{"id":4599,"date":"2021-03-01T02:02:03","date_gmt":"2021-03-01T02:02:03","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4599"},"modified":"2021-05-27T03:58:04","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:04","slug":"tantangan-biodiesel-sawit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/","title":{"rendered":"Tantangan Biodiesel Sawit"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Infosawit.com | Senin, 1 Maret 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan Biodiesel Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sepanjang periode tahun 2019 lalu, harga minyak mentah dunia tidak\nmengalami fluktuasi kendati pada akhir tahun ada konflik antara Rusia dan Arab\nSaudi tentang produksi dan ekspor minyak. Harga biodiesel juga tidak mengalami\nfluktuasi signifikan sepanjang tahun, meskipun di akhir tahun terdapat banyak\npeningkatan. Pada awal 2020, ada fluktuasi harga minyak mentah dunia, dan pada\nBulan Maret \u2013 April 2020, ada anomali harga minyak mentah yang sangat rendah.\nIni terjadi lantaran adanya pandemi Cvoid-19 yang melanda dunia dan Indonesia\nsejak Maret hingga saat ini. Permintaan untuk biodiesel pun menurun hingga\nkurang lebih 12%. Perbedaan harga antara biodiesel dan diesel berbasis minyak\nfosil semakin melebar hingga US$ 461 \/ton sampai Bulan September 2020.\nSementara&nbsp; proyeksi serapan biodiesel di tahun 2020 mencapai sebanyak 9,6\njuta kiloliter dan ekspor sejumlah 1 juta kiloliter. Lantas dengan adanya\npengujian penerapan B40 yang rencananya akan diterapkan di tahun 2021\/2022,\ndiperkirakan akan mampu menyerap biodiesel sekitar 12,8 juta kiloliter.&nbsp;\nTantangan dari pengembangan biodiesel dapat dilihat dari beberapa hal. Pertama,\nkualitas biodiesel. Guna memenuhi standar di sektor transportasi, pihak pelaku\nselalu memperbaharui Standar Kualitas Biodiesel dan dari sisi teknologi. Kedua,\ndukungan stakeholders atau seluruh pemangku kepentingan. Kami telah bekerja\nbersama dengan Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan serta dengan\nberbagai universitas&#8230;. <em>(Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\n(APROBI) \/ Paulus Tjakrawan)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jurnas.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Susun Kurikulum Berbasis Industri, Aprobi dan Apolin Teken MoU\ndengan LPP Yogyakarta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani memorandum of\nunderstanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu Asosiasi Produsen\nBiofuel Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Produsen Oleochemicals Indonesia\n(Apolin) yang berlangsung virtual, Sabtu (27\/2). Penandatanganan MoU dilakukan\noleh Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta dengan Ketua Apolin,\nRapolo Hutabarat, dan Ketua Umum Aprobi, MP Tumanggor. Direktur Politeknik LPP\nYogyakarta, Muhamad Mustangin mengatakan, penandatanganan MoU diharapkan mampu\nmeningkatkan kualitas pembelajaran di Politeknik LPP sehingga menghasilkan\nlulusan sesuai tuntutan dunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara\nitu, sektor industri khususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh sumber daya\nmanusia sesuai kapasitas dan kapabilitas yang diharapkan. &#8220;Kami ucapkan\napresiasi setinggi-tingginya kepada APROBI dan APOLIN untuk penandatanganan MoU\nini,&#8221; ujar Muhamad Mustangin saat memberikan sambutan. Target MoU, lanjut\ndia, agar memiliki kurikulum sejalan kebutuhan industri hilir sawit sehingga\ndapat memenuhi kebutuhan industri. Lalu ada Selain itu, mahasiswa akan\nmemperoleh tempat magang sehingga mereka mengetahui proses produksi di dalam\nindustri. &#8220;Harapan kami, ada tenaga pengajar dari Aprobi dan Aplolin yang\nberbagi pengetahuan dan update informasi, sehingga dapat memperkaya materi dan\nsistem pengajaran,&#8221; ujar dia. Di tempat yang sama, Rapolo&nbsp;\nmengutarakan, MoU ini sangat strategis, mengingat pembangunan sumber daya\nmanusia (SDM) dari segala aspeknya merupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam\nmenjawab berbagai tantangan, khusunya tantangan yang akan datang. MoU Apolin\ndengan LPP Politeknik Yogyakarta berkaitan empat aspek yaitu penyusunan\nkurikulum pendidikan, pengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang.\nMenurut dia, permintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus\nmeningkat setiap tahunnya. Industri oleochemical di Indonesia saat ini memiliki\nkapasitas 11,3 juta ton per tahun. Adapun produk oleochemical saat ini terdiri\ndari lima kelompok utama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan\nsoap noodle. &#8220;Melihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari Apolin\nmengajak perguruan tinggi bersama-sama mencari, menggali dan mengembangkan\nberbagai teklongi unggul dan beragam untuk produk olechemical yang sangat\ndibutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo. <\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Aprobi, Irma Rachmania menuturkan,\npenandatanganan kerja sama sangat penting baik Politeknik LPP Yogyakarta dan\nAprobi untuk memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya. &#8220;Perjanjian\nini semakin mendukung industri sawit khususnya energi terbarukan. Kerjasama ini\nmeningkatkan daya saing industri dan terutama kesejahteraan Indonesia,\u201d ujar\nIrma yang mewakili pengurus&nbsp; Aprobi saat memberikan sambutan. Ia\nmengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerja sama baik Aprobi dan LPP\nYogyakarta. &#8220;Apresiasi tinggi kepada LPP Yogyakarta yang memberikan\nkesempatan APROBI untuk penandatanganan MoU ini,&#8221; ujar dia. Sementara itu,\nDeputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang\nPerekonomian, Musdhalifah Machmud, berpesan supaya MoU dapat dimanfaatkan\nsebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia,\npenciptaan lapangan kerja. &#8220;Upaya dilakukan LPP Yogyakarta, APROBI, dan\nAPOLIN dapat mendorong akselerasi bisnis dan bermanfaat bagi kesejahteraan\nrakyat keseluruhan,&#8221; jelas dia. Wikan Sakarinto Dirjen Pendidikan Vokasi\nKementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik kerjasama yang sangat\nstrategis ini antara dunia usaha dan lembaga pendidikan di sektor perkebunan\nkarena dapat meningkatkan kemampuan tidak sebatas pangan melainkan energi\nterbarukan. &#8220;Kedepan, generasi muda harus diyakinkan bahwa sektor\npertanian maupun perkebunan ini sangat menjanjikan. Disinilah, LPP Yogyakarta\ndapat memainkan peranan sebagai politeknik penggerak. Perlu kampanye oleh LPP\ndan lembaga pendidikan SDM perkebunan lainnya,&#8221; pinta Wikan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.jurnas.com\/artikel\/88003\/Susun-Kurikulum-Berbasis-Industri-Aprobi-dan-Apolin-Teken-MoU-dengan-LPP-Yogyakarta\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Sabtu, 27\nFebruari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Politeknik LPP Yogyakarta kerjasama dengan Aprobi dan Apolin\nperkuat SDM hilir sawit <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani nota kesepahaman atau\nmemorandum of understanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu\nAsosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Produsen\nOleochemicals Indonesia (Apolin) yang berlangsung virtual, Sabtu\n(27\/2021).&nbsp; Penandatanganan MoU dilakukan oleh Muhamad Mustangin, Direktur\nPoliteknik LPP Yogyakarta dengan Rapolo Hutabarat,Ketua Umum Apolin dan MP\nTumanggor, Ketua Umum Aprobi.&nbsp; Mustangin mengatakan, penandatanganan MoU\nini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di Politeknik LPP\nsehingga menghasilkan lulusan sesuai tuntutan dunia kerja khususnya hilir\nkelapa sawit. Sementara itu, sektor industri khususnya hilir kelapa sawit akan\nmemperoleh sumber daya manusia sesuai kapasitas dan kapabilitas yang\ndiharapkan. &#8220;Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada Aprobi dan\nApolin untuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujar Mustangin dalam keterangannya,\nSabtu (27\/2).&nbsp; Ia mengatakan target MoU ini akan memiliki kurikulum\nsejalan kebutuhan industri hilir sawit sehingga dapat memenuhi kebutuhan\nindustri. Lalu ada dukungan Aprobi dan Apolin berkaitan D3 sampai S1 terapan\nyang memerlukan dukungan industri. Selain itu, mahasiswa akan memperoleh tempat\nmagang sehingga mereka mengetahui proses produksi di dalam industri.