{"id":4419,"date":"2020-11-02T06:39:10","date_gmt":"2020-11-02T06:39:10","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4419"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/","title":{"rendered":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bisnis.com | Jum\u2019at, 30 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan\nperforma produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai\ntarget awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari\ntahun lalu. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendata volume\nproduksi hingga akhir kuartal III\/2020 mencapai 6,4 juta kiloliter. Adapun, realisasi\nvolume produksi per September 2020 merupakan yang terbesar selama pandemi berlangsung\natau mencapai 740.295 kiloliter. &#8220;Kecil pengurangan [volume produksi\nakibat pandemi], kami juga heran. Kami kira dengan adanya pandemi itu turun\ndrastis. Paling terjadi penurunan [target produksi] 10 persen,&#8221; kata Ketua\nUmum Aprobi M. P. Tumanggor kepada Bisnis, Jumat (30\/10\/2020). Aprobi\nmenargetkan volume produksi biodiesel sepanjang 2020 dapat mencapai 9,5 juta\nkiloliter atau tumbuh sekitar 14 persen secara tahunan. Seperti diketahui, realisasi\nproduksi pada 2019 mencapai 8,3 juta kiloliter. Dengan kata lain, Tumanggor\nmeramalkan produksi biodiesel hingga akhir 2020 hanya akan tumbuh 1,9 persen\nsecara tahunan menjadi sekitar 8,5 juta kiloliter. Adapun produksi biodiesel\npada 2021 diramalkan menembus level 10 juta kiloliter. Artinya, Aprobi menilai\nperforma industri biodiesel tahun depan setidaknya dapat tumbuh 16 persen\nsecara tahunan. Tumanggor menilai hal tersebut disebabkan oleh implementasi\ncampuran fatty acid methyl ether (FAME) sebesar 30 persen pada bahan bakar\nsolar atau B30. Selain itu, pemerintah juga akan menguji coba penggunaan B40.\n&#8220;[Target produksi 2021] masih proses perhitungan karena setelah putus [formula\nB40] ada kebijakan kebijakan dan peraturan baru yang harus ditetapkan,&#8221;\nucapnya. Tumanggor menyampaikan saat ini pemangku kepentingan sedang menguji formula\npencampuran 30 persen FAME dan 10 persen green diesel untuk mencapai campuran\nbahan nabati 40 persen. Menurutnya, pemerintah akan mencapai konsensus terkait\nformula B40 pada medio Desember 2020. &#8220;Jadi, serapan sawit [oleh] kebutuhan\ndalam negeri akan meningkat tahun depan,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201030\/257\/1311596\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Jum\u2019at, 30 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah berencana terapkan pajak progresif untuk tarif bea\nkeluar CPO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah berencana untuk meningkatkan tarif bea keluar minyak\nsawit atawa crude palm oil (CPO) tahun depan. Ini menjadi peluang pemerintah\nuntuk meningkatkan penerimaan negara saat harga komoditas andalan Indonesia\nmelejit ditambah ekspor yang menggeliat. Menteri Koordinator (Menko) Bidang\nPerekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tarif bea keluar CPO tahun depan\nakan menggunakan skema pajak progresif yakni tarif pungutan pajak dengan\npersentase yang didasarkan pada jumlah atau kuantitas objek pajak dan\nberdasarkan harga atau nilai objek pajak. Dengan demikian, hal tersebut\nmenyebabkan tarif pajak akan semakin meningkat apabila jumlah objek pajak\nsemakin banyak dan nilai objek pajak mengalami kenaikan. Airlangga menyampaikan,\ntarif bea keluar secara progresif untuk CPO sekitar US$ 12,5 setiap kenaikan\nharga US$ 25. Sementara untuk produk turunan CPO yang berbentuk liquid\ndikenakan US$ 10 per US$ 25 kenaikannya. Menurut Airlangga, CPO masih menjadi\nmesin ekspor Indonesia. Apalagi pemulihan ekonomi global digadang-gadang sudah\nberlangsung di 2021. Dus, dia memprediksi nilai ekspor minyak sawit 2021\nsebesar US$ 20 miliar. Adapun, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia\n(Gapki) menunjukkan ekspor minyak sawit nasional sepanjang 2019 mencapai 36,17\njuta ton dengan nilai sebesar US$ 19 miliar. \u201cDi tengah pandemi kita punya\nkomoditas yang punya daya tahan sekaligus daya ungkit. Sektor pertanian ini\npertumbuhannya selalu positif, sehingga ini adalah pengungkit pertama untuk\nmemulihkan perekonomian nasional dan ini menjadi komoditas yang hilirisasinya\nsudah berjalan,\u201d kata Airlangga dalam dialog virtual, Selasa (27\/10) lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, rencana kebijakan tersebut belum dibahas oleh otoritas\nfiskal, sebab masih dikaji di tingkat Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang\nPerekonomian. \u201cBelum dengan kabar itu, dan belum ada pembahasan,\u201d kata Direktur\nKepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea Cukai\nKementerian Keuangan Syarif Hidayat kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>, Jumat (30\/10). Ketua