{"id":4412,"date":"2020-10-26T02:41:30","date_gmt":"2020-10-26T02:41:30","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4412"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/","title":{"rendered":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Investor Daily Indonesia | Senin, 26 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berharap program mandatori\nbiodiesel 30% (B30) tetap berjalan sesuai jalur (on the track) hingga akhir\ntahun. Sebab, program tersebut bukan hanya telah berdampak positif terhadap perekonomian\nIndonesia, khususnya untuk ketahanan energi nasional, tapi juga mendongkrak harga\ntandan buah segar (TBS) sawit petani di Tanah Air. Data APROBI menyebutkan,\nproduksi biodiesel nasional pada Januari-Juni 2020 mencapai 4,80 juta kiloliter\n(kl) dan asosiasi tersebut berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga\nprogram tersebut tetap on the track, bahkan bisa memasuki babak baru dengan\nstrategi baru. Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan mengatakan, program\ntersebut memang membutuhkan dukungan dari pemerintah, seperti menaikkan pungutan\nekspor serta pengaturan harga biodiesel dan solar agar tidak terjadi jarak.\n&#8220;Meskipun pada pertengahan tahun harga minyak bumi terus turun karena\nCovid-19 tetapi program mandatori B30 ini harus tetap dilanjutkan dan berjalan,&#8221;\nujar Paulus saat berbicara dalam Fellowship Journalist and Training Badan\nPengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Batch II yang digelar secara\ndaring, pekan lalu. Selama ini, neraca perdagangan migas Indonesia jarang\nsekali surplus karena ketergantungan terhadap impor minyak cukup tinggi. Dengan\nadanya kebijakan pemerintah untuk mendorong penggunaan biodiesel merupakan\nalternatif atau solusi yang harus tetap didorong. Paulus menuturkan, Indonesia\nmemang merupakan produsen sawit terbesar di dunia dan merupakan sebuah fakta\nyang sudah diketahui. Pemanfaatan sawit sebagai energi terbarukan merupakan\nsolusi yang pas untuk mengatasi masalah defisit neraca perdagangan dan tentunya\nuntuk mewujudkan ketahanan energi nasional. Aprobi secara khusus mengapresiasi\nPresiden Jokowi yang sudah berkomitmen menjalankan program B30 bahkan B100 dan\nsecara perlahan sudah ada titik terang yang dimulai dari B30. Apb-robi sebagai\nprodusen biofuel membeli minyak sawit mentah (CPO) dari masyarakat dan perusahaan\nmemproduksinya lagi menjadi FAME dan dicampurkan dengan solar, hasilnya sudah\nteruji dengan baik. Di sisi lain, penggunaan biodiesel juga mempengaruhi\nperubahan iklim dan mencegah terjadinya emisi gas rumah kaca karena biodiesel\nlebih ramah lingkungan. &#8220;Program mandatori B30 diproyeksikan menyerap 9,60\njuta kiloliter (kl) dan program B30 juga tidak menyebabkan ketimpangan harga\nCPO justru bisa menjaga harga CPO lebih stabil atau dengan kata lain tidak\nkanibal satu sama lainnya,&#8221; ungkap Paulus. Program B30 telah menguntungkan\npetani karena harga tandan buah segar (TBS) bisa naik dan petani lebih\nsejahtera. Apabila strategi dan rencana sudah disusun dengan matang maka\nprogram B30 hingga B100 akan sukses, kapan lagi Indonesia bisa mengurangi\nketergantungan minyak impor dengan memanfaatkan sawit. &#8220;Harta atau\nkekayaan Indonesia yaitu sawit ini harus dimanfaatkan sehingga bisa tercipta\nketahanan energi nasional, jika ketahanan energi sudah diwujudkan maka anggaran\nnegara lainnya bisa digunakan untuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan\ninfrastruktur,&#8221; ujar dia.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Republika.co.id\">Republika.co.id<\/a>\n| Minggu, 25 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Industri Sawit Dorong Capaian Bauran Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Industri sawit tak hanya menjadi penopang devisa negara saat ini. Industri\nsawit juga berperan penting dalam laju pertumbuhan bauran energi di Indonesia.\nSaat ini pemerintah menargetkan 25 persen porsi energi baru terbarukan dalam\nbauran energi. Sejauh ini, kontribusi terbesar disumbang oleh biodiesel.