&nbsp;\n\u201cHarapan kami, ada tenaga pengajar dari Aprobi dan Apolin yang berbagi\npengetahuan dan update informasi, sehingga dapat memperkaya materi dan sistem\npengajaran,\u201d ujarnya. Sementara itu Rapolo mengatakan, MoU INI sangat\nstrategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala aspeknya\nmerupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai tantangan,\nkhusunya tantangan yang akan datang. MoU Apolin dengan LPP Politeknik\nYogyakarta berkaitan empat aspek yaitu penyusunan kurikulum pendidikan,\npengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang. Selain itu, lanjut dia,\npermintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap\ntahunnya. Industri oleochemical di Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3\njuta ton per tahun. Adapun produk oleochemical saat ini terdiri dari lima\nkelompok utama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan soap\nnoodle. &#8220;Melihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari Apolin\nmengajak perguruan tinggi&nbsp; bersama-sama mencari, menggali dan\nmengembangkan berbagai teklongi unggul dan beragam untuk produk olechemical\nyang sangat dibutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo. <\/p>\n\n\n\n<p>Irma Rachmania, Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi Aprobi\nmenuturkan penandatanganan kerjasama sangat penting baik Poltek LPP Yogyakarta\ndan APROBI untuk memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya. \u201cPerjanjian\nini semakin mendukung industri sawit khususnya energi terbarukan. Kerjasama ini\nmeningkatkan daya saing industri dan terutama kesejahteraan Indonesia,\u201d ujar\nIrma yang mewakili pengurus Aprobi saat memberikan sambutan.&nbsp;&nbsp; Ia\nmengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerjasama baik Aprobi dan LPP\nYogyakarta.\u201dApresiasi tinggi kepada LPP&nbsp; yang memberikan kesempatan APROBI\nuntuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujarnya.&nbsp; Sementara itu, Musdhalifah\nMachmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator\nBidang Perekonomian berpesan supaya MoU dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya\nterutama bagi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, penciptaan lapangan\nkerja. \u201cUpaya dilakukan LPP Yogyakarta, Aprobi dan Apolin dapat mendorong\nakselerasi bisnis dan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat keseluruhan,\u201d\njelasnya.&nbsp; Wikan Sakarinto Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan\ndan Kebudayaan menyambut baik kerjasama yang sangat strategis ini antara dunia\nusaha dan lembaga pendidikan di sektor perkebunan karena dapat meningkatkan\nkemampuan tidak sebatas pangan melainkan energi terbarukan. \u201cKe depan, generasi\nmuda harus diyakinkan bahwa sektor pertanian maupun perkebunan ini sangat\nmenjanjikan. Disinilah, LPP Yogyakarta dapat memainkan peranan sebagai\npoliteknik penggerak. Perlu kampanye oleh LPP dan lembaga pendidikan SDM\nperkebunan lainnya,\u201d pinta Wikan. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/politeknik-lpp-yogyakarta-kerjasama-dengan-aprobi-dan-apolin-perkuat-sdm-hilir-sawit?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Investor.id | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Susun Kurikulum dan SDM Sawit, Aprobi-Apolin Teken MoU dengan\nLPP Yogyakarta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani nota kesepahaman atau\nmemorandum of understanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu\nAsosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Produsen\nOleochemicals Indonesia (Apolin) yang berlangsung virtual, Sabtu (27\/2\/2021).\nPenandatanganan MoU dilakukan oleh Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP\nYogyakarta dengan&nbsp; Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Apolin dan MP Tumanggor,\nKetua Umum Aprobi. Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh kalangan pemerintah\ndan asosiasi sawit antara lain Musdhalifah Machmud (Deputi Bidang Koordinasi\nPangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian), Wikan\nSakarinto (Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan),\nAndriah Feby Misna (Direktur Bioenergi), Mohammad Abdul Ghani (Direktur Utama\nHolding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Edy Wibowo (Direktur\nPenyaluran Dana BPDPKS), Ir.Gulat ME Manurung (Ketua Umum DPP Apkasindo), Irma\nRachmania, Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi Aprobi, dan jajaran pengurus\nApolin maupun Aprobi. \u201cPenandatanganan MoU diharapkan mampu meningkatkan\nkualitas pembelajaran di Politeknik LPP sehingga menghasilkan lulusan sesuai\ntuntutan dunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara itu, sektor\nindustri khususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh sumber daya manusia\nsesuai kapasitas dan kapabilitas yang diharapkan. Kami ucapkan apresiasi\nsetinggi-tingginya kepada Aprobi dan Apolin untuk penandatanganan MoU ini,\u201d\nujar Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta saat memberikan\nsambutan. Ia mengatakan target MoU ini akan memiliki kurikulum sejalan\nkebutuhan industri hilir sawit sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri. Lalu\nada dukungan Aprobi dan Apolin berkaitan D3 sampai S1 terapan yang memerlukan\ndukungan industri. Selain itu, mahasiswa akan memperoleh tempat magang sehingga\nmereka mengetahui proses produksi di dalam industri. \u201cHarapan kami, ada tenaga\npengajar dari Aprobi dan Apolin yang berbagi pengetahuan dan update informasi,\nsehingga dapat memperkaya materi dan sistem pengajaran,\u201d ujarnya. Rapolo\nHutabarat , Ketua Umum Apolin, mengutarakan MoU ini sangat strategis, mengingat\npembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala aspeknya merupakan keharusan\nbagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai tantangan, khusunya tantangan yang\nakan datang. MoU Apolin dengan LPP Politeknik Yogyakarta berkaitan empat aspek\nyaitu penyusunan kurikulum pendidikan, pengiriman dosen tamu, training dosen,\ndan magang. Selain itu, lanjut dia, permintaan produk dasar oleochemical Indonesia\njuga terus meningkat setiap tahunnya. Industri oleochemical di Indonesia saat\nini memiliki kapasitas 11,3 juta ton per tahun. Adapun produk oleochemical saat\nini terdiri dari lima kelompok utama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester,\ngliserol dan soap noodle. &#8220;Melihat permintaan global yang tumbuh positif,\nkami dari Apolin mengajak perguruan tinggi&nbsp; bersama-sama mencari, menggali\ndan mengembangkan berbagai teklongi unggul dan beragam untuk produk olechemical\nyang sangat dibutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo. <\/p>\n\n\n\n<p>Irma Rachmania, Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (Aprobi) menuturkan penandatanganan kerjasama sangat\npenting baik Poltek LPP Yogyakarta dan Aprobi untuk memperkuat kompetensi dan\ndaya saing lulusannya. \u201cPerjanjian ini semakin mendukung industri sawit\nkhususnya energi terbarukan. Kerjasama ini meningkatkan daya saing industri dan\nterutama kesejahteraan Indonesia,\u201d ujar Irma yang mewakili pengurus Aprobi saat\nmemberikan sambutan.&nbsp; Ia mengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerjasama\nbaik Aprobi dan LPP Yogyakarta. \u201dApresiasi tinggi kepada LPP&nbsp; Yogyakarta\nyang memberikan kesempatan Aprobi untuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujarnya.\nSementara itu, Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian\nKementerian Koordinator Bidang Perekonomian berpesan supaya MoU dapat\ndimanfaatkan sebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas Sumber Daya\nManusia, penciptaan lapangan kerja. \u201cUpaya dilakukan LPP Yogyakarta, Aprobi,\ndan Apolin dapat mendorong akselerasi bisnis dan bermanfaat bagi kesejahteraan\nrakyat keseluruhan,\u201d jelasnya. Wikan Sakarinto Dirjen Pendidikan Vokasi\nKementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik kerjasama yang sangat\nstrategis ini antara dunia usaha dan lembaga pendidikan di sektor perkebunan\nkarena dapat meningkatkan kemampuan tidak sebatas pangan melainkan energi\nterbarukan. \u201cKe depan, generasi muda harus diyakinkan bahwa sektor pertanian\nmaupun perkebunan ini sangat menjanjikan. Disinilah, LPP Yogyakarta dapat\nmemainkan peranan sebagai politeknik penggerak. Perlu kampanye oleh LPP dan\nlembaga pendidikan SDM perkebunan lainnya,\u201d pinta Wikan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/investor.id\/business\/susun-kurikulum-dan-sdm-sawit-aprobiapolin-teken-mou-dengan-lpp-yogyakarta\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tribunnews.