{"id":4282,"date":"2020-08-18T02:02:47","date_gmt":"2020-08-18T02:02:47","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4282"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/","title":{"rendered":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Koran Tempo | Jum\u2019at, 14 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat\ndevisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis\nminyak kelapa sawit, seperti green diesel dan biodiesel. Kedua produk ini\ndiharapkan mampu berkontribusi besar dalam mengurangi konsumsi minyak bumi.\nKedua produk tersebut kini tengah menjalani proses uji coba. PT Pertamina\n(Persero) yang berupaya memproduksi green diesel dengan sebutan DI00 berhasil\nmenjalani uji coba produksi di fasilitas pengolahannya di Kilang Dumai. Vice\nPresident Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menyatakan\nperusahaan mampu memproduksi 1.000 barel per hari di fasilitas tersebut.\n&#8220;Kami masih harus lanjutkan uji coba dan persiapan lainnya untuk bisa\nmemproduksinya secara komersial,&#8221; kata dia kepada Tempo, kemarin. Salah\nsatu persiapan produksi adalah memastikan pasokan katalis. DI00 dibuat dari\nminyak kelapa sawit murni yang telah disuling sehingga bebas dari kotoran,\ngetah, lemak, dan baru atau refined bleached deodorized palm oil (RBDPO). Dalam\nuji coba yang dilakukan pada 2-9 Juli 2020, produksi dibantu katalis yang\ndibuat oleh Research Technology Center Pertamina dan Institut Teknologi\nBandung. Pertamina juga mempersiapkan fasilitas pengolahan dan produksi green\ndiesel di Kilang Plaju. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi di fasilitas\nitu 20 ribu barel per hari pada 2023. Produksi juga akan dilakukan di Kilang\nCilacap dengan kapasitas sekitar 6.000 barel per hari pada 2022. Untuk\npengadaan RBDPO, <strong>Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi),\nPaulus Tjakrawan<\/strong>, menyatakan Pertamina membuka lelang terbuka. Dia\nmemperkirakan kebutuhan minyak kelapa sawit untuk DI00 cukup besar. &#8220;Jika\nPertamina memproduksi maksimum di tiga kilang, penambahan sawitnya sekitar 3,2\njuta kiloliter,&#8221; kata dia. Angka tersebut termasuk tambahan 10 persen\nkonsumsi jika B40 mulai diproduksi. Pemerintah menargetkan program B40 dapat\ndiproduksi pada Juni 2021 mendatang. Uji coba tengah digelar oleh Badan\nPenelitian dan Pengembangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama\nbeberapa pihak terkait, termasuk Aprobi. Paulus menyatakan tim masih mengkaji\nkomposisi campuran solar, baik dengan minyak kelapa sawit hasil penyulingan\nmaupun fatty add methyl aster (FAME). Pada akhir Juli lalu, Badan Litbang\nmemulai uji ketahanan B40 pada mesin engine test bench selama 1.000 jam. Kepala\nPPPTMGB Lemigas, Setyorini Tri Hutami, menyatakan kajian tersebut akan diikuti\noleh uji ketahanan bahan bakar. Dari hasil pengujian ini, pihaknya akan membuat\nrekomendasi teknis mengenai mutu biodiesel serta pertimbangan tentang aspek\nkeekonomiannya. Jika produk itu terwujud, Indonesia diperkirakan menghemat\ndevisa hingga US$ 8 miliar.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Investor.id | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>DPR Siap Fasilitasi Polemik Biodiesel Petani Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Anggota parlemen dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan\n(PDIP) Yohanis Fransiskus Lema mengusulkan kepada Serikat Petani Kelapa Sawit\n(SPKS) untuk segera mengajukan permohonan audiensi dengan Komisi IV DPR-RI guna\nmenyampaikan persoalan program biodiesel B30. Menurut dia, tidak\ndiikutsertakannya industri sawit skala rakyat pada agenda tersebut dapat\nmenjadi koreksi tersendiri bagi pemerintah dalam program energi ramah\nlingkungan itu. \u201cSaya menganjurkan kepada kawan-kawan untuk segera membuat\nsurat agar bisa melakukan tatap muka dan menyampaikan seluruh duduk perkara\nkepada anggota di Komisi IV, supaya tidak saya saja yang tersampaikan informasi\nini,\u201d tutur legislator yang akrab disapa Ansy Lema itu dalam sebuah webinar,\nJumat, 14 Agustus 2020. Selain itu, dia juga berjanji akan membawa persoalan\nini dalam rapat terdekat sebagai bentuk penyerapan aspirasi dalam masa reses.\n\u201cPasti akan saya bunyikan ini dalam sidang maupun rapat komisi, apalagi kami di\nsudah mulai aktif hingga Oktober mendatang,\u201d tegas Ansy Lema yang juga tercatat\nsebagai anggota Komisi IV DPR-RI. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya,\nSPKS menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah dalam program biodiesel\nB30 yang dinilai tidak melibatkan peran serta petani sawit skala kecil.