{"id":4466,"date":"2020-11-25T05:49:48","date_gmt":"2020-11-25T05:49:48","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4466"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/","title":{"rendered":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a> |\nSelasa, 24 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit\nDigantikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia tersedia secara\nmasif, terutama melalui minyak kelapa sawit. Menteri Energi dan Sumber Daya\nMineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, saat ini pemerintah tengah\nmenjalankan program biodiesel 30 persen (B30) dan ke depan akan dikembangkan\nmenjadi D100 yakni diesel dengan 100 persen berbahan baku sawit yang diolah di\nkilang Pertamina. &#8220;Ada biofuel bisa mengganti hidrokarbon menjadi Crude Palm\nOil (CPO) langsung untuk menghasilkan gasoline (bensin), kita punya kemampuan\nuntuk itu,&#8221; ujar Arifin. Kendati memiliki potensi yang besar, tuduhan\nterhadap minyak kelapa sawit tetap saja belum reda. Bahkan, Uni Eropa akan\nmenghapuskan penggunaan minyak sawit untuk bahan bakar secara total pada 2030\nmendatang. Terkait hal tersebut, Arifin menjelaskan, &#8220;nah, 1 juta barel\nper hari minyak itu, kalau mau ganti ke CPO, kita butuh 15 juta hektare kebun\nCPO baru. Itu hasil dari kajian kita.&#8221; Sebelumnya, Menteri Koordinator\nBidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan untuk jangka pendek,\npemerintah akan terus melanjutkan program B30 dan menyesuaikan alokasi B30\nsesuai penurunan permintaan solar, lalu penerapan dana tambahan pemerintah\nkepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), serta penetapan\npungutan ekspor BPDPKS pada setiap level harga. Untuk jangka menengah,\nlanjutnya, akan dilanjutkan ke program B40 dan memberikan insentif investasi\nuntuk pengembangan B40 yang menggunakan teknologi baru. Sedangkan untuk jangka\npanjang, menurutnya, akan dikembangkan green refinery dan pemerintah akan\nmemberikan insentif investasi untuk pengembangan green refinery ini.\n&#8220;Rencananya akan ada green certificate juga,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read315309\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a> | Selasa, 24\nNovember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menteri ESDM: Ganti 1 Juta Barel Minyak Butuh 15 Juta Ha Lahan\nSawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemakaian bahan bakar nabati atau BBN dari minyak sawit\ndiperkirakan akan terus meningkat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral\n(ESDM) Arifin Tasrif mengatakan pemerintah akan mewajibkan pencampurannya\ndengan bahan bakar minyak alias BBM jenis solar. Saat ini campuran biodiesel\nbaru mencapai 30% sehingga bahan bakar ini disebut B30. Kementerian sedang\nmelakukan uji coba untuk B40, bahkan diesel yang 100% dari sawit atau D100.\nArifin menyebut apabila target produksi minyak bumi 1 juta barel per hari diganti\ndengan BBN, maka kebutuhan lahan kelapa sawitnya mencapai 15 juta hektare. \u201cItu\nhasil kajian kami,\u201d katanya ketika mengikuti rapat dengan Komisi VII DPR, Senin\n(23\/11). Namun, ia tak merinci lebih jauh mengenai kajian tersebut. Direktur\nEksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa\nberpendapat pemerintah sebaiknya tidak terobsesi mengembangkan biofuel dari\nminyak sawit. Masih banyak kekayaan nabati lain di Indonesia dan dapat\ndimanfaatkan untuk pengembangan bioekonomi. Pembukaan lahan sebesar 15 juta\nhektare perlu dipertanyakan apakah menyasar kawasan hutan primer dan lahan\ngambut atau tidak. Pelaksanaannya dapat mengakibatkan deforestasi dan\neksploitasi lahan.&nbsp; \u201cCara ini malah memperburuk krisis perubahan iklim,\u201d\nujar Fabby. Sebaiknya, pemerintah mempercepat elektifikasi kendaraan listrik.\nDengan perubahan bahan bakar kendaraan, maka permintaan BBM pun menurun. Selain\nitu, standar emisi pun perlu dinaikkan supaya konsumsi bahan bakar kendaraan\nbermotor lebih efisien.