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Politeknik LPP Yogyakarta Tandatangani MoU dengan APROBI dan\nAPOLIN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta terus mengembangkan sayap dengan\nmenjalin kerja sama dengan dunia industri. Hari ini (Sabtu, 27\/2\/2021),\ndilakukan penandatanganan MoU Kerja Sama antara Politeknik LPP Yogyakarta\ndengan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan Asosiasi Produsen\nOleochemical Indonesia (APOLIN).&nbsp; Direktur Politeknik LPP, Muhammad\nMustangin, mengatakan pihaknya berharap dengan dimulainya kerja sama ini kelak dapat\ndilakukan penyusunan kurikulum untuk Politeknik LPP yang telah disesuaikan\ndengan kebutuhan dunia industri, utamanya APROBI dan APOLIN.&nbsp; &#8220;Kedua,\nindustri menyediakan tempat magang, sehingga sebelum masuk industri mereka\n(mahasiswa) punya gambaran. Dengan begitu industri tidak memerlukan pelatihan\nlagi, ini sebuah efisiensi juga bagi industri,&#8221; tutur Mustangin ditemui di\nPoliteknik LPP, Sabtu (27\/2\/2021). &nbsp;&#8220;Mau tidak mau perkembangan dunia\nada di industri, maka politeknik harus bisa menyesuaikan dengan industri,&#8221;\nimbuhnya.&nbsp; Kemudian, terkait beasiswa, Mustangin berharap dunia industri\nbisa semakin banyak memberikan beasiswa kepada masyarakat, khususnya untuk\nberkuliah di Politeknik LPP.&nbsp; Selain itu, ia juga berharap dapat dilakukan\nmagang dosen, sehingga apa yang diajarkan bisa inline dengan dunia\nindustri.&nbsp; Dalam kesempatan yang sama, hadir secara virtual, perwakilan\nAsosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Irma Rahmania, menuturkan bahwa\npenandatanganan MoU antara APROBI dan Politeknik LPP sangat penting dalam\nmeningkatan keandalan lulusan LPP.&nbsp; Di sisi lain, juga mendukung APROBI\nuntuk terus melakukan pengembangan. &#8220;Kami menyadari akan menghadapi\ntantangan-tantangan ke depan, namun dengan komunikasi yang baik antara kami dan\nLPP akan mengatasi semua permasalahan. Selamat dan terima kasih atas kesempatan\nyang diberikan,&#8221; bebernya. <\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, hadir secara virtual pula, Ketua Umum Asosiasi\nProdusen Oleochemical Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat, mengungkapkan\npembangunan manusia dalam segala aspek merupakan keharusan suatu bangsa.&nbsp;\nDengan dana riset yang memadai dan teknologi, kita dapat menghadapi tantangan\nglobal mendatang. &#8220;Kami mengajak seluruh elemen bangsa ini, terutama\nperguruan tinggi, untuk secara bersama-sama mencari, menggali, dan mengembangkan\nberbagai teknologi unggul,&#8221; bebernya.&nbsp; Hadir pula dalam kesempatan\nitu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V, Didi\nAchjari.&nbsp; &#8220;Hari ini menjadi kabar gembira bagi LLDIKTI karena salah\nsatu misi kami meningkatkan pendidikan tinggi. Ini membantu LPP meningkatkan\ntarget kerjanya yang menjadi target kerja kami juga,&#8221; bebernya.&nbsp; Ia\nmelanjutkan, akan melihat realisasi dari MoU ini. Ia berharap yang disepakati\nhari ini akan membantu kompetensi mahasiswa terutama dalam bidang perkebunan dan\nkelapa sawit.&nbsp; &#8220;Sektor pertanian dan perkebunan ini luar biasa,\nmenyumbang surplus pada 2020 di Indonesia. Sektor ini juga suatu hal yang\nfuturistik karena sampai kapan pun manusia butuh makanan. Pertanian akan\nmenopang sektor yang lain. Selain membantu negara lebih maju secara ekonomi\njuga kemandirian bangsa,&#8221; ungkapnya.&nbsp; Direktur Jenderal Pendidikan\nVokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto, yang juga hadir\ndi dalam forum itu berharap, Politeknik LPP Yogyakarta dapat menjadi penggerak\nbagi LPP dan politeknik-politeknik lainnya di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/jogja.tribunnews.com\/2021\/02\/27\/politeknik-lpp-yogyakarta-tandatangani-mou-dengan-aprobi-dan-apolin?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jurnas.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Apolin dan Aprobi Jalin Kerja sama dengan Politeknik LPP\nYogyakarta <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) dan Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan Politeknik LPP Yogyakarta\nmenandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding secara\nvirtual, Sabtu (22\/2). &#8220;Pada hari ini, kita secara khusus melakukan\npenandatangan MoU ataran LPP Yogyakarta, Aplolin dan Aprobi. Kami memandang ini\nsebagai langkah strategis bagi kita semua secara nasional,&#8221; kata Ketua\nUmum APOLIN, Rapolo Hutabarat dalam sambutannya. Dia menilai MoU tersebut\nsangat strategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala\naspeknya merupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai\ntantangan, khusunya tantangan yang akan datang. Selain itu, lanjut dia,\npermintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap\ntahunnya. Tahun lalu, produk turunan oleochemical berhasil dieskpor ke pasar\nglobal sebanyak 3,8 juta ton dengan nilai Rp2,64 miliar. Industri oleochemical\ndi Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3 juta ton per tahun. Adapun produk\noleochemical saat ini terdiri dari lima kelompok utama, fatty acid, fatty\nalcohol, metil ester, gliserol dan soap noodle. &#8220;Melihat permintaan global\nyang senantiasa tumbuh positif, kami dari Apolin mengajak seluruh elemen bangsa\nterutama dari perguruan tinggi&nbsp; bersama-sama mencari, menggali dan\nmengembangkan berbagai teklongi unggul dan beragam untuk produk olechemical\nyang sangat dubutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo. Ropolo juga\nmenantang komponen yang terlibat dalam MoU tersebut untuk memproduksi produk\noleochemical yang lebih hilir dalam jumlah ratusan produk yang dibutuhkan semua\nindustri saat ini. &#8220;Kami mengajak kompenan yang terlibat dalam MoU untuk\nsecara bersama-bersama menjawab tantangan sehingga dalam waktu 3 hingga 5 tahun\nyang akan datang Indonesia mampu memproduksi produk olechemical lebih hilir\nlagi dalam jumlah ratusan produk,&#8221; ujar Rapolo.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.jurnas.com\/artikel\/87986\/Apolin-dan-Aprobi-Jalin-Kerja-sama-dengan-Politeknik-LPP-Yogyakarta\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Liputan6.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kebutuhan SDM Kian Mendesak Seiring Lonjakan Permintaan Produk\nHilir Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan Asosiasi Produsen\nOleochemical Indonesia (APOLIN) menandatangani nota kesepahaman dengan\nPoliteknik LPP Yogyakarta yang berlangsung virtual, Sabtu (27 Februari 2021).\nPenandatanganan MoU dilakukan oleh Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP\nYogyakarta dengan Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical\nIndonesia (APOLIN) dan MP Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel\nIndonesia (APROBI). \u201cPenandatanganan MoU diharapkan mampu meningkatkan kualitas\npembelajaran di Politeknik LPP sehingga menghasilkan lulusan sesuai tuntutan\ndunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara itu, sektor industri\nkhususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh sumber daya manusia sesuai\nkapasitas dan kapabilitas yang diharapkan. Kami ucapkan apresiasi\nsetinggi-tingginya kepada APROBI dan APOLIN untuk penandatanganan MoU ini,\u201d\nujar Direktur Politeknik LPP Yogyakarta Muhamad Mustangin dalam keterangan\ntertulis di Jakarta, Sabtu (27\/2\/2021). Ia mengatakan target MoU ini akan\nmemiliki kurikulum sejalan kebutuhan industri hilir sawit sehingga dapat\nmemenuhi kebutuhan industri. Lalu ada dukungan APROBI dan APOLIN berkaitan D3\nsampai S1 terapan yang memerlukan dukungan industri. Selain itu, mahasiswa akan\nmemperoleh tempat magang sehingga mereka mengetahui proses produksi di dalam\nindustri. \u201cHarapan kami, ada tenaga pengajar dari APROBI dan APOLIN yang\nberbagi pengetahuan dan update informasi, sehingga dapat memperkaya materi dan\nsistem pengajaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Umum APOLIN Rapolo Hutabarat mengutarakan MoU ini