{"id":4429,"date":"2020-11-09T05:41:16","date_gmt":"2020-11-09T05:41:16","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4429"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/","title":{"rendered":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Akurat.co | Jum\u2019at, 6 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Joko Widodo pernah memiliki ambisi bahwa Indonesia bakal\njadi negara maju pada 2045, bertepatan saat Indonesia genap berusia seabad.\nTentu saja menuju negara maju memiliki serangkaian persayaratan yang tak mudah,\nsalah satunya pemenuhan konsumsi energi yang lebih besar. Layaknya mesin, jika\ningin bekerja lebih cepat dan kencang maka konsumsi bahan bakarnya akan semakin\nbesar. Begitu juga dengan perekonomian negara, jika ingin menyandang status maju\nmaka konsumsi energi akan semakin meningkat. Ketua Harian Asosiasi Produsen\nBiodiesel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menunjukan bahwa Indonesia\nsendiri dibandingkan dengan Jepang, Thailand dan Malaysia konsumsi minyak masih\nrelatif lebih kecil. &#8220;Jika dibandingkan Malaysia mereka mengkonsumsi\nminyak per hari 3,4 liter per orang Indonesia masih kalah jauh sebesar 0,95\nliter per hari,&#8221; katanya saat Fellowship Journalist, Jakarta, beberapa\nwaktu lalu. Ia mengatakan jika ingin menjadi negara dengan income per kapita\nbesar, maka Indonesia harus mengejar konsumsi energi seperti negara yang\ndisebutkan. Permasalahannya saat ini konsumsi energi Indonesia pada 2019\nsebesar 1,44 juta barel per hari, di mana lifting minyak hanya 746 ribu barel\nper hari. Artinya dalam pemenuhan energi per tahun saja Indonesia harus\nmelakukan impor. Paulus bahkan mengatakan Indonesia telah menjadi net importir\nminyak bumi sejak tahun 2003-2004. Ketahanan energi Indonesia pun menjadi\nmasalah untuk mencapai negara maju sesuai cita-cita. fakta tersebut yang\nmenempatkan bahwa biodiesel sawit menjadi jawaban untuk mengurangi impor minyak\nyang selama ini menyebabkan Indonesia selalu defsit dalam neraca perdagangan.\nPaulus menjelaskan jelas dapat mengurangi impor gas, di mana jika dilihat diproyeksikan\ntotal produksi B30 tahun 2020 bisa mencapai 9,6 juta kiloliter atau setara 60\njuta barel minyak. &#8220;Jadi, 60 juta barel itu kira-kira 80 hari kerja\nPertamina, di mana ini dapat mengurangi impor migas senilai US$5 miliar,\u201d\nkatanya. Aprodi mencatat 9,6 juta kiloliter tersebut dihasilakan oleh 19\nperusahaan dengan 1,6 juta kiloliter kapasitas terpasang, dan mempekerjakan\nsekitar 795.000 tenaga kerja hulu serta 10.000 tenaga kerja di hilir. Jumlah\nini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan alokasi pengadaan biodiesel tahun 2020\ndengan dukungan pembiayaan insentif biodiesel yang telah dianggarkan Badan\nPengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar Rp4,2 triliun. Dari\npenyaluran biodiesel sebesar 9,6 juta kilo liter tersebut, diharapkan dapat menghemat\ndevisa dari pengurangan impor minyak solar sebesar US$5,7 miliar dan penurunan\nemisi gas rumah kaca sebesar 20,3 juta ton CO2e. &#8220;Produksi sawit ini\nmempunyai potensi besar dalam mewujudkan ketahanan energi. Di sisi lain,\npenggunaan biodiesel juga menghemat devisa sekitar Rp50 triliun pada tahun\n2019,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Energi lebih hijau<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selain menjaga ketahanan energi, memang paradigma energi juga\ntelah mulai berubah harus menjadi lebih ramah lingkungan. Indonesia sendiri\ntelah mentargetkan pemenuhan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) pada bauran\nenergi nasional sebesar 23 persen di tahun 2025 dan 31 persen pada 2050. Paulus\nmenjelaskan, pengembangan biodiesel merupakan energi yang sesuai dimana\nIndonesia telah mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 15 persen atau\nsetara dengan 17,5 juta ton CO2 equivalent. ia juga memproyeksikan biodiesel\nakan mengurangi 26 juta ton CO2 equivalent, atau 68 persen dari target\npengurangan energi dan transportasi. Bahkan Ekonom Senior Indef Fadhil Hassan\nmencatat biodiesel bakal lebih efektif dan lebih sedikit lahan yang dibutuhkan\nuntuk memenuhi permintaan energi, hal ini dapat mencegah deforestasi.