Harian Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan pihaknya setuju\ndengan rencana pajak progresif CPO. Namun pemerintah harus mempertimbangan secara\nmatang soal dampak kebijakan fiskal tersebut. Sebab, tahun depan ketidakpastian\nglobal akibat dampak pandemi masih berlangsung. Sehingga, demand CPO terutama\ndari China boleh jadi menyusut. \u201cPengusaha sudah diajak bertemu, tinggal tunggu\nkeputusan dari Kemenkeu. Kalau sudah berjalan, yang jelas harus ada evaluasi\nberkala dengan pertimbangan dinamika ekonomi,\u201d kata Paulus kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>. Di sisi lain,\nPaulus berharap program biodiesel 30% atau B30 yang digagas oleh pemerintah\ndapat komitmen berjalan dan terus ditingkatkan. Cara ini bisa menyokong demand\nCPO dari dalam negeri, alhasil menahan harga minyak kelapa sawit agar tidak\njatuh. \u201cTapi dari sisi pembiayaan harus juga dilihat ketercukupan dana di Badan\nPengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), agar program-program dari pemerintah\nitu bisa jalan,\u201d ujar Paulus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/nasional.kontan.co.id\/news\/pemerintah-berencana-terapkan-pajak-progresif-untuk-tarif-bea-keluar-cpo\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Sabtu, 31 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mesin ekspor, CPO bakal dikenakan pajak progresif untuk tarif\nbea keluar tahun depan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah berencana untuk meningkatkan tarif bea keluar minyak\nsawit atawa crude palm oil (CPO) tahun depan. Ini menjadi peluang pemerintah\nuntuk meningkatkan penerimaan negara saat harga komoditas andalan Indonesia\nmelejit ditambah ekspor yang menggeliat. Menteri Koordinator (Menko) Bidang\nPerekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tarif bea keluar CPO tahun depan\nakan menggunakan skema pajak progresif yakni tarif pungutan pajak dengan\npersentase yang didasarkan pada jumlah atau kuantitas objek pajak dan\nberdasarkan harga atau nilai objek pajak. Dengan demikian, hal tersebut\nmenyebabkan tarif pajak akan semakin meningkat apabila jumlah objek pajak\nsemakin banyak dan nilai objek pajak mengalami kenaikan. Airlangga\nmenyampaikan, tarif bea keluar secara progresif untuk CPO sekitar US$ 12,5\nsetiap kenaikan harga US$ 25. Sementara untuk produk turunan CPO yang berbentuk\nliquid dikenakan US$ 10 per US$ 25 kenaikannya. Menurut Airlangga, CPO masih\nmenjadi mesin ekspor Indonesia. Apalagi pemulihan ekonomi global digadang-gadang\nsudah berlangsung di 2021. Dus, dia memprediksi nilai ekspor minyak sawit 2021\nsebesar US$ 20 miliar. Adapun, data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia\n(Gapki) menunjukkan ekspor minyak sawit nasional sepanjang 2019 mencapai 36,17\njuta ton dengan nilai sebesar US$ 19 miliar. \u201cDi tengah pandemi kita punya\nkomoditas yang punya daya tahan sekaligus daya ungkit. Sektor pertanian ini\npertumbuhannya selalu positif, sehingga ini adalah pengungkit pertama untuk\nmemulihkan perekonomian nasional dan ini menjadi komoditas yang hilirisasinya\nsudah berjalan,\u201d kata Airlangga dalam dialog virtual, Selasa (27\/10) lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, rencana kebijakan tersebut belum dibahas oleh otoritas\nfiskal, sebab masih dikaji di tingkat Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang\nPerekonomian. \u201cBelum dengan kabar itu, dan belum ada pembahasan,\u201d kata Direktur\nKepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Direktorat Jenderal Bea Cukai\nKementerian Keuangan Syarif Hidayat kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>, Jumat (30\/10). Ketua Harian Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan pihaknya setuju\ndengan rencana pajak progresif CPO. Namun pemerintah harus mempertimbangan\nsecara matang soal dampak kebijakan fiskal tersebut. Sebab, tahun depan ketidakpastian\nglobal akibat dampak pandemi masih berlangsung. Sehingga, demand CPO terutama\ndari China boleh jadi menyusut. \u201cPengusaha sudah diajak bertemu, tinggal tunggu\nkeputusan dari Kemenkeu. Kalau sudah berjalan, yang jelas harus ada evaluasi\nberkala dengan pertimbangan dinamika ekonomi,\u201d kata Paulus kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>. Di sisi lain,\nPaulus berharap program biodiesel 30% atau B30 yang digagas oleh pemerintah\ndapat komitmen berjalan dan terus ditingkatkan. Cara ini bisa menyokong demand\nCPO dari dalam negeri, alhasil menahan harga minyak kelapa sawit agar tidak\njatuh. \u201cTapi dari sisi pembiayaan harus juga dilihat ketercukupan dana di Badan\nPengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), agar program-program dari pemerintah\nitu bisa jalan,\u201d ujar Paulus.