{"id":4468,"date":"2020-11-26T05:51:59","date_gmt":"2020-11-26T05:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4468"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/","title":{"rendered":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bisnis.com | Kamis, 26 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Barata Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Balai Penelitian\nTanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian untuk menggarap\nreaktor biodiesel hybrid bahan bakar nabati. Direktur Operasi Barata Indonesia\nBobby Sumardiat Atmosudirjo mengatakan bahwa kerja sama tersebut merupakan\nupaya perseroan dalam rangka mengindustrialisasi sebuah inovasi mendukung\nprogram pemerintah guna memenuhi kebutuhan energi alternatif dalam negeri yang\nramah lingkungan. &#8220;Biodiesel B100 adalah energi masa depan Indonesia. Ini\nadalah peluang besar bagi Barata sebagai BUMN manufaktur dan EPC [engineering,\nprocurement, &amp; construction] untuk menciptakan nilai tambah melalui\nhilirisasi sawit dengan produk akhir yang mampu memperkuat ketahanan energi\nnasional,\u201d katanya melalui siaran pers, Rabu (25\/11\/2020). Bobby mengatakan\nbahwa perseroan selama ini telah memiliki pengalaman dan kompetensi dalam\npembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit yang nantinya akan dikembangkan\ndalam upaya penghiliran industri CPO yang lebih efisien. \u201cHingga kini sawit\nIndonesia masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar, tapi Jika hanya\ndiekspor bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah, sedangkan produk turunannya\nlebih tinggi jika dijual,\u201d katanya. Untuk itu, lanjut Booby, Barata bersama\ndengan Balittri ingin melahirkan produk industri mobile refinery untuk\nmenghasilkan produk hilir yang bernilai tinggi yang diharapkan dapat\nmengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Bobby menambahkan bahwa\npengembangan biodiesel B100 juga memiliki banyak dampak positif terhadap\npemanfaatan BBN bagi masyarakat yang lebih efisien dan ekonomis. Berdasarkan\ndata Balittri, tahap uji coba membuktikan bahwa satu liter B100 mampu menempuh\njarak 13,1 km atau 26,7 persen lebih efisien dari bahan bakar solar fosil\ndengan jumlah yang sama. \u201cPengembangan ini pun diharapkan dapat mendorong\npenciptaan nilai kesejahteraan ekonomi bagi para pekerja di sektor sawit yang\nterlibat,\u201d imbuhnya. Selama ini, Barata Indonesia sendiri sudah beberapa kali\nterlibat dalam proyek yang mendukung energi ramah lingkungan, salah satunya\nseperti pembangkit listrik mini hidro dengan kapasitas hingga 5 MW.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201126\/44\/1322678\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>RI Banjir Impor Minyak, Luhut Minta Diversifikasi Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia kini memang defisit pasokan energi, baik dari minyak\nmentah, produk minyak seperti bahan bakar minyak (BBM) hingga LPG. Semakin\nmeningkatnya permintaan energi di dalam negeri, namun tidak sejalan dengan\npeningkatan produksi, maka mau tidak mau Indonesia harus mengimpor sejumlah\npasokan energi. Hal ini juga diakui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan\nInvestasi Luhut Binsar Pandjaitan. Dia mengatakan, konsumsi minyak mentah\nIndonesia memiliki tren kenaikan 3,3% per tahun, sementara dari sisi produksi\nmalah turun 2,2% per tahun. Pada akhir 2018, total cadangan minyak mentah\nIndonesia pun tinggal 3,2 miliar barel, terkuras dari 5,1 miliar barel pada\n1998. Besarnya impor minyak mentah maupun produk minyak saat ini menekan neraca\nperdagangan Indonesia dan bisa memperburuk perekonomian nasional. Oleh karena\nitu, lanjutnya, penting bagi negara untuk melakukan diversifikasi pasokan\nenergi. &#8220;Indonesia butuh diversifikasi sumber energi. Impor minyak menekan\nrupiah dan ekonomi secara keseluruhan,&#8221; ujarnya dalam acara EBTKE ConEx\n2020 secara virtual, Rabu (25\/11\/2020). Luhut mengatakan, salah satu upaya\ndiversifikasi sumber pasokan energi yakni melalui program biodiesel, mulai dari\npencampuran Fatty Acid Methyl Esters (FAME) sebesar 30% dengan diesel atau\nbiasa dikenal dengan B30 maupun B40. &#8220;Program B30, B40 dapat mengurangi\nimpor energi kita,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, lanjutnya, besarnya cadangan batu bara nasional saat\nini bisa dimanfaatkan untuk gasifikasi batu bara dan mengubahnya menjadi\ndimethyl ether (DME) maupun methanol yang bisa digunakan untuk pengganti LPG\natau pencampuran untuk biodiesel. &#8220;Kita tidak ingin hanya ekspor batu bara\nmentah, tapi bisa lakukan hilirisasi