\nPadahal, sektor ini menjadi ujung tombak perkebunan rakyat pada sisi hulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, SPKS melalui sekjennya Mansuetus Darto juga\nmengeluarkan catatan tersendiri atas usul <strong>Ketua Umum Asosiasi Produsen\nBiofuel Indonesia (Aprobi) Master Parulian Tumanggor<\/strong> terkait permintaan\ndana kepada pemerintah. Menurut Darto, gagasan penyuntikan anggaran sebesar Rp\n20 triliun pertahun ke Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS)\nperlu dikaji ulang. Pasalnya, pemerintah harus memastikan apakah dana tersebut memang\nbisa sampai ke petani sawit atau justru sekedar menguntungkan perusahaan\ntertentu. \u201cPenyuntikan dana tambahan bukanlah langkah yang efektif untuk\nmenyejahterakan petani kelapa sawit dan memberikan dampak program biodiesel\nsecara langsung,\u201d ungkap Darto kepada Tagar melalui keterangan tertulis\nbeberapa waktu lalu. \u201cPemerintah perlu memasukan petani kelapa sawit dalam\nrantai pasok biodiesel, bukan sekedar memberikan suntikan dana secara\nterus-menerus ke perusahaan kelapa sawit melalui BPDPKS,\u201d sambung Darto.\nSebagai informasi, program biodiesel B30 merupakan bahan bakar minyak (BBM)\nyang terdiri dari campuran 30 persen biodiesel dan 70 persen solar. Penerapan\nB30 disebut-sebut bisa mengurangi impor solar sebesar 8 hingga 9 juta kiloliter\n(Kl). Besaran tersebut setara dengan penghematan hingga Rp 70 triliun. Adapun,\ntarget B50 diharapkan bisa terselenggara pada periode 2021 mendatang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.tagar.id\/dpr-siap-fasilitasi-polemik-biodiesel-petani-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>CNNIndonesia.com | Jum\u2019at, 14 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Fakta Program B30, Jurus Jokowi Tekan Impor Minyak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah telah melakukan\nsejumlah upaya energi. Salah satunya melalui program mandatori campuran\nbiodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar (B30). &#8220;Tahun 2019 kami juga\nsudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. Tahun ini kami mulai dengan\nB30, sehingga kami mampu menekan nilai impor minyak kami pada 2019,&#8221; kata\nJokowi dalam Sidang Tahunan MPR, Jumat (14\/8). Kementerian Energi dan Sumber\nDaya Mineral (ESDM) melakukan uji coba pendistribusian bahan bakar B30 sejak\nakhir 2019 lalu. Distribusi B30 melibatkan badan usaha bahan bakar nabati\n(BUBBN) dan badan usaha bahan bakar minyak (BUBBM). Sebagai payung hukum uji\ncoba tersebut, Kementerian ESDM menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM\nNomor 227 K\/10\/MEM\/2019 tentang Pelaksanaan Uji Coba Pencampuran Bahan Bakar\nNabati Jenis B30 ke dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode 2019.\nBeleid tersebut diteken Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 15 November 2019 lalu.\nPT Pertamina (Persero) dalam keterangan tertulisnya mengatakan realisasi\npenyerapan fatty acid methyl ester (FAME) yang menjadi campuran Solar meningkat\ntajam sebesar 5,5 juta kiloliter (KL) di 2019. Tahun ini, serapannya\nditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL.<\/p>\n\n\n\n<p>Berdasarkan data Pertamina, implementasi program B20 dan B30 telah\nmenghemat devisa negara sebesar Rp43,8 triliun pada 2019. Lalu, tahun ini,\nPertamina menargetkan penghematan devisa sebesar Rp63,4 triliun dari program\nB30. Kondisi itu terkonfirmasi oleh data impor hasil minyak Badan Pusat\nStatistik (BPS). Tercatat, impor hasil minyak secara tahunan turun 11,73 persen\nmenjadi 10,33 juta ton. Adapun nilai impor hasil minyak sepanjang semester I\n2020 merosot 39,3 persen menjadi US$1,98 miliar. Sementara itu, pengamat energi\ndari Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan menilai implementasi program B30\nbelum maksimal. Masih ditemui sejumlah kendala di lapangan terutama dari sisi\nkonsumen. &#8220;Konsumen masih belum terlalu percaya dengan B30 ini karena\nmasih ada kekhawatiran terkait dengan kondisi mesin dan adanya penambahan biaya\nuntuk perawatan,&#8221; katanya kepada CNNIndonesia.com. Ia menuturkan,\npemerintah membutuhkan waktu untuk kembali mengedukasi ke masyarakat terkait\ndengan program B30 ini. Kondisinya, serupa saat pemerintah merilis program B20.