadi\noksidasi. &#8220;Oksidasi memicu deposit karena sisa partikel kotoran yang larut\ndi bahan bakar mengering di dalam injektor,&#8221; ujar Nurcholis. Sewaktu mesin\ndihidupkan kembali, partikel ini kembali terdorong tekanan bahan bakar dan\nmenumpuk di ujung injektor. &#8220;Penyemprotan bahan bakar ke ruang bakar jadi\nterhambat dan mengganggu pembakaran mesin karena kotoran sudah menjadi\nkerak,&#8221; tekan Nurcholis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gridoto.com\/read\/222229991\/waspada-deposit-yang-bikin-mampat-injektor-mobil-mesin-diesel\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prokal.co | Selasa, 7 Juli 2020 Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) Menjadi salah satu produsen minyak kelapa sawit tertinggi di dunia, Indonesia berpeluang besar memiliki ketahanan energi yang mumpuni. Tentu jika program mandatori biodiesel terus dipercepat. Lima belas tahun silam pemerintah memulai program biofuel. Kala itu tersadar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4225","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Prokal.co | Selasa, 7 Juli 2020 Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) Menjadi salah satu produsen minyak kelapa sawit tertinggi di dunia, Indonesia berpeluang besar memiliki ketahanan energi yang mumpuni. Tentu jika program mandatori biodiesel terus dipercepat. Lima belas tahun silam pemerintah memulai program biofuel. Kala itu tersadar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-08T07:00:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional)\",\"datePublished\":\"2020-07-08T07:00:20+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/\"},\"wordCount\":2715,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/\",\"name\":\"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-07-08T07:00:20+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:08+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI","og_description":"Prokal.co | Selasa, 7 Juli 2020 Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) Menjadi salah satu produsen minyak kelapa sawit tertinggi di dunia, Indonesia berpeluang besar memiliki ketahanan energi yang mumpuni. Tentu jika program mandatori biodiesel terus dipercepat. Lima belas tahun silam pemerintah memulai program biofuel. Kala itu tersadar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-07-08T07:00:20+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:08+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"14 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional)","datePublished":"2020-07-08T07:00:20+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/"},"wordCount":2715,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/","name":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional) - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-07-08T07:00:20+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:08+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/lebih-ramah-lingkungan-kurangi-ketergantungan-impor-solar-kelapa-sawit-untuk-ketahanan-energi-nasional\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lebih Ramah Lingkungan, Kurangi Ketergantungan Impor Solar (Kelapa Sawit untuk Ketahanan Energi Nasional)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4225","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4225"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4225\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4946,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4225\/revisions\/4946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4225"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4225"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4225"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}