{"id":4235,"date":"2020-07-14T05:18:29","date_gmt":"2020-07-14T05:18:29","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4235"},"modified":"2021-05-27T03:58:08","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:08","slug":"biodiesel-oke-next-bensin-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/","title":{"rendered":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a>\n| Senin, 13 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sukses dengan B20 dan B30 yang on the way, kelapa sawit\nkembali menunjukkan &#8220;taringnya&#8221; sebagai sumber energi terbarukan\ndalam bentuk bensin\/gasoline. Sebagai salah satu jenis BBM (Bahan Bakar Minyak)\nyang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, konsumsi bensin Indonesia pada\ntahun 2018 tercatat sebanyak 34,15 juta kiloliter. Kementerian ESDM\nmemperkirakan, konsumsi bensin Indonesia pada 2020 mencapai 40 juta kiloliter\ndan pada 2025 mencapai 43,15 juta kiloliter. Namun masalahnya, jika konsumsi\nbahan bakar fosil meningkat, berarti volume impor terhadap bahan bakar tersebut\njuga akan meningkat. Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia akan makin\nterkuras dan kontribusi emisi karbon CO2 akibat penggunaan bahan bakar fosil\njuga akan meningkat. Berbekal kondisi tersebut, pengembangan bahan bakar nabati\nsebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan menghemat devisa\nnegara perlu digalakkan. Jika biodiesel dari minyak sawit dapat menjadi\nsubstitusi diesel fosil, bioethanol dari kelapa sawit dapat menjadi substitusi\nbensin\/gasoline. Mengutip data PASPI, bioethanol merupakan etanol (etil\nalkohol) yang proses produksinya menggunakan bahan baku alami dan proses\nbiologi yakni melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Sejak\ntahun 2006, Indonesia sudah mengembangkan bioethanol yang berasal dari tebu,\njagung, dan singkong. Seiring berjalannya waktu, biomassa sawit seperti batang\ndan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) juga berpotensi untuk dapat dijadikan sebagai\nsumber bahan baku bioethanol.<\/p>\n\n\n\n<p>Batang sawit memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi yakni\nmencapai 86,03 persen, sedangkan TKKS mengandung selulosa sebanyak 41,3\u201341,6\npersen, 25,3\u201333,8 persen hemiselulosa, dan lignin 27,6\u201332,5 persen. Kandungan selulosa\ninilah yang nantinya akan direduksi melalui proses kimiawi untuk\ndifermentasikan menjadi bioethanol. Hasil penelitian Badger (2002), jika PKS\n(pabrik kelapa sawit) dengan kapasitas produksi 60 ton TBS (tandan buah segar)\nper jam dengan total jam operasi 20 jam per hari, 300 hari per tahun\nmenghasilkan TKKS sekitar 300 ton per hari atau sekitar 90.000 ton per tahun,\npotensi etanol yang dihasilkan yakni 45.300 liter per hari atau sekitar 13,95\njuta liter per tahun. Selain selulosa, potensi etanol yang dapat dihasilkan\ndari hemiselulosa TKKS di Indonesia adalah 844,6 juta liter per tahun atau 2,82\njuta liter per hari, sedangkan potensi yang sama dari PKS berkapasitas 60 ton\nTBS per jam adalah 3,2 juta liter per tahun atau 0,01 juta liter per hari. Tidakkah\nsangat dahsyat potensi bioethanol kelapa sawit tersebut? Jika konsumsi bensin\nIndonesia pada 2025 diperkirakan sebanyak 43,15 juta kiloliter, dengan potensi\nbioethanol yang ada, bukankah Indonesia dapat terlepas dari ketergantungan\nbensin\/gasoline fosil?<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read294489\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jawapos.com | Senin, 13 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penerapan Euro4 Ditunda 2022, Isuzu Dukung Aturan Pemerintah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai partner bisnis pengusaha truk, PT Isuzu Astra Motor\nIndonesia (IAMI) siap menyambut kebijakan Euro4 meskipun ditunda pada 2022\nkarena dampak pandemi Covid-19. Isuzu menjamin kendaraannya sudah sejak lama\nmengadopsi teknologi Euro4. Kendaraan Isuzu saat ini juga telah siap\nmengonsumsi bahan bakar B30 (biodiesel) dengan tetap melakukan perawatan\nberkala. \u201dSejak pemerintah memutuskan Indonesia harus mengimplementasikan Euro\n4 dan B30, kami langsung bergerak cepat, mengonsolidasikan semua engineer,\ntermasuk bekerja sama dengan prinsipal kami di Jepang, untuk segera\nmempersiapkan produk yang sesuai,\u201d ujar Presiden Direktur IAMI Ernando Demily\nsaat webinar Rising the Future in the Middle of Pandemic, Senin (13\/07). Dia mengakui\nbahwa menyesuaikan kendaraan dengan standar Euro4 serta mampu mengkonsumsi\nbahan bakar B30 merupakan kasus menantang. \u201dKita harus comply terhadap Euro4.