\n&#8220;Lambat laun bisa berjalan dengan sukses dan lancar,&#8221; ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnnindonesia.com\/ekonomi\/20200814131246-85-535733\/fakta-program-b30-jurus-jokowi-tekan-impor-minyak\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Janji Jokowi, 1 juta ton Sawit Produksi Petani Untuk Bahan Baku\nD100 (Diesel 100%)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik\nIndonesia Dan Sidang Bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dan\nDewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Dalam Rangka Hut Ke-75 Proklamasi\nKemerdekaan Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan\npidatonya. Diawali dengan sebanyak 215 negara, tanpa terkecuali, sedang\nmenghadapi masa sulit diterpa pandemi Covid-19. Bahkan dalam catatan WHO,\nsampai dengan tanggal 13 Agustus 2020 lalu, terdapat lebih dari 20 juta kasus\ndi dunia, dengan jumlah kematian di dunia sebanyak 737 ribu jiwa. Kata Jokowi,\nsemua negara, negara miskin, negara berkembang, termasuk negara maju, semuanya\nsedang mengalami kemunduran karena terpapar Covid-19. Krisis perekonomian dunia\njuga terparah dalam sejarah. Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi\nIndonesia masih plus 2,97%, tapi di kuartal kedua minus 5,32%. \u201cEkonomi\nnegara-negara maju bahkan minus belasan persen, sampai minus 17%. Kemunduran\nbanyak negara besar ini bisa menjadi peluang dan momentum bagi kita untuk\nmengejar ketertinggalan. Ibarat komputer, perekonomian semua negara saat ini\nsedang macet, sedang hang,\u201d katanya Jumat (14\/8\/2020). Lebih lanjut tutur\nJokowi, inilah saatnya Indonesia membenahi diri secara fundamental, melakukan\ntransformasi besar, menjalankan strategi besar. Strategi besar di bidang\nekonomi, hukum. Saat ini bahkan sedang dikembangkan food estate di Provinsi Kalimantan\nTengah dan Provinsi Sumatera Utara, dan akan dilakukan di beberapa daerah lain.\nProgram ini merupakan sinergi antara pemerintah, pelaku swasta, dan masyarakat\nsebagai pemilik lahan maupun sebagai tenaga kerja. Dalam pidatonya, Jokowi juga\nmengungkap upaya besar juga telah dan sedang dilakukan untuk membangun\nkemandirian energi. Tahun 2019, Indonesia sudah berhasil memproduksi dan\nmenggunakan Biodiesel sawit 20% (B20). <\/p>\n\n\n\n<p>Tahun ini mandatori B30 dimulai, sehingga mampu menekan nilai\nimpor minyak di tahun 2019. Kata Jokowi, Pertamina bekerja sama dengan para\npeneliti telah berhasil menciptakan katalis untuk pembuatan D100, yaitu bahan\nbakar diesel yang 100% dibuat dari minyak kelapa sawit, yang sedang uji\nproduksi di dua kilang milik Pertamina. \u201cIni akan menyerap minimal 1 juta ton\nsawit produksi petani untuk kapasitas produksi 20 ribu barel per hari.\nHilirisasi bahan mentah yang lain juga terus dilakukan secara besar-besaran.\nBatu bara diolah menjadi methanol dan gas. Beberapa kilang dibangun untuk mengolah\nminyak mentah menjadi minyak jadi, dan sekaligus menjadi penggerak industri\npetrokimia yang memasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi,\u201d katanya.\nSementara biji nikel telah bisa diolah menjadi ferro nikel, stainless steel\nslab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk baterai\nlithium. Hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan, meningkatkan\npeluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil. \u201cHal ini akan\nmembuat posisi Indonesia menjadi sangat strategis dalam pengembangan baterai\nlithium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di masa depan,\u201d tandas\nJokowi. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10140\/janji-jokowi&#8211;1-juta-ton-sawit-produksi-petani-untuk-bahan-baku-d100&#8211;diesel-100&#8211;\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Investor Daily Indonesia | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Presiden Mendorong Upaya Mewujudkan Kemandirian Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung segala upaya yang\ndilakukan dalam rangka mewujudkan kemandirian energi. Salah satunya melalui\nproduk D-100 yaitu ba-han bakar diesel yang 100% dibuat dari minyak Kelapa\nSawit yang tengah dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero). &#8220;Upaya besar\ntelah dan sedang dilakukan untuk membangun kemandirian energi. Tahun 2019, kita\nsudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. Tahun ini kita mulai dengan\nB30, sehingga kita mampu menekan nilai impor minyak kita di tahun 2019.\nPertamina bekerja sama dengan para peneliti telah berhasil menciptakan katalis\nuntuk pembuatan D100 yang sedang uji produksi di dua kilang kita,&#8221; kata\nPresiden dalam Sidang Tahunan MPR di Jakarta, Jumat (14\/8). Menurut Presiden,\nini akan menyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani untuk kapasitas\nproduksi 20 ribu barel per hari. Hilirisasi bahan mentah yang lain juga, kata\nPresiden, terus dilakukan secara besar-besaran. Contohnya, batu bara diolah\nmenjadi methanol dan gas. Beberapa kilang dibangun untuk mengolah minyak mentah\nmenjadi minyak jadi, dan sekaligus menjadi penggerak industri petrokimia yang\nmemasok produk industri hilir bernilai tambah tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, biji nikel telah bisa diolah menjadi ferro nikel,\nstainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama untuk\nbaterai lithium. Hal ini akan memperbaiki defisit transaksi berjalan kita,\nmeningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi dominasi energi fosil.