{"id":4401,"date":"2020-10-22T02:14:21","date_gmt":"2020-10-22T02:14:21","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4401"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/","title":{"rendered":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Nasionalisme.co | Rabu, 21 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Diungkapkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\n(Aprobi) Paulus Tjakrawan, Jika mandatori campuran biodiesel sawit dinaikan\nmenjadi 30% ke minyak solar (B30), prediksi Aprobi akan menyerap 9,6 juta Kl\natau setara 60 juta barrel atau 77 hari hasil minyak. Dengan tingkat\npengurangan karbon ekuivalen 25 juta Ton CO2 eq. Namun demikian target\nmandatori B30 di 2020 saat ini menghadapi kendala, dengan adanya pandemi\nCovid-19 telah menurunkan aktivitas masyarakat dan memperlambat serapan\nbiodiesel sawit. Dari catatan Aprobi, produksi biodiesel pada April tercatat\nmenurun menjadi 841 ribu Kl, atau melorot sekitar 8% dibanding produksi\nbiodiesel sawit pada Maret yang mampu mencapai 910 ribu Kl. Demikian juga serapan\nbiodiesel sawit untuk domestik tercatat menurun menjadi 643 ribu Kl, atau surut\nsekitar 22% dibanding serapan pada Maret yang mampu sebanyak 784 ribu Kl.\nDikatakan Paulus, berdasarkan pengamatannya penerapan program biodiesel sawit\nselama ini dianggap mampu menjaga harga minyak sawit mentah (CPO) tidak merosot\nlebih dalam. Alasannya dilihat dari pergerakan harga CPO global yang pada akhir\n2019 lalu cenderung meningkat. Namun demikian anggapan tersebut langsung\nditanggapi petani, Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto\nmenilai, ada kesalahan anggapan bila program mandatori mampu menyelamatkan\nharga TBS sawit ditingkat petani, lantaran selama ini harga TBS sawit\nberpatokan pada harga CPO global yang tetap berfluktuatif. Bahkan merujuk data\npergerakan harga TBS Sawit petani menunjukkan tetap berfluktuasi sebelum dan\nsesudah adanya kebijakan mandatori biodiesel. Dengan demikian menunjukkan bahwa\nmandatori biodiesel belum bisa memberikan dampak bagi peningkatan harga TBS\nSawit petani. \u201cAlasan penerapan program B30 untuk stabilisasi harga CPO,\nmestinya berdampak pada peningkatan harga TBS Sawit petani, tetapi nyatanya\ntidak,\u201d katanya. Darto menganggap, masalah penurunan harga CPO itu terletak\ndari produksi CPO yang terus melonjak setiap tahunnya, bila pihak Indonesia\ntidak bisa menjaga produksi maka stok CPO akan terus menggunung, sementara\npasar ekspor mengalami pertumbuhan yang lamban. \u201cPenerapan mandatori B30 akan\nbisa menstabilkan harga CPO, hanya saja dengan catatan tidak ada over suplai\nproduksi CPO di Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-nasionalisme-co\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.nasionalisme.co\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Merdeka.com | Rabu, 21 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Cari Cadangan Energi Baru untuk Penuhi Kebutuhan\nNasional<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Senior Vice President Corporate Strategic Growth at PT Pertamina (Persero),\nDaniel S Purba mengatakan tingginya kebutuhan energi nasional membuat Pertamina\nharus mencari sumber energi cadangan baru. &#8220;Mudah-mudahan dalam waktu beberapa\ntahun mendatang kita bisa mendapatkan cadangan energi baru,&#8221; kata Daniel\ndalam diskusi Masa Depan Energi Fosil Indonesia, Jakarta, Rabu (21\/10). Sambil menunggu\ncadangan energi baru tersebut, Pertamina tengah memanfaatkan teknologi untuk\nmendapatkan sumber energi baru. Menggunakan teknologi yang ada, Pertamina akan\nmembangun industri yang bisa memproses kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak.\n&#8220;Saat ini biodiesel ini sudah dimanfaatkan, ke depan teknologi yang\ntersedia ini juga bisa dipelajari dan akan dibangun semacam green evantery atau\nproses CPO yang jadi bahan bakar minyak,&#8221; kata Daniel. Langkah ini diambil\nPertamina untuk mencegah terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada semua\naspek kehidupan manusia. Namun di sisi lain, kebutuhan akan energi nasional nyatanya\nterus meningkat. &#8220;Memang Pertamina sudah mengantisipasi situasi yang ada\nkarena selama ini Pertamina yang selalu berupaya menyediakan energi BBM dan LPG\nkepada masyarakat,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.merdeka.com\/uang\/pertamina-cari-cadangan-energi-baru-untuk-penuhi-kebutuhan-nasional.html\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tempo.co | Rabu, 21 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Finalisasi Aturan Tarif Energi Baru Terbarukan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya\nMineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan pemerintah tengah merampungkan aturan\ntentang energi baru terbarukan atau EBT. Beleid tersebut akan diterbitkan dalam\nbentuk peraturan presiden alias Perpres. \u201cDi dalamnya akan mendorong pemanfaatan\nEBT dan pada yang sama meningkatkan investasi dalam negeri,\u201d ujar Rida dalam\ndiskusi Tempo Energy Day pada Rabu, 21 Oktober 2020. Rancangan Perpres terkait\nEBT sebelumnya sudah melewati proses harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan\nHak Asasi Manusia atau HAM. Beleid tersebut dikejar untuk diundangkan sebelum\nakhir tahun. Rida menjelaskan pemerintah sedang berupaya memaksimalkan\npemanfaatan EBT di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber\nenergi fosil. Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, cadangan energi fosil akan\nhabis dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, cadangan energi minyak bumi\nberjumlah 3,77 miliar barel. Cadangan diperkirakan habis pada 9 tahun mendatang.\nKemudian, cadangan gas bumi tercatat sebanyak 77,3 triliun cubic feet yang habis\n22 tahun lagi. Adapun cadangan batu bara Indonesia terekam sebanyak 37,6 miliar\nton. Cadangan batu bara akan habis pada 65 tahun mendatang. Dalam upaya mendorong\npemanfaatan EBT, Rida mengatakan, pemerintah akan memaksimalkan penggunaan bio\nenergi dan B30. \u201cKami juga akan kembangkan green diesel,\u201d ucpanya. Menteri ESDM\nArifin Tasrif mengatakan Indonesia memiliki potensi sumber energi baru\nterbarukan sebesar 400 gigawat. Sayangnya, kata dia, pemanfaatan sumber EBT ini\nmasih minim. \u201cYang sudah dimanfaatkan baru 2,5 persen atau 10 gigawatt,\u201d\nucapnya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/bisnis.tempo.co\/read\/1398007\/pemerintah-finalisasi-aturan-tarif-energi-baru-terbarukan\/full&#038;view=ok\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sawitindonesia.com | Rabu, 21 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Setahun Jejak Keringat Jokowi-Maruf Amin di Perkebunan Sawit\nRakyat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Petani sawit mengapresiasi&nbsp; program Joko Widodo-Ma\u2019ruf Amin\ndalam setahun terakhir. Ir. Gulat ME Manurung, MP, C.APO., Ketua Umum DPP APKASINDO,\nmengatakan petani sangat berterimakasih dengan percepatan program Peremajaan\nSawit Rakyat (PSR) yang ditargetkan sejak tahun 2020 seluas 500 ribu hektar\ndalam tiga tahun. \u201cHarus diakui jejak tabur keringat Jokowi di kebun petani\nsawit petani, tidak sia-sia,\u201d ujar Gulat dalam perbincangan telepon. Gulat menyebutkan\nbahwa petani sumringah begitu mengetahui kebun sawitnya masuk dalam Program\nPSR. Apalagi, pemerintah menaikkan bantuan PSR menjadi Rp 30 juta\/ha dari\nsebelumnya Rp 25 juta\/ha dan dipangkasnya persyaratan PSR dari 14 menjadi hanya\n2 syarat. Kemudahan inilah yang membuat petani semakin percaya diri terakomodirnya\npermohonan PSR mereka khususnya petani sawit kampong.&nbsp; Diharapkan produksi\nsawit petani menjadi 2,5 Ton TBS\/ha\/bulan yang sebelumnya hanya 400kg\/ha\/bulan.\n\u201cYa benar, petani kampung selama ini terabaikan. Program replanting selama ini hanya\nmenyasar petani plasma. Saatnya kesetaraan bagi petani kampung. Tujuan mulia\nPSR ini supaya petani kampung merasakan digdayanya efek ganda program\nbiodiesel,\u201d jelasnya. Selain PSR, Presiden Jokowi melalui BPDPKS juga menabur\nkeringat melalui bantuan sarana dan prasarana. Di bidang energi terbarukan,\nprogram B30 telah berjalan baik. Gulat menyatakan program B30 berdampak positif\nbagi petani. Tidak ada lagi petani yang menerima harga TBS di bawah Rp\n1.000\/kg. Tanpa B30, harga sawit petani dipastikan terjun bebas kala pandemi\nsekarang. Pada minggu ini, harga TBS sudah tembus Rp. 2.000\/kg. \u201cDi 22 provinsi\npenghasil sawit, praktis ekonominya lebih baik di saat pandemi ini, itu\nfaktanya. Saya tidak bisa membayangkan sawit Indonesia saat pandemi covid tanpa\nB30 dan selanjutnya dalam waktu dekat akan beranjak ke B40,\u201d paparnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikatakan Gulat, program B30 inilah yang menyelamatkan harga\nTandan Buah Segar (TBS) sawit petani. \u201cKarena B30 ini harga sawit petani\ntertolong. Di tahun ini, terjadi pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan semua\nsendi perekonomian dunia,\u201d ujarnya. Selain itu, ditambahkan Gulat, program B30\ntelah memberikan \u2018tunjukajar\u2019 kesombongan Uni Eropa terhadap industri sawit\nIndonesia. Pemakaian biodiesel dapat menyeimbangkan permintaan sawit di pasar\ndalam dan luar negeri. \u201cIndonesia tidak lagi bergantung kepada pasar ekspor. Kuncinya\nadalah konsumsi domestik CPO,\u201d ujar kandidat Doktor Lingkungan ini. Uni Eropa\ndan negara importir CPO lainnya, dengan sekuat tenaga dan modus berupaya supaya\nkonsumsi dalam negeri CPO kita hanya berada pada kisaran