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Biodiesel Dianggap Untungkan Pengusaha Sawit <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelumnya, Ekonom senior Institute for Development of Economics\nand Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan beberapa program pemerintahan\nPresiden Joko Widodo terkait di sektor energi tampak tidak konsisten. Misalnya,\npemerintah mendorong program mandatori biodiesel dari kelapa sawit guna\nmengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Di saat yang sama, ada pula\nprogram pengembangan empat kilang minyak dan pembangunan dua baru. Kemudian,\nada lagi rencana menggenjot proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether\n(DME) yang mahal biayanya sebagai substitusi elpiji. &#8220;Yang saya ingin\ngarisbawahi adalah pemerintah maunya banyak tapi tidak jelas,&#8221; kata Faisal\ndalam diskusi secara virtual, Rabu (19\/11). Ia juga menyorot program mandatori\nbiodiesel yang sebetulnya hanya mengamankan dan menguntungkan segelintir taipan\nindustri sawit. Padahal, secara nilai keekonomian dan lingkungan, program\ntersebut justru merugikan negara. Pemerintah pun menyiapkan regulasi untuk mengamankan\nbisnis sawit. Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (EBT)\nmenyebutkan sawit merupakan bahan bakar nabati atau biofuel satu-satunya.\n&#8220;Ini legitimasi untuk memperoleh dana subsidi berkelanjutan,&#8221; kata\ndia. Secara ekonomi, menurut dia, tidak ada kontribusi nyata pengembangan\nbiodiesel. Meskipun dapat menekan impor solar, tapi anjloknya harga minyak\nmentah dunia saat ini membuat harga biodiesel menjadi lebih mahal daripada\nbahan bakar minyak atau BBM.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/katadata.co.id\/sortatobing\/ekonomi-hijau\/5fbca326da541\/menteri-esdm-ganti-1-juta-barel-minyak-butuh-15-juta-ha-lahan-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Selasa, 24 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jokowi Selesai Jadi Presiden, RI Juga Belum Bebas Impor BBM<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Meski Presiden Joko Widodo (Jokowi) selesai menjabat sebagai\nPresiden RI pada 2024 mendatang, Indonesia diperkirakan masih tetap akan impor\nbahan bakar minyak (BBM), bahkan setidaknya sampai 2025. Hal tersebut terungkap\ndalam bahan pemaparan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi\ndan Sumber Daya Mineral Tutuka Ariadji saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi\nVII DPR RI, pekan lalu. Dari bahan presentasinya tersebut menunjukkan bahwa\npada 2025 impor BBM diperkirakan meningkat dibandingkan 2024 karena seiring\nmeningkatnya jumlah permintaan BBM. Pada 2025 impor BBM RI diperkirakan\nmencapai 12,67 juta kilo liter (kl), naik dari 10,45 juta kl pada 2024.\nKebutuhan BBM pada 2025 diperkirakan naik mencapai 82,53 juta kl dari 80 juta\nkl pada 2024. Sementara produksi BBM diperkirakan sebesar 57,46 juta kl sejak\n2023, karena beroperasinya proyek kilang ekspansi Refinery Development Master\nPlan (RDMP) Balikpapan pada 2023 dan Balongan pada 2022. Sementara program\nbiodiesel berkontribusi sebesar 12,40 juta kl pada 2025, naik tipis dari 12,10\njuta kl pada 2024. Jumlah impor BBM pada 2025 tersebut memang menurun bila\ndibandingkan dengan perkiraan impor pada 2020 ini. Pada tahun ini impor BBM\ndiperkirakan mencapai 16,76 juta kl, dengan asumsi produksi BBM sebesar 44,52\njuta kl dan kontribusi biodiesel sebesar 8,43 juta kl, sementara konsumsi\ndiperkirakan mencapai 69,72 juta kl. &#8220;Prognosa demand dengan asumsi\nkenaikan 3,16% per tahun. Pada saat kebutuhan BBM terlampaui, kilang mampu\nmemproses menjadi petrokimia,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara pada 2021, impor BBM diperkirakan meningkat menjadi\n18,43 juta kl karena meningkatnya kebutuhan menjadi 72,16 juta kl, sementara\nproduksi masih relatif stabil pada posisi 44,52 juta kl. Untuk produksi\nbiodiesel ada tambahan menjadi 9,20 juta kl. Pada 2022, impor BBM diperkirakan\nturun tipis menjadi 16,65 juta kl karena ada peningkatan dari sisi produksi BBM\ndalam negeri menjadi 47,83 juta kl dan biodiesel sebesar 10,20 juta kl,\nsementara permintaan juga naik menjadi 74,68 juta kl. Tambahan produksi BBM\npada 2022 diperkirakan karena adanya tambahan produksi dari proyek RDMP\nBalongan. Pada 2023-2025, produksi BBM dalam negeri diperkirakan naik