\n&#8220;Hal ini akan membuat posisi Indonesia menjadi sangat strate- gis dalam\npengembangan baterai lithium, mobil listrik dunia, dan produsen teknologi di\nmasa depan,&#8221; kata Presiden. Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi yang\njuga Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan,\nproduk D-100 bisa mendukung terealisasinya kemandirian energi. Namun, menurut\ndia, upaya ini bisa terealisasi apabila didukung campur tangan pemerintah,\nterutama berkaitan dengan harga. &#8220;D-100 ini produksi massalnya kan memang\nbelum. Dengan skala yang belum besar dan harga bahan baku mahal,kalau tidak ada\nmandatori atau subsidi peme- rintah, maka yang akan beraku hukum pasar, dimana\nmasyaraat akan pilih yang murah,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Asumsi Makro<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, dalam pembacaan Nota Keuangan dan RAPBN 2021,\ndisebutkan asumsi dasar harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan akan\nberkisar pada US$ 45 per barel. Lifting minyak dan gas bumi diperkirakan\nmasing-masing mencapai 705.000 barel dan 1.007.000 barel setara minyak per\nhari. Menanggapi hal tersebut, Komaidi mengatakan asmsi yang dibuat cukup\nmoderat. &#8220;Pemerintah cukup realistis melihat kondisi yang ada. Sekarang\nharga minyak ada di kisaran 40-an per barel. Dengan asumsi tahun depan covid-19\nmulai pulih, ekonomi mulai pulih, saya kira OK,&#8221; ujarnya. Adapun mengenai\nasumsi lifting minyak, menurut dia satu sisi realistis namun di sisi lain\nmenunjukkan indikator kemampuan produksi nasional. &#8221; Yang juga harus\ndiingat bahwa dengan lifting yang hanya 705 ribu barel, sementara konsumsi\ndalam negeri yang terus meningkat yakni sekitar 1,6 juta-1,7 juta barel, artinya\nakan ada kebutuhan impor yang cukup besar pada tahun depan,&#8221; jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Harian Seputar Indonesia | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bangun Kemandirian Energi Hilirisasi Digenjot<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah terus\nmelakukan upaya membangun kemandirian energi. Diamenyebutkan bahwa tahun 2019,\nIndonesia sudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. &#8220;Tahun ini kita\nmulai dengan B30 sehingga kita mampu menekan nilai impor minyak kita di tahun\n2019,&#8221; kata Presiden Jokowi, saat berpidato pada Sidang Tahunan MPR-RI dan\nSidang Bersama DPR-RI dan DPD-RI tahun 2020 di Gedung MPR\/DPR, Jakarta,\nkemarin. Selainitu, Jokowi juga mengungkapkan bahwa PT Pertamina (Persero)\ntelah bekerjasama dengan para peneliti dan berhasil menciptakan katalis untuk\npembuatan DlOOdimanaDlOOadalah bahan bakar diesel yangl00% dibuat dari\nminyakkelapa sawit, &#8220;Ini sedang uji produksi di duakilangkita. Ini akan\nmenyerap minimal 1 juta ton sawit produksi petani untuk kapasitas produksi\n20.000 barelperhari,&#8221;ungkapnya. Dia mengatakan hilirisasi\nbahanmentahyanglainjuga terus dilakukan secarabesar-be-saran. Misalnya sajabatu\nbara diolah menjadi methanol dan gas. Lalu, beberapakilangdibangun untuk\nmengolah minyak mentah menjadi minyak jadi. &#8220;Ini sekaligus menjadi\npenggerak industri petrokimiayangmema-sok produk industri hilir bernilai tambah\ntinggi,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, bijih nikel telah bisa diolah menjadi f erro nikel,\nstainless steel slab, lembaran baja, dan dikembangkan menjadi bahan utama un\ntuk baterai lithium. Dengan melakukan hal tersebut, posisi Indonesia pun\nmenjadi sangat strategis dalam pengembanganbaterailithium, mobil listrik dunia,\ndan produsen teknologi di masa depan. &#8220;Hal ini akan memperbaiki\ndefisittransaksiberjalankita, meningkatkan peluang kerja, dan mulai mengurangi\ndominasi energi fosil,&#8221; tandasnya. Sebelumnya, Kepala BadanPengembangan\nSDM Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM Wiratmaja mengatakan, impor\nminyak Indonesia saat ini sekitar 800.000 barelper hari dari kon-sumsitotal\n1,5-1,6 juta barel. &#8220;Jika program biodiesel ini berkembang, Indonesia\nbukan mengimpor BBM, namun dapat mengekspor biofuel karena termasuk jenis BBM\nbersih, ramah lingkungan, dan tentu ini dapat terus diperbarui,&#8221; sebutnya.