{"id":4316,"date":"2020-09-03T00:55:51","date_gmt":"2020-09-03T00:55:51","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4316"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/","title":{"rendered":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a>\n| Rabu, 2 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kelapa Sawit:\nNikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Popularitas\nkelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional sepertinya belum cukup\nmembungkam hujatan, makian, isu, dan fitnah dari sejumlah stakeholders\nantisawit lokal dan global. Komoditas dengan julukan incredible tree ini masih\nsaja diserang dan dituding sebagai komoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa\nbau busuk tak berbangkai, negative issues terhadap kelapa sawit tersebut satu\nper satu berganti menjadi boomerang yang kembali kepada tuannya. Makin diserang,\nindustri perkebunan kelapa sawit Indonesia justru makin show off dengan\nmenyajikan fakta dan data empiris yang bersifat continue dan extensible.\nDemikian dikatakan Muhamad Ihsan, CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi, yang juga\nkerap melakukan kampanye positif sawit, baik di Jakarta, daerah, maupun luar\nnegeri. Menurut Ihsan,&nbsp; setiap warga negara Indonesia (WNI) wajib membela\nsawit karena nilai-nilai strategisnya. &#8220;Sebab, sawit memberi manfaat bagi\nsekitar 17 juta sampai 25 juta masyarakat Indonesia yang bekerja di industri\nini, baik langsung maupun tak langsung. Belum lagi dari berbagai multiplier\neffect yang ditimbulkannya,&#8217; ujar Ihsan yang juga menjabat sebagai Bendahara\nPWI Pusat. Dari sisi ekonomi, pada 2019 misalnya, Indonesia membukukan defisit\nneraca perdagangan US$3,2 miliar. Namun, ekspor minyak sawit dan turunannya\njustru menyumbangkan pendapatan positif US$20 miliar. Hal ini sudah berjalan\nselama bertahun-tahun. Pada tahun 2015, sawit menyumbangkan US$15,3 miliar,\nlalu tahun 2016 sebesar US$17 miliar, 2017 sebesar US$22,9 miliar, 2018 US$22,3\nmiliar, dan tahun 2019 mencapai US$22,4 miliar.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, rasanya\ntidak berlebihan kalau minyak sawit dinobatkan sebagai industri strategis.\nBelum lagi kalau dilihat dari sisi tenaga kerjanya. Gapki (Gabungan Pengusaha\nKelapa Sawit Indonesia) mencatat bahwa sawit tempat bergantung 17,5 juta orang\nkaryawan perusahaan dan petani. Sementara, BPDPKS (Badan Pengelola Dana\nPerkebunan Kelapa Sawit) mencatat, ada 4,2 juta tenaga langsung dan 12 juta\ntenaga kerja tidak langsung di industri sawit, serta melibatkan 2,4 juta petani\nswadaya dan 4,6 juta pekerja. Daftar ini akan bertambah panjang kalau kita juga\nmenghitung multiplier effect-nya. Misalnya saja, dampak terhadap industri\nmakanan di sekitar perkebunan dan pabrik, hotel, industri keuangan, dan\nlain-lain. Belum lagi kalau kita melihat kota-kota yang tumbuh sebagai akibat\nlogis dari pembangunan ekosistem perkelapasawitan. &#8220;Ibarat penemuan minyak\nfosil di masa lalu, kota-kota di sekitarnya akan ikut tumbuh dan berkembang,&#8221;\ntegas Ihsan. Dalam konteks ini, lanjut Ihsan, tampaknya kita harus menjaga\nseluruh ekosistem sawit. Salah satunya adalah menjaga stabilitas harga agar\npetani (41% pemilik lahan sawit Indonesia) dan perusahaan bisa menjaga\nkeberlangsungan industri ini. Jujur harus diakui, Presiden Jokowi cukup cerdik\nketika memutuskan untuk mengimplementasikan penggunaan sawit dalam BBN (bahan\nbakar nabati). Kini, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling agresif\nmengimplementasikan BBN, saat ini Indonesia sudah mencapai B-30. Saingan\nterdekat, Malaysia baru mencapai B-10. Menurut catatan Aprobi (Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia), penerapan biofuel berjalan baik di Indonesia.\nSepanjang 2019 saja biodiesel yang digunakan mampu mencapai 6,7 juta kilo\nliter. Dalam kalkulator Aprobi, ini senilai dengan penghematan pengeluaran\nnegara US$3,8 miliar (sekitar Rp55,5 triliun) karena negara tidak perlu\nmengimpor solar berbasis fosil. Bahkan, biodiesel juga sudah berkiprah sebagai\nsalah satu komoditas ekspor yang terus meningkat. Masih dari catatan Aprobi,\nsepanjang Januari-November 2019 lalu, ekspor biodiesel Indonesia telah mencapai\n1,4 juta kilo liter (kl) dengan tujuan China, Hong Kong, dan Uni Eropa.