&nbsp;\nDirektur Utama (Dirut) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS),\nEddy Abdurrachman menjelaskan sejak mandatori biodiesel, industri sawit sudah\nmenyumbangkan eksistensinya dalam pasokan FAME yang merupakan campuran utama\ndari biodiesel. &#8220;Industri sawit punya peranan penting dalam mendorong\nenergi baru terbarukan di Indonesia. Saat ini produk biodisel bahkan bisa\nmenekan angka ketergantungan impor solar. Ini bisa menghemat devisa,&#8221; ujar\nEddy, Ahad (23\/10). BPS mencatat dengan program biodiesel sepanjang semester I,\nimpor minyak bisa ditekan sampai 11,73 persen atau 10,33 juta ton. Nilai impor\nhasil minyak juga merosot dari 39,3 persen menjadi 1,98 miliar dolar AS. Meski\ntak bisa ditampik, program mandatory biodiesel ini tak bisa berjalan mulus\ntanpa peran BPDPKS. Sebab, sebenarnya program mandatory ini tak bisa sampai ke\nmasyarakat karena persoalan harga bahan baku FAME. BPDPKS mengaku jika memang\ntidak ada subsidi dari pungutan ekspor yang dilakukan BPDPKS, maka harga jual\nbiodiesel ini jauh lebih tinggi daripada solar.<\/p>\n\n\n\n<p>Plt Kadiv Pemungutan Biaya dan CPO, Fajril Amirul menjelaskan jika\nprogram biodiesel ini dihadapkan pada solar, maka sebenarnya harga jual akan menjadi\nmasalah. &#8220;Harga ini yang jadi masalah. Kalau gak ada BPBD lalu beban itu\nke masyarakat maka gejolaknya besar,&#8221; ujar Fajril. Ketua Harian Aprobi, Paulus\nTjakrawan juga mengakui para pengusaha sawit mendukung penuh program biodiesel\nini. Selain memang bisa menekan angka impor, disatu sisi program ini juga bisa\nmembantu para perusahaan sawit untuk bisa meningkatkan serapan produk hasil\nsawit. Ia menjabarkan bahwa kondisi pasokan saat ini surplus. Apalagi masalah\npelarangan penggunaan produk sawit di beberapa negara menyebabkan kondisi\nproduksi dalam negeri berlebih dan menyebabkan harga anjlok. &#8220;Kami tentu\ntak bisa menampik kondisinya saat ini pasokan sangat berlebihan. Namun dengan\nprogram ini setidaknya bisa meningkatkan serapan dalam negeri,&#8221; ujar\nPaulus. Paulus mencatat saat ini produksi nasional sebesar 48 juta metrik ton\nCPO. Padahal konsumsi dalam negeri di luar program biodiesel hanya 9 sampai 11\njuta metrik ton. Dengan adanya program ini setidaknya serapan domestik bisa bertambah.\n&#8220;Sekarang produksi kita itu 68 juta kiloliter FAME. Padahal kita cuman\npakai 15 juta. Kebutuhan dalam negeri hanya 10 juta,&#8221; ujar Paulus. Ia pun\nmendukung penuh upaya pemerintah untuk bisa terus mengembangkan produk\nbiodiesel ini dengan meningkatkan komposisi FAME dalam campuran. Harapannya,\nmaka serapan dalam negeri akan terus bertambah. Disatu sisi, angka ketergantungan\nimpor minyak mentah juga bisa semakin rendah dan pada saatnya indonesia bisa\nterbebas dari ketergantungan impor minyak mentah. &#8220;Ini bisa terus\ndijalankan dan ditingkatkan. Setelah kami hitung dan lihat ini harus tetap\njalan, Untuk kepentingan kita bersama,&#8221; ujar Paulus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/republika.co.id\/berita\/qiquwq370\/industri-sawit-dorong-capaian-bauran-energi\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Borneonews.co.id\">Borneonews.co.id<\/a>\n| Senin, 26 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Begini Kata Paulus Tjakrawan Terkait Keunggulan Biodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia atau Aprobi,\nPaulus Tjakrawan dalam kegiatan Fellowship Journalist Batch II yang\ndilaksanakan secara virtual atas kerja sama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa\natau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada Rabu-Kamis, 21-22\nOktober 2020 menjelaskan keunggulan biodiesel. Mulai dari keunggulan\nlingkungan, ketahanan energi hiingga keekonomian. &#8220;Keunggulan di bagian\nlingkungan, biodiesel ini sifatnya biodegradable, lebih tidak beracun\ndibandingkan solar, serta bebas Sulphur,&#8221; kata Paulus dalam kegiatan\ntersebut. Selain itu, lanjutnya, biodiesel diproduksi dari tumbuhan atau\ntanaman yang berkesinambungan, dalam hal ini dari kelapa sawit. Selain itu,\nbiodiesel juga menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih kecil dari penggunaan\nsolar, dan mengurangi polusi. &#8220;Tahun 2019, Biodiesel Indonesia telah\nberhasil mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 45% atau setara dengan\n~17,5 Juta Ton CO2 Equivalent,&#8221; tuturnya menyampaikan fakta.