\nDitaanggarusiana<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tribunnews.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Subsidi Biofuel Hanya Memperkaya Pengusaha<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance\n(Indef), Faisal Basri menyinggung subsidi biofuel yang diprogramkan pemerintah\ndi tengah masa pandemi Covid-19. Menurutnya, biofuel sesungguhnya energi terbarukan\n(renewable energy) yang tidak ramah lingkungan. &#8220;Kalau program biofuel ini\nditeruskan kita akan butuh paling tidak enam juta hektare lahan lagi untuk\ntanaman sawit, itu kan tidak bersahabat. Seharusnya kita melakukan terobosan\ndari energi yang tidak ramah lingkungan menjadi ramah lingkungan,&#8221; kata\nFaisal dalam webinar Indonesia Naik Kelas di Jakarta, Sabtu (15\/8). Faisal\nmenegaskan, dirinya bukan anti sawit tetapi alangkah bagusnya makna energei\nterbarukan diterjemahkan secara tepat. &#8220;Kita bukan anti sawit ya, tapi\nlebih baik langsung menggunakan solar energy. Itu justru lebih keren gitu\nya,&#8221; ucapnya. Faisal juga mempertanyakan langkah pemerintah ingin\nmendorong mobil listrik untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Dia\nbilang, diperlukan harmonisasi guna menentukan arah dari energe terbarukan\ntersebut. &#8220;Kalau penggunaan mobil listrik ini kan otomatis konsumsi BBM\nkita juga berkurang. Jadi mana yang didahulukan, ini juga masih belum\njelas,&#8221; tukas dia. Lebih lanjut, Faisal menilai butuh konsensus nasional\nbaru tentang kemana Indonesia pasca pandemi dan harus betul-betul berbeda dari\nsebelumnya. Diketahui, subsidi biofuel untuk program B30 yang diklaim\npemerintah bisa menjadi solusi untuk penyerapan hasil perkebunan rakyat dan\nenergi baru terbarukan justru dikhawatirkan hanya memperkaya pengusaha.\n&#8220;Ada lagi subsidi biofuel, jumlahnya Rp2,8 triliun kalau tidak salah untuk\noperasi Rp1 triliun. Untuk Martua Sitorus dan kawan-kawan Rp2,8 triliun plus\nRp700 miliar dari tambahan dana sawit yang naik dari US$50 menjadi US$55 per\nton,&#8221; bebernya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/jateng.tribunnews.com\/2020\/08\/15\/subsidi-biofuel-hanya-memperkaya-pengusaha\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tribunnews.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Diminta Libatkan Petani Sawit dalam Program Biodiesel\nB30<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus\nDarto mengatakan program energi ramah lingkungan biodiesel B30 yang digagas\npemerintah dinilai tidak pro petani sawit. Hal itu disampaikan dalam agenda\ndiskusi daring monopoli mata rantai oleh industri biodiesel dalam program B30,\nJumat (14\/8\/2020). &#8220;Hulu sampai hilir dikuasai oleh korporasi sawit yang\ndimiliki oleh konglomerat,&#8221; kata Darto. Selain itu, menurutnya, bahan baku\nindustri biodiesel sebagian besar diimpor dari perusahaan asing asal Malaysia.\n&#8220;Mereka lebih penting ketimbang petani sawit Indonesia. Terbukti bahwa\nrantai pasok biodiesel tanpa petani sawit, dana sawit dan industri biodiesel\nhanya menguntungkan korporasi sawit,&#8221; terangnya. Darto menambahkan,\npihaknya juga mengkritisi rencana suntikan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan\nKelapa Sawit (BPDP-KS) sebesar Rp 20 triliun setiap tahun bagi pengembangan\nprogram biodiesel nasional. Menurutnya, strategi tersebut malah hanya\nmenguntungkan korporasi besar, sedangkan petani sawit skala kecil semakin tidak\nsejahtera. &#8220;Kami meminta Bapak Presiden meninjau ulang Badan dana sawit\n(BPDP-KS) untuk menjadikan lembaga yang independen dan tidak terkoptasi oleh\nkonglomerat sawit,&#8221; tegas Darto. Dia juga meminta KPK dan BPK segera\nmelakukan audit bagi BPDP-KS dan penerima dana subsidi sawit karena diduga\nmerugikan negara. Selain itu, perlunya pelibatan kabupaten dan petani dalam\nstruktur BPDP-KS dan dana sawit yang dijadikan dana alokasi khusus (DAK). Bagi\nkabupaten penghasil sawit hal ini untuk penguatan perkebunan rakyat. Petani\nsawit meminta pasokan secara bertahap sebesar 30 persen untuk biodiesel dalam\nprogram B30 hingga kemudian pada tahun keempat sebesar 100 persen.