sangat\nstrategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala aspeknya\nmerupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai tantangan,\nkhusunya tantangan yang akan datang. MoU APOLIN dengan LPP Politeknik\nYogyakarta berkaitan empat aspek yaitu penyusunan kurikulum pendidikan,\npengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang. Selain itu, lanjut dia,\npermintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap\ntahunnya. Industri oleochemical di Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3\njuta ton per tahun. Adapun produk oleochemical saat ini terdiri dari lima\nkelompok utama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan soap\nnoodle. &#8220;Melihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari Apolin\nmengajak perguruan tinggi bersama-sama mencari, menggali dan mengembangkan\nberbagai teknologi unggul dan beragam untuk produk olechemical yang sangat\ndibutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/4494178\/kebutuhan-sdm-kian-mendesak-seiring-lonjakan-permintaan-produk-hilir-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Antaranews.com | Minggu, 28 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertumbuhan industri hilir sawit butuh SDM berkualitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertumbuhan industri hilir kelapa sawit di tanah Air yang pesat\nsaat ini dinilai membutuhkan dukungan penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang\nberkualitas. Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN)\nRapolo Hutabarat menyatakan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sangatlah\npenting bagi kemajuan industri hilir kelapa sawit di Indonesia, sebab\npermintaan produk dasar oleokimia Indonesia juga terus meningkat setiap\ntahunnya. \u201cItu sebabnya, industri sangat membutuhkan SDM unggul dan teknologi\nmodern. Di sinilah, perlunya model link and match agar kebutuhan tenaga kerja\ndapat segera terpenuhi,\u201d ujarnya di Jakarta, Minggu. Menurut dia, industri\nhilir sawit telah menguasai pangsa pasar ekspor Indonesia di pasar global yang\nmana saat ini komposisi ekspor produk turunan sawit mencapai 70 persen dan\nekspor hulu (Crude Palm Oil atau CPO) sebesar 30 persen. Peranan SDM yang siap\nbekerja, tambahnya saat saat memberikan sambutan dalam penandatangan nota\nkesepahaman APOLIN dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dengan\nPoliteknik LPP Yogyakarta secara virtual, menjadi penopang tren pertumbuhan\nindustri hilir sawit. \u201cMelihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari\nApolin mengajak perguruan tinggi bersama-sama mencari, menggali dan\nmengembangkan berbagai teknologi unggul dan beragam untuk produk oleokimia yang\nsangat dibutuhkan industri global,\u201d ujar Rapolo melalui keterangan tertulis\nTahun 2020, produk turunan oleokimia berhasil diekspor ke pasar global sebanyak\n3,8 juta ton sedangkan kapasitas industri oleokimia Indonesia saat ini 11,3\njuta ton per tahun dengan produk terdiri lima kelompok utama fatty acid, fatty\nalcohol, metil ester, gliserol dan soap noodle . Menurutnya MoU APOLIN dengan\nLPP Politeknik Yogyakarta sangat penting bagi kedua belah pihak. Poin dari\nkerjasama ini terdiri dari empat aspek yaitu penyusunan kurikulum pendidikan,\npengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi APROBI Irma Rachmania\nmenuturkan penandatanganan kerjasama sangat penting baik Poltek LPP Yogyakarta\ndan APROBI untuk memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya. \u201cPerjanjian\nini semakin mendukung industri sawit khususnya energi terbarukan. Kerjasama ini\nmeningkatkan daya saing industri dan terutama kesejahteraan Indonesia,\u201d ujar\nIrma. Sementara itu, Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan\nPertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berpesan supaya MoU dapat\ndimanfaatkan sebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas sumber daya\nmanusia, penciptaan lapangan kerja. Menurut dia, kerjasama industri hilir\ndengan perguruan tinggi sangat dibutuhkan karena Indonesia telah menjadi\nprodusen utama sawit dan produk turunannya. \u201cIndonesia telah menjadi penghasil\nutama sawit bahkan dijuluki produsen CPO terbesar. Kita semakin ke hilir dan produk\nturunan terbesar di dunia,\u201d ujarnya. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Muhamad\nMustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta dengan Rapolo Hutabarat, Ketua\nUmum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) dan MP Tumanggor, Ketua\nUmum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI). Direktur Politeknik LPP\nYogyakarta Muhamad Mustangin mengatakan penandatanganan MoU diharapkan mampu\nmeningkatkan kualitas pembelajaran di Politeknik LPP sehingga menghasilkan\nlulusan sesuai tuntutan dunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara\nitu, lanjutnya, sektor industri khususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh\nsumber daya manusia sesuai kapasitas dan kapabilitas yang diharapkan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2020776\/pertumbuhan-industri-hilir-sawit-butuh-sdm-berkualitas\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Agrofarm.co.id\">Agrofarm.co.id<\/a> | Sabtu, 27\nFebruari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>APROBI dan APOLIN Kerjasama dengan LPP Yogyakarta Susun\nKurikulum Industri Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani nota kesepahaman atau\nmemorandum of understanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu\nAsosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan Asosiasi Produsen\nOleochemicals Indonesia (APOLIN) yang berlangsung virtual. Penandatanganan MoU\ndilakukan oleh Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta dengan\nRapolo Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN)\ndan MP Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI).\nPenandatanganan MoU ini disaksikan oleh kalangan pemerintah dan asosiasi sawit\nantara lain Musdhalifah Machmud (Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian\nKementerian Koordinator Bidang Perekonomian), Wikan Sakarinto (Dirjen\nPendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Andriah Feby Misna\n(Direktur Bioenergi), Mohammad Abdul Ghani (Direktur Utama Holding Perkebunan\nNusantara PTPN III (Persero), Edy Wibowo (Direktur Penyaluran Dana BPDPKS),\nIr.Gulat ME Manurung (Ketua Umum DPP APKASINDO), Irma Rachmania, Ketua Bidang\nPemasaran Dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan jajaran\npengurus APOLIN maupun APROBI. \u201cPenandatanganan MoU diharapkan mampu meningkatkan\nkualitas pembelajaran di Politeknik LPP sehingga menghasilkan lulusan sesuai\ntuntutan dunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara itu, sektor\nindustri khususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh sumber daya manusia\nsesuai kapasitas dan kapabilitas yang diharapkan. Kami ucapkan apresiasi\nsetinggi-tingginya kepada APROBI dan APOLIN untuk penandatanganan MoU ini,\u201d\nungkap Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta, Sabtu\n(27\/2\/2021). Ia mengatakan target MoU ini akan memiliki kurikulum sejalan\nkebutuhan industri hilir sawit sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri. Lalu\nada dukungan APROBI dan APOLIN berkaitan D3 sampai S1 terapan yang memerlukan\ndukungan industri. Selain itu, mahasiswa akan memperoleh tempat magang sehingga\nmereka mengetahui proses produksi di dalam industri. \u201cHarapan kami, ada tenaga\npengajar dari APROBI dan APOLIN yang berbagi pengetahuan dan update informasi,\nsehingga dapat memperkaya materi dan sistem pengajaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rapolo Hutabarat , Ketua Umum APOLIN, mengutarakan MoU ini sangat\nstrategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala aspeknya\nmerupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai tantangan,\nkhusunya tantangan yang akan datang. MoU APOLIN dengan LPP Politeknik Yogyakarta\nberkaitan empat aspek yaitu penyusunan kurikulum pendidikan, pengiriman dosen\ntamu, training dosen, dan magang. Selain itu, lanjut dia, permintaan produk\ndasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap tahunnya. Industri\noleochemical di Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3 juta ton per tahun.