menjadi\n57,46 juta kl karena mulai beroperasinya proyek RDMP Balikpapan. Sementara\nproduksi biodiesel diperkirakan naik menjadi 10,50 juta kl pada 2023, 12,10\njuta kl pada 2024, dan 12,40 juta kl pada 2025. Di sisi lain, permintaan BBM\npada 2023-2025 juga terus meningkat menjadi 77,30 juta kl, 80 juta kl, dan\n82,52 juta kl pada 2025. Dengan demikian, pada 2023 impor BBM mencapai 9,34\njuta kl, namun pada 2024 naik lagi menjadi 10,45 juta kl, dan 12,67 juta kl\npada 2025. Adapun asumsi produksi BBN tersebut dengan asumsi pencampuran\nbiodiesel pada solar sebesar 30% (B30), adanya pengembangan produksi solar dari\nbahan baku sawit atau dikenal dengan istilah green diesel melalui co-processing\ndi kilang Dumai diperkirakan beroperasi pada 2022. Lalu, ada juga tambahan\ngreen diesel dari kilang Cilacap mulai 2022, lalu meningkat lagi pada 2023.\nPada 2024 ada tambahan green diesel dari kilang Plaju.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20201124105740-4-204146\/jokowi-selesai-jadi-presiden-ri-juga-belum-bebas-impor-bbm\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Selasa, 24\nNovember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Melihat prospek bisnis bahan bakar dan lahan industri AKR\nCorporindo (AKRA)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pandemi covid-19 yang membatasi berbagai aktivitas mengganggu\nperdagangan dan distribusi bahan bakar minyak serta kimia milik PT AKR\nCorporindo (AKRA). Namun, analis menilai keuangan AKRA masih sehat dan\nberpotensi membaik di tahun depan. Hingga kuartal III-2021 AKRA catatkan\npenurunan pendapatan 8,3% secara tahunan menjadi Rp 13,86 triliun. Budi\nRustanto, Analis Valbury Sekuritas Indonesia mencatat dalam risetnya, average\nselling price (ASP) bahan bakar minyak menurun 24,9% secara tahunan di periode\ntersebut. Sementara, ASP kimia dasar juga menurun 19,5% secara tahunan. Kabar\nbaiknya, AKRA masih mampu catatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 17,69%\nsecara tahunan menjadi Rp 665,4 miliar. Naiknya laba turut didukung dari\npendapatan sewa dari Freeport sebesar Rp 87 miliar dan pendapatan dari utilitas\nsebesar Rp 23 miliar. Alhasil, margin kotor AKRA bertambah dari 8,5% di kuartal\nIII 2019 menjadi 10,6% di periode tahun ini. Meski begitu, Budi memproyeksikan\npandemi tidak akan lagi memberi dampak negatif yang signifikan bagi kinerja\nAKRA. Budi tetap mempertahankan proyeksi distribusi minyak AKRA di 2,3 juta\nkilo liter (kl) di 2020. Sentimen lain yang mendukung datang dari permintaan\noleh industri pertambangan, B30, pembatasan impor, dan distribusi solar\nbersudsidi. &#8220;Kami berharap wabah covid-19 tidak berdampak signifikan bagi\npelanggan industri AKRA,&#8221; kata Budi dalam risetnya. Namun, Direktur\nIndosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan tantangan bagi\nkinerja AKRA ke depan masih akan datang dari pandemi Covid-19. &#8220;Bila tahun\ndepan masih ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) maka ini juga masih\nakan mempengaruhi tingkat penggunaan bahan bakar, ini jadi tantangan bagi AKRA,&#8221;\nkata William. Budi juga memproyeksikan profitabilitas AKRA bisa meningkat\nsetelah bekerjasama dengan&nbsp; British Petroleum (BP) untuk memperkuat pasar\nbahan bakar ritel. Sementara, Budi memperkirakan distribusi bahan kimia masih\ncenderung stagnan di sepanjang tahun ini saat harga juga cenderung stabil. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun,&nbsp; Budi memandang prospek segmen kimia cerah karena AKRA\nberencana untuk memperluas cakupan pasar dengan memasok ke pabrik smelter dan\nprogram biodisel. Selain itu, AKRA dan Petronas sepakat untuk membentuk join\nventure untuk mendistribusikan produk kimia yang memanfaatkan infrastruktur\nAKRA dengan produk utama metanol. Kinerja AKRA dalam bisnis lahan industri juga\nBudi lihat memiliki prospek cerah. Setelah omnibus law disahkan Budi memandang\niklim investasi akan semakin ramai dan penjualan lahan industri milik AKRA,\nyaitu Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) diproyeksikan akan\nterjual hingga 20 hekatre di tahun ini. Hingga September penjualan lahan\nindustri capai 17 hektare. &#8220;Gelombang relokasi pabrik ke kawasan Asia\nTenggara akan semakin mencerahkan prospek kawasan industri,&#8221; kata Budi.