\n&#8220;Perbaikan tata kelola sawit di Indonesia akan membantu meningkatkan\nkesejahteraan petani sawit sebesar 30 persen. Dengan begitu pula, petani sawit\nmerdeka dari kemiskinan sekaligus perbaikan tata kelola sawit di\nIndonesia,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.tribunnews.com\/bisnis\/2020\/08\/15\/pemerintah-diminta-libatkan-petani-sawit-dalam-program-biodiesel-b30\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Inews.id | Senin, 17 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Biodiesel Belum Dirasakan Petani Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah telah menetapkan campuran solar dengan biodiesel akan\nditingkatkan komposisinya. Ini didasari keyakinan program ini bisa jadi salah\nsatu jalan keluar dari tingginya impor bahan bakar minyak. Sekretaris Jenderal\n(Sekjen) Serikat Petani Kelapa Sawit Munsuetus Darto menyambut baik maksud\npenerapan B30 dan rencananya akan ditingkatkan menjadi B40 hingga B50. Namun\nselama ini tidak ada manfaat yang dirasakan langsung petani. Bahkan, dia\nmenyebut ada praktik monopoli mata rantai oleh industri biodiesel sehingga\nmerugikan para petani sawit. &#8220;Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit\n(BPDP-KS) yang selama ini dibentuk untuk mengelola dana pungutan ekspor kelapa\nsawit tidak menjalankan tugasnya dengan baik,&#8221; ujar Darto, dalam\nketerangan tertulis, Minggu (16\/8\/2020). Darto membeberkan dana yang dipungut\ndari produsen sawit sebagian besar dialokasikan pada perusahaan-perusahaan\nmilik konglomerat. Ini bisa dilihat dalam rentang waktu 2015-2019 realisasi\npenggunaan dana dari pungutan ekspor sawit berjumlah Rp33,6 triliun atau 89,86\npersen. <\/p>\n\n\n\n<p>Dari dana yang telah dikumpulkan sebesar Rp47,28 triliun tersebut\ndialokasikan untuk insentif biodiesel, sedangkan untuk Program Peremajaan Sawit\nRakyat hanya 8,03 persen, sisanya dialokasikan untuk pengembangan dan\npenelitian, sarana produksi pertanian, promosi kemitraan, dan pengembangan SDM\nyang tidak sampai 1 persen. &#8220;Industri biodiesel yang selama ini\nmendapatkan insentif ternyata memonopoli pasokan kelapa sawit yang jadi bahan\nbaku pembuatan biodiesel,&#8221; katanya Darto juga mengkritisi Dewan Pengarah\nBPDP-KS yang terdiri dari orang-orang yang juga merupakan pemilik dan\nterafiliasi dengan perusahan-perusahan sawit besar. Menurutnya, telah terjadi\nketidakadilan dalam alokasi dana BPDP-KS dan program-program BPDP-KS yang hanya\nmenguntungkan perusahaan-perusahaan besar dan sangat merugikan petani-petani swadaya.\n&#8220;Perlu adanya evaluasi menyeluruh kebijakan dari program biodiesel dari\nhulu ke hilir untuk mencegah defisit biodiesel, harmonisasi kebijakan\nkementerian dan lembaga terkait. Membuat peta jalan kebijakan biodiesel,\nmemberlakukan insentif dan subsidi bersyarat kepada perusahaan dengan bermitra\npetani sawit, serta mempertimbangkan potensi bahan baku biodiesel yang lain,\u201d\nujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.inews.id\/finance\/bisnis\/program-biodiesel-belum-dirasakan-petani-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Beritasatu.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ansy Lema: Ada Paradoks dalam Industri Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan\n(PDI-P) Yohanis Fransiskus Lema atau yang akrab dipanggil Ansy Lema menilai ada\nparadoks dalam industri sawit sampai saat ini. Paradoks itu terjadi karena\npetani-petani sawit belum merasakan dampak signifikan dari sawit dan biodiesel\nyang menjadi salah satu komoditas unggul Indonesia. Yang menikmati lebih banyak\nperusahan-perusahan besar yang selama ini sudah memonopoli industri sawit dan\nbiodiesel. &#8220;Belum ada keberpihakan dan perlindungan negara kepada petani\nsawit,&#8221; kata Ansy dalam diskusi virtual bertema &#8220;Monopoli Mata Rantai\noleh Industri Biodisel dalam Program B30 di Jakarta, Sabtu (15\/8\/2020). Ansy\nmengapresiasi kebijakan Presiden Jokowi terkait transformasi energi dari fosil\nmenjadi energi terbarukan dengan menggunakan kelapa sawit. Namun industri\nbiodiesel harus berdampak pada kesejahteraan petani sawit, bukan mempeparah\noligarki. Ansy melihat niat atau kehendak baik (political will) dari pemerintah\ndalam memperhatikan petani swadaya masih minim. Niat baik itu masih sangat\nbesar diberikan kepada korporasi. Padahal pemeritah seharusnya mengintervensi\ndengan memberikan subsidi bagi petani, membuka akses pasar dan memotong rantai\ntengkulak. Kemudian meningkatkan kualitas koperasi dan kapasitas petani swadaya\nagar bisa bersaing dan bermitra dengan korporasi. &#8220;Jika supply chain dan\nrantai produksi kelapa sawit dibenahi dari hulu ke hilir, dari kementrian\nhingga pemerintah daerah maka petani swadaya memiliki peluang untuk\nmeningkatkan pendapatan minimal 30 persen dari biodiesel, menambah devisa\nnegara dan ABPD,&#8221; jelas Ansy.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Manseus Darto yang juga\nmenjadi pembicara mengkritik Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit\n(BPDP-KS). Pasalnya proses pengambilan kebijakan dan anggaran secara struktural\ndikooptasi oleh konglomerasi di tingkat Dewan Pengawas dan Komite Pengarah.