{"id":4522,"date":"2021-01-12T03:16:52","date_gmt":"2021-01-12T03:16:52","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4522"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/","title":{"rendered":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Investor Daily Indonesia | Selasa, 12 Januari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menargetkan Kilang Cilacap\ndapat memproduksi solar hijau yang berasal dari pengolahan minyak sawit 100%\natau D-100 sebesar 3.000 barel per hari (bph) di akhir tahun ini. Hal ini\nmenyusul rampungnya modifikasi unit di Kilang Cilacap. Sekretaris Perusahaan PT\nKilang Pertamina Internasional (KPI) Ifki Sukarya menuturkan, tahap desain dari\nmodifikasi unit di Kilang Cilacap tersebut sudah rampung. Berikutnya pihaknya\nakan memulai konstruksi modifikasi peralatan Fase-1 dan ditargetkan selesai\npada akhir tahun ini. Pada saat itu, Kilang Cilacap dapat mengolah minyak sawit\nyang telah dihilangkang getah, impurities, dan baunya {Refined, Bleached and\nDeodorized Palm CWRBDPO) menjadi D-100 sebesar 3 ribu bph. &#8220;Konstruksi\nFase-ldilak-sanakan bersamaan dengan program perawatan kilang pada akhir\n2021,&#8221; kata dia kepada Investor Daily, akhir pekan lalu. Untuk modifikasi\nunit ini, jelasnya, beberapa peralatan hanya perlu dimodifikasi atau di-upgrade.\nNamun, beberapa peralatan perlu dilakukan pengadaan baru. Secara paralel,\npihaknya akan menggarap desain konstruksi Fase-2 bersamaan dengan penyelesaian\nFase-1. Nantinya, Fase-2 proyek ini dapat menghasilkan D-100 hingga 6 ribu bph.\n&#8220;Tahapan konstruksi Fase-2 dilaksanakan setelah Fase-1. Tahap konstruksi\nFase-2 ditargetkan mulai pada pertengahan 2021 hingga akhir 2022,&#8221; jelas\nIfki. Secara terpisah, Vice President Strategic Planning Kilang Pertamina\nInternasional Prayitno sempat mengungkapkan, perseroan mengembangkan pengolahan\nminyak sawit sebagai campuran solar di kilang dengan metode co-processing sejak\n2014 lalu. Campuran RBDPO ini awalnya hanya 7,5% dan mampu terus ditingkatkan\nhingga 100% (D-100) di Kilang Dumai pada tahun lalu. Ke depannya, pihaknya akan\nfokus mengembangkan D-100. Selain modifikasi unit di Kilang Cilacap, Pertamina\njuga akan membangun kilang hijau. &#8220;Di Plaju, kami bangun baru biorefinery\nberkapasitas 20 ribu bph dengan feed minyak sawit,&#8221; ungkapnya. Menurut\nPrayitno.tek-nologi pengolahan minyak sawit menjadi solar hijau atau D-100 ini\nsudah terbukti. Bahkan, kilang yang mampu menghasilkan produk ini sudah cukup\nbanyak yang beroperasi di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Tiongkok,\nserta negara-negara Eropa dan Timur Tengah. Proyek Kilang Hijau Cilacap dan\nPlaju masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai Peraturan\nPresiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 yang merupakan revisi Per-pres3\/2016.\nSebelumnya, kedua proyek ini masuk daftar prioritas dalam Perpres 18\/2020\ntentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024. Sebelumnya,\nDirektur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, sesuai program pemerintah,\nperbaikan dan pembangunan kilang untuk menghasilkan D-100 ini cukup penting.\nPasalnya, secara teknis, pencampuran\/afty acid methyl ester (FAME) dengan solar\nhanya dapat dilakukan sampai maksimal kadar 30% saja. Hal ini mengingat\nkandungan air atau gliserin dalam FAME sangat tinggi. Di sisi lain, dalam\nroadmap mandatori pemerintah, pencampuran FAME ditargetkan mencapai 50% atau\nbiodiesel 50% (B50). &#8220;Jadi selebihnya kalau mau B40 atau B50 harus\nditambahkan HVO (hydrotreated vegetable oil) atau B100 (D-100). Jadi kalau B50\nmaka 20% FAME dan 30% HVO,&#8221; paparnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a> |\nSenin, 11 Januari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Begini Konsep Pertamina Produksi Bensin Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) telah memiliki rencana untuk memproduksi\nbahan bakar minyak (BBM) berbahan baku yang ramah lingkungan di masa depan.\nSudah bukan rahasia lagi jika minyak sawit dapat diproses dan diolah menjadi\nberbagai jenis bahan bakar nabati pengganti bahan bakar fosil. Tidak hanya akan\nberhenti pada green diesel saja, minyak sawit juga akan diolah menjadi green\ngasoline (bensin sawit). VP Strategic Planning Refining and Petrochemical PT\nKilang Pertamina Internasional, Prayitno mengatakan, pihaknya akan memodifikasi\nsalah satu unit Kilang Cilacap, Jawa Tengah untuk mengolah 100 persen minyak\nsawit mentah (crude palm oil\/CPO).&nbsp; Terdapat dua tahap produksi bahan bakar\nhijau (green fuel) pada kilang tersebut. Tahap pertama, akan mengolah CPO\nsetara 3.000 barel per hari (bph) atau sekitar 477 kiloliter per hari. Tahap\nkedua, akan mengolah CPO setara 6.000 bph, yang artinya kapasitas akan\nmeningkat dua kali lipat. Selain Kilang Cilacap, PT Pertamina juga akan\nmembangun baru kilang untuk green energy di Kilang Plaju, Sumatera Selatan.