{"id":4306,"date":"2020-08-28T13:59:41","date_gmt":"2020-08-28T13:59:41","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4306"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/","title":{"rendered":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Detik.com | Kamis, 27 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi\ndan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian dan uji teknis Biodiesel\n40% (B40). Kajian ditargetkan rampung pada akhir tahun 2020. Kepala Balitbang\nESDM Dadan Kusdiana mengatakan penelitian ini meneruskan keberhasilan penerapan\nBiodiesel 30% (B30). Saat ini kajian B40 telah masuk ke tahap uji ketahanan\nmesin 1.000 jam pada engine test bench atau stand uji mesin. Berbeda dengan B30\nyang melakukan uji jalan. Dadan menjelaskan uji jalannya B40 masih tertunda\nkarena terhalang pandemi virus Corona. Dia juga memprediksi semua rangkaian uji\nketahanan akan rampung pada November mendatang. &#8220;Untuk sementara kita\ntidak akan melakukan uji jalan di jalan raya. Jadi kita mencari cara yang lain\nbagaimana ini tetap bisa berjalan,&#8221; ujar Dadan. Ketua Tim Pengkajian B40\nSylvia Ayu Bethari menjelaskan uji ketahanan dilakukan dua formulasi. Formulasi\nyang pertama dengan mencampurkan 60% solar dengan 40% Fatty Acid Methyl Esther\n(FAME). Formulasi yang kedua adalah campuran 60% solar dengan 30% FAME dan 10%\nDistillated Fatty Acid Methyl Esther (DPME). Uji ketahanan bertujuan untuk\nmendapatkan persetujuan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia\n(Gaikindo) dan Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi). Slyvia mengungkap\nsetelah uji ketahanan 1.000 jam selesai, tim Kajian B40 akan melakukan\npersiapan dan pelaksanaan uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan. Usai\nseluruh tahapan kegiatan uji selesai, Sylvia mengatakan pihaknya akan segera\nmelakukan evaluasi, pelaporan, dan penyusunan rekomendasi terkait hasil kajian\npenerapan B40 ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/finance.detik.com\/energi\/d-5148757\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/CNBCInndonesia.co.id\">CNBCInndonesia.co.id<\/a> |\nKamis, 27 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kementerian ESDM Uji Ketahanan 1.000 Jam B40<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi\ndan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian terhadap Biodiesel 40%\n(B40) untuk bahan bakar kendaraan bermotor bermesin diesel. Penelitian ini\nmeneruskan keberhasilan penerapan Biodiesel 30% (B30) sejak 1 Januari 2020\nlalu. Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan saat ini pihaknya sedang\nmelakukan uji ketahanan 1.000 jam pada engine test bench di laboratorium Pusat\nPenelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) terhadap\ndua formulasi B40. Formulasi pertama adalah B40, yakni campuran 60% solar\ndengan 40% Fatty Acid Methyl Esther (FAME). Formulasi kedua adalah campuran 60%\nsolar dengan 30% FAME dan 10% Distillated Fatty Acid Methyl Esther (DPME).\nDadan menargetkan kajian penerapan B40 akan selesai pada akhir 2020. Namun\ndemikian, menurutnya Balitbang untuk sementara tidak akan melakukan uji jalan\nB40 seperti yang dilakukan pada kajian penerapan B30, dikarenakan pandemi\nCovid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;(Kajian) akan selesai di akhir tahun, mungkin November kami\nmulai melakukan analisis lengkap dari semua. Untuk sementara kami tidak akan\nmelakukan uji jalan di jalan raya. Kan agak sulit ya kami akan memulai, agak\ntakut keluar. Jadi kami mencari cara lain bagaimana ini tetap bisa berjalan,&#8221;\nujar Dadan seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian ESDM, Rabu\n(27\/08\/2020). Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Pengkajian B40 Sylvia Ayu\nBethari menjelaskan bahwa kajian penerapan B40 ini telah sampai pada tahap uji\nketahanan 1.000 jam pada engine test bench di laboratorium Lemigas.