\nSelain itu, Budi juga memlihat JIIPE akan berkembang pesat dengan adanya\ndukungan pemerintah melalui kawasan ekonomi khusus (KEK). Edward Tanuwijaya\nAnalis Korea Investment &amp; Sekuritas Indonesia mengatakan dalam risetnya,\nmeski kontribusi segmen lahan industri hanya sekitar 2% terhadap pendapatan,\ntetapi segmen ini memiliki margin yang lebih tinggi dari segmen intinya. Setiap\ntambahan penjualan tanah seluar 1 hektare akan menambah pendapatan AKRA sebesar\nkurang lebih 0,6%, &#8220;Segmen lahan industri tetap menjadi faktor penggerak\nlaba bersih AKRA,&#8221; kata Edward. Sementara, William kembali mengatakan bila\npandemi belum juga mereda dan pertumbuhan ekonomi masih berjalan lambat maka\npermintaan lahan industri juga akan lambat. Segmen ini pun diproyeksikan belum\nbisa beri berkontribusi secara signifikan. Di sisi lain, William menilai\nkeuangan AKRA masih sehat, terlihat dari debt to equity ratio (DER) yang kurang\ndari level 1 kali. Di tahun depan, William memproyeksikan harga saham naik\nsekitar 10%-12%. William merekomendasikan hold di target harga Rp 3.350 per\nsaham. Sementara, Budi merekomendasikan buy di target harga Rp 3.200 per saham.\nKompak Edward merekomendasikan buy di target harga Rp 3.700 per saham.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/investasi.kontan.co.id\/news\/rekomendasi-prospek-bisnis-bahan-bakar-dan-lahan-industri-akr-corporindo-akra?page=all\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wartaekonomi.co.id | Selasa, 24 November 2020 Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia tersedia secara masif, terutama melalui minyak kelapa sawit. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, saat ini pemerintah tengah menjalankan program biodiesel 30 persen (B30) dan ke depan akan dikembangkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4466","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Wartaekonomi.co.id | Selasa, 24 November 2020 Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia tersedia secara masif, terutama melalui minyak kelapa sawit. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, saat ini pemerintah tengah menjalankan program biodiesel 30 persen (B30) dan ke depan akan dikembangkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-25T05:49:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan\",\"datePublished\":\"2020-11-25T05:49:48+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/\"},\"wordCount\":1681,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/\",\"name\":\"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-11-25T05:49:48+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI","og_description":"Wartaekonomi.co.id | Selasa, 24 November 2020 Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan Potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia tersedia secara masif, terutama melalui minyak kelapa sawit. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, saat ini pemerintah tengah menjalankan program biodiesel 30 persen (B30) dan ke depan akan dikembangkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-11-25T05:49:48+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:05+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"8 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan","datePublished":"2020-11-25T05:49:48+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/"},"wordCount":1681,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/","name":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-11-25T05:49:48+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/potensi-energi-terbarukan-ini-yang-terjadi-jika-sawit-digantikan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Potensi Energi Terbarukan, Ini yang Terjadi Jika Sawit Digantikan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4466"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4466\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4867,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4466\/revisions\/4867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}