{"id":4415,"date":"2020-10-27T02:05:00","date_gmt":"2020-10-27T02:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4415"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/","title":{"rendered":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Borneonews.co.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Borneonews.co.id<\/a> | Senin, 26\nOktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Indonesia Berpotensi\nProduksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia berpotensi untuk\nmemproduksi biodiesel domestic, mengingat bahan bahan baku atau feedstock yang\nmelimpah. Selama ini bahan baku hanya diekspor ke luar negeri lalu tentu saja\nkemudian kembali lagi ke dalam negeri dalam bentuk produk olahan yang harganya\njauh lebih tinggi. Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia atau\nAprobi, Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya punya potensi\nuntuk menjadi produsen, tidak hanya bahan mentah, tetapi juga produksi matang\nseperti biodiesel berbahan dasar kelapa sawit yang memang melimpah di negara\nini. &#8220;Selama ini feedstock kita dengan biodiesel domestic yang diolah di\ndalam negeri itu perbandingannya sangatlah kecil. Kita justru lebih banyak\nmengekspor feedstock itu,&#8221; kata Paulus Tjakrawan dalam kegiatan Fellowship\nJournalist Batch II yang dilaksanakan secara virtual atas kerjasama Jurnalisme\nProfesional Untuk Bangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada\nRabu-Kamis, 21-22 Oktober 2020. Menurut Paulus, pada 2018 feedstock Palm Oil\nProduction mencapai 43.000 ton sementara biodiesel domestic hanya diproduksi\n3.263 ton atau 7,5 persennya saja. &#8220;Tahun 2019 lumayan meningkat tetapi\ntetap jauh perbandingannya. Feedstock Palm Oil Production mencapai 45.000 ton\nsementara biodiesel domestic hanya diproduksi 5.542 ton atau 12,03\npersen,&#8221; tuturnya. Lalu di 2020, tutur Paulus, feedstock Palm Oil\nProduction mencapai 46.000 ton sementara biodiesel domestic hanya diproduksi 8.091\nton atau 17,5 persennya saja. &#8220;Tahun 2018, produksi minyak kelapa sawit\nita itu mencapai 43,709 MTon dan yang kita ekspor, refine, lauric, oleo itu\nsebanyak 33,027 MTon atau sekitar 77,4 persen. Bayangkan kalau produksi minyak\nkelapa sawit kita itu dijadikan biodiesel domestic, kita tidak akan kekurangan\nbahan bakar nabati atau BBN, bahkan untuk menunjang listrik di PLN pun bisa\ndengan BBN ini,&#8221; terangnya. Hal inilah yang sedang diperjuangkan menurut\nPaulus. Indonesia ingin berdigdaya dengan kekayaan alamnya dan memanfaatkannya\ndemi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.borneonews.co.id\/berita\/190383-indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Borneonews.co.id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Borneonews.co.id<\/a> | Senin, 26\nOktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menuju Keberlanjutan\nIndustri Biodiesel dan Implementasinya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia sedang\nmemperjuangkan keberlanjutan industri kelapa sawit dalam hal ini tujuannya\nmengembangan biodiesel dengan mengimplementasikan segala kebijakan, termasuk\nbahan baku atau feedstock dari kelapa sawit. &#8220;Indonesia telah menerapkan\nmoratorium deforestasi atau pembukaan lahan, untuk penggunaan apa pun sejak 9\ntahun lalu, pada 2011. Selain itu diberlakukan juga moratorium untuk perkebunan\nkelapa sawit baru pada tahun 2018. Juga, telah dibentuk Badan Restorasi Gambut\n2016. Ini membuktikan keseriusan Indonesia untuk menjaga lingkungan namun juga\nmemberdayakan perkebunan yang sudah ada untuk keperluan negara,&#8221; kata\nKetua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia atau Aprobi, Paulus\nTjakrawan. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Fellowship Journalist Batch II\nyang dilaksanakan secara virtual atas kerjasama Jurnalisme Profesional Untuk\nBangsa atau JProf dan BPDP-KS di bawah Kementerian Keuangan pada Rabu-Kamis,\n21-22 Oktober 2020. &#8220;Standar Keberlanjutan Kelapa Sawit RSPO atau Roundtable\non Sustainable Palm Oil standar sudah dimiliki oleh 51 persen dari Perkebunan\ndi Indonesia,&#8221; bebernya. Standar ISPO atau Indonesia Sustainable Palm Oil\nlebih dari 500 perkebunan Indonesia sudah bersertifikat ISPO ini. Sementara\nISCC atau International Sustainability &amp; Carbon Certification, banyak\nperusahaan telah mendapatkan sertifikasi ISCC. &#8220;Karena ini soal\nkeberlanjutan, maka Indonesia terus mengembangkan teknologi pengolahan ramah\nlingkungan, biofuel agar Indonesia dapat mandiri dalam hal Bahan Bakar Nabati\natau BBN karena kita sudah memiliki bahan bakunya. Daripada bahan baku itu\nterus diekspor, lebih baik diolah di dalam negeri demi kesejahteraan\nIndonesia,&#8221; tutupnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.borneonews.co.id\/berita\/190384-menuju-keberlanjutan-industri-biodiesel-dan-implementasinya\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Listrikindonesia.com |\nSenin, 26 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Produksi Berlebih, Pengusaha\nSawit Mengandalkan Program Biodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Asosiasi Produsen Biofuel\nIndonesia (Aprobi) mencatatkan, produsen sawit di tanah air berlebih. Sehingga,\ntidak sedikit pengusaha sawit mengandalkan program biodiesel dari pemerintah.\n&#8220;Para pengusaha sawit mendukung penuh program biodiesel ini. Selain memang\nbisa menekan angka impor, disatu sisi program ini juga bisa membantu para\nperusahaan sawit untuk bisa meningkatkan serapan produk hasil sawit,&#8221; ujar\nKetua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan, kemarin. Melimpahnya pasokan sawit di\ntanah air, ungkapnya, salah satunya disebabkan karena ada masalah pelarangan\npenggunaan produk sawit di beberapa negara. Hal ini menyebabkan kondisi\nproduksi dalam negeri berlebih dan menyebabkan harga anjlok. &#8220;Kami tentu\ntak bisa menampik kondisinya saat ini pasokan sangat berlebihan. Namun dengan\nprogram ini setidaknya bisa meningkatkan serapan dalam negeri,&#8221; kata\nPaulus. Saat ini, ungkapnya, produksi nasional sebesar 68 juta metrik ton CPO.\nPadahal konsumsi dalam negeri di luar program biodiesel hanya 9 sampai 11 juta\nmetrik ton. Dengan adanya program biodiesel ini setidaknya serapan domestik\nbisa bertambah. &#8220;Sekarang produksi kita itu 68 juta kiloliter FAME.\nPadahal kita cuman pakai 15 juta. Kebutuhan dalam negeri hanya 10 juta,&#8221;\nujar Paulus. Ia pun mendukung penuh upaya pemerintah untuk bisa terus\nmengembangkan produk biodiesel ini dengan meningkatkan komposisi FAME dalam\ncampuran. Harapannya, maka serapan dalam negeri akan terus bertambah. Disatu\nsisi, angka ketergantungan impor minyak mentah juga bisa semakin rendah dan\npada saatnya indonesia bisa terbebas dari ketergantungan impor minyak mentah.\n&#8220;Ini bisa terus dijalankan dan ditingkatkan. Setelah kami hitung dan lihat\nini harus tetap jalan, Untuk kepentingan kita bersama,&#8221; ujar Paulus.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Utama (Dirut) Badan\nPengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman menjelaskan\nsejak mandatori biodiesel, industri sawit sudah menyumbangkan eksistensinya\ndalam pasokan FAME yang merupakan campuran utama dari biodiesel. &#8220;Industri\nsawit punya peranan penting dalam mendorong energi baru terbarukan di\nIndonesia. Saat ini produk biodisel bahkan bisa menekan angka ketergantungan\nimpor solar. Ini bisa menghemat devisa,&#8221; kata Eddy. BPS mencatat dengan\nprogram biodiesel sepanjang semester I, impor minyak bisa ditekan sampai 11,73\npersen atau 10,33 juta ton. Nilai impor hasil minyak juga merosot dari 39,3\npersen menjadi 1,98 miliar dolar AS. Meski tak bisa ditampik, program mandatory\nbiodiesel ini tak bisa berjalan mulus tanpa peran BPDPKS. Sebab, sebenarnya\nprogram mandatory ini tak bisa sampai ke masyarakat karena persoalan harga\nbahan baku FAME. BPDPKS mengaku jika memang tidak ada subsidi dari pungutan\nekspor yang dilakukan BPDPKS, maka harga jual biodiesel ini jauh lebih tinggi\ndaripada solar. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/listrikindonesia.com\/produksi_berlebih_pengusaha_sawit_mengandalkan_program_biodiesel_5610.htm\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tempo.co | Senin, 26 Oktober\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menjawab Tantangan Energi\nMasa Depan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia bersiap menghadapi\nkrisis energi pada 2050 dengan mencari energi alternatif untuk mengatasi\ncadangan energi fosil yang semakin menipis. Namun, pemanfaatan energi baru\nterbarukan (EBT) sebagai energi alternatif belum optimal. \u201cPadahal sumber\nenergi baru terbarukan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.&nbsp; EBT berada\npada kisaran lebih dari 400 gigawatt, tapi baru termanfaatkan 10 gigawatt atau\n2,5 persen,\u201d ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif,\ndalam acara Tempo Energy Day 2020 yang berlangsung virtual selama dua hari,\n21-22 Oktober 2020. Dari total kapasitas sumber energi saat ini sebesar 70\ngigawatt, EBT hanya 10,9 persen. Sisanya sebanyak 19,5 persen mengandalkan gas\nbumi, 35 persen batu bara dan minyak bumi sebesar 34,8 persen. Porsi ini\ndiharapkan berubah menjadi 23 persen pada 2025, lalu meningkat hingga 31 persen\npada 2050. Demi mencapai target tersebut, pemerintah mengambil empat langkah\nkebijakan. \u201cPertama, kita memaksimalkan energi baru terbarukan, lalu\nmeminimalisasi penggunaan minyak bumi, mengoptimumkan gas bumi, dan menjadikan\nbatu bara sebagai swinger,\u201d kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan\nKementerian ESDM, Rida Mulyana. Empat langkah kebijakan tersebut dijalankan\nperusahaan-perusahaan di klaster energi dan minerba (mineral dan batu bara) di\nbawah Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Menteri BUMN Erick Thohir telah\nmenugaskan PLN, Pertamina, PT Bukit Asam, dan MIND ID berinvestasi. Sejumlah\nhasil menggembirakan telah dicapai. \u201cTransformasi energi telah terjadi. Implementasi\nprogram biodiesel B30 sudah berjalan. Percepatan program klasifikasi batu bara\nuntuk dijadikan metanol dan dimetil eter sehingga bisa mengurangi impor LPG\nyang sekarang sudah mencapai&nbsp; sekitar 6 juta metrik,\u201d kata Erick. Selain\nitu, kata Erick, percepatan pembangunan listrik tenaga surya antara PLN dengan\nMasdar dari UAE (Uni Emirat Arab) dengan kapasitas 145 megawatt. \u201cProyek\nterbesar di Asia Tenggara,\u201d ujar Erick. Senior Vice President Strategy &amp;\nInvestment Pertamina Daniel S. Purba, mengatakan perseroan sedang menyiapkan\nempat pilar utama untuk memenuhi amanat Menteri Erick Thohir. Pilar pertama\nyakni pengembangan panas bumi (geothermal). \u201cKedua, bioenergi seperti\npengembangan bioavtur dan biogasoline. Ketiga, optimalisasi produksi gas, dan\nterakhir, pengembangan baterai kendaraan listrik bekerja sama dengan PT Inalum\ndan PLN,\u201d ujar Daniel. <\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan PT Bukit Asam Tbk\nmenyiapkan bisnis tenaga surya di bekas tambang mereka. \u201cKita sudah punya\npersiapan untuk mengembangkan pembangkit listrik dari surya. Ini akan dilakukan\ndi lahan pasca-tambang di Tanjung Enim dan Ombilin,\u201d ujar Direktur Utama Bukit\nAsam, Arviyan Arifin. Bukit Asam bekerja sama dengan PT Angkasa Pura II\n(Persero) untuk membangun panel surya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.\nAdapun dengan PT Jasa Marga (Persero) bekerja sama memanfaatkan areal tanah di\ntepi jalan tol sebagai lokasi bangunan panel surya. Arviyan menambahkan,\nperseroan juga akan memanfaatkan Danau Toba untuk dibangun tenaga surya.\nSementara itu, PLN digandeng Kementerian ESDM menjalankan dua proyek. Pertama,\npemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap agar pelanggan bisa\nmenghemat tagihan listrik hingga 30 persen, dan kedua adalah melistriki 433\ndesa yang akan dilaksanakan pada 2021. \u201cMenjalankan amanat pemerintah untuk\nmenerangi sampai pelosok negeri merupakan tugas yang harus kami penuhi,\u201d kata\nExecutive Vice Presiden EBT PLN (Persero), Cita Dewi. Walau demikian, upaya\nperusahaan BUMN merintis EBT demi pencapaian target 23 persen akan sulit jika\niklim investasi tidak mendukung. Sebab itu, pengamat energi dari Universitas\nGajah Mada, Fahmy Radhi, mendorong pemerintah memberikan insentif yang dapat\nmenarik minat investor. \u201cPemerintah mestinya bisa menyiapkan insentif agar\nkerja investor lebih ringan,\u201d kata dia. Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan\nIndonesia (METI) Surya Darma menyoroti tarif EBT yang lebih mahal dibandingkan\ndengan tarif energi fosil. Hal ini mengakibatkan perusahaan penyedia energi\ncenderung memilih bahan bakar migas. \u201cPemerintah harus mengeluarkan kebijakan\ntentang kepastian harga atau tarif yang sesuai, misalnya tenaga angin berapa\ntarifnya, surya berapa, panas bumi berapa,\u201d ujar Darma. Usulan-usulan tersebut\nterjawab dengan peraturan presiden yang bakal dikeluarkan dalam waktu dekat. Direktur\nAneka EBT Kementerian ESDM Harris, menyebutkan isi rancangan perpres tersebut.\n\u201cDi dalamnya ada ketentuan tarif yang lebih simpel, pengadaan yang bisa\nditunjuk langsung, juga tentang insentif tambahan. Dulu sudah ada insentif\ntetapi tidak spesifik. Nah, di dalam Perpres nanti lebih jelas,\u201d kata dia.\nRencana penerbitan perpres mendapat apresiasi dari Surya Darma. Ia berharap\nPerpres mampu menjawab semua persoalan yang bertahun-tahun menyulitkan\npengembangan EBT. Pasalnya, banyak regulasi sebelumnya yang mudah berganti.\n\u201cKami berharap perpres tidak mudah berubah sebagaimana peraturan menteri yang\nterdahulu,\u201d ujarnya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1399540\/menjawab-tantangan-energi-masa-depan\/full&#038;view=ok\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Borneonews.co.id | Senin, 26 Oktober 2020 Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah Indonesia berpotensi untuk memproduksi biodiesel domestic, mengingat bahan bahan baku atau feedstock yang melimpah. Selama ini bahan baku hanya diekspor ke luar negeri lalu tentu saja kemudian kembali lagi ke dalam negeri dalam bentuk produk olahan yang harganya jauh lebih tinggi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4415","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Borneonews.co.id | Senin, 26 Oktober 2020 Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah Indonesia berpotensi untuk memproduksi biodiesel domestic, mengingat bahan bahan baku atau feedstock yang melimpah. Selama ini bahan baku hanya diekspor ke luar negeri lalu tentu saja kemudian kembali lagi ke dalam negeri dalam bentuk produk olahan yang harganya jauh lebih tinggi. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-10-27T02:05:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah\",\"datePublished\":\"2020-10-27T02:05:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/\"},\"wordCount\":1608,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/\",\"name\":\"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-10-27T02:05:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI","og_description":"Borneonews.co.id | Senin, 26 Oktober 2020 Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah Indonesia berpotensi untuk memproduksi biodiesel domestic, mengingat bahan bahan baku atau feedstock yang melimpah. Selama ini bahan baku hanya diekspor ke luar negeri lalu tentu saja kemudian kembali lagi ke dalam negeri dalam bentuk produk olahan yang harganya jauh lebih tinggi. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-10-27T02:05:00+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:06+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah","datePublished":"2020-10-27T02:05:00+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/"},"wordCount":1608,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/","name":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-10-27T02:05:00+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/indonesia-berpotensi-produksi-biodiesel-dengan-bahan-baku-melimpah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Indonesia Berpotensi Produksi Biodiesel dengan Bahan Baku Melimpah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4415","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4415"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4881,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4415\/revisions\/4881"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}