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/newssetup.kontan.co.id\/news\/mesin-ekspor-cpo-bakal-dikenakan-pajak-progresif-untuk-tarif-bea-keluar-tahun-depan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Banjarmasin Post | Sabtu, 31 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertimbangan Dinamika Ekonomi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>KETUA Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aproto), Paulus Tjakfawan\nmengatakan, pihaknya setuju dengan rencana pajak progresif CPO. Namun pemerintah\nharus mempeitimbangan secara matang soal dampak kebijakan fiskal tersebut.\nSebab, tahun depan ketidakpastian global akibat dampak pandemi masih\nberlangsung. Sehingga, demand CPO terutama dari Cina boleh jadi menyusut. &#8220;Pengusaha\nsudah diajak bertemu, tinggal tunggu keputusan dari Kemenkeu. Kalau sudah berjalan,\nyang jelas harus ada evaluasi berkala dengan pertimbangan dinamika ekonomi.&#8221;\nkata Paulus. Di sisi lain, Paulus berharap, program biodiesel 30 persen atau\nB30 yang digagas oleh pemerintah dapat komitmen berjalan dan terus ditingkatkan.\nCara ini bisa menyokong demand CPO dari dalam negeri, alhasil menahan harga\nminyak kelapa sawit agar tidak jatuh. &#8220;Tapi dari sisi pembiayaan harus\njuga dilihat ketercukupan dana di Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit\n(BPDPKS), agar program-program dari pemerintah itu bisa jalan,&#8221; ujar\nPaulus,<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Rabu, 28 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Komit Lanjutkan Program Campuran Biodiesel Sawit 30%\n(B30)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah berkomitmen terus mendukung keberlanjutan pelaksanaan program\nmandatori biodiesel (B30). Hal ini ditunjukkan dengan penyesuaian pungutan\nekspor minyak sawit mentah\/crude palm oil (CPO) dan produk turunannya untuk menyokong\nkeberlanjutan program B30 tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian\nAirlangga Hartarto mengatakan, program B30 harus terus dijalankan dengan tujuan\nmenjaga stabilisasi harga CPO pada level harga minimal US$ 600 per ton untuk\nmenjaga harga tandan buah segar (TBS) petani sawit. \u201cSelain itu juga untuk\nmempertahankan surplus neraca perdagangan non migas yang sekitar 12%-nya berasal\ndari ekspor produk sawit dan turunannya,\u201d ujar Menko Airlangga dalam Rapat\nKoordinasi Komite Pengarah Badan Pelaksana Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS),\ndi Jakarta, Selasa (27\/10) dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT.\nKemudian, pemerintah juga terus berupaya meningkatkan produksi perkebunan\nkelapa sawit rakyat dengan mengalokasikan Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk\n180 ribu hektare (ha) lahan di 2021. \u201cTarget luasan lahan tersebut diikuti\nkenaikan alokasi dana untuk tiap hektare lahan yang ditetapkan, yaitu Rp 30\njuta per ha atau naik Rp 5 juta per ha dari sebelumnya sebesar Rp 25 juta per\nha,\u201d ungkap Menko Airlangga. Turut hadir dalam rapat tersebut adalah Menteri\nKeuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita,\nMenteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Direktur Utama\nBPDPKS Eddy Abdurrahman, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko\nPerekonomian Musdhalifah Machmud, serta perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian\nBUMN, Kementerian ATR\/BPN, Kementerian PPN\/Bappenas, serta pelaku usaha utama\nindustri kelapa sawit nasional.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10329\/pemerintah-komit-lanjutkan-program-campuran-biodiesel-sawit-30&#8212;b30-\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Selasa, 27 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Masih ada tantangan di tengah mencuatnya wacana DMO kelapa sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Wacana penerapan domestic market obligation (DMO) kelapa sawit untuk\nmendukung pengembangan Green Diesel terus mencuat. Namun, masih ada sejumlah\ntantangan yang harus diselesaikan agar kebijakan tersebut benar-benar membawa\nmanfaat, terutama bagi pelaku usaha. Senior Executive Vice President Business\nSupport PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Arif Budiman mengatakan,\nisu perlunya kebijakan DMO kelapa sawit berawal dari masalah rantai pasok\nkelapa sawit itu sendiri. Ia menjelaskan, sebagian produksi biodiesel masih\nbergantung kepada pasokan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dari\nberbagai sumber dengan kualitas yang seringkali tidak memenuhi standar. Karena permintaan\ndunia atas biodiesel cenderung meningkat, penting untuk memastikan bahwa\nbiodiesel dihasilkan melalui proses yang dapat terlacak dan menggunakan konsep\nberkelanjutan. \u201cKalau aturan DMO diterapkan, sebenarnya dapat membantu kepastian\npenyerapan CPO di dalam negeri, apalagi prospeknya produksi CPO akan meningkat,\u201d\nungkap dia dalam