&nbsp;\n&#8220;Metode uji ketahanan yang kami gunakan sudah mendapat persetujuan bersama\ndari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) dan Ikabi\n(Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia). Saat ini yang sedang dilakukan adalah uji\nketahanan untuk dua engine, engine yang pertama menggunakan sample bahan bakar\nB40, sekarang sudah 370 jam. Sedangkan untuk engine kedua formulasi B30 dengan\nDPME 10% sudah 615 jam,&#8221; jelas Sylvia. Sebelumnya, Balitbang ESDM juga telah\nmelakukan serangkaian kegiatan untuk menguji B40 ini, yakni uji karakteristik\nfisika-kimia formulasi bahan bakar B40 dan uji kinerja terbatas formulasi bahan\nbakar B40. Selain itu telah dilakukan pula evaluasi terhadap karakteristik\nfisika-kimia formulasi bahan bakar B40, hingga didapatkan dua formulasi yang\nakan diuji lebih jauh, yakni uji ketahanan 1.000 jam dan uji sampel pelumas.\nSetelah uji ketahanan 1.000 jam selesai, tim Kajian B40 akan melakukan\npersiapan dan pelaksanaan uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan. Usai\nseluruh tahapan kegiatan uji selesai, Sylvia mengatakan pihaknya akan segera\nmelakukan evaluasi, pelaporan, dan penyusunan rekomendasi terkait hasil kajian\npenerapan B40 ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20200827095903-4-182330\/kementerian-esdm-uji-ketahanan-1000-jam-b40\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kabaroto.com | Kamis, 27 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tempuh Jarak 110.000 Km Pakai B30, UD Truck Nyatakan Tak Ada\nKendala<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>erbagai persiapan jelang implementasi Program Mandatori Biodiesel\nB30, di antaranya melakukan revisi SNI Biodiesel, melakukan uji jalan B30,\nmemastikan kesiapan produsen Biodiesel, memastikan metode sistem handling dan\npenyimpanan yang tepat. Selain itu juga memastikan kesiapan infrastruktur dan\nmelakukan sosialisasi, untuk memastikan penerimaan masyarakat. Bahkan Preiden\nJokowi ingin Biodiesel ini bisa diterapkan sampai 100%, di mana bio fuel bisa\nmenjadi bahan bakar untuk kendaraan bermesin solar. Uji jalan untuk B30 ini\nsudah dilakukan pada awal 2020 lalu, beberapa Agen Pemegang Merek (APM) truk\npun sudah menguji kendaraannya. Hasilnya, uji coba tersebut aman untuk\ntruk-truk tanpa perlu memodifikasi mesin. Selain truk, kendaraan-kendaraan pertambangan\ndan perkebunan menurut Kementerian ESDM harus menjadi pelopor B30. Artinya,\nmesin-mesin truk di pertambangan dan elevator dan juga truk pengangkut hasil\nperkebunan bisa menggunakan B30. Salah satu APM Truk di Indonesiayang sudah\nmulai melakukan uji coba prouk-produknya terhadap B30 adalah UD Truck. Setelah\nmelakukan uji coba dengan kementerian ESDM pada 2019 lalu, UD Truck pun\nmelakukan uji coba mandiri. mereka melakukan pembuktian dengan melakukan test\njalan untuk dua produknya yaitu Quester yang menempuh perjalanan sejauh 110.000\nkm dan Kuzer melakukan uji jalan 50.000 km. yang dilakukan ATPM. &#8220;Kami\nsudah test jalan B30 untuk Quester sejauh 110.000 km dan Kuzer sepanjang 50.000\nkm yang dilakukan ATPM,&#8221; terang Bambang Widjanarko, General Manager Astra\nUD Trucks. Hasilnya, tidak ada kendala pada mesin, dan UD Trucks siap untuk\nmeendukung implementasi B30 yang dicanangkan oleh pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/kabaroto.com\/post\/read\/tempuh-jarak-110-000-km-pakai-b30-ud-truck-nyatakan-tak-ada-kendala\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Kamis, 27\nAgustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Usai IPO, Transkon Jaya (TRJA) berupaya mendiversifikasi\npendapatan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Transkon Jaya (TRJA) tengah berfokus untuk mendiversifikasi\npendapatan sewa kendaraan yang berasal dari komoditas nonbatubara. Selama ini\nporsi dari pengangkutan batubara masih mendominasi pendapatan sewa TRJA, yakni\nsekitar 90%. TRJA tengah meningkatkan bauran portofolio di komoditas mineral\nlain seperti emas dan nikel. \u201cBerdasarkan perhitugan harusnya sudah turun jadi\n85% batubara, 15% nonbatubara. Ini merupakan target dalam waktu dekat,\u201d kata\nSekretaris Perusahaan TRJA Alex Syauta saat konferensi pers yang digelar secara\nvirtual, Kamis (27\/8). Selain diversifkasi dalam hal komoditas yang diangkut,\nTRJA juga berfokus pada diversifikasi area (geografi) pasar, yakni melebarkan\nsayap di luar Kalimantan. Diversifikasi selanjutnya adalah diversifikasi\nindustri. Selama ini, pendapatan TRJA berasal dari tiga segmen, yakni batubara,\nkomoditas mineral, dan sektor perkebunan sawit yang merupakan pelanggan dari\nsegmen bisnis layanan internet. Ke depan, TRJA juga menyasar segmen industri\nenergi baru terbarukan (EBT) dan juga infrastruktur. Hari ini, TRJA resmi\nmenjadi emiten tercatat ke-36 sepanjang 2020 dan menjadi emiten tercatat ke-700\ndi BEI. Emiten yang berbasis di Balikpapan ini meraup dana segar sebsar Rp\n93,75 miliar dari hajatan IPO.