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara keunggulan dari sisi ketahanan energi, Paulus\nmenjelaskan bahwa biodiesel mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.\nPemakaian bahan bakar di Indonesia sekitar 1,4 Juta Barel per hari, sedangkan\nIndonesia menghasilkan hanya 778 ribu barel per hari. Tahun 2019, produksi\nBiodiesel untuk domestik sebesar 6,39 Juta Kl ~ 40 juta Barel (~51 Hari\nProduksi Minyak Indonesia). &#8220;Dari sisi keekonomian tentu saja ini dapat\nmengentaskan kemiskinan dan memberikan lapangan kerja sekitar 650 ribu\npetani-pekerja Sawit di sektor hulu. Indonesia juga mampu menghemat devisa\nsekitar 50 Triliun Rupiah pada 2019 ~ 3,34 Miliar US$. Dapat diproduksi dimana\nsaja asal ada bahan bakunya,&#8221; bebernya. Potensi lainnya, tambah dia,\nmisalnya dari minyak kelapa seperti yang dikembangkan di Philippines, Indonesia\nberpotensi memiliki 2,5 juta kl per tahun atau 3,2 juta ton Kopra dengan\nrendemen sekitar 68 persen.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.borneonews.co.id\/berita\/190353-begini-kata-paulus-tjakrawan-terkait-keunggulan-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Borneonews.co.id\">Borneonews.co.id<\/a>\n| Minggu, 25 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Implementasi Biodiesel oleh Pemerintah Indonesia Sudah Capai\nB30, Industri Kelapa Sawit Makin Berjaya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia atau Aprobi,\nPaulus Tjakrawan mengatakan bahwa kebijakan pemerintah dalam bauran energi,\nprogram biodiesel dan komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca kian diseriusi.\nBuktinya, Indonesia telah meningkatkan penggunaan Energi Terbarukan pada bauran\nEnergi Indonesia dari 6% di tahun 2013 sampai 23% pada tahun 2025, dan 31% di\ntahun 2050 mendatang. Saat ini, di tahun 2020, dalam rangka meningkatkan\nkonsumsi minyak kelapa sawit domestik, implementasi biodiesel oleh pemerintah\nIndonesia sudah mencapai tahap B30. Paulus menjelaskan bahwa B30 adalah istilah\nyang mengacu pada campuran bahan bakar dengan kandungan 30 persen minyak nabati\ndan 70 persen minyak bumi. Angka 30 pada &#8220;B20&#8221; menunjukkan jumlah\nminyak nabati yang terkandung dalam campuran biodiesel tersebut. Hal ini\ndijelaskannya dalam kegiatan Fellowship Journalist Batch II yang dilaksanakan\nsecara virtual atas kerjasama Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa atau JProf\ndan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada Rabu-Kamis, 21-22 Oktober 2020.\n&#8220;Penyediaan energi yang bersih dan terjangkau telah menjadi komitmen dan\nsalah satu tujuan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable\nDevelopment Goals\/SDGs di Indonesia,&#8221; tuturnya. Karena itu, tidak heran\njika Indonesia berkomitmen menyediakan energi bersih dan terjangkau sebagai\nbagian dari amanat Kebijakan Energi Nasional, yakni komitmen mengurangi\nkonsumsi minyak dan memperluas penggunaan energi terbarukan. &#8220;Indonesia,\nNationally Determined Contributions pada Konvensi Kerangka Kerja Perubahan\nIklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNFCCC berkomitmen meningkatkan energi baru\ndan terbarukan atau New Renewable Energy dari 26 persen di tahun 2020 ini menjadi\n29 persen di tahun 2030 mendatang,&#8221; terangnya lagi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.borneonews.co.id\/berita\/190351-implementasi-biodiesel-oleh-pemerintah-indonesia-sudah-capai-b30-industri-kelapa-sawit-makin-berjaya\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kaltim.prokal.co\">Kaltim.prokal.co<\/a>\n| Sabtu, 24 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>B30 Pangkas Impor Solar Rp 45 T, Petani Sejahtera<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>KOMITMEN