\nTapi pada saat yang bersamaan, pemerintah juga meminta kita comply dengan B30.\nAlhamdulillah sekarang Isuzu bisa declare bahwa kami siap mengimplementasikan\nEuro4 dan juga B30,\u201d tegasnya. Isuzu sejak lama sudah mengimplementasikan\nteknologi Euro 4. \u201dSalah satu persyaratan kendaraaan Euro4 adalah menggunakan\nmesin common rail. Sejak 2011, Isuzu memperkenalkan kendaraan common rail yang\nkita kenal dengan nama Isuzu GIGA dan Isuzu ELF. Tentu kami sudah siap Euro4,\u201d\ntegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait penjualan di era new normal, Ernando menjelaskan bahwa\npihaknya mengadopsi strategi 4R. Yakni, reaction, recession, rebound, dan\nreimagine. Banyak organisasi hanya berfokus pada strategi reaction, namun\nmelupakan tiga hal lainnya. \u201dPada reaction, yang menjadi prioritas kami\ntentunya keselamatan dan kesehatan insan Isuzu dan semua pihak yang terkait,\ntermasuk diler dan supplier. Lalu, di tahap recession yang pertama kita lakukan\nadalah melakukan manajemen cash flow dengan ketat,\u201d ungkapnya. Pada fase\nrebound, pihaknya memperkirakan bisnis tidak akan kembali normal. \u201dKita tata\nulang lagi segmen-segmen apa yang akan tetap tumbuh dan berkembang di era new\nnormal ini. Tentunya seiring dengan perubahan customer behavior,\u201d tambahnya.\nPada saat bersamaan, Isuzu juga melakukan pendekatan dengan reimagine. Menurut\nErnando, pada saat customer behavior berubah, Isuzu juga harus mengadopsi cara\nkerja yang sesuai. Salah satunya melakukan pertemuan secara webinar. General\nManager Marketing Isuzu Astra Motor Indonesia Attias Asril menambahkan, sejak\npembatasan sosial skala besar (PSBB) dilonggarkan, ternyata penjualan kendaraan\nkomersial rebound lebih cepat jika dibandingkan dengan kendaraan nonkomersial\n(passengers). Meski begitu, pihaknya optimistis pasar akan kembali berangsur\nmembaik seiring kembali bergeraknya sektor logistik dan jasa pengiriman.\u201dUntuk\npasar Jawa Timur sampai dengan Mei market share Isuzu sudah 31,4 persen. Khusus\ndi Surabaya bahkan hamper 50 persen,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-jawapos-com\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.jawapos.com\/oto-dan-tekno\/otomotif\/13\/07\/2020\/penerapan-euro4-ditunda-2022-isuzu-dukung-aturan-pemerintah\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Senin, 13 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Indonesia Imposes Biodiesel Program to Fight Smear Campaign\nAgainst Palm Oil in EU<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia hopes its mandatory biodiesel program will help counter\nthe flak its palm oil industry is taking from media and authorities in the\nEuropean Union. Palm oil exports reached $154.9 million in 2019, accounting for\n22.4 percent of the country&#8217;s total exports. But the industry continues to\nsuffer the impact of the black propaganda perpetuated to keep the commodity&#8217;s\nprice unstable in the export market, according to the Indonesian Oil Palm\nEstate Fund (BPDP-KS). \u201cThe negative campaign is one of the causes of the low\nselling price of Indonesian palm oil products,\u201d said BPDP-KS Supervisory Board\nChairman Rusman Heriawan during a webinar on Monday, June 29. The smear\ncampaign, Rusman said, touched on deforestation, a carbon footprint that was\nconsidered high, the welfare of the palm oil farmers, and the use of child\nlabor by palm oil companies. He explained that the palm oil industry\ncontributed significantly to providing job opportunities in Indonesia. The\nindustry has recruited more than 22 million workers from upstream to downstream\nactivities. Of this number, about seven million people work in the upstream\nsector, while more than 16 million people in the downstream sector, including\nmanpower who are indirectly related to palm oil.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biodiesel program <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>In the effort to fight the smear campaign and to stabilize the\ncrude palm oil (CPO) price, the government has begun to run the mandatory\nbiodiesel program. The government mandated a 2.5 percent biodiesel mix in 2008\nand gradually increased the biofuel content to 7.5 percent in 2010. Later the\npercentage of biodiesel increased from 10 percent to 15 percent from 2011 to\n2015. Then on January 1, 2016, the government mandated a 20 percent biodiesel\nmix (B20). Now, the government is intensifying the mandatory B30 or biodiesel\nprogram by up to 30 percent. Muhammad Saifullah, Acting Assistant Deputy of\nPlantation and Horticulture at the Coordinating Ministry for Economic Affairs,\nsaid that the mandatory biodiesel program can save up to $6.81 billion in\nforeign exchange reserves and contribute to tax revenues of up to 2.74 trillion\nrupiahs ($190 million). Biodiesel could ralso educe greenhouse gas emissions by\n23.3 million tons of carbon dioxide (Co2), Saifullah added.