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Utama Transkon Jaya Lexi Roland Rompas optimistis, TRJA\nmerupakan perusahaan yang prospektif bagi investor. Salah satu sentimen positif\nbagi emiten ini adalah rencana perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan\nTimur. \u201cKami akan mendorong bisnis kami terutama di segmen transportasi. Ketika\ndilakukan pemindahan ibu kota, kendaraan kami akan menjadi yang pertama kali\nmasuk ke proyek tersebut,\u201d ujar Lexi di kesempatan yang sama. Hal ini karena\nTRJA yang berbasis di Kota Balikpapan, yang berdekatan dengan lokasi ibu kota\nnegara yang baru. Selain itu, mandatory biodiesel B30 akan meningkatkan\nproduktivitas dan konsumsi minyak kelapa sawit secara domestik. Hal tersebut\nakan meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit di\nIndonesia dan pada akhirnya akan memberikan pengaruh kepada TRJA. Saat ini\nsebagian besar pelanggan segmen layanan internet yang disediakan Transkon Jaya\nadalah bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/investasi.kontan.co.id\/news\/usai-ipo-transkon-jaya-trja-berupaya-mendiversifikasi-pendapatan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Koran Tempo | Kamis, 27 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Solar Hijau Tak Ramah Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia harus bisa menjadikan pandemi ini sebagai lompatan besar\nuntuk mentrans-formasikan perekonomian nasional. Itulah yang disampaikan\nPresiden Jokowi dalam sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat, pekan\nlalu. Salah satunya adalah transformasi di sektor energi. Jokowi menyampaikan\npentingnya kemandirian energi. Kita harus keluar dari jebakan energi fosil dan\nberganti meng-gunakan energi ter-barukan. Secara spesifik, Jokowi menyebutkan\nsolar hijau atau green diesel (D100). Solar hijau merupakan jenis bahan bakar\nnabati yang diolah dari minyak sawit, bisa langsung digunakan tanpa dicampur\ndengan solar. Tidak sekali ini saja Jokowi membahas energi hijau ini. Sejak\n2016, pemerintahnya sudah melaksanakan program pencampuran biodiesel ke dalam\nsolar sebesar 20 persen (B20), yang saat ini meningkat menjadi 30 persen (B30).\nIndonesia memang merupakan negara yang paling agresif menggunakan bahan bakar\nnabati di dunia. Itu terjadi sejak Jokowi memimpin. Lantas, ia menjadikan\npagebluk ini untuk melakukan lompatan besar dengan mengembangkan solar hijau.\nSejak 2020, solar hijau sudah mulai dikembangkan oleh Pertamina, yang bekerja\nsama dengan peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Para peneliti di\nKampus Ganesha itu berhasil menciptakan Katalis Merah Putih, yaitu teknologi\nuntuk mengolah minyak sawit menjadi solar hijau. Program D100 ini\ndigadang-gadang akan menggantikan pemakaian solar di Indonesia, yang\nkebutuhannya setiap tahun mencapai 32 juta kiloliter atau 201 juta barel. Ini\nmampu menekan impor solar, memperbaiki neraca perdagangan, dan menghemat devisa\nnegara hingga US$ 17,1 miliar.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, banyak kalangan khawatir transformasi energi ini\nsemakin parah menimbulkan kerusakan lingkungan. Bahkan sebagian pemerhati\nlingkungan hidup menyebutkan solar hijau tidak termasuk energi bersih (clean\nenergy). Sumber bahan bakunya yang dari sawit ditengarai memicu terjadinya peningkatan\nemisi gas rumah kaca, yang nilai konversi emisinya melebihi penggunaan solar.\nKebutuhannya yang semakin tinggi akan memicu pembukaan lahan baru untuk\nperkebunan sawit, yang sumbernya berasal dari kawasan hutan dan lahan gambut.\nPadahal laju penggundulan hutan, eksploitasi lahan gambut, dan kebakaran\nterjadi akibat alih fungsi lahan tersebut menjadi kebun sawit. Kritik ini sudah\nsering disampaikan ke pemerintah. Tapi belum ada respons berupa kebijakan yang\nbisa menjawabnya. Narasi kebijakan solar hijau ini sarat muatan ekonomi, tapi\nminim perlindungan terhadap lingkungan hidup. Akibatnya, di lapangan, pelaku\nusaha semakin tak acuh mengenai proteksi lingkungan dalam rantai industrinya.