\n&#8220;Akses terhadap bantuan subsidi dana dan anggaran dipegang oleh industri\nbesar, petani swadaya tidak mendapatkan bantuan dari program negara. BPDP-KS ,\nsebagai lembaga yang mengontrol rantai pasok kelapa sawit dan biodiesel,\nsebaiknya dievaluasi dan dijadikan lembaga independen,&#8221; kata Darto. Dia\njuga melihat petani swadaya tidak mendapatkan keuntungan yang maksimal karena\nkeberadaan tengkulak. Keberadaan tengkulak melahirkan disparitas harga lebih\ndari 30 persen, dan petani sawit tidak memiliki akses langsung terhadap pasar\ndan pabrik. &#8220;Petani swadaya harus dilibatkan langsung dalam rantai\nproduksi biodiesel melalui regulasi yang memaksa pabrik untuk bermitra dengan\npetani swadaya,&#8221; tegas Darto.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.beritasatu.com\/nasional\/666009-ansy-lema-ada-paradoks-dalam-industri-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina MOR V Salurkan 20 Kiloliter Biosolar ke PT Garam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region V\nJatimbalinus mengirim 20 kiloliter biosolar B30 untuk PT Garam (Persero).\nPertamina melakukan pengiriman perdana BBM jenis biosolar B30 ke PT Garam\nsebanyak 5.000 liter yang dipasok oleh Integrated Terminal Surabaya Group ke\nlokasi PT Garam di Gresik. Pada Selasa (11\/8\/2020), Pertamina kembali melakukan\npengiriman BBM sebanyak 5.000 liter ke lokasi PT Garam di Bipolo, Nusa Tenggara\nTimur yang disuplai oleh Terminal BBM Tenau. Selain itu, pada Kamis\n(13\/8\/2020), Pertamina kembali melakukan pengiriman BBM sebanyak 5.000 liter ke\nlokasi PT Garam di Sampang, Madura yang dipasok langsung oleh Terminal BBM\nCamplong. Terakhir, pada Jumat (14\/8\/2020), Pertamina mengirim 5.000 liter BBM\nke lokasi PT Garam di Segoromadu, Jawa Timur yang kembali dipatok langsung oleh\nIntegrated Fuel Terminal Surabaya Group. \u201cSecara total pada 2 minggu pertama\nbulan Agustus, Pertamina telah mengirimkan BBM jenis Biosolar B30 sebanyak\n20.000 liter\/20 kl ke lokasi PT Garam,\u201d ujar Akhmad Iqdam Hendrawan, Region\nManager Corporate Sales MOR V melalui siaran pers, Senin (17\/8\/2020).\nMenurutnya, sinergi antara perusahaan pelat merah tersebut diharapkan dapat\nmemberi nilai lebih baik kedua belah pihak dan masyarakat. Kerja sama tersebut\nakan berlangsung selama 1 tahun dimulai dari 1 Agustus 2020 sampai dengan 31\nJuli 2020. Sesuai dengan perjanjian kerja sama yang telah disepakati kedua\nbelah pihak, Pertamina akan terus memasok biosolar B30 kepada PT Garam mencapai\n715.000 liter.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebutuhan tersebut untuk dioperasionalkan di pabrik dan pegaraman\ndari PT Garam yang tersebar di total 9 lokasi, yaitu Pegaraman I Nambakor,\nPegaraman IV Gresik Putih, Pegaraman Bipolo, Pegaraman Pamekasan, Pegaraman\nSampang, Pabrik Camplong, Pabrik Segoromadu, Pabrik Manyar, dan Pegaraman\nManyar. Manager Corporate Communication PT Garam (Persero) Miftahol Arifin\nmenyampaikan harapannya mengenai sinergi yang dilakukan antara Pertamina dengan\nPT Garam. \u201cKerja sama ini kita lakukan untuk menunjang kegiatan operasional\nperusahaan agar berjalan dengan lancar dan mendukung sinergi antar-BUMN\u201d,\nungkapnya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20200817\/44\/1280157\/pertamina-mor-v-salurkan-20-kiloliter-biosolar-ke-pt-garam\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Suaramerdeka.com | Sabtu, 15 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Elnusa Petrofin Gelar Go Live Penyaluran Biosolar di Kutai Timur<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk memperkuat lini bisnisnya dibidang Fuel Storage Management,\nPT Elnusa Petrofin (EPN) mengadakan Go Live penyaluran BBM Pertamina untuk\nIndustri ke PT Ganda Alam Makmur (GAM) pada Rabu (12\/8) waktu setempat di Desa\nSempayau Kecamatan Sangkuriang, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan\nTimur. Sebelumnya Elnusa Petrofin ditunjuk oleh PT Pertamina (persero) sebagai\nofficial handling agent BBM Industri untuk PT GAM sejak awal Agustus 2020, dan\nkedatangan kapal supply perdana yang membawa 2.000 (dua ribu) Kilo Liter BBM\nPertamina jenis Biosolar ke lokasi&nbsp; PT Ganda Alam Makmur ini menandai Go\nLive dimulainya operasional VHS Elnusa Petrofin untuk PT GAM. BBM Industri yang\ndisupply dan dikelola oleh Elnusa Petrofin adalah untuk mendukung kegiatan operasional\nPT GAM yang bergerak dibidang batu bara, sedangkan volume BBM yang dikelola\noleh EPN untuk PT GAM saat ini adalah sebesar 5.000 (lima ribu) Kilo Liter per\nbulannya dan akan terus meningkat sesuai dengan kebutuhan dan target produksi\nbatu bara PT. GAM. PT Ganda Alam Makmur sendiri merupakan anak usaha dari PT\nTitan Infra Energy dan kerjasama penyaluran, penyimpanan dan pengelolaan BBM\nIndustri ini menggunakan sistem Vendor Held Stock (VHS), di mana Elnusa\nPetrofin menghantarkan dan mengelola stok BBM Industri di fasilitas penyimpanan\nyang berada di lokasi site dari PT GAM.