seperti mengubah batu bara menjadi\nmethanol yang kita perlukan untuk B30 juga,&#8221; tuturnya. Di sisi lain,\nimbuhnya, pemerintah juga terus berupaya meningkatkan proyek energi baru\nterbarukan terutama untuk pembangkit listrik, seperti pembangkit listrik tenaga\nair (PLTA), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik\ntenaga angin\/ bayu (PLTB), dan lainnya. Karena masih banyaknya sumber energi\nterbarukan tersebut, maka menurutnya nuklir belum perlu untuk segera\ndikembangkan di Tanah Air. Terlebih, lanjutnya, adanya kasus kebocoran\npembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima, Jepang. &#8220;Kami akan\ntingkatkan porsi energi baru terbarukan untuk mengendalikan perubahan\niklim,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20201125163413-4-204618\/ri-banjir-impor-minyak-luhut-minta-diversifikasi-energi\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sindonews.com | Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Di Depan Anggota DPR, Pertamina Beberkan Alasan Pembentukan\nSubholding<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) secara resmi membentuk holding Power &amp;\nNew Renewable Energy (PNRE), dan tercatat ada lima subholding yang ada di\ndalamnya. Di hadapan anggota Komisi VII DPR, manajemen perseroan pun\nmenjabarkan sederet tugas yang nantinya dijalankan masing-masing holding. Chief\nExecutive Officer subholding PNRE Heru Setiawan mengatakan, restrukturisasi\ntersebut sebagai langkah transformasi struktur organisasi. Dari segi\noperasional, selain menggenjot lini bisnis, pembentukan subholding juga\nmempercepat rantai pasok (value chain), mulai dari hulu hingga hilir.\n&#8220;Bahwa sejak bulan Juni 2020 lalu, kami dari Pertamina melakukan\ntransformasi struktur organisasi. Jadi semua kegiatan operasional value chain\nPertamina mulai hulu hingga hilir itu berada di bawah holding, yaitu sub\nholding,&#8221; ujar Heru dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII di\nJakarta, Rabu (25\/11\/2020). Tercatat lima subholding seperti, upstream\nsubholding yang operasionalnya diserahkan kepada PT Pertamina Hulu Energi, gas\nsubholding dipegang PT Perusahaan Gas Negara, refinery &amp; petrochemical\nsubholding oleh PT Kilang Pertamina International, power &amp; NRE subholding\ndioperasikan PT Pertamina Power Indonesia, dan commercial &amp; trading\nsubholding oleh PT Patra Niaga. Selain itu juga terdapat shipping company yang\noperasionalnya diserahkan kepada PT Pertamina International Shipping. Untuk\nPertamina Power Indonesia salah satu tugasnya adalah mengawal transisi energi\nPertamina. Penugasan ini seiring dengan sikap optimistis manajemen terhadap\npengurangan hidrokarbon dan meningkatnya karbon sinks. Selain itu, adanya\nrenewable resource atau sumber daya alam (SDA) yang dapat diperbaharui, serta\nelektrifikasi. &#8220;Kami, Power and RNE memiliki peran salah satunya itu\nmengawal transisi energinya Pertamina. Kami melihat Pertamina ke depan adanya\ninisiatif, baik itu secara global maupun pemerintah bahwa ke depannya\nhidrokarbon semakin menurun dan digantikan dengan karbon sinks. Kemudian\nsifatnya elektrifikasi dan kedua renewable. Jadi akan lebih banyak cara agar\nmasyarakat mengkonsumsi energi lebih banyak bersifat renewable dan energi\nbersih,&#8221; kata dia. Sementara dari sisi bisnis, ada beberapa sektor yang\ndinilai sangat potensial di pasaran. Seperti, biodiesel, Solar panel, dan integrated\npower plant. &#8220;Dari sisi bidang bisnisnya, ada beberapa sektor, yaitu\nmarket untuk internal Pertamina, integrated power plant, kemudian solar TV,\nbiodiesel, dan hidro. Dari sisi manufaktur, kita memproduksi solar cell.\nInisiatif berkoordinasi juga dengan PT PLN, PT LEN, kemudian battery juga.\nBerdasarkan amanat ini kami akan proses ke depan,&#8221; kata dia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekbis.sindonews.com\/read\/245052\/34\/di-depan-anggota-dpr-pertamina-beberkan-alasan-pembentukan-subholding-1606284710\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Validnews.id | Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gaikindo: Indonesia Pasar Empuk Untuk Mobil Listrik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo\nmeyakini Indonesia merupakan pasar yang bagus bagi produk kendaraan bermotor\nlistrik yang kini menjadi tren global. Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara\nmenjelaskan hal tersebut tercermin dari rasio kepemilikan mobil di Indonesia\nyang masih rendah, yakni 99 mobil per 1.000 penduduk. Angka tersebut masih\nkalah jika dibandingkan negara ASEAN lain, seperti Malaysia dan Thailand.