Pertamina dalam membantu pemerintah mengurangi defisit neraca\nperdagangan begitu besar. Di tengah penurunan harga minyak dunia yang berada di\nlevel USD 40-45 per barel, mereka tetap konsisten menerapkan mandatori biodiesel\n30 persen (B30) atau mencampur bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan biodiesel\nsebanyak 30 persen. Penerapan B30 ini pada 2020 diprediksi mampu mengurangi\nimpor solar sebesar 8-9 juta kiloliter. Jika dikalikan dengan harga indeks\npasar (HIP) solar pada Maret 2020 sebesar Rp 5.630 per liter, maka nilai penghematan\nimpor solar bisa mencapai Rp 45 triliun. Sepanjang Januari-Juli 2020, Badan\nPusat Statistik (BPS) juga mencatat, nilai impor migas Indonesia turun 32,85\npersen dari USD 12,64 juta dengan volume 23,17 juta ton menjadi USD 8,48 juta\ndengan volume 22,22 juta ton. Direktur Utama Nicke Widyawati menuturkan,\nprogram B30 tahun lalu tidak hanya mengurangi impor solar, tapi juga menghemat\ndevisa negara hingga 20-30 persen. \u201cSebelum B30, kita sudah menerapkan B20.\nDari data tahun 2018-2019, ada penurunan biaya sekitar 4 persen. Jadi, setiap\ntambahan FAME (fatty acid methyl ester) sebesar 10 persen ke solar, ada\npenurunan biaya produksi 2 persen,\u201d ujarnya seperti dikutip dari keterangan\nresmi. Secara nasional, tahun ini Pertamina memiliki target penyaluran biosolar\natau B30 sebesar 15,076 juta kiloliter. Dan per September sudah terealisasi\nsebesar 10,182 juta kiloliter. Untuk wilayah Kalimantan sendiri, setiap\nbulannya perseroan pelat merah ini menyalurkan 375.444 kiloliter. \u201cIni kami\ndistribusikan ke seluruh SPBU atau retail dan konsumsi industri di Kalimantan,\u201d\ntambah Manajer Komunikasi, Relasi &amp; CSR Regional Kalimantan Roberth MV\nDumatubun, Sabtu (17\/10). Adapun untuk Kaltim, distribusi B30 per September\nsudah sebesar 168.060 kiloliter dari target sebesar 257.497 kiloliter. Dengan\nkonsumsi terbesar berada di Samarinda mencapai 39.160 kiloliter. Robert juga\nmemastikan seluruh solar yang beredar di masyarakat sudah mengandung biodiesel.\nSelama menjalankan program tersebut, Roberth mengaku dihadapkan dengan beberapa\ntantangan. Salah satunya mengatasi sifat biodiesel yang bisa membeku pada suhu\ndingin. Sehingga diperlukan tempat penyimpanan khusus agar tidak merusak\nkualitas BBM yang akan disalurkan ke masyarakat. Pun saat melakukan\npencampuran. Harus dilakukan jelang pendistribusian. \u201cBahkan kadang kami\nmencampurnya di moda transportasi langsung. Bisa di mobil tangki atau kalau\npengirimannya menggunakan kapal ya kami blending di kapal,\u201d bebernya. Dia\nmemastikan program tersebut tetap akan dijalankan secara maksimal karena\nmenjadi salah satu alternatif mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil\nyang nantinya pasti habis.<\/p>\n\n\n\n<p>Melihat permintaan BBM yang terus bertambah, pihaknya juga\nberencana memperbesar kapasitas penyimpanan. Membangun dua tangki untuk solar\ndi Samarinda dan membuka lahan baru di Tanjung Batu, di kawasan Teluk Balikpapan.\nPenambahan ini dilakukan sebagai antisipasi peningkatan jumlah produksi seiring\nperluasan kilang minyak Balikpapan dan proyek perpindahan ibu kota negara (IKN)\nbaru. \u201cSelain perpindahan IKN, permintaan BBM setiap tahunnya juga pasti meningkat\nsejalan dengan tumbuhnya jumlah penduduk, jumlah kendaraan dan investasi yang\nmasuk ke Kaltim. Semakin banyak investasi, maka akan semakin banyak industri\nyang akan terbangun. Semuanya ini membutuhkan suplai BBM,\u201d tuturnya. Terkait\nsuplai FAME sebagai bahan baku B30, pihaknya mencatat belum pernah ada gangguan\nkarena Pertamina pusat telah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan\nkelapa sawit, salah satunya PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III. \u201cKami sudah menggandeng\nbanyak perusahaan, jadi untuk suplai tidak pernah ada masalah. Apalagi produksi\nkelapa sawit kita juga besar,\u201d tuturnya. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel\nIndonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menambahkan, penerapan B30 memiliki\nmultiplier effect. Tak hanya mengurangi defisit neraca perdagangan, tapi juga\nbisa membantu pemerintah menurunkan emisi karbon dan membuat harga kelapa sawit\nsemakin kuat yang ujung-ujungnya menguntungkan petani kelapa sawit dan\nmenyejahterakan masyarakat. \u201cSaat ini masyarakat yang menggantungkan hidup di\nindustri sawit mencapai 16 juta orang dan sekitar 7 juta orang merupakan petani.\nArtinya, jika B30 ini terus berjalan dan ditingkatkan, kesejahteraan petani akan\nterjamin,\u201d ungkapnya. Paulus mengatakan, tahun lalu produksi FAME di Indonesia\nsebesar 6,39 juta kiloliter atau setara 40 juta barel atau 51 hari produksi\nminyak Indonesia. Sementara kapasitas terpasang produksi FAME dari anggota\nAprobi sebanyak 12 juta kiloliter yang dihasilkan dari 19 pabrik. Artinya,\nproduksi masih bisa ditingkatkan kurang lebih 6 juta kiloliter lagi untuk\nmemaksimalkan kapasitas yang terpasang. &#8220;Jadi kalau B30 mau dinaikkan\nmenjadi B40, hanya akan ada tambahan sekitar 3 juta kiloliter menjadi 9 juta\nkiloliter untuk konsumsi dalam negeri. Jadi masih aman dan mencukupi. Tidak\nperlu menambah kebun lagi dan mematahkan anggapan bahwa kelapa sawit merusak\nlingkungan,&#8221; tegasnya. Penggunaan energi baru terbarukan ini juga membuktikan\nbahwa Indonesia turut menjaga lingkungan dengan mengurangi emisi karbon. Dia\njuga mengapresiasi keseriusan Pertamina dengan terus melakukan pengembangan\nmenjadi B40 dan menemukan D100 pada 16 Agustus lalu. D100 ini dinilai lebih\nramah lingkungan karena gas karbon dioksida yang dilepaskan lebih sedikit dari\nB100 atau FAME. \u201cB30 lebih bersih dibandingkan bahan bakar minyak murni karena\ntidak mengandung sulfur. Dan 2019 lalu biodiesel berkontribusi mengurangi emisi\ngas rumah kaca sebesar 17,5 juta ton CO2. Selain itu, program B30 ditargetkan\nbisa menyerap tenaga kerja tambahan hingga 1,29 juta orang,\u201d bebernya.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang menjadi tantangan besar, tambah Paulus, adalah harga\nbiodiesel yang justru lebih mahal ketimbang solar. HIP FAME pada Juni lalu\ntercatat sebesar Rp 6.941 per liter. Ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri\nbagi Pertamina untuk terus menjalankan B30. \u201cNamun demi kepentingan perekonomian\nnegara, ini harus dilakukan. Ketimbang impor solar dan uangnya keluar, lebih\nbaik mengolah biodiesel yang mahal tapi uangnya berputar di dalam negeri. Dari\nperputaran uang itu, perekonomian nasional jauh lebih kuat,\u201d terangnya.&nbsp;&nbsp;\nDitanya mengenai respons masyarakat dan industri, Paulus mengatakan, mereka\nmenyambut positif adanya bahan bakar ramah lingkungan ini. &#8220;Saat ini hanya\nFreeport yang belum menggunakan karena mereka beroperasi di ketinggian dengan suhu\nyang dingin. Takutnya kalau menggunakan B30 terjadi pembekuan. Alutsista TNI\njuga belum. Tapi untuk industri lain sudah pakai semuanya,\u201d terang dia. Katenun,\nmanajer Servis PT Mandau Berlian Sejati, diler resmi Mitsubishi di Balikpapan menuturkan,\nsaat ini pihaknya sudah melakukan adaptasi dengan B30. Seperti Mitsubishi Fuso\nyang sudah diberi penambahan filter. Untuk menyaring kandungan air dari\nbiodiesel agar mesin lebih aman dan tidak masuk ke sistem pembakaran. \u201cYang awalnya\nsatu filter, kini kami tambah jadi dua. Yang sebelumnya dua ditambah jadi tiga.\nKami juga sudah melakukan trial untuk permasalahan ini dan ada training. Jadi\nkami sudah mengikuti perkembangan dan siap mendukung program tersebut,\u201d\ntuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia mengungkapkan, untuk Triton, pihaknya memberi saran kepada\nkonsumen menambah double filter kit. Karena hingga sekarang produksi Triton\nmasih pakai satu filter. Penambahan filter juga tidak terlalu mahal, hanya\nberkisar Rp 700 ribu. \u201cKalau tidak melakukan penambahan, konsekuensinya\nkonsumen harus lebih sering mengganti filter. Dari awalnya per 10.000\nkilometer, jadi setengahnya,\u201d beber dia. Jika tidak ada penambahan, tambah\nKatenun, penggunaan biodiesel berpotensi merusak