webinar, Selasa (27\/10). Hanya saja, DMO kelapa sawit jelas\nbukan kebijakan yang mudah dilaksanakan. Salah satu potensi masalahnya adalah\ndirugikannya salah satu pihak karena selisih harga antara harga DMO dan harga\npasar. Arif bilang, sampai saat ini belum ada regulasi yang memungkinkan\nprodusen kelapa sawit maupun Pertamina untuk memanfaatkan dana pungutan di\nBadan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Ia juga memaparkan,\napabila DMO kelapa sawit diterapkan dalam waktu dekat, maka penggunaan dana\nBPDPKS akan dimasukkan sebagai APBN. Pencatatan penggunaan dana APBN dapat menimbulkan\nmasalah politis dan memakan waktu yang berlarut-larut. \u201cAlhasil diperlukan\nregulasi baru yang dapat menyederhanakan dan menghindarkan politisasi\npenggunaan dana BPDPKS untuk keperluan DMO,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/masih-ada-tantangan-di-tengah-mencuatnya-wacana-dmo-kelapa-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Kamis, 29 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Masih dalam kajian, penerapan B40 ditargetkan terwujud di tahun\n2022 mendatang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral\n(ESDM) menargetkan dapat mengimplementasikan B40 atau pencampuran biodiesel\ndalam bahan bakar solar pada tahun 2022 mendatang. Kasubdit Keteknikan\nLingkungan DItjen EBTKE Kementerian ESDM Effendi Manurung mengatakan, salah\nsatu tantangan program B40 yaitu belum tersedianya aturan yang mendukung hal\ntersebut. Sejauh ini, peta jalan mandatori biodiesel mengacu pada Peraturan\nMenteri ESDM No. 12\/2015 yang hanya mengatur pencampuran B30 sampai tahun 2025.\nKendati demikian, pengembangan B40 terus dilakukan oleh pemerintah. Sepanjang\ntahun 2020, pemerintah melakukan kajian awal B40 dengan ruang lingkup uji\nkarakteristik bahan baku, uji stabilitas penyimpanan, uji filter bahan bakar,\nuji presipitasi, dan uji kinerja. \u201cKajian terhadap insentif B40 juga\ndilakukan,\u201d kata Effendi saat webinar, Selasa (27\/10) lalu. Pemerintah pun\nmendapat rekomendasi awal hasil kajian untuk campuran B40 dengan menggunakan\nbeberapa opsi. Di antaranya pencampuran Fatty Acid Mehtyl Ester (FAME) 40%,\npencampuran FAME 30% + Distillate Palm Methyl Ester (DPME) 10%, dan pencampuran\nFAME 30% + Green Diesel 10%. Tak hanya itu, pemerintah juga menyusun parameter\nB100 yang digunakan untuk pencampuran B40.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tahun 2021 nanti, lanjut Effendi, pemerintah hendak melakukan\nuji jalan penggunaan B40. Di samping itu, peningkatan kapasitas industri Bahan Bakar\nNabati (BBN) serta konstruksi pembangunan Green Diesel juga dilakukan. \u201cKami\njuga mulai menyesuaikan regulasi mandatori biodiesel dan penetapan regulasi\nB40,\u201d ungkap dia. Nah, baru lah di tahun 2022 nanti diharapkan B40 dapat diberlakukan\ndi seluruh Indonesia. Tentunya hal itu diperlukan kesiapan produsen, infrastruktur,\nmanufaktur, dan pendanaan untuk insentif program B40. Sejauh ini, pemerintah\nsudah menjalankan program B30. Khusus di tahun 2020, target pemanfaatan B30\ntercatat sebesar 9,5 juta kiloliter. Namun, terjadi penyesuaian target menjadi\n8,3 juta kiloliter. \u201cSejauh ini realisasinya sudah sekitar 6 juta kiloliter,\u201d\nimbuh Effendi. Adapun pada tahun 2021 nanti, target pemanfaatan BBN ditetapkan\nsebesar 8,9 juta kiloliter dan terus meningkat menjadi 13,9 juta kiloliter di\ntahun 2025.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/masih-dalam-kajian-penerapan-b40-ditargetkan-terwujud-di-tahun-2022-mendatang\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Sabtu, 31 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kemerdekaan Biodiesel Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hegemoni asing yang begitu melekat dalam kehidupan bangsa\nIndonesia, tak bisa dianggap sebelah mata. Berbagai propaganda asing yang\nselama ratusan tahun berkuasa, secara nyata telah berhasil menguasai kehidupan\nbangsa Indonesia dalam tirani kekuasaan penjajahan. Devide et ampera (Memecah\nbelah dan menguasai) adalah strategi jitu yang selalu digunakan bangsa asing\nmenguasai kekayaan dan sumber daya alam hingga dewasa ini. Dahulu, bangsa\npenjajah berhasil membawa benih kelapa sawit sebagai cikal bakal perkebunan\nkelapa sawit di Indonesia. Kesesuaian lahan dan cuaca wilayah tropis, menjadi\nacuan Belanda memilih Indonesia sebagai tempat pengembangan perkebunan kelapa sawit.\nLantaran wilayah tropis selalu cukup memiliki curah hujan dan terik sinar matahari\nyang dibutuhkan kelapa sawit untuk bertumbuh. Selain kesesuaian agroklimat, perkebunan\nkelapa sawit juga membutuhkan tenaga kerja manusia yang lumayan besar, untuk\nmengelola perkebunan kelapa sawit. Jaman penjajahan itulah, banyak intimidasi\ndan penyiksaan bagi pekerja perkebunan kelapa sawit. Sifat penjajah yang rakus\ndan tamak tersebut, telah banyak merampas kehidupan dan nyawa rakyat Indonesia.