\n&#8220;Malaysia yang jumlah penduduknya 30 juta, rasio kepemilikan di atas 400\nper 1.000 penduduk, sedangkan Thailand di atas 200 mobil per 1.000\npenduduk,&#8221; kata Kukuh dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu (25\/11).\nBerdasarkan angka tersebut, saat ini Indonesia masih menjadi pasar yang menarik\nbagi produk kendaraan bermotor, khususnya roda 4. Kukuh menegaskan pihaknya\nakan memanfaatkan kondisi tersebut. Terkait potensi kendaraan bermotor listrik,\nKukuh menjelaskan bahwa tren saat ini memang mengarah kepada kendaraan yang\nramah lingkungan. Pemerintah juga telah menerbitkan PP Nomor 73 Tahun 2019 yang\nkemudian akan diimplementasikan pada 2021. Melalui PP tersebut, tambah Kukuh,\npajak kendaraan bermotor akan didasarkan pada tingkat emisi. Semakin rendah\nemisinya maka pajak juga akan rendah. &#8220;Memang trennya menuju ke arah low\nemission vehicle. Untuk itu, disiapkan ketentuan yang berkaitan dengan\nkendaraan yang rendah emisi gas buang,&#8221; ujarnya. Upaya untuk menurunkan\nemisi juga telah ditempuh Indonesia dengan mandatory biodiesel. Kadar campuran\nCPO pun diupayakan meningkat. Sejak awal 2020, program B30 atau kadar 30% CPO\ndalam bahan bakar minyak sudah diimplementasikan. &#8220;Komitmen itu juga\nsebagai bentuk implementasi untuk menurunkan dampak dari gas rumah kaca,&#8221;\ntutur Kukuh.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.validnews.id\/Gaikindo&#8211;Indonesia-Pasar-Empuk-Untuk-Mobil-Listrik-nEX\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNNIndonesia.com | Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Luhut Ungkap Sebab RI Sulit Lepaskan Diri dari Batu Bara<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan\nmenyatakan Indonesia masih kesulitan untuk meninggalkan penggunaan batu bara\nsebagai sumber energi. Pasalnya, ketergantungan RI akan batu bara terhadap\ntotal sumber energi hingga sekarang masih lebih dari 60 persen. &#8220;Kami\ntidak bisa bilang kalau dengan segera tidak mau lagi menggunakan batu bara\nkarena saya percaya lebih dari 60 persen dari sumber energi Indonesia masih\ndihasilkan dari batu bara,&#8221; katanya pada diskusi daring Investment Summit,\nRabu (25\/11). Meski begitu, Luhut menyebut bukan berarti pemerintah RI tak\nberusaha mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) untuk secara\nbertahap menggantikan batu bara atau sumber energi fosil lainnya. Ia\nmenambahkan meski kaya akan sumber daya batu bara, konsumsi batu bara dalam\nnegeri sendiri sebetulnya tak terbesar. Ia mengaku konsumsi batu bara di dalam\nnegeri naik. Namun, kenaikan tak terlalu signifikan. Dia menambahkan kalau kegiatan\nekspor justru mendominasi hasil eksplorasi batu bara. Ia mengatakan dari total\nproduksi batu bara sebesar 323,3 juta ton setara minyak pada 2018, sebanyak\n261,7 juta ton di antaranya justru diekspor. Sisa 61,6 juta ton baru digunakan\nuntuk konsumsi dalam negeri. &#8220;Kami tidak mau lagi hanya mengekspor batu\nbara mentah atau memakainya, tapi kami ingin melihat hilirisasi batu bara.\nMungkin kami bisa mengarah ke hilirisasi metanol karena butuh metanol untuk\nB30,&#8221; kata dia. Lebih lanjut, Luhut tak menampik bahwa penggunaan energi\nterbarukan di Indonesia masih rendah meski memiliki potensi yang luar biasa.\nSecara keseluruhan, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sebesar\n443,208 MW. Ini berasal dari energi solar, angin, geotermal, air, biomass, dan\nlainnya. Namun, utilisasi atau pemanfaatannya hanya berkisar 2 persen dari\npotensi. &#8220;Indonesia memiliki potensi EBT yang besar namun utilisasinya\nmasih kecil,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnnindonesia.com\/ekonomi\/20201125154121-85-574416\/luhut-ungkap-sebab-ri-sulit-lepaskan-diri-dari-batu-bara\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>JPNN.com | Rabu, 25 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jokowi Tegaskan Komitmen Indonesia untuk Bangun Ekonomi Tangguh\ndan Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah terus bekerja keras\nmembangun ekonomi yang inklusif dan membangun hubungan yang harmonis antara\nmanusia dan lingkungannya, serta mampu beradaptasi dan siap menghadapi krisis.