\n&#8220;Jika dipenuhi dari minyak sawit, maka perlu penambahan lahan seluas 15,2\njuta ha yang bisa menghasilkan sekitar 3,96 juta ton per tahun,&#8221; katanya.\nSedangkan jika kebutuhan tersebut hanya dapat dipenuhi dari minyak kedelai maka\ndibutuhkan 97,8 juta hektar lahan baru dengan hasil rata-rata 0,52 ton per\nhektar. Jika mengandalkan rapeseed, dibutuhkan tambahan lahan 51,6 juta hektar\ndengan hasil rata-rata 0,99 ton per hektar. Kemudian perlu tambahan lahan 72\njuta hektar jika mengandalkan bunga matahari dengan hasil rata-rata 0,71 ton\nper hektar. Sehingga ia mengatakan, jika memang ada kekhawatiran lingkungan\nharusnya sawit merupakan pilihan terbaik sebab dengan lahan yang lebih kecil\nmasih bisa memenuhi kebutuhan energi yang banyak.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Peran BPDPKS<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tentu saja pengembangan sawit sebagai biodiesel dibutuhkan\ndukungan pemerintah yang kuat. Dalam hal ini Badan Pengelola Dana Perkebunan\nKelapa Sawit (BPDPKS) berperan penting dalam pengembangan energi biodiesel.\nBPDPKS pun membuat program intensif pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk\nmembantu Indonesia mewujudkan stabilisasi harga sawit, menjalankan komitmen\ndalam bidang lingkungan hidup, dan juga meningkatkan ketahanan energi dengan\nmeningkatkan energi terbarukan. BPDPKS mencatata setidaknya dampak positif BBN\ndari 2015 hingga 2020 telah mengurangi efek gas rumah kaca sekitar 37,50 juta\nton CO2 dari penggunaan biodiesel sebesar 25,08 juta kiloliter. Selain itu,\npenghematan devisa akibat tidak perlu impor solar sebesar Rp127,79 triliun.\nKemudian peningkatan nilai tambah industri hilir sawit Rp36,12 triliun.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/akurat.co\/ekonomi\/id-1232486-read-biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia?page=3\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Republika.co.id\">Republika.co.id<\/a> | Sabtu, 7\nNovember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menteri ESDM Minta Dirjen Migas Baru Bisa Tekan Impor<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif resmi\nmelantik Tutuka Ariadji sebagai Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi\nKementerian ESDM. Tutuka diharapkan mampu menekan impor Bahan Bakar Minyak\n(BBM) dan Liquified Natural Gas (LPG) demi meringankan beban devisa negara ke\ndepan. &#8220;Ini bisa dilakukan dengan percepatan pembangunan infrastruktur\nkilang dan jaringan gas, serta pemanfaatan Energi Baru Terbarukan secara masif,\nseperti biodiesel dan Dymetil Eter (DME),&#8221; kata Arifin, Sabtu (7\/11).\nSelain itu, Arifin mengharapkan Dirjen Migas baru mampu mewujudkan beberapa\nprogram strategis migas. Salah satunya, program jangka panjang yang menjadi\nperhatian utama Arifin adalah pemenuhan target produksi siap jual (lifting)\nminyak sebesar satu juta barel per hari pada tahun 2030. Target ini bisa\ndicapai melalui mempertahankan tingkat produksi eksisting yang tinggi,\ntransformasi sumber daya ke produksi, menggunakan Enhanced Oil Recovery (EOR)\ndan melakukan eksplorasi secara masif. &#8220;Rata-rata realisasi lifting migas\nsampai dengan September 2020 sebesar 1.712 MBOPED atau 100 psrsen dari target\nAPBN-P,&#8221; jelas Arifin. Kebijakan lain yang tak kalah penting adalah\nimplementasi penyesuaian harga gas bumi sebagai upaya peningkatan pemanfaatan\ngas dalam negeri. &#8220;Semoga bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi serta\npeningkatan daya saing nasional,&#8221; harap Arifin. Sebagai informasi, Tutuka\nmemiliki latar belakang pendidikan yang kuat di bidang teknik perminyakan dan\npertambangan. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Teknik Perminyakan\nIndonesia (IATMI). Terakhir ia sempat menjadi ketua umum Guru Besar ITB dari\ntahun 2016 sampai 2019.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/republika.co.id\/berita\/qjekkf370\/menteri-esdm-minta-dirjen-migas-baru-bisa-tekan-impor\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Republika.co.id\">Republika.co.id<\/a> | Sabtu, 7\nNovember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Terus Kembangkan BBN Biohidrokarbon<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah mendorong pengembangan bahan bakar nabati (BBN)\nbiohidrokarbon yang karakteristiknya sama atau bahkan lebih baik daripada\nsenyawa hidrokarbon atau BBM berbasis fosil. Kepala Badan Pengembangan SDM\nKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Prahoro Yulijanto Nurtjahyo\nmenjelaskan&nbsp; Indonesia dianugerahi kekayaan nabati luar biasa yang\nmemungkinkannya menjadi pusat biohidrokarbon dunia dan negara maju di era\nperekonomian berbasis nabati. &#8220;BBN biohidrokarbon yang ramah lingkungan\nnantinya dapat langsung digunakan sebagai substitusi BBM fosil tanpa perlu\npenyesuaian mesin kendaraan. BBN biohidrokarbon dapat dibedakan menjadi\ngreen-gasoline, green-diesel, dan bioavtur,&#8221; ujar Parhoro, Sabtu (7\/11).\nPeneliti PPTMGB Lemigas Lies Aisyah mengharapkan supaya pengembangan BBN untuk\nenergi dimaksudkan guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak dan untuk\nmenggantikan solar dan bensin, yang saat ini implementasi mandatori untuk solar\nsudah bertaraf B30. Kebijakan pemerintah dalam arahan mandatori biodiesel dan\npengembangan biohidrokarbon atau green fuels mutlak dilakukan untuk mendorong\nketahanan energi nasional, penghematan devisa negara, dan pengurangan emisi\nkarbondioksida.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/republika.co.id\/berita\/qjet6o370\/pemerintah-terus-kembangkan-bbn-biohidrokarbon\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Republika.co.id\">Republika.co.id<\/a> | Jum\u2019at, 6\nNovember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Yuk, Sedekah Minyak Jelantah di Rumah Ibadah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Rumah Sosial Kutub bersinergi dengan Pemerintah Kota Administrasi\nJakarta Utara meluncurkan program Rumah Ibadah Tersenyum, Kamis (5\/11). Program\nini diinisiasi Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara untuk menangani limbah\nminyak jelantah yang dikemas dalam gerakan sedekah. Selama ini masyarakat kerap\nmembuang limbah minyak jelantah ke saluran air dan membuat lingkungan tercemar.\nKarena itu, program ini dibuat sebagai solusi bagi masyarakat untuk tidak\nmembuang minyak jelantah ke saluran air, melainkan menuangnya ke tong sedekah\nyang ada di rumah-rumah ibadah terdekat. Direktur Eksekutif Rumah Sosial Kutub\nSuhito menjelaskan, terdapat 493 rumah ibadah yang berada di Jakarta Utara,\nseperti masjid, gereja, pura, dan klenteng. Menurut dia, banyaknya rumah ibadah\ntersebut berpotensi untuk mengulang kesuksesan Kampung Tersenyum di Jakarta\nSelatan. Program Kampung Tersenyum juga merupakan gerakan sedekah minyak\njelantah.&nbsp; &#8220;Jumlah rumah ibadah yang cukup banyak di Jakarta Utara\nsangat berpotensi untuk mengulang kesuksesan Kampung Tersenyum yang sudah\nberjalan terlebih dahulu di Jakarta Selatan,&#8221; kata Suhito dalam siaran\npers, Jumat (6\/11).&nbsp; Minyak jelantah yang terkumpulkan bakal dikonversikan\nmenjadi uang. Dana yang didapat dibagi untuk pengelola rumah ibadah dan\ndikelola Rumah Sosial Kutub untuk disalurkan kembali ke masyarakat di bidang\npendidikan, pemberdayaan ekonomi, sosial, hingga untuk yatim dan duafa.