beberapa komponen mesin di\nsistem pembakaran. Misalnya injector dan supply pump. Jika masuk air ke\nkomponen tersebut makan akan mengakibatkan korosi dan membuat kinerjanya tidak\nmaksimal. Sejauh ini, Katenun belum pernah menerima keluhan dari pelanggan\nterkait B30 karena dari awal sudah memberi edukasi. Terkadang justru masyarakat\nyang lebih dulu konsultasi. \u201cKarena mereka memang harus menyesuaikan. Kalau\nperusahaan besar, mereka sudah melakukan antisipasi dari awal karena kualitas\nBBM di tambang kadang jelek. Tercampur air embun karena terlalu lama disimpan\natau terlalu lama pengiriman,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Corporate Secretary PT Transkon Jaya Tbk R Alexander J Syauta menuturkan,\npihaknya siap mendukung perubahan yang mendukung ke arah kebaikan yang telah\ndilakukan pemerintah. Perusahaan yang melantai di bursa saham awal tahun ini\njuga terus berkoordinasi dengan pihak diler untuk meningkatkan kinerja mesin\nsembari melakukan perubahan dalam sistem perawatan internal. \u201cKami telah\nmenggunakan filter terbaik yang dapat mendukung dan sesuai dengan B30. Juga\nmengubah prosedur perawatan sehingga bisa memfasilitasi perubahan pada kinerja\nmesin sebagai akibat dari penggunaan B30,\u201d tutur Syauta. Hal itu memang harus dilakukan\nTranskon Jaya karena mereka bergerak di bidang penyewaan kendaraan dan memiliki\nsekitar 5.000 mobil, tersebar di berbagai tambang di seluruh Indonesia. Bahkan,\nkini mereka baru saja mendapatkan beberapa proyek baru di Sulawesi. \u201cKami terus\nmelakukan ekspansi pasca-IPO. Jadi, kami harus menyesuaikan diri dengan program\npemerintah, termasuk B30,\u201d sambungnya. Petani Kelapa Sawit di Kaliorang, Kutai\nTimur, Imam Munir Maliki mengungkapkan, harga tandan buah segar (TBS) kelapa\nsawit sepanjang tahun ini relatif stabil dibandingkan dua tahun lalu. Yakni,\nberkisar Rp 1.550 per kilogram. Dengan memiliki lahan seluas 6 hektare, dia\nsetiap bulannya mampu mendapat penghasilan Rp 20 juta. \u201cIni cukup untuk\nmemenuhi kebutuhan keluarga kami,\u201d ujarnya. Dia berharap, program B30 bisa\nditeruskan, bahkan kalau bisa kandungan biodieselnya ditambah. Supaya harga TBS\nterus terjaga dan pendapatannya stabil. \u201cSelama ini, saya mengantar sendiri\nbuah ke perusahaan pakai mobil triton. Selama ini tidak pernah mengalami\nkendala di mesin, mobil tetap beroperasi normal,\u201d pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/kaltim.prokal.co\/read\/news\/378451-b30-pangkas-impor-solar-rp-45-t-petani-sejahtera\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pikiran-rakyat.com | Sabtu, 24 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kilang Pertamina Cilacap Kembangkan Green Avtur berbahan baku\nMinyak Kelapa Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap Jawa Tengah, saat ini\nsedang mengembangan produk Avtur ramah lingkungan berbahan dasar minyak sawit,\n&#8220;Green Avtur&#8221; Uji coba Green Avtur yang pertama dengan Co-Processing\ninjeksi 3 persen minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil\/CPO) masih berlangsung.\nSaat ini CPO yang sedang dalam proses lebih lanjut untuk menghilangkan getah, impurities\ndan baunya menjadi RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil) di kilang\nCilacap. &#8220;Ini adalah bagian dari roadmap pengembangan bio refinery Pertamina\ndalam rangka mewujudkan green energy di Indonesia,\u201dkata Hatim Ilwan, Unit Manager\nCommunication, Relations, &amp; CSR Pertamina RU IV Cilacap, Sabtu 24 Oktober 2020.\nDiharapkan untuk fase 1, uji coba Green Avtur pada Desember 2020. Meski secara\nkomersial belum akan dijual,Green Avtur&nbsp; tetap diuji coba untuk menguji\nkualitasnya.&nbsp; \u201cUntuk fase kedua, ditargetkan akhir 2020 atau awal 2021.