\nAdapun produk oleochemical saat ini terdiri dari lima kelompok utama, fatty\nacid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan soap noodle. \u201cMelihat permintaan\nglobal yang tumbuh positif, kami dari Apolin mengajak perguruan tinggi\nbersama-sama mencari, menggali dan mengembangkan berbagai teklongi unggul dan\nberagam untuk produk olechemical yang sangat dibutuhkan industri global,\u201d kata\nRapolo. Irma Rachmania, Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi Asosiasi Produsen\nBiofuel Indonesia (APROBI) menuturkan penandatanganan kerjasama sangat penting\nbaik Poltek LPP Yogyakarta dan APROBI untuk memperkuat kompetensi dan daya\nsaing lulusannya. \u201cPerjanjian ini semakin mendukung industri sawit khususnya\nenergi terbarukan. Kerjasama ini meningkatkan daya saing industri dan terutama\nkesejahteraan Indonesia,\u201d ujar Irma yang mewakili pengurus APROBI saat\nmemberikan sambutan. Ia mengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerjasama baik\nAPROBI dan LPP Yogyakarta. \u201cApresiasi tinggi kepada LPP Yogyakarta yang\nmemberikan kesempatan APROBI untuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi\nPangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berpesan\nsupaya MoU dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas\nSumber Daya Manusia, penciptaan lapangan kerja. \u201cUpaya dilakukan LPP\nYogyakarta, APROBI, dan APOLIN dapat mendorong akselerasi bisnis dan bermanfaat\nbagi kesejahteraan rakyat keseluruhan,\u201d jelasnya. Wikan Sakarinto Dirjen\nPendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik\nkerjasama yang sangat strategis ini antara dunia usaha dan lembaga pendidikan\ndi sektor perkebunan karena dapat meningkatkan kemampuan tidak sebatas pangan\nmelainkan energi terbarukan. \u201cKe depan, generasi muda harus diyakinkan bahwa\nsektor pertanian maupun perkebunan ini sangat menjanjikan. Disinilah, LPP\nYogyakarta dapat memainkan peranan sebagai politeknik penggerak. Perlu kampanye\noleh LPP dan lembaga pendidikan SDM perkebunan lainnya,\u201d pinta Wikan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-agrofarm\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"exYyiuTdOY\"><a href=\"https:\/\/www.agrofarm.co.id\/2021\/02\/33712\/\">APROBI dan APOLIN Kerjasama dengan LPP Yogyakarta Susun Kurikulum Industri Sawit<\/a><\/blockquote><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;APROBI dan APOLIN Kerjasama dengan LPP Yogyakarta Susun Kurikulum Industri Sawit&#8221; &#8212; Agrofarm\" src=\"https:\/\/www.agrofarm.co.id\/2021\/02\/33712\/embed\/#?secret=exYyiuTdOY\" data-secret=\"exYyiuTdOY\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sawitindonesia.com | Minggu, 28 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Demi SDM Sawit, APROBI dan APOLIN Tandatangani MoU dengan LPP\nYogyakarta<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani nota kesepahaman atau\nmemorandum of understanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu\nAsosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) dan Asosiasi Produsen\nOleochemicals Indonesia (APOLIN) yang berlangsung virtual, Sabtu (27 Februari\n2021). Penandatanganan MoU dilakukan oleh Muhamad Mustangin, Direktur\nPoliteknik LPP Yogyakarta dengan&nbsp; Rapolo Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Produsen\nOleochemical Indonesia (APOLIN) dan MP Tumanggor, Ketua Umum Asosiasi Produsen\nBiofuel Indonesia (APROBI). Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh kalangan\npemerintah dan asosiasi sawit antara lain Musdhalifah Machmud (Deputi Bidang\nKoordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian),\nWikan Sakarinto (Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan\nKebudayaan), Andriah Feby Misna (Direktur Bioenergi), Mohammad Abdul Ghani\n(Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Edy Wibowo\n(Direktur Penyaluran Dana BPDPKS), Ir.Gulat ME Manurung (Ketua Umum DPP\nAPKASINDO), Irma Rachmania, Ketua Bidang Pemasaran Dan Promosi Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (APROBI) dan jajaran pengurus APOLIN maupun APROBI.\n\u201cPenandatanganan MoU diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di\nPoliteknik LPP sehingga menghasilkan lulusan sesuai tuntutan dunia kerja\nkhususnya hilir kelapa sawit. Sementara itu, sektor industri khususnya hilir\nkelapa sawit akan memperoleh sumber daya manusia sesuai kapasitas dan\nkapabilitas yang diharapkan. Kami ucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada\nAPROBI dan APOLIN untuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujar Muhamad Mustangin,\nDirektur Politeknik LPP Yogyakarta saat memberikan sambutan. Ia mengatakan target\nMoU ini akan memiliki kurikulum sejalan kebutuhan industri hilir sawit sehingga\ndapat memenuhi kebutuhan industri. Lalu ada dukungan APROBI dan APOLIN\nberkaitan D3 sampai S1 terapan yang memerlukan dukungan industri. Selain itu,\nmahasiswa akan memperoleh tempat magang sehingga mereka mengetahui proses\nproduksi di dalam industri. \u201cHarapan kami, ada tenaga pengajar dari APROBI dan\nAPOLIN yang berbagi pengetahuan dan update informasi, sehingga dapat memperkaya\nmateri dan sistem pengajaran,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Rapolo Hutabarat , Ketua Umum APOLIN, mengutarakan MoU ini sangat\nstrategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari segala aspeknya\nmerupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai tantangan,\nkhusunya tantangan yang akan datang. MoU APOLIN dengan LPP Politeknik\nYogyakarta berkaitan empat aspek yaitu penyusunan kurikulum pendidikan,\npengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang. Selain itu, lanjut dia,\npermintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap tahunnya.\nIndustri oleochemical di Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3 juta ton\nper tahun. Adapun produk oleochemical saat ini terdiri dari lima kelompok\nutama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan soap noodle.\n\u201cMelihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari Apolin mengajak\nperguruan tinggi&nbsp; bersama-sama mencari, menggali dan mengembangkan\nberbagai teknologi unggul dan beragam untuk produk olechemical yang sangat\ndibutuhkan industri global,\u201d ujar Rapolo. Irma Rachmania, Ketua Bidang\nPemasaran Dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menuturkan\npenandatanganan kerjasama sangat penting baik Poltek LPP Yogyakarta dan APROBI\nuntuk memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya. \u201cPerjanjian ini semakin\nmendukung industri sawit khususnya energi terbarukan. Kerjasama ini\nmeningkatkan daya saing industri dan terutama kesejahteraan Indonesia,\u201d ujar\nIrma yang mewakili pengurus APROBI saat memberikan sambutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerjasama baik APROBI dan\nLPP Yogyakarta. \u201dApresiasi tinggi kepada LPP&nbsp; Yogyakarta yang memberikan\nkesempatan APROBI untuk penandatanganan MoU ini,\u201d ujarnya. Sementara itu,\nMusdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian\nKoordinator Bidang Perekonomian berpesan supaya MoU dapat dimanfaatkan\nsebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia,\npenciptaan lapangan kerja. \u201cUpaya dilakukan LPP Yogyakarta, APROBI, dan APOLIN\ndapat mendorong akselerasi bisnis dan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat\nkeseluruhan,\u201d jelasnya. Wikan Sakarinto Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian\nPendidikan dan Kebudayaan menyambut baik kerjasama yang sangat strategis ini\nantara dunia usaha dan lembaga pendidikan di sektor perkebunan karena dapat\nmeningkatkan kemampuan tidak sebatas pangan melainkan energi terbarukan. \u201cKe\ndepan, generasi muda harus diyakinkan bahwa sektor pertanian maupun perkebunan\nini sangat menjanjikan. Disinilah, LPP Yogyakarta dapat memainkan peranan\nsebagai politeknik penggerak. Perlu kampanye oleh LPP dan lembaga pendidikan\nSDM perkebunan lainnya,\u201d pinta Wikan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-majalah-sawit-indonesia\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"hEpL0GpcWc\"><a href=\"https:\/\/sawitindonesia.com\/demi-sdm-sawit-aprobi-dan-apolin-tandatangani-mou-dengan-lpp-yogyakarta\/\">Demi SDM Sawit, APROBI dan APOLIN\u00a0Tandatangani MoU dengan LPP Yogyakarta<\/a><\/blockquote><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);\" title=\"&#8220;Demi SDM Sawit, APROBI dan APOLIN\u00a0Tandatangani MoU dengan LPP Yogyakarta&#8221; &#8212; Kantor Berita Sawit\" src=\"https:\/\/sawitindonesia.com\/demi-sdm-sawit-aprobi-dan-apolin-tandatangani-mou-dengan-lpp-yogyakarta\/embed\/#?secret=yxIhu6F74S#?secret=hEpL0GpcWc\" data-secret=\"hEpL0GpcWc\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Katakini.