\nHebatnya lagi, ini merupakan kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2018 yang\nhanya mencapai 1,7 juta kl. Nah, di titik ini, Ihsan mengingatkan pentingnya\nberpikir secara terintegrasi. Artinya, lanjut Ihsan, akibat dari kebijakan\nbiofuel ini, seluruh stakeholder diuntungkan. &#8220;Karena daya serap pasar\nsawit meningkat, over stock produk sawit terkendali. Dengan demikian, harga\njual bagi produsen dan petani akan terjaga,&#8221; tandasnya. Maka, lanjut\nIhsan, &#8220;Nikmat apa lagi yang kau dustakan?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read302176\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Suara.com |\nRabu, 2 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Semakin\nDiserang, Sawit Semakin Show Off dengan Peningkatan Ekspornya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Popularitas\nkelapa sawit sebagai komoditas strategis sepertinya belum cukup membungkam\nhujatan dan fitnah dari stakeholders anti sawit lokal dan global. Komoditas\ndengan julukan incredible tree ini masih saja diserang dan dituding sebagai\nkomoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa bau busuk tak berbangkai, negative\nissues terhadap kelapa sawit tersebut satu per satu berganti menjadi boomerang\nyang kembali kepada tuannya. Semakin diserang, industri perkebunan kelapa sawit\nIndonesia justru semakin show off dengan menyajikan fakta dan data empiris yang\nbersifat continue dan extensible. &#8220;Sawit memberi manfaat bagi sekitar 17\njuta sampai 25 juta masyarakat Indonesia yang bekerja di industri ini, baik\nlangsung maupun tak langsung. Belum lagi dari berbagai multiplier effect yang\nditimbulkannya,&#8221; ujar Muhamad Ihsan, CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi di\nJakarta, Rabu (2\/9\/2020). Dari sisi ekonomi, pada 2019 misalnya, Indonesia\nmembukukan defisit neraca perdagangan 3,2 miliar dolar AS. Tapi ekspor minyak\nsawit dan turunannya justru menyumbangkan pendapatan positif 20 miliar dolar\nAS. Hal ini sudah berjalan selama bertahun-tahun. Pada 2015, sawit\nmenyumbangkan 15,3 miliar dolar AS, lalu pada 2016 sebesar 17 miliar dolar,\n2017 sebesar 22,9 miliar dolar AS, 2018 sebesar 22,3 miliar dolar AS, dan 2019\nmencapai 22,4 miliar dolar AS.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, rasanya\ntidak berlebihan kalau minyak sawit dinobatkan sebagai industri strategis.\nBelum lagi kalau dilihat dari sisi tenaga kerjanya. Gapki (Gabungan Pengusaha\nKelapa Sawit Indonesia) mencatat bahwa sawit tempat bergantung 17,5 juta orang\nkaryawan perusahaan dan petani. Sementara Badan Pengelola Dana Perkebunan\nKelapa Sawit (BPDPKS) mencatat, ada 4,2 juta tenaga langsung dan 12 juta tenaga\nkerja tidak langsung di industri sawit, serta melibatkan 2,4 juta petani\nswadaya dan 4,6 juta pekerja. Daftar ini akan bertambah panjang kalau kita juga\nmenghitung multiplier effect-nya. Misalnya saja, dampak terhadap industri\nmakanan di sekitar perkebunan dan pabrik, hotel, industri keuangan, dan\nlain-lain. Belum lagi kalau kita melihat kota-kota yang tumbuh sebagai akibat\nlogis dari pembangunan ekosistem perkelapasawitan. &#8220;Ibarat penemuan minyak\nfosil di masa lalu, kota-kota di sekitarnya akan ikut tumbuh dan\nberkembang,&#8221; tegas Ihsan. Dalam konteks ini, lanjut Ihsan, tampaknya\nIndonesia harus menjaga seluruh ekosistem sawit. Salah satunya adalah menjaga\nstabilitas harga agar petani (41 persen pemilik lahan sawit Indonesia) dan\nperusahaan bisa menjaga keberlangsungan industri ini. Presiden Jokowi cukup\ncerdik ketika memutuskan untuk mengimplementasikan penggunaan sawit dalam bahan\nbakar nabati (BBN). Kini, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling agresif\nmengimplementasikan BBN, di mana saat ini Indonesia sudah mencapai B-30.\nSaingan terdekat, Malaysia baru mencapai B-10.