&nbsp;\n&#8220;Konsepnya masyarakat tidak menjual, tapi bersedekah dengan minyak\njelantah. Minyak jelantah lalu kami kirim ke pabrik sebagai bahan baku\nbiodiesel,&#8221; kata Suhito. <\/p>\n\n\n\n<p>Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Adminitrasi Jakarta\nUtara, Suroto mengatakan, program Rumah Ibadah Tersenyum sejalan dengan program\npengendalian pencemaran lingkungan Provinsi DKI Jakarta. Sebanyak 210 rumah\nibadah tercatat telah mendaftarkan diri sebagai pengelola pengumpulan minyak\njelantah sekaligus penerima manfaat. \u201cSebelum ada program ini, masyarakat kerap\nmembuang minyak jelantah ke sembarang tempat sehingga menyebabkan pencemaran\nlingkungan,&#8221; ujar Suroto.&nbsp; Dengan adanya program ini, kata dia,\nminyak jelantah akan dikumpulkan kepada pengelola tempat ibadah yang kemudian\ndiambil oleh petugas. Rumah ibadah dipilih sebagai lokasi penampungan minyak\njelantah untuk memudahkan masyarakat mengetahui titik keberadaan tong minyak\njelantah.&nbsp; Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Achmad\nHariadi mengatakan, pengelola rumah ibadah yang mau bergabung bisa menghubungi\natau datang ke kantor Sudin Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara.\n&#8220;Nanti kami fasilitasi pembentukan kepengelolaan program ini,\u201d kata\nHariadi. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/republika.co.id\/berita\/qjdtlx416\/yuk-sedekah-minyak-jelantah-di-rumah-ibadah\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tagar.id | Minggu, 8 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Energi Terbarukan Hanya Alternatif, Bukan Pengganti BBM<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengamat ESDM, Ferdy Hasiman menanggapi pemerintah yang\nmenggalakkan penggunaan energi bersih terbarukan. Ia menilai, energi terbarukan\nbisa menjadi salah satu alternatif bukan menggantikan total bahan bakar minyak\n(BBM) di sektor transportasi. &#8220;Saya kira ini salah satu alternatif bukan\nmengganti total, secara teoritis saya tidak percaya mengganti total BBM ke yang\nlain-lain,&#8221; kata Ferdy saat dihubungi Tagar, Minggu, 8 November 2020.\nMungkin, kata Ferdy, penggunaan energi bersih bisa dibagi-bagi sehingga\nproporsional. Misalnya sekarang penggunaan energi bersih sebesar 25 persen\nditingkatkan menjadi 30 persen, dalam artian penggunaan BBM atau batu bara\ntetap berkurang di sektor transportasi. &#8220;Jadi di transportasi kalau\nbiodiesel sudah bisa digunakan perusahaan-perusahaan tambang, kan itu percobaan\npertama biodiesel ya, B30 dengan B20, itu kan ada di perusahaan-perusahaan\ntambang,&#8221; ucap Ferdy.&nbsp; Kalau penerapan tersebut berhasil menurutnya,\nbisa diekspansi ke tempat lain. &#8220;Mungkin ada pengecualian,&nbsp; misalnya\nsektor industri pemerintah membuat kebijakan menggunakan B30 atau B20, sehingga\nsecara perlahan akan mengurangi ketergantungan kepada BBM tetapi tidak total,\nitu hanya bisa mengkover 20-30 persen saja,&#8221; ucapnya. Selain itu, kata dia,\ndi sektor transportasi dengan adanya mobil listrik bisa dijadikan alternatif\nagar masyarakat tidak mengggunakan bensin atau solar yang berasal dari minyak.\nProgram mobil listri tersebut perlu didorong lantaran dinilai lebih murah dan\nramah lingkungan. &#8220;Negara-negara Eropa sekarang sedang mengejar itu juga,\nRusia, Jerman, Inggris, tetapi&nbsp; mereka tidak punya suplai&nbsp; bahan\nmentah. Indonesia&nbsp; punya keunggulan (competitiveness), menguasai sekitar\n27-34 persen cadangan nikel dunia,&#8221; ujar Ferdy.&nbsp; Ferdy menambahkan,\ndiharapkan ke depannya kalau memang ekspansi ke sana, pemerintah harus mengatur\nbaik produksinya hingga tata niaganya. Sebab, kalau tidak diatur produksinya\nbisa berbahaya. &#8220;Jadi produksinya akan diatur secara nasional. Ini\nmemang&nbsp; bisa berpengaruh karena kita pelan-pelan mengganti BBM, tetapi\ntidak 100 persen,&#8221; tutur Ferdy.