\nNamun, perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya pada 17\nAgustus 1945. Kemerdekaan selama 75 tahun, telah banyak membawa perubahan dan\nkemajuan bangsa Indonesia. Kini perkebunan kelapa sawit telah memiliki pesona\ntersendiri bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Dari terbukanya lapangan\npekerjaan di pedesaan, membangun daerah pelosok, hingga kontribusi besar bagi\npendapatan devisa negara.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama 75 Tahun merdeka, bangsa Indonesia melakukan banyak pembangunan,\ntermasuk pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan. Pembangunan\nberkelanjutan ini, berpijak kepada prinsip dan kriteria berkelanjutan yang berlaku\nuniversal. Dimana, perkebunan kelapa sawit nasional selalu berdasarkan pro\npeople, pro profit dan pro planet. Keberpihakan kepada pembangunan manusia,\nlingkungan dan usaha yang menguntungkan inila, yang kemudian menjadi pilar pembangunan\nperkebunan kelapa sawit nasional sehingga kian membesar. Lantaran, manusia yang\nhidup di planet bumi, selalu membutuhkan minyak makan yang efektif dan efisien guna\nkehidupan sehari-hari. Sebagai minyak makanan yang sehari-hari digunakan memasak,\nminyak goreng sawit menjadi primadona minyak makanan dunia. Lantaran, harga\njual minyak goreng sawit paling kompetitif dibandingkan minyak goreng yang\nberasal dari minyak nabati lainnya. Keunggulan ini, merupakan bagian dari keunggulan\nperkebunan kelapa sawit yang memiliki produktivitas hasil panen, jauh lebih\nunggul dibandingkan minyak nabati dari perkebunan lainnya. Secara komparatif\nadvantage, produktivitas tinggi hasil panen dan harga paling kompetitif, telah\nmenjadikan minyak sawit sebagai primadona minyak nabati dunia. Berbagai\npersaingan bisnis yang terjadi di dunia, secara bertanggung jawab, telah mampu\ndijawab minyak sawit sebagai satu-satunya minyak nabati yang memiliki\nkomparatif advantage paling tinggi. Keunggulan minyak sawit juga menyisakan\npersaingan yang terus terjadi, lantaran tak mampu bersaing secara sehat, maka\nberbagai isu-isu negatif terus berhembus dari negara-negara produsen minyak\nnabati lainnya. Terutama negara tujuan ekspor dari minyak sawit, yang juga\nsebagai produsen dari minyak nabati lainnya seperti minyak soybean (kacang\nkedelai) dan minyak rapak (rapeseed).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10344\/kemerdekaan-biodiesel-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Jum\u2019at, 30 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penerapan B40 ditargetkan bisa terwujud di tahun 2022 nanti<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral\n(ESDM) menargetkan dapat mengimplementasikan B40 atau pencampuran biodiesel\ndalam bahan bakar solar pada tahun 2022 mendatang. Kasubdit Keteknikan\nLingkungan DItjen EBTKE Kementerian ESDM Effendi Manurung mengatakan, salah\nsatu tantangan program B40 yaitu belum tersedianya aturan yang mendukung hal\ntersebut. Sejauh ini, peta jalan mandatori biodiesel mengacu pada Peraturan\nMenteri ESDM No. 12\/2015 yang hanya mengatur pencampuran B30 sampai tahun 2025.\nKendati demikian, pengembangan B40 terus dilakukan oleh pemerintah. Sepanjang\ntahun 2020, pemerintah melakukan kajian awal B40 dengan ruang lingkup uji\nkarakteristik bahan baku, uji stabilitas penyimpanan, uji filter bahan bakar,\nuji presipitasi, dan uji kinerja. \u201cKajian terhadap insentif B40 juga\ndilakukan,\u201d kata Effendi saat webinar, Selasa (27\/10) lalu. Pemerintah pun\nmendapat rekomendasi awal hasil kajian untuk campuran B40 dengan menggunakan\nbeberapa opsi. Di antaranya pencampuran Fatty Acid Mehtyl Ester (FAME) 40%,\npencampuran FAME 30% + Distillate Palm Methyl Ester (DPME) 10%, dan pencampuran\nFAME 30% + Green Diesel 10%. Tak hanya itu, pemerintah juga menyusun parameter\nB100 yang digunakan untuk pencampuran B40.<\/p>\n\n\n\n<p>Di tahun 2021 nanti, lanjut Effendi, pemerintah hendak melakukan\nuji jalan penggunaan B40. Di samping itu, peningkatan kapasitas industri Bahan Bakar\nNabati (BBN) serta konstruksi pembangunan Green Diesel juga dilakukan. \u201cKami\njuga mulai menyesuaikan regulasi mandatori biodiesel dan penetapan regulasi\nB40,\u201d ungkap dia. Nah, baru lah di tahun 2022 nanti diharapkan B40 dapat diberlakukan\ndi seluruh Indonesia. Tentunya hal itu diperlukan kesiapan produsen, infrastruktur,\nmanufaktur, dan pendanaan untuk insentif program B40. Sejauh ini, pemerintah\nsudah menjalankan program B30. Khusus di tahun 2020, target pemanfaatan B30\ntercatat sebesar 9,5 juta kiloliter. Namun, terjadi penyesuaian target menjadi\n8,3 juta kiloliter. \u201cSejauh ini realisasinya sudah sekitar 6 juta kiloliter,\u201d\nimbuh Effendi. Adapun pada tahun 2021 nanti, target pemanfaatan BBN ditetapkan\nsebesar 8,9 juta kiloliter dan terus meningkat menjadi 13,9 juta kiloliter di\ntahun 2025.