maksimum 10%, dengan\nbiodiesel dan produk turunan CPO lainnya. Saat&nbsp; ini, sudah tembus konsumsi\ndomestik di angka 30 an persen. Kini, keterlanjuran kebun sawit petani di\nkawasan hutan menemukan titik terang, Petani sudah letih dengan kriminalisasi\nberbagai pihak. Gulat Manurung menyebutkan pemerintah sangat memberikan\nperhatian dan perlindungan bagi petani. Hal itu terlihat dari isi UU Cipta\nKerja yang baru disahkan. \u201cPetani yang sebelumnya tidak paham persoalan batas\nkawasan hutan terselamatkan dengan UU Cipta Kerja,\u201d ungkapnya. Dari segi SDM,\nKebijakan dana pungutan sawit telah dirasakan anak-anak petani, buruh tani&nbsp;\nsawit dan penggiat sawit. BPDP-KS yang dinakhodai Eddy Abdurrachman memberikan\nperhatian besar kepada program beasiswa. \u201cHarapan mengenyam pendidikan di\nperguruan tinggi buat anak buruh tani menjadi kenyataan. Karena kuota untuk\nanak-anak petani saat pandemi ini dilipatgandakan,\u201d terangnya. Dari segi\ninfrastruktur, dijelaskan Gulat, pembangunan&nbsp; jalan tol telah memberikan kemudahan\nakses&nbsp; menolong mobilitas truk CPO ke pelabuhan. Biaya transportasi dapat\nditekan. Imbasnya, harga TBS petani sawit dapat terdongkrak, karena penetapan\nharga TBS Petani juga memperhitungkan biaya transport CPO. Kendati demikian,\npetani meminta Presiden Jokowi memberikan perhatian khusus kepada pelaksanaan\nIndonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Gulat menyebutkan mandatori ISPO bagi\npetani harus dibarengi relaksasi dan kemudahan akses legalitas bagi kebun\npetani. Sebab, syarat utama mendapatkan ISPO adalah legalitas. \u201cPetani sawit\ntak bosan-bosannya menanti uluran tangan Pak Jokowi kepada petani yang mustahil\nmeraih ISPO. Masih ada waktu 52 bulan lagi sebelum ISPO diwajibkan. Kami\nberharap tabur keringat Presiden Jokowi juga menetes membantu petani yang\nmustahil bisa meraih ISPO,\u201d ujarnya.<em><a href=\"https:\/\/sawitindonesia.com\/setahun-jejak-keringat-jokowi-maruf-amin-di-perkebunan-sawit-rakyat\/\">https:\/\/sawitindonesia.com\/setahun-jejak-keringat-jokowi-maruf-amin-di-perkebunan-sawit-rakyat\/<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nasionalisme.co | Rabu, 21 Oktober 2020 Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? Diungkapkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, Jika mandatori campuran biodiesel sawit dinaikan menjadi 30% ke minyak solar (B30), prediksi Aprobi akan menyerap 9,6 juta Kl atau setara 60 juta barrel atau 77 hari hasil minyak. Dengan tingkat pengurangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4401","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Nasionalisme.co | Rabu, 21 Oktober 2020 Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? Diungkapkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, Jika mandatori campuran biodiesel sawit dinaikan menjadi 30% ke minyak solar (B30), prediksi Aprobi akan menyerap 9,6 juta Kl atau setara 60 juta barrel atau 77 hari hasil minyak. Dengan tingkat pengurangan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-10-22T02:14:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?\",\"datePublished\":\"2020-10-22T02:14:21+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/\"},\"wordCount\":1369,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/\",\"name\":\"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-10-22T02:14:21+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI","og_description":"Nasionalisme.co | Rabu, 21 Oktober 2020 Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? Diungkapkan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan, Jika mandatori campuran biodiesel sawit dinaikan menjadi 30% ke minyak solar (B30), prediksi Aprobi akan menyerap 9,6 juta Kl atau setara 60 juta barrel atau 77 hari hasil minyak. Dengan tingkat pengurangan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-10-22T02:14:21+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:06+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?","datePublished":"2020-10-22T02:14:21+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/"},"wordCount":1369,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/","name":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit? - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-10-22T02:14:21+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/mandatori-biodiesel-sawit-berdampak-pada-harga-sawit\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mandatori Biodiesel Sawit Berdampak Pada Harga Sawit?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4401"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4883,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4401\/revisions\/4883"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}