\nHal itu disampaikan pria yang akrab disapa Jokowi itu dalam pidatonya pada\nWorld Economic Forum (WEF) Special Virtual on Indonesia melalui video\nkonferensi dari Istana Kepresidenan Bogor, Rabu (25\/11). &#8220;Pengesahan\nOmnibus UU Cipta Kerja adalah langkah besar kami untuk mempermudah izin usaha\ndan memberikan kepastian hukum, serta memberikan insentif untuk menarik\ninvestasi, terutama untuk industri padat karya dan ekonomi digital,&#8221; kata\ndia. Jokowi menyebut, Indonesia terus berkomitmen untuk menuju ekonomi lebih hijau\ndan berkelanjutan. Menurutnya, geliat pemulihan ekonomi tidak boleh lagi\nmengabaikan perlindungan terhadap lingkungan. &#8220;Perlindungan bagi hutan\ntropis tetap menjadi prioritas kami sebagai benteng pertahanan terhadap\nperubahan iklim,&#8221; tambahnya. Indonesia sendiri telah melakukan beberapa\nterobosan, antara lain memanfaatkan biodiesel B-30, mengembangkan green diesel\nD100 dari bahan kelapa sawit yang menyerap 1 juta ton sawit produksi petani,\nmemasang ratusan ribu Pembangkit Listrik Tenaga Surya di atap rumah tangga,\nserta mengolah biji nikel menjadi baterai litium yang dapat digunakan di ponsel\ndan mobil listrik.&nbsp; &#8220;Semua upaya tersebut akan menciptakan puluhan\nribu lapangan kerja baru yang sekaligus berkontribusi pada pengembangan energi\nmasa depan,&#8221; ujarnya. Pada 2021 akan menjadi tahun yang penuh peluang bagi\nIndonesia untuk berpartisipasi dalam kebangkitan perekonomian dunia. Indonesia\nmendukung dunia dengan membangun ekosistem investasi yang jauh lebih baik\ndengan melakukan perbaikan ekosistem regulasi dan birokrasi secara\nbesar-besaran, memberikan insentif bagi investasi yang sesuai dengan prioritas\nyang telah ditetapkan, serta menjamin kondisi sosial dan politik yang stabil.\n&#8220;Saya mengundang masyarakat dunia untuk bergabung dan menanamkan investasi\ndi Indonesia, untuk membangun ekonomi dunia yang lebih inklusif, berkelanjutan,\ndan resilient,&#8221; tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.jpnn.com\/news\/jokowi-tegaskan-komitmen-indonesia-untuk-bangun-ekonomi-tangguh-dan-berkelanjutan\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisnis.com | Kamis, 26 November 2020 Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN PT Barata Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian untuk menggarap reaktor biodiesel hybrid bahan bakar nabati. Direktur Operasi Barata Indonesia Bobby Sumardiat Atmosudirjo mengatakan bahwa kerja sama tersebut merupakan upaya perseroan dalam rangka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4468","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bisnis.com | Kamis, 26 November 2020 Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN PT Barata Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian untuk menggarap reaktor biodiesel hybrid bahan bakar nabati. Direktur Operasi Barata Indonesia Bobby Sumardiat Atmosudirjo mengatakan bahwa kerja sama tersebut merupakan upaya perseroan dalam rangka [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-11-26T05:51:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN\",\"datePublished\":\"2020-11-26T05:51:59+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/\"},\"wordCount\":1838,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/\",\"name\":\"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2020-11-26T05:51:59+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI","og_description":"Bisnis.com | Kamis, 26 November 2020 Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN PT Barata Indonesia (Persero) bekerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian untuk menggarap reaktor biodiesel hybrid bahan bakar nabati. Direktur Operasi Barata Indonesia Bobby Sumardiat Atmosudirjo mengatakan bahwa kerja sama tersebut merupakan upaya perseroan dalam rangka [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2020-11-26T05:51:59+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:05+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"9 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN","datePublished":"2020-11-26T05:51:59+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/"},"wordCount":1838,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/","name":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2020-11-26T05:51:59+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/barata-gandeng-balittri-kembangkan-reaktor-biodiesel-hybrid-bbn\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Barata Gandeng Balittri Kembangkan Reaktor Biodiesel Hybrid BBN"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4468","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4468"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4468\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4866,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4468\/revisions\/4866"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4468"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4468"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4468"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}