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/penerapan-b40-ditargetkan-bisa-terwujud-di-tahun-2022-nanti-1\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Sabtu, 31 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dampak Program B30 Dan B100 Siapa Menikmati?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program percepatan biodiesel juga dimaksudkan untuk memberi sinyal\nkepada Uni Eropa dan negara negara lain bahwa industri minyak sawit Indonesia akan\nlebih mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor seiring berjalannya\nwaktu dengan cara memacu permintaan CPO domestik, yang didukung oleh 250 juta populasi\ndan 16,5 juta kendaraan&nbsp; penumpang roda 4 pada akhir tahun 2018,\ndiantaranya adalah bermesin diesel. Mobil bus sekitar 2,5 juta dan mobil barang\n7,5 juta kendaraan yang mayoritas bermesin diesel, ditambah mesin-mesin PLN,\nPabrik dan berbagai genset. Seluruhnya memerlukan sekitar 17-18 juta ton minyak\nbiodiesel\/tahun. Program ini sangat baik, apalagi tujuannya antara lain menjaga\nkestabilan harga CPO, artinya petani sawit ikut menikmatinya, akan tetapi\nsejauh mana secara ekonomi menguntungkan rakyat dan petani? Siapa sebenarnya yang\nmenikmatinya lebih besar? mari kita bahas lebih detil. Harga biosolar disubsidi\noleh APBN sampai tingkat 20% dan BPDP-KS 10%. Sumber dana BPDP-KS adalah pajak\nekspor minyak kelapa sawit, yang berasal dari para pengusaha dan petani kelapa sawit,\nakan tetapi yang menikmatinya adalah para pemilik kendaraan bermesin diesel.\nArtinya para petani kelapa sawit rakyat ikut mensubsidi para pemilik kendaraan\ntersebut. Siapa saja pemasok CPO untuk B30 bersubsidi ini berasal ? Ternyata ada\n10 perusahaan minyak kelapa sawit perusahaan besar diantaranya merupakan perusahaan\nasing yakni PT Sinarmas Bioenergi, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Kutai\nRefinery Nusantara, PT Cemerlang Energi Perkasa, PT Wilmar Bioenergi Indonesia,\nPT SMART Tbk, PT Multi Nabati Sulawesi, PT Tunas Baru Lampung, PT Batara Elok\nSemesta Terpadu, dan PT Wilmar Nabati Indonesia. Dari 10 perusahaan diatas\ntidak ada 1 perusahaan BUMN pun yang masuk, padahal jika perusahaan PTPN yang\ndijadikan partner \u201cseluruh uang\u201d dibayarkan akan beredar di dalam negeri.\nPerusahaan perkebunan Nasional (pribumi) juga tidak terlihat, padahal jika\nperusahaan swasta milik pribumi semua uangnya akan tetap berada di dalam negeri.\n<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10338\/-tulisan-2&#8211;dampak-program-b30-dan-b100-siapa-menikmati-\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Sabtu, 31 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Inovasi Green Energy, Pertamina Jawab Tantangan Masa Depan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) terus memastikan pengembangan program Green\nEnergy berjalan sesuai visi pemerintah untuk menciptakan ketahanan dan\nkemandirian energi nasional sekaligus menjawab tantangan transisi energi ke\ndepan. Berbagai inovasi dengan memanfaatkan teknologi terkini dilakukan\nPertamina dalam pemanfaatan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang berlimpah\ndi Indonesia. Pada Juli 2020, Pertamina sukses melakukan uji coba produksi\nGreen Diesel (D100) di Kilang Dumai sebesar 1.000 barel. Sebelumnya di Maret\n2020, juga telah dilakukan ujicoba co-processing Green Gasoline di Kilang\nCilacap. Uji coba juga akan berlanjut untuk co-processing Green Avtur yang\nditargetkan pada akhir 2020. Vice President Corporate Communication Pertamina\nFajriyah Usman mengatakan, produk Green Diesel D100 yang 100% dan Green\nGasoline\/Green Avtur diolah dari bahan dasar kelapa sawit. Produk ini pun\ndireaksikan menggunakan katalis Merah Putih yang diproduksi Research &amp; Technology\nCenter (RTC) Pertamina bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).\n&#8220;Setelah uji coba produk Green Diesel D100 di kilang Dumai berikut Green\nFuel atau Green Avtur di Kilang Cilacap, Pertamina juga bersinergi dengan BUMN\nlain dan juga juga Perguruan Tinggi akan membangun pabrik katalis yang akan\nmendorong TKDN di industri migas dan kimia sehingga akan mengurangi defisit\ntransaksi negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasiona,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini pun dijalankan pararel dengan project pembangunan\nStandalone Biorefinery di Cilacap maupun di Plaju. &#8220;Pertamina tetap\nberkomitmen untuk selalu berinovasi dalam mencipatakan produk yang lebih berkualitas\ndan ramah lingkungan,&#8221; ujarnya. Tak hanya itu, Subholding Power and New &amp;\nRenewable Energy Pertamina yaitu PT Pertamina Power Indonesia (PPI) juga\nmemiliki portofolio proyek Energi Bersih yang beragam. Salah satunya yang\nsedang dalam proses konstruksi adalah