\nSeluas 3,1 juta hektare kawasan hutan dan 1,2 juta hektare lahan gambut terus\ndieksploitasi untuk menghasilkan minyak sawit, yang sebagian besar disalurkan\nuntuk industri biodiesel dan solar hijau. Ribuan anggota masya- rakat adat\ntercerabut dari rumahnya agar sawit bisa ditanam di kawasan yang sudah menjadi\ntempat hidup mereka secara turun-temurun sehingga praktik industri ini sangat\njauh dari prinsip ramah lingkungan dan perlindungan hak asasi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pancaran optimisme Jokowi dengan solar hijau ini mengusik pikiran\nkita. Apakah ia tidak mendapat berita tentang hancurnya lingkungan dan\nterampasnya hak masyarakat di area perkebunan sawit oleh korporasi? Padahal,\nkita tahu, Jokowi selalu memberikan instruksi, termasuk dalam sidang tahunan\nMPR ini, bahwa semua kebijakan harus mengedepankan aspek ramah lingkungan dan\nperlindungan hak asasi manusia. Tapi, tampaknya, instruksi ini seperti dianggap\nangin lalu oleh bawahannya. Kemandirian energi dengan transformasi ke energi\nterbarukan, seperti solar hijau, seharusnya memperhatikan prinsip-prinsip\nkeberlanjutan lingkungan dan perlindungan hak asasi manusia. Karena itu,\npemerintah harus memastikan bahwa program D100 ini harus &#8220;memenuhi tata\nkelola industri yang ramah lingkungan dan hak asasi, atau tanpa penggundulan\nhutan, tanpa gambut, dan tanpa eksploitasi (NDPE). Bahan bakunya tidak boleh\nmenyebabkan deforestasi, merusak ekosistem gambut, dan mengeksploitasi hak-hak\nmasyarakat. Jika hal ini dipenuhi, solar hijau berhak menyandang predikat\nenergi yang ramah lingkungan. Kalau tidak, ia sama saja seperti energi kotor\nlainnya. Pada akhirnya, pagebluk ini memang seharusnya menjadi lompatan besar\nbagi pembangunan nasional. Ini lompatan dari sistem ekonomi yang eksploitatif\nterhadap lingkungan menjadi sistem ekonomi yang ramah terhadap lingkungan.\nBukan sebaliknya, demi mencapai pertumbuhan dan keluar dari krisis ekonomi,\nkita semakin abai terhadap pelestarian lingkungan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Detik.com | Kamis, 27 Agustus 2020 Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian dan uji teknis Biodiesel 40% (B40). Kajian ditargetkan rampung pada akhir tahun 2020. Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan penelitian ini meneruskan keberhasilan penerapan Biodiesel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4306","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Detik.com | Kamis, 27 Agustus 2020 Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian dan uji teknis Biodiesel 40% (B40). Kajian ditargetkan rampung pada akhir tahun 2020. Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan penelitian ini meneruskan keberhasilan penerapan Biodiesel [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-08-28T13:59:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020\",\"datePublished\":\"2020-08-28T13:59:41+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/\"},\"wordCount\":1810,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/\",\"name\":\"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-08-28T13:59:41+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI","og_description":"Detik.com | Kamis, 27 Agustus 2020 Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan kajian dan uji teknis Biodiesel 40% (B40). Kajian ditargetkan rampung pada akhir tahun 2020. Kepala Balitbang ESDM Dadan Kusdiana mengatakan penelitian ini meneruskan keberhasilan penerapan Biodiesel [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-08-28T13:59:41+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:07+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020","datePublished":"2020-08-28T13:59:41+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/"},"wordCount":1810,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/","name":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020 - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-08-28T13:59:41+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-b40-masuk-uji-teknis-target-rampung-akhir-2020\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biodiesel B40 Masuk Uji Teknis, Target Rampung Akhir 2020"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4306"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4918,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4306\/revisions\/4918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}