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut catatan\nAsosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), penerapan biofuel berjalan baik\ndi Indonesia. Sepanjang 2019 saja biodiesel yang digunakan mampu mencapai 6,7\njuta kilo liter. Dalam kalkulator Aprobi ini senilai dengan penghematan\npengeluaran negara 3,8 miliar dolar AS, karena negara tidak perlu mengimpor\nsolar berbasis fosil. Bahkan, biodiesel juga sudah berkiprah sebagai salah satu\nkomoditas ekspor yang terus meningkat. Masih dari catatan Aprobi, sepanjang\nJanuari-November 2019 lalu, ekspor biodiesel Indonesia telah mencapai 1,4 juta\nkilo liter (kl) dengan tujuan China, Hong Kong, dan Uni Eropa. Hebatnya lagi,\nini merupakan kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2018 yang hanya mencapai\n1,7 juta kl. &#8220;Karena daya serap pasar sawit meningkat, over stock produk\nsawit terkendali. Dengan demikian, harga jual bagi produsen dan petani akan\nterjaga,&#8221; tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.suara.com\/bisnis\/2020\/09\/02\/140119\/semakin-diserang-sawit-semakin-show-off-dengan-peningkatan-ekspornya?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Inilah.com |\nRabu, 2 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sawit\nKomoditasStrategis Layak Dibela Bukan Dimaki<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Popularitas\nkelapa sawit sebagai komoditas strategis sepertinya belum cukup membungkam\nhujatan, makian, isu, dan fitnah dari stakeholders anti sawit lokal dan global.\nKomoditas dengan julukan incredible tree ini masih saja diserang dan dituding\nsebagai komoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa bau busuk tak berbangkai,\nnegative issues terhadap kelapa sawit tersebut satu per satu berganti menjadi\nboomerang yang kembali kepada tuannya. Semakin diserang, industri perkebunan\nkelapa sawit Indonesia justru semakin show off dengan menyajikan fakta dan data\nempiris yang bersifat continue dan extensible. Demikian dikatakan Muhamad\nIhsan, CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi, yang kerap melakukan kampanye\npositif sawit, baik di Jakarta, daerah, maupun luar negeri. Menurut Ihsan,\nsetiap warga negara Indonesia wajib membela sawit karena nilai-nilai\nstrategisnya. &#8220;Sebab sawit memberi manfaat bagi sekitar 17 juta sampai 25\njuta masyarakat Indonesia yang bekerja di industry ini, baik langsung maupun\ntak langsung. Belum lagi dari berbagai multiplier effect yang ditimbulkannya,&#8221;\nujar Ihsan, yang juga menjabat sebagai Bendahara PWI Pusat. Dari sisi ekonomi,\npada 2019 misalnya, Indonesia membukukan defisit neraca perdagangan US$3,2\nmiliar. Tapi ekspor minyak sawit dan turunannya justru menyumbangkan pendapatan\npositif US$20 miliar. Hal ini sudah berjalan selama bertahun-tahun. Pada 2015,\nsawit menyumbangkan US$15,3 miliar, lalu pada 2016 sebesar US$17 miliar, 2017\nsebesar US$22,9 miliar, 2018 sebesar US$ 22,3 miliar, dan 2019 mencapai US$22,4\nmiliar.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka, rasanya\ntidak berlebihan kalau minyak sawit dinobatkan sebagai industry strategis.\nBelum lagi kalau dilihat dari sisi tenaga kerjanya. Gapki (Gabungan Pengusaha\nKelapa Sawit Indonesia) mencatat bahwa sawit tempat bergantung 17,5 juta orang\nkaryawan perusahaan dan petani. Sementara Badan Pengelola Dana Perkebunan\nKelapa Sawit (BPDPKS) mencatat, ada 4,2 juta tenaga langsung dan 12 juta tenaga\nkerja tidak langsung di industry sawit, serta melibatkan 2,4 juta petani\nswadaya dan 4,6 juta pekerja. Daftar ini akan bertambah panjang kalau kita juga\nmenghitung multiplier effect-nya. Misalnya saja, dampak terhadap industry\nmakanan di sekitar perkebunan dan pabrik, hotel, industry keuangan, dan\nlain-lain. Belum lagi kalua kita melihat kota-kota yang tumbuh sebagai akibat\nlogis dari pembangunan ekosistem perkelapasawitan. &#8220;Ibarat penemuan minyak\nfosil di masa lalu, kota-kota di sekitarnya akan ikut tumbuh dan\nberkembang,&#8221; tegas Ihsan. Dalam konteks ini, lanjut Ihsan, tampaknya\nIndonesia harus menjaga seluruh ekosistem sawit. Salah satunya adalah menjaga\nstabilitas harga agar petani (41% pemilik lahan sawit Indonesia) dan perusahaan\nbisa menjaga keberlangsungan industry ini. Jujur, harus diakui Presiden Jokowi\ncukup cerdik Ketika memutuskan untuk mengimplementasikan penggunaan sawit dalam\nbahan bakar nabati (BBN).