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama ini, Vendor Held Stock (VHS) merupakan salah satu upaya\nElnusa Petrofin&nbsp; dalam menjamin terjaganya pasokan, dengan menyediakan\njasa manajemen bahan bakar sebagai manfaat nilai tambah bagi kepentingan\npelanggan. Elnusa Petrofin menjadi official handling agent BBM Pertamina untuk\nindustri dan lini bisnis ini telah berjalan selama kurang lebih 12 tahun telah\ndipercaya oleh berbagai perusahaan pertambangan ternama di&nbsp; Indonesia. Kegiatan\nusaha VHS di PT. EPN berfungsi untuk memastikan BBM di pelanggan tetap\ntersedia&nbsp; dalam fasilitas storage&nbsp; di berbagai lokasi pelanggan yang\ntersebar di beberapa wilayah Indonesia. \u201cDengan kerja sama ini,\nperusahaan\/pelanggan kami dapat melakukan efisiensi sekaligus mendapat jaminan\npasokan BBM Pertamina sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan dengan harga\nyang kompetitif. \u201cSecara umum hal ini juga sekaligus menjaga ketahanan energi\nuntuk kebutuhan Industri di Indonesia\u201d kata Direktur Operasional dan Marketing\nPT Elnusa Petrofin, Nur Kholis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.suaramerdeka.com\/news\/ekonomi-dan-bisnis\/238100-elnusa-petrofin-gelar-go-live-penyaluran-biosolar-di-kutai-timur\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Koran Tempo | Jum\u2019at, 14 Agustus 2020 Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) Pemerintah menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit, seperti green diesel dan biodiesel. Kedua produk ini diharapkan mampu berkontribusi besar dalam mengurangi konsumsi minyak bumi. Kedua produk tersebut kini tengah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4282","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Koran Tempo | Jum\u2019at, 14 Agustus 2020 Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) Pemerintah menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit, seperti green diesel dan biodiesel. Kedua produk ini diharapkan mampu berkontribusi besar dalam mengurangi konsumsi minyak bumi. Kedua produk tersebut kini tengah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-08-18T02:02:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"20 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)\",\"datePublished\":\"2020-08-18T02:02:47+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/\"},\"wordCount\":4090,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/\",\"name\":\"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-08-18T02:02:47+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI","og_description":"Koran Tempo | Jum\u2019at, 14 Agustus 2020 Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) Pemerintah menggenjot pengembangan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit, seperti green diesel dan biodiesel. Kedua produk ini diharapkan mampu berkontribusi besar dalam mengurangi konsumsi minyak bumi. Kedua produk tersebut kini tengah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-08-18T02:02:47+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:07+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"20 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)","datePublished":"2020-08-18T02:02:47+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/"},"wordCount":4090,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/","name":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025) - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-08-18T02:02:47+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kejar-target-produk-bahan-bakar-hijau-b40-dapat-menghemat-devisa-senilai-us-8-miliar-pada-2025\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kejar Target Produk Bahan Bakar Hijau (B40 dapat menghemat devisa senilai US$ 8 miliar pada 2025)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4282","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4282"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4282\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4925,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4282\/revisions\/4925"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4282"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4282"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4282"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}