&nbsp; \u201cThis was\nimplemented under the 2019 program and the ongoing program this year.\u201d&nbsp; He\nfurther added that the smear campaign carried out by the foreign states and\nmedia did not happen for other vegetable oil products such as rapeseed and\nsoybean. As long as the palm oil price remains cheap compared to other\nvegetable oil prices, the negative campaign will continue, he said.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Lawsuit against EU <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>The Indonesian government filed a lawsuit against the European\nUnion for discrimination. The lawsuit was filed with the World Trade\nOrganization (WTO) after the European Commission approved the Renewable Energy\nDirectives II (RED2) which targets the use of renewable energy in the European\nUnion in 2030. The lawsuit was filed because last August the European\nCommission approved the Renewable Energy Directives II (RED2) which targets the\nuse of renewable energy of 32 percent in the European Union in 2030. RED2 has\nstipulated that the plants used for biofuel must not originate from deforested\nareas or are planted on peatlands. In the Delegated Ace (DA) regulation, it\nstated that palm-based biofuel is included in the high-risk Indirect Land Use\nChange (ILUC) criteria which could damage the environment and cause\ndeforestation. The DA criteria will be reviewed in 2021 before it will be revised\nin 2023. Paulus Tjakrawan, Chairman of the Association of Indonesian Biodiesel\nProducers (Aprobi), said that the policy was considered discriminatory because\nthe European Commission\u2019s policy has singled out palm oil, while other\nvegetable oils were excluded. \u201cSoy oil requires land that is eight times\nbigger,\u201d Paulus said. He added that the government and oil palm companies are\nsetting up a panel for the WTO session. The lawsuit was filed following the\nassessment conducted by Indonesia that it had complied with international\nregulations. The lawsuit on the palm oil industry against the European Union\nwas already made before 2018 when the Indonesian palm industry was accused of\nselling at cheaper prices abroad than domestic prices. \u201cAt that time the standard\nused was from Germany. It turned out that Indonesia\u2019s biodiesel could reduce\nemission by more than 50 percent. So the exports reached 1.8 million tons in\n2014,\u201d he said. He said that Indonesia was accused of implementing subsidies\nand selling cheaper palm oil abroad. Indonesia then filed a lawsuit at the WTO\nin 2018. Indonesia was required to reduce the emission not only by 35 percent\nbut almost 50 percent and it was fulfilled, he said.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/go.kompas.com\/read\/2020\/07\/13\/211556974\/indonesia-imposes-biodiesel-program-to-fight-smear-campaign-against-palm-oil-in?page=all#page2\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jawa Pos | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Naik, Konsumsi CPO Domestik (Terkerek Oleokimia dan Biodiesel)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Konsumsi minyak Kelapa Sawit alias crude Palm Oil (CPO) dalam\nnegeri tetap positif. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)\nmenegaskan bahwa pandemi Covid-19 tidak terlalu berpengaruh pada kinerja CPO.\nBahkan, konsumsi pada sektor biodiesel dan oleokimia malah meningkat Direktur\nEksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan bahwa konsumsi minyak sawit pada Mei\n2020 masih positif. Jika dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama\ntahun lalu, ada penurunan tipis. Tepatnya, sekitar 1,6 persen atau menjadi 1,38\njuta ton dari 1,4 juta ton pada April. Konsumsi produk pangan seperti minyak\nmakan dan lainnya turun 8,4 persen atau 61.000 ton. Namun, konsumsi biodiesel\ndan oleokimia naik. &#8220;Konsumsi dalam negeri secara total masih positif di\ntengah berlakunya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Salah satu pemicunya\nadalah konsumsi oleokimia yang naik31,4 persen,&#8221; ujarnya kemarin (13\/7).