\nKomitmen kami seluruh produk mengarah pada efisiensi dan ramah lingkungan,\nsetara Euro 4 atau Euro 3. Ini adalah bagian dari visi Pertamina&nbsp; menuju\n\u2018To be Digital &amp; World Class Refinery\u2019pada ada 2028. Hal ini harus didukung\nkeberadaan kilang yang efisien dan ramah lingkungan, baik dari sisi operasional\nmaupun produknya,\u201d jelas Hatim. Pertamina RU IV Cilacap saat ini menjadi produsen\nBBM jenis Avtur terbesar di Indonesia. Sepanjang 2020, produksi tertinggi tercatat\n1.852 Mille barrel (MB)\/ ribu barrel terjadi pada bulan Januari. Sedangkan\ndalam 5 tahun terakhir, produksi tertinggi terjadi pada Agustus 2019, sebesar\n1.895 MB. Selain itu Pertamina RU IV Cilacap untuk pertama kalinya dalam sejarah\nberhasil mengekspor Avtur sebesar 400 MB pada Juli 2019. \u201cHal ini Ini semakin\nmenegaskan posisi Pertamina RU IV sebagai kilang paling besar dan strategis di\nIndonesia,\u201d kata Hatim. Menurutnya sebelum adanya konversi minyak tanah ke LPG,\nAvtur dijual dalam bentuk kerosene atau minyak tanah dengan distribusinya\nmelalui jalur laut,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/portalpurwokerto.pikiran-rakyat.com\/nasional\/pr-115867919\/kilang-pertamina-cilacap-kembangkan-green-avtur-berbahan-baku-minyak-kelapa-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a>\n| Jum\u2019at, 23 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Green Building Pertamina Cilacap Hemat Rp 230 Juta dalam 4 Tahun<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertamina terus berupaya melakukan efisiensi energi yang ramah lingkungan\nbaik di dalam operasional kilang maupun aktivitas perusahaan sehari-hari. Salah\nsatunya di gedung head office (HO) Pertamina RU IV. Gedung yang terletak di\nJalan MT Haryono 77, Lomanis, Cilacap yang dibangun sejak 2016 kemudian\nditempati sejak tahun 2017 ini mengusung konsep green building dan telah membukukan\nsejumlah penghematan. Unit Manager Communication, Relations, &amp; CSR\nPertamina RU IV Cilacap, Hatim Ilwan mengatakan gedung yang dibangun dengan konsep\ngreen building, energy saving building, dan minimalis ini sesuai dengan visi\nmisi perusahaan. &#8220;Gedung ini dibangun sebagai tindak lanjut standard IRI (International\nRisk Insurance) terkait jarak gedung perkantoran terhadap tanki produk,\nsehingga untuk mendapatkan lokasi kerja yang aman dan nyaman,&#8221; ujar Hatim\ndalam keterangan tertulis, Jumat (23\/10\/2020). Gedung HO memiliki luas area\n7.257 m\u00b2 dengan ketinggian 4 lantai yang meliputi lantai dasar (resepsionis,\nruang tender, area bisnis, ruang poliklinik, laktasi, dan lain-lain) serta\nlantai 1-4 sebagai ruang kerja dan lantai atap dengan luas keseluruhan gedung\n17.858,59 m\u00b2. Hatim mengatakan gedung ini menerapkan energi terbarukan berupa\nsolar cell atau photovoltaic untuk penyediaan kebutuhan penerangan. Kapasitasnya\n200 watt per cell dengan total kapasitas 80 kWp dan dipasang di atas atap\ngedung. Total kapasitas energi terbarukan yang dipasang 24.090kWh per tahun.\nKonsumsi bulanan gedung ini 13.700 kWh, sedangkan energi terbarukan yang diproduksi\n2.200 kWh\/bulan. Persentase penggantian atau efisiensi penggunaan energi\nterbarukan guna menyediakan tenaga listrik di gedung ini adalah 15%. Kondisi\nini membuat gedung HP mampu menghemat daya listrik 27.520 kWh\/tahun atau senilai\nRp 57,7 juta\/tahun. &#8220;Dalam kurun 4 tahun gedung HO ini ditempati, penghematannya\nlebih dari Rp 230 juta,&#8221; imbuh Hatim. <\/p>\n\n\n\n<p>Pertamina juga melakukan pemanfaatan efisiensi air berupa\npenerapan water fixture dengan kapasitas tidak melebihi standar kemampuan\nmaksimal keluaran air sehingga terjadi penghematan pemanfaatan air. &#8220;Daur\nulang pemanfaatan air dari grey water recovery di gedung HO untuk beberapa\nkeperluan seperti penyiraman tanaman di luar ruangan, pembilasan toilet,\npenyemprotan jalur parkir, dan hidran serta mengumpulkan dan memanfaatkan\nkembali air hujan rainwater harvesting,&#8221; ujar Hatim. Selain itu,\npemanfaatan air nonminum untuk irigasi sebanyak 7 m\u00b3\/hari dengan penghematan Rp\n17,6 juta\/tahun. Air irigasi berasal dari sistem air daur ulang dan panen air\nhujan dengan asumsi harga di Cilacap Rp 7.000 per m\u00b3. &#8220;Catatan lain,\npemanfaatan air hujan sebagai air tawar dengan memanen air hujan di tangki air\nakan menurunkan 70% konsumsi air