<\/p>\n\n\n\n<p>Kini, Indonesia\ntercatat sebagai negara yang paling agresif mengimplementasikan BBN, di mana\nsaat ini Indonesia sudah mencapai B-30. Saingan terdekat, Malaysia baru\nmencapai B-10. Menurut catatan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi),\npenerapan biofuel berjalan baik di Indonesia. Sepanjang 2019 saja biodiesel\nyang digunakan mampu mencapai 6,7 juta kilo liter. Dalam kalkulator Aprobi ini\nsenilai dengan penghematan pengeluaran negara US$3,8 miliar (sekitar Rp55,5\ntriliun), karena negara tidak perlu mengimpor solar berbasis fosil. Bahkan,\nbiodiesel juga sudah berkiprah sebagai salah satu komoditas ekspor yang terus\nmeningkat. Masih dari catatan Aprobi, sepanjang Januari-November 2019 lalu,\nekspor biodiesel Indonesia telah mencapai 1,4 juta kilo liter (kl) dengan\ntujuan China, Hong Kong, dan Uni Eropa. Hebatnya lagi, ini merupakan kenaikan\nsignifikan dibandingkan tahun 2018 yang hanya mencapai 1,7 juta kl. Nah, di\ntitik ini Ihsan mengingatkan pentingnya berpikir secara terintegrasi. Artinya,\nlanjut Ihsan, akibat dari kebijakan biofuel ini, maka seluruh stake holder\ndiuntungkan. &#8220;Karena daya serap pasar sawit meningkat, over stock produk\nsawit terkendali. Dengan demikian, harga jual bagi produsen dan petani akan\nterjaga,&#8221; tandasnya. Maka, lanjut Ihsan, &#8220;Nikmat apa lagi yang kau\ndustakan?&#8221;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/inilah.com\/news\/2579438\/sawit-komoditasstrategis-layak-dibela-bukan-dimaki\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wartaekonomi.co.id | Rabu, 2 September 2020 Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? Popularitas kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional sepertinya belum cukup membungkam hujatan, makian, isu, dan fitnah dari sejumlah stakeholders antisawit lokal dan global. Komoditas dengan julukan incredible tree ini masih saja diserang dan dituding sebagai komoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa bau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4316","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Wartaekonomi.co.id | Rabu, 2 September 2020 Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? Popularitas kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional sepertinya belum cukup membungkam hujatan, makian, isu, dan fitnah dari sejumlah stakeholders antisawit lokal dan global. Komoditas dengan julukan incredible tree ini masih saja diserang dan dituding sebagai komoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa bau [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-09-03T00:55:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?\",\"datePublished\":\"2020-09-03T00:55:51+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/\"},\"wordCount\":1654,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/\",\"name\":\"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-09-03T00:55:51+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:07+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI","og_description":"Wartaekonomi.co.id | Rabu, 2 September 2020 Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? Popularitas kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional sepertinya belum cukup membungkam hujatan, makian, isu, dan fitnah dari sejumlah stakeholders antisawit lokal dan global. Komoditas dengan julukan incredible tree ini masih saja diserang dan dituding sebagai komoditas bernilai minus. Ibarat peribahasa bau [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-09-03T00:55:51+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:07+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?","datePublished":"2020-09-03T00:55:51+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/"},"wordCount":1654,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/","name":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan? - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-09-03T00:55:51+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:07+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/kelapa-sawit-nikmat-apa-lagi-yang-kau-dustakan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kelapa Sawit: Nikmat Apa Lagi yang Kau Dustakan?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4316","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4316"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4316\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4914,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4316\/revisions\/4914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4316"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4316"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4316"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}