\n&#8220;Kalau di Plaju ini bukan modifikasi, tapi kita rencanakan bangun baru\nbiorefinery, kapasitas 20.000 bph dengan bahan baku CPO. Kalau dari sisi\nkioliter per harinya itu sekitar 3.180,&#8221; ujarnya dalam &#8216;Katadata Forum\nVirtual Series: Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku\nBiodiesel&#8217;, Kamis (07\/01\/2021). Dia juga menjelaskan, Pertamina sudah mulai\nmelakukan uji coba mengolah CPO menjadi green diesel sejak Desember 2014,\ndengan komposisi minyak sawit sebesar 7,5 persen. Kemudian, pada Januari 2019\ndilakukan kembali uji coba mengolah CPO menjadi green diesel di Kilang Dumai,\nRiau dan ditingkatkan porsinya menjadi 12,5 persen. Artinya, 12,5 persen CPO\ndicampurkan dengan bahan bakar fosil di kilang yang sudah ada. Lalu, pada Juli\n2020 Pertamina sudah bisa mengolah 100 persen CPO menjadi green diesel di\nKilang Dumai. &#8220;Tahun 2020 di Juli Alhamdulillah kita bisa mengolah 100\npersen CPO menjadi green diesel. Produknya adalah D100,&#8221; ujarnya.&nbsp;\nKemudian, dari sisi produksi green gasoline (bensin sawit), Pertamina telah\nmelakukan uji coba di Kilang Plaju. Pertamina menginjeksikan turunan produk\nminyak sawit (RBDPO) sebesar 15 persen pada 2019, lalu pada 2020 naik menjadi\nsebesar 20 persen. Uji coba serupa menurutnya juga dilakukan di Kilang Cilacap\ndan berhasil di tingkat pencampuran sawit sekitar 13 persen. &#8220;Konsepnya\nsama, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO)-nya dicampur dengan fossil\nfuel, diolah di kilang yang sudah kita punya,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read322211\/begini-konsep-pertamina-produksi-bensin-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Senin, 11 Januari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Potensi Minyak Jelantah untuk Pasokan Biodiesel Nasional<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia termasuk salah satu negara pengguna minyak sawit yang\ncukup banyak. Pada 2019, penggunaan minyak goreng di Tanah Air mencapai 13 juta\nton per tahun atau setara dengan 16,2 juta kiloliter per tahun. Sedangkan potensi\nminyak jelantah setiap tahunnya 3 juta kiloliter. Direktur Bioenergi\nKementerian ESDM, Andriah Feby Misna mengatakan bahwa minyak jelantah atau Used\nCooking Oil (UCO) memiliki berbagai kegunaan, terutama untuk biodiesel.\n&#8220;Kalau bisa kita kelola (minyak jelantah) dengan baik, bisa memenuhi\nsebagian kebutuhan biodiesel nasional,&#8221; ucap Andriah dalam webinar\nKatadata bertema Peluang Minyak Jelantah Sebagai Alternatif Bahan Baku\nBiodiesel. Selain itu, pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah memiliki\npeluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Dipasarkan\ndi luar negeri pun memiliki peluang yang cukup besar. Dengan memanfaatkan\nminyak jelantah, biaya produksi pun bisa lebih hemat 35 persen, dibandingkan\ndengan biodiesel dari minyak nabati yang dihasilkan dari tanaman buah kelapa\nsawit atau Crude Palm Oil (CPO). &#8220;Tapi, ini harus dilihat lagi, karena\nkita liat dari beberapa industri yang ada tidak bisa sustain. Ada hal-hal yang\nmemengaruhi biaya operasionalnya,&#8221; ungkap Andriah. Sementara itu, untuk\npemanfaatan minyak jelantah sebagai feedstock biorefinery, menurut VP Strategic\nPlaning Refining &amp; Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional,\nPrayitno masih ada hal yang harus dipikirkan. &#8220;Untuk UCO yang menjadi\nsalah satu PRnya bagaimana kita mengumpulkan minyak jelantah untuk skala\nindustri, termasuk logistik dan handling. Kita bisa benchmark dari perusahaan\ndi luar (negeri), bagaimana mereka mengumpulkan minyak jelantah,&#8221; jelas\nPrayitno. &#8220;Untuk CPO, kita perlu jaminan feedstock serta semacam kebijakan\natau support dari stakeholder untuk memastikan secara bisnis juga, baik bagi\nperusahaan yang melaksanakan kegiatan ini,&#8221; sambungnya. Apabila sekitar\n1,2 juta kilo biodiesel dari kelapa sawit diganti dengan minyak jelantah yang dikumpulkan\ndari sektor rumah tangga, maka bisa menghemat sekitar Rp 4,2 triliun. Angka itu\nsesuai dengan angka data produksi biodiesel dari 2020. Namun, ada tantangan\nuntuk mewujudkan hal tersebut.&nbsp; &#8220;Kita enggak menutup mata pengumpulan\nuse cooking oil dari sektor rumah tangga akan sangat susah dilakukan, bukan\nberarti susah itu enggak bisa dilakukan,&#8221; kata Tenny Kristiana, Peneliti\nICCT untuk Program Bahan Bakar. Pada 2018, studi The International Council on\nClean Transportation (ICCT) menyebutkan produksi minyak jelantah dari restoran,\nhotel, hingga sekolah mencapai 157 juta liter untuk wilayah perkotaan saja.