minum. Sedangkan air yang tidak dapat diminum\nuntuk menara pendingin atau keperluan lainnya dengan kemampuan kapasitas daur\nulang 220 m\u00b3, air akan digunakan untuk pembilasan, penyemprotan tempat parkir\ndan hidran,&#8221; sambung Hatim lebih lanjut. Di bidang perlindungan\nlingkungan, Pertamina RU IV juga menggunakan konstruksi berkelanjutan. Material\nyang digunakan dalam HO diperoleh dari proses daur ulang seperti material\nbatang baja atau tulangan baja untuk beton yang disediakan dari Gunung Garuda\npada perusahaan baja. &#8220;Kami juga melakukan reboisasi dan konservasi\ntanaman, berupa penanaman berbagai jenis tumbuhan seperti pohon, semak, semak,\ndan rumput. Tanaman yang ditanam akan menurunkan suhu di sekitar gedung,&#8221;\nkatanya. Berbagai keberhasilan ini membuat Pertamina RU IV diganjar penghargaan\nSubroto Award 2019 pada kategori Efisiensi Energi Nasional. &#8220;Prestasi ini\ntentu bukan untuk jumawa, tapi sepenuhnya kami dedikasikan untuk efisiensi\nenergi yang ramah lingkungan. Maka pengembangannya terus kami lakukan, termasuk\npada produk-produk keluaran Pertamina yang berorientasi pada green\nenergy,&#8221; pungkas Hatim. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/finance.detik.com\/energi\/d-5225694\/green-building-pertamina-cilacap-hemat-rp-230-juta-dalam-4-tahun\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Investor Daily Indonesia | Senin, 26 Oktober 2020 Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berharap program mandatori biodiesel 30% (B30) tetap berjalan sesuai jalur (on the track) hingga akhir tahun. Sebab, program tersebut bukan hanya telah berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia, khususnya untuk ketahanan energi nasional, tapi juga mendongkrak harga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4412","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Investor Daily Indonesia | Senin, 26 Oktober 2020 Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berharap program mandatori biodiesel 30% (B30) tetap berjalan sesuai jalur (on the track) hingga akhir tahun. Sebab, program tersebut bukan hanya telah berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia, khususnya untuk ketahanan energi nasional, tapi juga mendongkrak harga [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-10-26T02:41:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"18 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur\",\"datePublished\":\"2020-10-26T02:41:30+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/\"},\"wordCount\":3590,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/\",\"name\":\"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-10-26T02:41:30+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI","og_description":"Investor Daily Indonesia | Senin, 26 Oktober 2020 Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) berharap program mandatori biodiesel 30% (B30) tetap berjalan sesuai jalur (on the track) hingga akhir tahun. Sebab, program tersebut bukan hanya telah berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia, khususnya untuk ketahanan energi nasional, tapi juga mendongkrak harga [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-10-26T02:41:30+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:06+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"18 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur","datePublished":"2020-10-26T02:41:30+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/"},"wordCount":3590,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/","name":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-10-26T02:41:30+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/program-b30-tetap-berjalan-sesuai-jalur\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Program B30 Tetap Berjalan Sesuai Jalur"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4412"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4882,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4412\/revisions\/4882"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}