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Politeknik LPP Yogyakarta Gandeng Aprobi dan Apolin Demi\nHasilkan SDM Berkualitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Politeknik LPP Yogyakarta menandatangani memorandum of\nunderstanding (MoU) dengan dua asosiasi hilir sawit yaitu Asosiasi Produsen\nBiofuel Indonesia (Aprobi) dan Asosiasi Produsen Oleochemicals Indonesia\n(Apolin) yang berlangsung virtual, Sabtu (27\/2). Penandatanganan MoU dilakukan\noleh Muhamad Mustangin, Direktur Politeknik LPP Yogyakarta dengan Ketua Apolin,\nRapolo Hutabarat, dan Ketua Umum Aprobi, MP Tumanggor. Direktur Politeknik LPP\nYogyakarta, Muhamad Mustangin mengatakan, penandatanganan MoU diharapkan mampu\nmeningkatkan kualitas pembelajaran di P P sehingga menghasilkan lulusan sesuai\ntuntutan dunia kerja khususnya hilir kelapa sawit. Sementara itu, sektor\nindustri khususnya hilir kelapa sawit akan memperoleh sumber daya manusia\nsesuai kapasitas dan kapabilitas yang diharapkan. &#8220;Kami ucapkan apresiasi\nsetinggi-tingginya kepada APROBI dan APOLIN untuk penandatanganan MoU\nini,&#8221; ujar Muhamad Mustangin saat memberikan sambutan. Target MoU, lanjut\ndia, agar memiliki kurikulum sejalan kebutuhan industri hilir sawit sehingga\ndapat memenuhi kebutuhan industri. Lalu ada Selain itu, mahasiswa akan memperoleh\ntempat magang sehingga mereka mengetahui proses produksi di dalam industri.\n&#8220;Harapan kami, ada tenaga pengajar dari Aprobi dan Aplolin yang berbagi\npengetahuan dan update informasi, sehingga dapat memperkaya materi dan sistem\npengajaran,&#8221; ujar dia. Di tempat yang sama, Rapolo&nbsp; mengutarakan, MoU\nini sangat strategis, mengingat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dari\nsegala aspeknya merupakan keharusan bagi setiap bangsa dalam menjawab berbagai\ntantangan, khusunya tantangan yang akan datang. MoU Apolin dengan LPP\nPoliteknik Yogyakarta berkaitan empat aspek yaitu penyusunan kurikulum\npendidikan, pengiriman dosen tamu, training dosen, dan magang. Menurut dia,\npermintaan produk dasar oleochemical Indonesia juga terus meningkat setiap\ntahunnya. Industri oleochemical di Indonesia saat ini memiliki kapasitas 11,3\njuta ton per tahun. Adapun produk oleochemical saat ini terdiri dari lima\nkelompok utama, fatty acid, fatty alcohol, metil ester, gliserol dan soap\nnoodle. &#8220;Melihat permintaan global yang tumbuh positif, kami dari Apolin\nmengajak perguruan tinggi bersama-sama mencari, menggali dan mengembangkan\nberbagai teklongi unggul dan beragam untuk produk olechemical yang sangat\ndibutuhkan industri global,&#8221; ujar Rapolo.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Aprobi, Irma Rachmania\nmenuturkan, penandatanganan kerja sama sangat penting baik Politeknik LPP\nYogyakarta dan Aprobi untuk memperkuat kompetensi dan daya saing lulusannya.\n&#8220;Perjanjian ini semakin mendukung industri sawit khususnya energi\nterbarukan. Kerjasama ini meningkatkan daya saing industri dan terutama\nkesejahteraan Indonesia,\u201d ujar Irma yang mewakili pengurus&nbsp; Aprobi saat\nmemberikan sambutan. Ia mengharapkan MoU ini semakin memperkuat kerja sama baik\nAprobi dan LPP Yogyakarta. &#8220;Apresiasi tinggi kepada LPP Yogyakarta yang\nmemberikan kesempatan APROBI untuk penandatanganan MoU ini,&#8221; ujar dia.\nSementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian\nKoordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud, berpesan supaya MoU dapat\ndimanfaatkan sebaik-baiknya terutama bagi peningkatan kualitas Sumber Daya\nManusia, penciptaan lapangan kerja. &#8220;Upaya dilakukan LPP Yogyakarta,\nAPROBI, dan APOLIN dapat mendorong akselerasi bisnis dan bermanfaat bagi\nkesejahteraan rakyat keseluruhan,&#8221; jelas dia. Wikan Sakarinto Dirjen\nPendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyambut baik\nkerjasama yang sangat strategis ini antara dunia usaha dan lembaga pendidikan\ndi sektor perkebunan karena dapat meningkatkan kemampuan tidak sebatas pangan\nmelainkan energi terbarukan. &#8220;Kedepan, generasi muda harus diyakinkan\nbahwa sektor pertanian maupun perkebunan ini sangat menjanjikan. Disinilah, LPP\nYogyakarta dapat memainkan peranan sebagai politeknik penggerak. Perlu kampanye\noleh LPP dan lembaga pendidikan SDM perkebunan lainnya,&#8221; pinta Wikan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.katakini.com\/artikel\/43218\/politeknik-lpp-yogyakarta-gandeng-aprobi-dan-apolin-demi-hasilkan-sdm-berkualitas\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Liputan6.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Harus Pastikan Keberlanjutan Produksi Jangka Panjang\nBiodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)\nUniversitas Indonesia (UI), Bisuk Abraham Sisungkunon, mengatakan bahwa\ndiperlukan komitmen yang lebih tinggi dari Pemerintah Indonesia untuk\nmemastikan aspek keberlanjutan dari produksi biodiesel dalam negeri. \u201cTahun\nlalu ada Perpres, setiap perusahaan perkebunan itu wajib mempunyai sertifikasi\nISPO di dalam ISPO itu dijamin bahwa ketinggian air gambut harus sekian dan\njuga tidak boleh ada konflik lahan segala macam,\u201d kata Bisuk dalam Ngopi\nChapter 1: Dilema Kebijakan Biodiesel, Minggu (28\/2\/2021). Perpres yang\ndimaksud adalah Perpres nomor 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi\nPerkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, Indonesian Sustainable Palm\nOil (ISPO) diwajibkan bagi seluruh perusahaan perkebunan kelapa sawit dan\npetani sawit. \u201cISPO penerbitan sertifikasinya melibatkan auditor independen,\njadi penerbitan sertifikasi ISO bisa kita katakan perusahaan yang sudah\ntersertifikasi ISPO itu dia sudah memenuhi aspek keberlanjutan secara legal,\u201d\nkatanya. Namun, hingga Maret 2020, total luas kebun yang telah tersertifikasi\nISPO baru mencapai 5,4 juta hektar atau ekuivalen dengan 37 persen dari\nkeseluruhan luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia. \u201cArtinya Pemerintah\nperlu komitmen yang lebih tinggi kalau memang kita ingin melepaskan jaket\nketidakberlanjutan dari industri biodiesel maupun industri kelapa sawit,\u201d\nujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ketahanan Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian Bisuk mempertanyakan, bagaimana posisi biodiesel dalam\nkerangka ketahanan energi di jangka Panjang? Padahal Pemerintah Indonesia\nsendiri telah mengembangkan peta jalan pengembangan kendaraan listrik di dalam\nnegeri. Apakah produk biodiesel yang tengah dikembangkan saat ini masih bisa\nterserap di masa depan?&nbsp; Menurutnya, dimensi untuk kendaraan listrik naiknya\ncukup eksponensial. Bahkan Kemenperin sendiri punya Rencana Strategis (Renstra)\nuntuk mobil listrik. Lalu, bagaimana positioning biodiesel dalam jangka\nPanjang? \u201cKita bicara Pemerintah sudah berinvestasi dalam bentuk subsidi ini,\nkalau subsidi ini tidak berkelanjutan sampai jangka panjang artinya duitnya\nterbuang sia-sia, artinya kita membuang sesuatu untuk project yang tidak jangka\npanjang,\u201d ungkapnya. Demikian ia meminta agar memastikan arah kebijakan\nPemerintah terkait pengembangan jangka Panjang biodiesel.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/4494566\/pemerintah-harus-pastikan-keberlanjutan-produksi-jangka-panjang-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kumparan.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dilema Kebijakan Biodiesel: Untuk Kurangi Konsumsi BBM, Tapi\nSubsidi Terus Naik<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program mandatori bahan bakar nabati (BBN) berupa biodiesel yang\ndiperintahkan pemerintah terus berjalan. Hingga saat ini, campuran minyak\nkelapa sawit ke dalam solar mencapai 30 persen atau dikenal dengan B30.