\nDia menyebutkan bahwa konsumsi biodiesel meningkat 23,2 persen karena adanya\nkebijakan pemerintah terkait dengan implementasi wajib B30. Jika dibandingkan\ndengan Januari-Mei 2019, konsumsi dalam negeri pada periode sama tahun ini\nmencapai 7,3 juta ton atau tumbuh 3,6 persen. Sementara itu, produksi CPO pada\nMei mencapai 3,6 juta ton. Itu turun sekitar 1,9 persen atau kira-kira 67.000 ton\ndaripada bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Januari-Mei 2019, produksi\nCPO dan palm kernel oil (PKO) Januari-Mei 2020 turun 14persen atau sekitar\n19.001 ribu ton. &#8220;Produksi Mei yang lebih rendah dari April 2020 diduga\nkarena efek kemarau panjang 2019 dan pengaruh musiman * jelasnya. Sementara\nitu, mengenai ekspor CPO dan olahannya pada Mei lalu, Gapki mencatat ada\npenurunan sebesar 8,3 persen dari bulan sebelumnya. Tepatnya, menjadi 2,4 juta\nton. Penurunan terjadi pada CPO sebesar 15 persen menjadi 515.000 ton. Olahan\nCPO turun 8,6 persen menjadi 1,46 juta ton. Ekspor PKO dan olahan PKO tumbuh 10\npersen menjadi 142.000 ton dan oleokimia tumbuh tipis 0,3 persen menjadi\n312.000 ton. &#8220;Penurunan ekspor terutama terjadi pada refinedpalm oi\/yang secara\numum disebabkan selisih harga minyak sawit dengan minyak kedelai yang\nkecil,&#8221; ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia lantas memerinci penurunan terbesar ekspor CPO pada Mei\nterjadi pada komoditas tujuan Tiongkok. Penurunannya tercatat 21 persen alias\n87.700 ton. Sementara itu, ekspor ke Uni Eropa (UE) turun 16,62 persen;\nPakistan 23,4 persen; dan India sekitar 9,2 persen. Menurut Mukti, turunnya\nekspor ke Tiongkok dipicu meningkatnya pabrik oilseed crushing, khususnya\nkedelai, yang cukup besar Dengan demikian, pasokan minyak nabati Tiongkok masih\ntinggi. Meskipun rata-rata ekspor turun, trennya naik di beberapa negara.\nMisalnya, naik 81 persen di Mesir, 99 persen di Ukraina, 73 persen di Filipina,\n35 persen di Jepang, dan 85 persen di Oman. Belakangan, kegiatan perekonomian\ndi Tiongkok, India, dan beberapa negara lainnya mulai pulih. Mukti yakin\npermintaan minyak nabati dunia perlahan naik. &#8220;Kegiatan ekonomi Indonesia\njuga sudah mulai pulih sehingga permintaan minyak sawit untuk pangan juga akan\nnaik mengikuti oleokimia dan biodiesel,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jawa Pos | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Olah Tantangan Menjadi Peluang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Persebaran virus SARS-CoV-2 di berbagai belahan dunia menjadi\ntantangan baru bagi dunia usaha. Termasuk logistik. Di berbagai negara, kinerja\nlogistik menurun karena pemerintah berusaha keras menekan wabah global\ntersebut. Akibatnya, bisnis yang berkaitan dengan logistik pun terimbas. Ketua\nAsosiasi Logistik Indonesia (ALI) Jatim Ivy Kamadjaja menyebut transportasi dan\npergudangan sebagai yang paling ter-dampak. Kinerjanya beruban negatif.\n&#8220;Contohnya, sektor angkutan rel terkontraksi 14,98 persen. Lalu,\npergudangan dan jasa penunjang angkutan, pos, dan kurir menurun 9,41\npersen,&#8221; ujarnya dalam webinar bertajuk Rising the Future in The Middle of\nPandemic kemarin (13\/7). Menurut Ivy, kendaraan niaga, khususnya truk, juga\nterdampak signifikan. Penurunan volume angkutnya mencapai 60 persen ketimbang\nkondisi normal. Namun, daripada angkutan penumpang, angkutan kargo masih bisa\nbertahan. Yang penting, para pengusaha harus jeli menangkap peluang. &#8220;Kita\njuga harus mau collab supaya bisnis yang kita bangun tidak sampai\ncollapse&#8221; ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ivy juga menyebut ketidakmerataan infrastruktur, urusan safety,\nkebijakan overdimention overloading (ODOL), dan penerapan Euro4 sebagai\ntantangan industri logistik. &#8220;Terkait Euro4 ini sangat challenging karena\nberhubungan dengan cost&#8221; ungkapnya. Dia menegaskan bahwa rata-rata\nkonsumen tutup mata pada urusan ODOL atau Euro4 karena yang terpenting bagi\nmereka adalah barang cepat sampai. Dalam kesempatan itu, Presiden Direktur PT\nIsuzu Astra Motor Indonesia Ernando Demily menegaskan bahwa demand kendaraan\nniaga tumbuh seiring berkembangnya industri logistik. &#8220;Kontribusi logistik\nterhadap penjualan kendaraan niaga yang semula hanya 25 persen kini menjadi 50\npersen. Salah satu pendorongnya adalah lonjakan transaksi e-commerce&#8221;\nkatanya kemarin. Emando mengakui banyaknya disrupsi pada sektor logistik.