Proyek Independent Power Producer (IPP)\nLNG-to-Power Jawa-1 dengan kapasitas 1760 Mega Watt (MW), yang berlokasi di\nCilamaya, Karawang, Jawa Barat. Sampai dengan Januari 2020, progress proyek\ntelah mencapai 87,5% dan ditargetkan mencapai COD pada tahun 2021. Selain IPP\nJawa-1, beberapa proyek yang telah dioperasikan PPI antara lain Proyek\nPembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 4 MW, berlokasi di area\nKilang LNG Badak, Kalimantan Timur, kemudian Proyek Pembangkit Listrik Tenaga\nBiogas (PLTBg), yang berasal dari pengolahan limbah kelapa sawit dengan\nkapasitas 2.4 MW yang merupakan hasil kerjasama antara PPI dengan PT Perkebunan\nNusantara (PTPN) III, serta Proyek Pengoperasian dan Perawatan (O&amp;M) PLTBg\nmilik PTPN II di area Kwala Sawit dan Pagar Merbau, Sumatera Utara, dengan\ntotal kapasitas 2 MW. PPI juga melakukan pengembangan PLTS di SPBU-SPBU\nPertamina sebagai bagian dari optimalisasi bauran energi di wilayah operasi\nPertamina. Untuk tahun 2020 ini masih ditargetkan sebanyak 50 SPBU dan akan\nbertambah ke depannya. &#8220;Sampai saat ini, PPI telah membuktikan kompetensi\ndan kapabilitasnya sebagai penyedia Energi Bersih. Ke depan, perusahaan akan\nterus memperluas komitmen pengembangan Energi Bersih, baik untuk kebutuhan di\nluar Pertamina, maupun di internal di lingkungan Pertamina sendiri,&#8221; ujar\nFajriyah. Dalam mengantisipasi trend energi masa depan, Menteri Badan Usaha\nMilik Negara (BUMN) Erick Thohir sendiri mendukung sepenuhnya langkah Pertamina\nuntuk melakukan transformasi ke Green Energy. Menurutnya, transformasi energi\nsudah diimplementasikan Pertamina melalui program B30, serta percepatan program\ngasifikasi batu bara menjadi metanol dan dimethyl ether (DME) yang bisa\nmengurangi impor LPG yang sudah mencapai enam juta metrik. Selain itu, Erick\nThohir dan Kementerian BUMN terus mendorong transformasi BUMN bidang energi,\ntermasuk mendorong terwujudnya kerja sama Pertamina dengan beberapa BUMN dalam\npengembangan bisnis baterai kendaraan listrik (electric vehicle\/EV) yang\ndipercaya sebagai sumber energi di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20201031205059-4-198368\/inovasi-green-energy-pertamina-jawab-tantangan-masa-depan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Rabu, 28 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kementerian ESDM: Kebutuhan kelapa sawit sebagai bahan baku\ngreen diesel terus naik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM)\nmasih melakukan kajian terhadap potensi penerapan Domestic Market Obligation\n(DMO) kelapa sawit. Kajian ini juga dibarengi dengan upaya pengembangan Green Diesel\nD100 yang terus digencarkan pemerintah. Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan\nDitjen EBTKE Kementerian ESDM Effendi Manurung mengatakan, kebutuhan akan kelapa\nsawit sebagai bahan baku green diesel akan terus meningkat di masa mendatang.\nDitambah lagi, pemerintah juga telah menjalankan mandatori biodiesel 30% atau\nB30 yang akan berkembang menjadi B40 maupun B50 dalam waktu dekat sehingga\nbutuh lebih banyak kelapa sawit untuk dimanfaatkan. \u201cMaka diperlukan kebijakan\nDMO kelapa sawit untuk memenuhi konsumsi dalam negeri,\u201d ujar dia dalam webinar,\nSelasa (27\/10). Pemerintah pun masih terus melakukan kajian terhadap peluang\npenerapan DMO tersebut. Ini mengingat kebijakan DMO kelapa sawit harus diperhitungkan\ndengan tepat karena dampaknya akan mengurangi devisa negara dari ekspor minyak kelapa\nsawit atau crude palm oil (CPO). Effendi juga menekankan pentingnya proyeksi\nkebutuhan CPO untuk ketahanan energi. Dalam hal ini, pemerintah berkeinginan\nagar upaya-upaya pemenuhan kewajiban DMO kelapa sawit harus tetap meminimalisasi\npotensi pembukaan lahan baru yang tentu akan mempengaruhi lingkungan hidup.\nPemerintah juga masih membutuhkan analisis rantai pasok untuk menjaga\nkestabilan harga CPO sebelum kebijakan DMO kelapa sawit diberlakukan. \u201cDiperlukan\nperhitungan agar tidak ada pihak yang dirugikan melalui penerapan DMO,\u201d imbuh\nEffendi.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk itu, harus ada penetapan range harga DMO kelapa sawit batas\nbawah dan batas atas yang dapat diterima oleh semua pihak, baik itu produsen\ngreen diesel, produsen kelapa sawit, bahkan hingga ke level petani kelapa\nsawit. Effendi tidak menjelaskan secara pasti kapan kebijakan DMO kelapa sawit\nini akan dilaksanakan oleh pemerintah. Di saat bersamaan, pihak Kementerian\nESDM sendiri saat ini juga masih gencar melakukan kajian terhadap pengembangan\nGreen Diesel atau D100 di Indonesia. Salah satunya melalui pengembangan\ninfrastruktur pengolahan green diesel atau proyek Green Refinery yang\ndijalankan PT Pertamina (Persero) dan pembangunan Katalis Merah Putih. \u201cKami\njuga sedang mengkaji pengembangan mandatori biodiesel beyond B30 dengan memanfaatakan\nD100,\u201d tukas Effendi. Kementerian ESDM pun telah melaksanakan uji jalan B30D10\nmelalui badan litbang dengan jarak 10.000 kilometer yang ditargetkan selesai\npada Desember 2020. Uji jalan ini turut melibatkan stakeholder terkait di\nbidang otomotif atau kendaraan bermotor. Effendi mengaku, bahwa penerapan D100\nsecara komprehensif tidak mudah dilakukan dalam waktu dekat. Selain belum ada\ndukungan regulasi terkait rencana implementasi Green Diesel, nilai investasi\nuntuk membangun infrastruktur seperti Green Refinery pun tergolong tinggi.