\nPemerintah bermimpi bisa menerapkan B100 atau biodiesel 100 persen. Tujuannya,\nmengurangi konsumsi BBM terutama solar yang selama ini masih disubsidi dan\ntidak ramah lingkungan karena masuk energi kotor. Di sisi lain, kebijakan\nbiodiesel juga menjadi sebuah dilema. Sebab, konversi BBM ke BBN juga menggerus\nkeuangan negara karena sejak tahun lalu, APBN harus menggelontorkan Rp 2,87\ntriliun untuk menutupi selisih Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel dan HIP BBM\nsolar yang sebelumnya dibayarkan dari pungutan ekspor kelapa sawit melalui\nBadan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). &#8220;Jadi ini salah\nsatu isu besar dalam program biodiesel kita, bagaimana kemampuan untuk menutupi\nselisih itu yang sebelumnya hanya dari pungutan ekspor, sekarang sudah mulai\nmerangsek masuk ke APBN,&#8221; kata Peneliti Institute of Development and\nEconomics Finance (INDEF), Abra Tallatov dalam diskusi Dilema Kebijakan\nBiodiesel&#8217;, Minggu (28\/2). Berdasarkan data Kementerian Keuangan sementara,\nsubsidi yang diberikan untuk program biodiesel ke pengusaha sawit, termasuk\nprodusen Fatty Acid Methyl Ester\/FAME mencapai Rp 9,82 triliun. Adapun\nkekurangan pembiayaan dari BPDPKS untuk program biodiesel tahun lalu mencapai\nRp 3,5 triliun. Untuk menutupinya, pemerintah harus mengeluarkan Rp 2,87\ntriliun karena kontribusi dari pungutan ekspor kelapa sawit dengan kenaikan\ntarif USD 5 per ton hanya Rp 760 miliar. &#8220;Mau tidak mau APBN kita akhirnya\nmau tidak mau alokasikan dananya untuk keberhasilan B30 ini,&#8221; lanjut Abra.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Abra menyebut, berdasarkan data Kementerian Keuangan, penyaluran\ninsentif untuk program biodiesel sejak terus naik. Pada 2015, sekitar Rp 470\nmiliar, kemudian naik menjadi Rp 10,68 triliun. Pada 2017 penyaluran\ninsentifnya mencapai Rp 10,31 triliun, pada 2018 turun menjadi Rp 5,66 triliun,\npada 2019 sekitar Rp 3.07 triliun. Lalu pada tahun ini, sekitar Rp 9,82\ntriliun. &#8220;Kita juga pastinya akan masih butuhkan subsidi (biodiesel) ini\ndi tahun-tahun berikutnya sebab selama masih ada gap tinggi, selama itu\npemerintah masih harus sediakan kebutuhan dana itu,&#8221; terangnya. Lebih\nlanjut, Abra mengatakan yang harus diwaspadai adalah sekarang muncul wacana\nuntuk menutup selisih biodiesel ini, pemerintah akan menggeser subsidi energi\nfosil ke subsidi biodiesel. &#8220;Walaupun belum diketok kebijakan tersebut,\ntapi cukup kuat. Ini jadi tarik-menarik baru yang sebelumnya subsidi ini\ndinikmati langsung ke konsumen yaitu subsidi solar, premium, bahkan LPG 3 kg,\nini wacananya akan alihkan ke biodiesel ini,&#8221; ucap dia Sebelumnya,\nDirektur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman memperkirakan subsidi biodiesel tahun\nini masih akan tinggi seiring dengan naiknya harga minyak mentah sawit (Crude\nPalm Oil\/CPO) dunia. Sementara harga solar cenderung masih rendah. Eddy\nmengatakan, selisih antara tingginya harga CPO dan rendahnya harga solar\nmembuat subsidi biodiesel ini masih besar. Selisih ini ditanggung oleh BPDPKS\ndari dana pungutan ekspor CPO pengusaha sawit nasional.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/kumparan.com\/kumparanbisnis\/dilema-kebijakan-biodiesel-untuk-kurangi-konsumsi-bbm-tapi-subsidi-terus-naik-1vGT852v1Ck\/full\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Sabtu, 27\nFebruari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kebijakan Percepatan Biodiesel Picu Deforestasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah semakin agresif menerapkan kebijakan biodiesel di\nIndonesia. Semula, target bauran Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dalam\nbiodiesel sebesar 20 persen (B20) pada 2025. Kemudian target tersebut\ndiperbaharui menjadi Peraturan Menteri (Permen) ESDM No 12 Tahun 2015 menjadi\nB30 yang telah diimplementasikan pada awal 2020 dan akan diberlakukan hingga\n2025. Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Arkian Suryadarma mengatakan,\npercepatan kebijakan biodiesel akan berdampak pada alokasi lahan. Di mana untuk\nmemproduksi CPO yang banyak tentunya diperlukan lahan yang luas. \u201cDengan adanya\ntambahan kebutuhan untuk biodiesel akan adanya risiko kenaikan potensi\ndeforestasi lebih besar untuk memenuhi kebutuhan CPO untuk produksi biodiesel,\u201d\nkata Arkian dalam Ngopi Chapter 1: Dilema Kebijakan Biodiesel, Minggu\n(28\/2\/2021). Sehingga dilihat dari defisit CPO jika menjalankan kebijakan&nbsp;\nB30, maka pemerintah memerlukan penambahan lahan sebanyak 5,2 juta hektare.\nSedangkan untuk kebijakan B50 dibutuhkan lahan seluas 9,2 juta hektare untuk\nproduksi CPO. Lebih lanjut Arkian menjelaskan, dilihat data dari Kementerian\npertanian (Kementan), luas lahan perkebunan sawit Indonesia sekitar 16 juta\nhektare. Kemudian untuk mempercepat kebijakan biodiesel, maka akan menyebabkan\nekspansi lahan yang luas. \u201cKalau dilihat penambahannya 9 juta atau nanti D100\nkebutuhan tanahnya akan menambah, maka konversi lahannya akan besar-besaran.\nBukan hanya dari Kalimantan atau Sumatera yang sudah banyak perkebunan sawit,\ntetapi ini akan menggeser ke daerah-daerah baru seperti Papua,\u201d ujarnya. Dengan\nbegitu, Greenpeace Indonesia menilai hutan primer di Papua yang akan digunakan\nuntuk perluasan lahan biodiesel tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan\nmasalah-masalah baru, seperti masalah dengan masyarakat adat di Papua, dan\nlainnya. Selain itu yang dikhawatirkan lainnya terkait ketahanan pangan.\nMenurutnya dengan adanya kenaikan pressure dari biodiesel akan lebih banyak\nlahan yang tadinya untuk pangan menjadi perkebunan minyak sawit. \u201cLahan-lahan\nyang bagus untuk perkebunan pangan itu di convert jadi perkebunan sawit,&#8221;\npungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/4494555\/kebijakan-percepatan-biodiesel-picu-deforestasi\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Liputan6.com | Jum\u2019at, 26 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menko Airlangga: Kebijakan B30 Sejahterakan Petani Kelapa Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Pemerintah\nMalaysia terkait kebijakan dan pengembangan Kelapa Sawit kedua negara. Hal ini\nditegaskan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Council of Palm Oil Producing\nCountries (CPOPC) 2021 yang diselenggarakan secara daring pada Jum\u2019at, 26\nFebruari 2021. Pertemuan dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian\nAirlangga Hartarto, bersama dengan Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas\nMalaysia, Datuk Dr. Mohd Khairuddin Aman Razali. Pertemuan tersebut juga\ndihadiri oleh Menteri Pertanian dan Pengembangan Desa Kolombia, Rodolfo Enrique\nZea Navarro; Menteri Pangan dan Pertanian Ghana Dr. Owusu Afriyie Akoto;\nMenteri Pertanian Honduras Mauricio Guevara Pinto dan Kepson Pupita, Senior\nOfficial Papua New Guinea mewakili Menteri Pertanian, sebagai negara observer\nCPOPC yang dalam waktu tidak lama lagi menjadi anggota penuh CPOPC. Airlangga\nmenjelaskan, pemanfaatan lahan untuk sawit lebih efektif jika dibandingkan\ndengan tanaman minyak nabati lainnya. \u201cSecara keseluruhan, minyak sawit memasok\n31 persen kebutuhan minyak nabati dunia dengan total penggunaan lahan yang\nhanya 5 persen.\u201d jelas ida dlaam keterangan tertulis, Jumat (26\/2\/2021). Data\n2019 dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan\nbahwa setiap produksi 1 ton minyak nabati, untuk bunga matahari diperlukan\nlahan seluas 1,43 hektar. Sementara untuk memproduksi volume yang sama dari\ntanaman kedelai dibutuhkan lahan 2 hektar. Sedangkan untuk kelapa sawit hanya\ndibutuhkan lahan seluas 0,26 hektar. Setelah Indonesia menerapkan kebijakan\nmandatori B30, awal tahun 2020 lalu, maka produksi biodiesel nasional terus\nbertambah. Melalui kebijakan ini, Indonesia juga berhasil menjaga kestabilan\nsupply dan demand kelapa sawit secara global. Pemerintah Indonesia juga\nmengajak Pemerintah Malaysia agar tetap menjaga keseimbangan ini, agar harga\nsawit di pasar dunia tetap menguntungkan. \u201cBerkat harga yang relatif stabil,\nkebijakan ini juga turut membantu kesejahteraan petani kelapa sawit di\nIndonesia,\u201d ujar Airlangga.