\n&#8220;Selain regulasi ODOL, pemerintah me- request kami agar menyediakan\nkendaraan yang bisa menerapkan biodiesel 30 dan Euro4,&#8221; ujarnya. Penerapan\nEuro4 itu akan berdampak pada peningkatan biaya operasional. Kendati demikian,\nIsuzu siap mengimplementasikan Euro4 dan B30 secara bersamaan. Emando berharap\nindustri logistik bisa kembali menggeliat pada kuartal ketiga nanti. Apalagi,\nPSBB sudah longgar dan pemerintah telah menyiapkan anggaran belanja hampir Rp\n700 triliun. &#8220;Kami optimistis penjualan kendaraan niaga lebih cepat\nrebound jika dibandingkan dengan passenger&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kompas | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pembangkit Listrik Tak Efisien Akan Dihentikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah akan menghentikan\nsemua operasi pembangkit listrik tenaga diesel dalam tiga tahun ke depan.\nSelain itu, pembangkit listrik tenaga uap yang sudah berusia tua juga akan\nsegera digantikan dengan teknologi terbaru yang lebih ramah lingkungan. Menteri\nEnergi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan hal itu dalam ajang\nInternationa] Energy Agency (IEA) Clean Energy Transition Summit yang\nberlangsung secara daring pada 9 Juli 2020. &#8220;Di sektor transportasi, kami terus\nmengembangkan bahan bakar nabati jenis biodiesel yang secara bertahap\nmengurangi penggunaan solar. Kami juga membangun kilang hijau guna\nmengoptimalkan pemanfaatan minyak Kelapa Sawit sebagai bahan baku\nbiodiesel,&#8221; kata Arifin dalam keterangan resmi, Jumat (10\/7\/2020).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wartaekonomi.co.id | Senin, 13 Juli 2020 Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? Setelah sukses dengan B20 dan B30 yang on the way, kelapa sawit kembali menunjukkan &#8220;taringnya&#8221; sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk bensin\/gasoline. Sebagai salah satu jenis BBM (Bahan Bakar Minyak) yang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, konsumsi bensin Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 34,15 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4235","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Wartaekonomi.co.id | Senin, 13 Juli 2020 Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? Setelah sukses dengan B20 dan B30 yang on the way, kelapa sawit kembali menunjukkan &#8220;taringnya&#8221; sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk bensin\/gasoline. Sebagai salah satu jenis BBM (Bahan Bakar Minyak) yang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, konsumsi bensin Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 34,15 [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-14T05:18:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?\",\"datePublished\":\"2020-07-14T05:18:29+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:08+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/\"},\"wordCount\":2382,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/\",\"name\":\"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-07-14T05:18:29+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:08+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI","og_description":"Wartaekonomi.co.id | Senin, 13 Juli 2020 Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? Setelah sukses dengan B20 dan B30 yang on the way, kelapa sawit kembali menunjukkan &#8220;taringnya&#8221; sebagai sumber energi terbarukan dalam bentuk bensin\/gasoline. Sebagai salah satu jenis BBM (Bahan Bakar Minyak) yang mendukung mobilitas masyarakat Indonesia, konsumsi bensin Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 34,15 [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-07-14T05:18:29+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:08+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"12 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?","datePublished":"2020-07-14T05:18:29+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:08+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/"},"wordCount":2382,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/","name":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit? - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-07-14T05:18:29+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:08+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-oke-next-bensin-sawit\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biodiesel Oke, Next Bensin Sawit?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4235","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4235"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4235\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4942,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4235\/revisions\/4942"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4235"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4235"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4235"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}