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.tagar.id\/energi-terbarukan-hanya-alternatif-bukan-pengganti-bbm\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tribunnews.com | Jum\u2019at, 6 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kalsel Sumbang 3,5 Persen Produk Minyak CPO Nasional, La Nina\nAncam Pasokan Minyak Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Awalnya sawit hanya untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati bagi\nindustri pangan. Namun, saat ini kebutuhan bioenergi semakin masif hampir di\nsemua negara untuk mengimbangi laju kerusakan lingkungan yang diakibatkan\nkonsumsi bahan bakar fosil. Menurut Arief RM Akbar, kordinator Masyarakat\nPerkelapasawitan Indonesia (Maksi) Kalselteng, kebutuhan akan energi terbarukan\nakan berpotensi menjadikan RI sebagai lumbung energi dan perlahan akan melepas\nketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil yang selama ini terjadi.\n&#8220;Kebutuhan bahan baku bioenergi ini akan berdampak positif bagi industri\nsawit nasional yang akan mendongkrak harga TBS petani,&#8221; katanya, Jumat\n(6\/11\/2020). Ditambahkannya, sentimen positif yang akan terus berdampak baik\nbagi industri sawit nasional adalah mandatori program B30, seperti yang di\nnyatakan kementrian kordinator perekonomian dalam siaran press nya tanggal 27\nOktober 2020 lalu dimana Pemerintah tetap berkomitmen untuk tetap melanjutkan\nprogram B30. &#8220;Hal ini di tunjukkan dengan langkah pemerintah melakukan\npenyesuaian tarif pungutan ekspor crude palm oil (CPO) dan produk turunannya\nuntuk menyokong keberlanjutan program B30 tersebut,&#8221; ungkapnya. Program\nB30 disamping untuk kemandirian energi nasional, juga untuk menjaga stabilisasi\nharga CPO pada level harga minimal US$ 600 per ton serta menjaga harga tandan\nbuah segar (TBS) petani sawit. Dijelaskan staf pengajar Teknologi Industri\nPertanian Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM), dalam\nmandatory program B30, target konsumsi bahan bakar nabati tersebut untuk tahun\n2020 telah ditetapkan 9,6 juta kilo liter walupun sampai dengan September\nkonsumsinya baru 6,17 juta ton atau 64 persen dari target.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini disebabkan adanya pelambatan ekonomi akibat pandemi.\nSelama aktivitas ekonomi masih lambat, lanjut Arief, kebutuhan energi belum\nakan pulih ke level normal. Artinya konsumsi bahan bakar baik di dalam maupun\nluar negeri belum bisa banyak diharapkan. Data Badan Pusat Statistik (BPS)\nmenyebutkan total ekspor minyak dan lemak nabati maupun hewani dari\nJanuari-September 2020 mencapai US$ 13,85 miliar atau menjadi penyumbang\nterbesar ekspor non-migas dengan pangsa mencapai 12,45 persen. Apabila mengacu\npada data Buletin Statistik Perdagangan Internasional Ekspor Indonesia BPS\nbulan Juli lalu, total ekspor CPO dan turunan CPO mencapai 14,2 juta ton. Jika\ndigabung dengan ekspor CPKO beserta turunannya akan menjadi 15,1 juta ton. Nilai\nekspor CPO sepanjang Januari-Juli 2020 mencapai US$ 2,7 miliar. Sementara untuk\nproduk turunannya mencapai US$ 6,2 miliar. Pada periode yang sama RI mengekspor\nCPKO dan turunannya senilai US$ 600 juta. Harga CPO dunia tembus di USD 722,9\n(RM 3.000) pada hari Kamis, 5 November 2020, kondisi ini sangat mengembirakan,\nmengingat akan mendongkrak harga TBS di tingkat petani. Jika di Kalimantan\nSelatan penetapan harga TBS sudah melewati Rp 1,700\/kg, di pulau Sumatera harga\nTBS di beberapa provinsi sudah tembus di atas Rp 2.000\/kg. Harga CPO yang\nmenguat menjadi penyumbang inflasi dengan ikut naiknya harga minyak goreng di\ndalam negeri. Kondisi ini terjadi bukan tanpa sebab, yang paling signifikan\nadalah berkurangnya stok dan meningkatnya permintaan ekspor dari pasar India\ndan Eropa serta prediksi penurunan panen akibat dampak La Nina yang sedang\nterjadi yang akan menggangu aktivitas panen di kebun. Sementara itu, kata dia,\nkontribusi Kalsel dari luasan produksi yang 500.000 hektare dari 14 juta\nhektare luasan nasional, sekitar 3,5 persen menyumbang produk minyak CPO\nnasional. Peneliti Pusat Studi Kelapa Sawit Kalimantan ULM ini menambahkan,\nancaman La Nina yang berpotensi menurunkan output di tengah potensi kenaikan\npermintaan impor dari berbagai negara terutama China dengan kebijakan\nrestocking yang semakin dekat dengan tahun baru serta India yang bakal\nmerayakan diawali November ini turut mengerek harga.