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/4493653\/menko-airlangga-kebijakan-b30-sejahterakan-petani-kelapa-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Gatra.com | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina RU III Siap Pelopori Green Refinery<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Mendukung program Pemerintah dalam bauran energi dan guna mencapai\ntarget kemandirian energi Nasional, Pertaminan Refinery Unit III Palembang,\npelopori untuk penggunaan energi berbahan baku CPO. Generam Manajer Pertamina\nRU III Palembang, Mohammad Hasan Effendi mengatakan, sebagai pemegang mandat\nuntuk merealisasikan Program Strategi Nasional (PSN) guna pengembangan bahan\nbakar nabati yakni berbahan baku dari turunan kelapa sawit (Green Refinery). \u201cSecara\nnasional memang, cadangan energi fosil yang diolah pertamina itu hanya tersisa\n42%. Selebihnya untuk memenuhi produksi akan kebutuhan bahan bakar minyak\n(BBM), mendatangkan dari luar,\u201d ujarnya pada acara Meet and Greet di Palembang,\nJumat (26\/2). Ia menjelaskan, untuk produk turunan dari green refinery berupa\npremium dan solar. Hanya saja yang memungkinan untuk mengolah CPO dengan proses\nHydrorefining (H2 &amp; Katalis) menghasilkan Green Fuel dari pemanfaatan CPO\nyakni BBM solar (D100). Sementara untuk premium masih butuh pengembangan, di\nmana saat ini baru berjalan B30 menuju B50. \u201cSaat ini infrastrukturnya sedang\ndibangun bisa beroperasi di akhir 2023. Ini merupakan satu-satunya di kilang\nmusi di Dunia,\u201d ungkap Hasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara, Manajer RPO Ibu Asteria Tri Wahjuni menambahkan,\nmengenai cadangan yang diterima melalui pipa dari Prabumulih, Jambi, dan\nPendopo, melalui jalur pipa pengelolaan energi fosil di RU III Plaju,\nPalembang, presentasinya mencapai 42 persen. \u201cSelebihnya ada 58 persen, minyak\nmentah yang diterima melalui kapal yang diperoleh dengan mencari sumber-sumber\nminyak dari tempat-tempat lain di Indonesia,\u201d ujarnya. Dalam catatan nasional\ndalam 10 tahun terakhir, pasokan energi fosil di tanah ini secara produksi yang\ndikelola PT Pertamina (Persero), yakni kurang lebih 900 rb per\/hari. Namun,\nkondisi sekarang hanya dapat memproduksi 600ribu barel per\/hari. Untuk\ndiketahui, kilang minyak yang dimiliki Pertamina RU III sudah memiliki usia 100\ntahun. Merupakan peninggalan dari Belanda di Plaju, dan Amerika di Sungai\nGerong. Dalam kondisi ini, Pertamina RU III sendiri, selain memproduksi BBM\n(minyak tanah, solar\/dex, premium\/pertamax dan Aftur) juga mengelola biji\nplastik dan Breezon MC-32 (variant refrigerant baru yang memiliki efisiensi\npanas dan dampak lingkungan yang lebih unggul dibandingkan refrigerant R-22).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/504888\/ekonomi\/pertamina-ru-iii-siap-pelopori-green-refinery\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jawa Pos | Sabtu, 27 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Komitmen Pengembangan Energi Ramah Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) menegaskan kesiapannya menghadapi transisi\nenergi global dengan menjalankan inisiatif strategis untuk pengembangan green\nenergy. Itu sekaligus mendukung target pemerintah dalam pengembangan energi\nbaru terbarukan. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan, langkah\ndan inisiatif strategis yang dilakukan Pertamina saat ini sejalan dengan agenda\nperusahaan minyak dan gas dunia. Seluruh perusahaan energi global bergerak\nuntuk mengantisipasi tren penurunan permintaan minyak yang cukup tajam dan akan\nterjadi pada masa depan. Permintaan dan konsumsi minyak dunia, kata dia,\ndiperkirakan turun dari 110 juta barel per hari menjadi sekitar 65-73 juta\nbarel per hari. &#8220;Intinya, agenda untuk menurunkan gas rumah kaca, carbon\nemission, ini menjadi agenda oil company di seluruh dunia,&#8221; ujar Nicke.\nPertamina memiliki beberapa strategi terkait pengembangan energi yang lebih\nbersih. Pertama, mengembangkan energi listrik dengan monetisasi aset panas bumi\nmelalui independent power producer (IPP) untuk mengembangkan l,3GWproyek panas\nbumi serta IPP berbasis surya di area dengan iradiasi matahari tinggi. Juga,\nmenjalin kemitraan strategis untuk pembuatan sel surya. Kedua, lanjut Nicke,\nmengoptimalkan penggunaan energi ramah lingkungan untuk mobilitas di sektor\ntransportasi. Yakni, dengan mendukung pemerintah melaksanakan mandatori\nbiodiesel 30 persen (B30), green refinery, dan co-processingCPO. Yang ketiga\nadalah mengupayakan balian bakar dengan optimalisasi sumber energi lain yang\ntersedia di dalam negeri. Salah satunya dengan melakukan gasifikasi batu bara\nkadar rendah menjadi dimetil eter (DME) untuk substitusi LPG dalam rangka\nmengurangi impor dan menghasilkan energi yang lebih bersih. Spesifik soal bahan\nbakar minyak (BBM) berstandar Euro 4, Pertamina masih berfokus pada penyediaan\npertamax turbo untuk bahan bakar mesin kendaraan berstandar Euro 4. Meski\ndemikian, perusahaan juga siap menyediakan bahan bakar diesel standar Euro 4\nyang aturannya direncanakan berlaku mulai April 2022. Nicke menegaskan bahwa\nsaat ini BBM Pertamina yang setara dengan Euro 4 adalah pertamax turbo. Saat\nini Kilang Balongan sudah mem-produksi BBM berstandar Euro 4. Komitmen untuk\npengendalian kualitas udara dan iklim juga ditegaskan dalam pertemuan Menteri\nKoordinator Bidang Maritim dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Pandjaitan\ndengan John Kerry, utusan khusus presiden Amerika Serikat untuk iklim yang juga\nmantan menteri luar negeri AS, kemarin pagi (26\/2).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Infosawit.com | Senin, 1 Maret 2021 Tantangan Biodiesel Sawit Sepanjang periode tahun 2019 lalu, harga minyak mentah dunia tidak mengalami fluktuasi kendati pada akhir tahun ada konflik antara Rusia dan Arab Saudi tentang produksi dan ekspor minyak. Harga biodiesel juga tidak mengalami fluktuasi signifikan sepanjang tahun, meskipun di akhir tahun terdapat banyak peningkatan. Pada awal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4599","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Infosawit.com | Senin, 1 Maret 2021 Tantangan Biodiesel Sawit Sepanjang periode tahun 2019 lalu, harga minyak mentah dunia tidak mengalami fluktuasi kendati pada akhir tahun ada konflik antara Rusia dan Arab Saudi tentang produksi dan ekspor minyak. Harga biodiesel juga tidak mengalami fluktuasi signifikan sepanjang tahun, meskipun di akhir tahun terdapat banyak peningkatan. Pada awal [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-03-01T02:02:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-05-26T20:58:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"36 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Tantangan Biodiesel Sawit\",\"datePublished\":\"2021-03-01T02:02:03+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/\"},\"wordCount\":7248,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/\",\"name\":\"Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2021-03-01T02:02:03+00:00\",\"dateModified\":\"2021-05-26T20:58:04+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/tantangan-biodiesel-sawit\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tantangan Biodiesel Sawit\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI","og_description":"Infosawit.com | Senin, 1 Maret 2021 Tantangan Biodiesel Sawit Sepanjang periode tahun 2019 lalu, harga minyak mentah dunia tidak mengalami fluktuasi kendati pada akhir tahun ada konflik antara Rusia dan Arab Saudi tentang produksi dan ekspor minyak. Harga biodiesel juga tidak mengalami fluktuasi signifikan sepanjang tahun, meskipun di akhir tahun terdapat banyak peningkatan. Pada awal [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2021-03-01T02:02:03+00:00","article_modified_time":"2021-05-26T20:58:04+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"36 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Tantangan Biodiesel Sawit","datePublished":"2021-03-01T02:02:03+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:04+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/"},"wordCount":7248,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/","name":"Tantangan Biodiesel Sawit - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2021-03-01T02:02:03+00:00","dateModified":"2021-05-26T20:58:04+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/tantangan-biodiesel-sawit\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tantangan Biodiesel Sawit"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4599"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4599\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4819,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4599\/revisions\/4819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}