\nInsentif di sektor Green Diesel juga masih terbatas. Sejauh ini, insentif yang\nada masih sangat bergantung pada ekspor produk CPO dan turunannya. Di samping\nitu, dibutuhkan pula penyesuaian dan peningkatan fasilitas produksi dan\npenyaluran Green Diesel. \u201cKeterlibatan swasta untuk membangun Green Refinery dengan\nkapasitas besar perlu didorong,\u201d tandas dia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/kementerian-esdm-kebutuhan-kelapa-sawit-sebagai-bahan-baku-green-diesel-terus-naik\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Banjarmasin Post | Selasa, 27 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Target Nasional<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>MESKI nilai ekpor year of year (yoy) produk sawit mengalami\npenurunan akibat pandemi, peran pemerintah dalam menetapkan bauran energi\nmelalui program B30 (biodisel 30 persen blended solar) mampu meningkatkan\nkonsumsi dalam negeri iebih dari 3 persen dari tahun sebelumnya. Dikatakannya,\ndukungan nyata bagi petani mandiri sangat diharapkan melalui program-program\npemerintah melalui Dinas Perkebunan dalam rangka meningkatkan produktivitas\ntanaman Kelapa Sawit di tingkat petani yang saat ini hanya mencapai di kisaran\n15 ton per hektare per tahun. Target nasional yang ditetapkan pemerintah agar\nsawit rakyat mampu mencapai 24 ton per hektare per tahun perlu diupayakan agar\nkesejahteraan petani meningat dan perekonomian daerah juga akan menerima dampak\npositif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisnis.com | Jum\u2019at, 30 Oktober 2020 Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan performa produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai target awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari tahun lalu. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendata volume [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4419","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bisnis.com | Jum\u2019at, 30 Oktober 2020 Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan performa produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai target awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari tahun lalu. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendata volume [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-02T06:39:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"21 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran\",\"datePublished\":\"2020-11-02T06:39:10+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/\"},\"wordCount\":4261,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/\",\"name\":\"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-11-02T06:39:10+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI","og_description":"Bisnis.com | Jum\u2019at, 30 Oktober 2020 Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran Pandemi Covid-19 tidak menghalangi industri biodiesel untuk meningkatkan performa produksi pada tahun ini. Walaupun diramalkan tidak akan mencapai target awal 2020, pabrikan optimistis volume produksi akan lebih tinggi dari tahun lalu. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mendata volume [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-11-02T06:39:10+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:06+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"21 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran","datePublished":"2020-11-02T06:39:10+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/"},"wordCount":4261,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/","name":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-11-02T06:39:10+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/produksi-biofuel-naik-di-masa-pandemi-aprobi-kami-juga-heran\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Produksi Biofuel Naik di Masa Pandemi, Aprobi : Kami Juga Heran"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4419","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4419"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4419\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4880,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4419\/revisions\/4880"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}