<\/p>\n\n\n\n<p>La Nina merupakan fenomena iklim yang melanda kawasan tropis\nPasifik dan menyebabkan intensitas hujan yang lebih tinggi dan deras. Berkaca\npada pengalaman yang sudah terjadi, fenomena La Nina umumnya dibarengi dengan\nmaraknya banjir di Indonesia dan Malaysia. &#8220;Bulan September-November\nbiasanya menjadi puncak produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia. Namun\ndengan adanya ancaman fenomena iklim La Nina yang berpotensi menyebabkan banjir\nbisa menjadi ancaman terhadap pasokan minyak sawit,&#8221; pungkas Arief.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/banjarmasin.tribunnews.com\/2020\/11\/06\/kalsel-sumbang-35-persen-produk-minyak-cpo-nasional-la-nina-ancam-pasokan-minyak-sawit?page=all\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akurat.co | Jum\u2019at, 6 November 2020 Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia Presiden Joko Widodo pernah memiliki ambisi bahwa Indonesia bakal jadi negara maju pada 2045, bertepatan saat Indonesia genap berusia seabad. Tentu saja menuju negara maju memiliki serangkaian persayaratan yang tak mudah, salah satunya pemenuhan konsumsi energi yang lebih besar. Layaknya mesin, jika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4429","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Akurat.co | Jum\u2019at, 6 November 2020 Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia Presiden Joko Widodo pernah memiliki ambisi bahwa Indonesia bakal jadi negara maju pada 2045, bertepatan saat Indonesia genap berusia seabad. Tentu saja menuju negara maju memiliki serangkaian persayaratan yang tak mudah, salah satunya pemenuhan konsumsi energi yang lebih besar. Layaknya mesin, jika [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-09T05:41:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia\",\"datePublished\":\"2020-11-09T05:41:16+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/\"},\"wordCount\":2403,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/\",\"name\":\"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-11-09T05:41:16+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:06+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI","og_description":"Akurat.co | Jum\u2019at, 6 November 2020 Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia Presiden Joko Widodo pernah memiliki ambisi bahwa Indonesia bakal jadi negara maju pada 2045, bertepatan saat Indonesia genap berusia seabad. Tentu saja menuju negara maju memiliki serangkaian persayaratan yang tak mudah, salah satunya pemenuhan konsumsi energi yang lebih besar. Layaknya mesin, jika [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-11-09T05:41:16+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:06+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"12 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia","datePublished":"2020-11-09T05:41:16+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/"},"wordCount":2403,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/","name":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-11-09T05:41:16+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:06+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/biodiesel-dan-masa-depan-ketahanan-energi-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biodiesel dan Masa Depan Ketahanan Energi Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4429","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4429"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4429\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4875,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4429\/revisions\/4875"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}