\nAdapun produksi dari sektor rumah tangga bahkan mencapai 1.638 juta liter. <\/p>\n\n\n\n<p>Meski demikian, minyak jelantah adalah salah satu limbah minyak\nkelapa sawit yang keberadaannya membahayakan lingkungan dan kesehatan. Mengutip\nkajian ICCT, berdasarkan survei yang dilakukan pada 2017 menemukan bahwa 51%\nminyak jelantah rumah tangga di Tangerang menjadi limbah yang mencemari\nlingkungan. Sebesar 39% terbuang di selokan dan 4% mencemari tanah. Hal\ntersebut juga terjadi di Bogor (2015) di mana 51% of UCO rumah tangga di Bogor\nmenjadi limbah selokan sedangkan 17% mencemari tanah. Di sisi kesehatan, minyak\njelantah juga menjadi ancaman bagi tinggginya jumlah penyakit kronis layaknya\njantung, kolesterol, stroke, hingga kanker. Minyak goreng sawit berbahaya bagi\nkesehatan jika digunakan kembali untuk memasak dalam bentuk jelantah karena\nproses pemanasan yang lama ataupun berulang akan menyebabkan oksidasi dan\npolimerisasi asam lemak yang menghasilkan radikal bebas senyawa peroksida yang\nbersifat toksis bagi sel tubuh. Di sisi lain, pemerintah sedang menggalakan\nprogram Bahan Bakar Nabati (BBN) melalui produksi biodiesel untuk mewujudkan\nketahanan energi masa depan. Bahan baku pembuatan biodiesel berasal dari minyak\nsawit (CPO) yang dapat menghasilkan bahan bakar pengganti solar. Bahkan Pada\nDesember 2019, Presiden Jokowi meluncurkan program Biodiesel 30 persen untuk\nmendukung program mengurangi impor energi. Adapun pada 2020, pemerintah kian\nambisius untuk menggenjot biodiesel kualitas B40 hingga B50.&nbsp; Oleh karena\nitu, limbah minyak jelantah yang melimpah dapat dimanfaatkan menjadi berkah\nuntuk mendukung program pemerintah sebagai alternatif bahan baku biodiesel.\nBerdasarkan data ICCT dari total produksi minyak jelantah 2018, mampu\nberkontribusi terhadap 35% produksi biodiesel nasional. Tentu fakta tersebut\nmerupakan potensi yang cukup besar. Selain itu, penggunaan minyak jelantah\nlebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-swa-co-id\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/swa.co.id\/swa\/trends\/potensi-minyak-jelantah-untuk-pasokan-biodiesel-nasional\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Investor Daily Indonesia | Selasa, 12 Januari 2021 Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menargetkan Kilang Cilacap dapat memproduksi solar hijau yang berasal dari pengolahan minyak sawit 100% atau D-100 sebesar 3.000 barel per hari (bph) di akhir tahun ini. Hal ini menyusul rampungnya modifikasi unit di Kilang Cilacap. Sekretaris [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4522","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Investor Daily Indonesia | Selasa, 12 Januari 2021 Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menargetkan Kilang Cilacap dapat memproduksi solar hijau yang berasal dari pengolahan minyak sawit 100% atau D-100 sebesar 3.000 barel per hari (bph) di akhir tahun ini. Hal ini menyusul rampungnya modifikasi unit di Kilang Cilacap. Sekretaris [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-01-12T03:16:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100\",\"datePublished\":\"2021-01-12T03:16:52+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/\"},\"wordCount\":1427,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/\",\"name\":\"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2021-01-12T03:16:52+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:05+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI","og_description":"Investor Daily Indonesia | Selasa, 12 Januari 2021 Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menargetkan Kilang Cilacap dapat memproduksi solar hijau yang berasal dari pengolahan minyak sawit 100% atau D-100 sebesar 3.000 barel per hari (bph) di akhir tahun ini. Hal ini menyusul rampungnya modifikasi unit di Kilang Cilacap. Sekretaris [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2021-01-12T03:16:52+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:05+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100","datePublished":"2021-01-12T03:16:52+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/"},"wordCount":1427,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/","name":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100 - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2021-01-12T03:16:52+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:05+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/akhir-tahun-kilang-cilacap-produksi-d-100\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Akhir Tahun, Kilang Cilacap Produksi D-100"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4522","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4522"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4522\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4845,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4522\/revisions\/4845"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}