{"id":6697,"date":"2022-05-09T12:28:39","date_gmt":"2022-05-09T05:28:39","guid":{"rendered":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/?p=6697"},"modified":"2022-05-09T12:28:39","modified_gmt":"2022-05-09T05:28:39","slug":"istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/","title":{"rendered":"Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?"},"content":{"rendered":"<p class=\"qtranxs-available-languages-message qtranxs-available-languages-message-id\"><span><\/span><\/p><p><b>Akurat.co | Jum\u2019at, 29 April 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?<\/b><\/p>\n<p>Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan menilai ungkapan &#8216;kelangkaan&#8217; bukan istilah yang tepat untuk mengekspresikan isu minyak goreng yang terjadi belakangan. Menurutnya, kunci utama masalah tersebut bukanlah soal pasokan minyak goreng itu sendiri, melainkan harga dan mekanisme distribusi. &#8220;Minyak goreng tidak pernah langka sebetulnya. Yang menjadi masalah adalah harga minyak goreng memang naik,&#8221; ungkap Paulus saat diskusi virtual, Kamis (28\/4\/2022). Dia menjelaskan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sempat digagaskan pemerintah\u00a0 yang memancing kelangkaan stok minyak goreng di pasaran. Pasalnya, para penjual migor telah mengumpulkan pasokan dengan harga beli di kisaran Rp20 ribu, namun kemudian mereka disuruh menjual dengan harga sekitar Rp11 ribu hingga Rp14 ribu. &#8220;Siapa yang mau jual? Tidak ada. Mereka bisa rugi karena aturan mendadak menjadi Rp14 ribu. Makanya waktu [harga] dilepas kemarin dengan harga tinggi, ada lagi stoknya [migor]. Jadi, ini masalah harga, bukan masalah stok,&#8221; pungkasnya. Di sisi lain, mekanisme distribusi juga menjadi kendala dalam hal ini. Harga yang melambung tinggi serta minimnya pasokan migor di pasaran membuat sejumlah pihak tertentu memanfaatkan situasi ini untuk kepentingannya sendiri. Distribusi migor yang berlangsung panjang, mulai dari pabrik kemudian ke distributor tingkat provinsi hingga pasar, membuka celah munculnya pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi. &#8220;Jadi, ini soal mekanisme dan harga, bukan soal kelangkaan,&#8221; tandasnya.<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/akurat.co\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/akurat.co\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw3QR2wgiztB998rIbiC2uOl\">https:\/\/akurat.co\/istilah-<wbr \/>kelangkaan-migor-dinilai-<wbr \/>tidak-tepat-kenapa<\/a><\/i><i><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><a href=\"http:\/\/katadata.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/Katadata.co.id&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw0zzlIJml5zny4WP5-FoBC-\">Katadata.co.id<\/a>\u00a0| Senin, 2 Mei 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Gandeng Posco, GS Caltex Bakal Bangun Pabrik Biofuel di Indonesia<\/b><\/p>\n<p>Perusahaan penyulingan asal Korea Selatan, GS Caltex mengumumkan telah bekerja sama dengan Posco International, masuk ke pasar biofuel. Kerja sama ini mencuat seiring dengan meningkatnya seruan untuk pengurangan emisi global. Mengutip The Korea Herald, Minggu (1\/5), kedua perusahaan ini sepakat bekerja sama membangun rantai produksi biofuel. Keduanya akan menggabungkan teknologi manufaktur GS Caltex dan pengetahuan infrastruktur kilang Posco International. Sebagai langkah pertama, GS Catlex dan Posco International sepakat untuk membangun pabrik biodiesel dan fasilitas kilang di Indonesia. \u201cKemitraan ini bertujuan untuk memperluas rantai nilai biofuel dari bahan hingga produk. Melalui kerja sama ini, kami akan mendorong daya saing global dalam bisnis biofuel yang ramah lingkungan, dan untuk berkontribusi dalam upaya mengurangi emisi karbon,\u201d kata seorang pejabat GS Caltex dikutip dari The Korea Herald. Pembangunan pabrik dan fasilitas ini diharapkan akan membuka jalan bagi ekspansi bisnis GS Caltex dan Posco International untuk biofuel generasi berikutnya, seperti bahan bakar pesawat berbasis bahan bakar terbarukan. Baik GS Caltex maupun Posco International belum mengungkapkan berapa besar investasi yang akan dikeluarkan untuk pembangunan pabrik biofuel di Indonesia. Namun, kedua mengumumkan akan menjalankan proyek dengan skema Clean Development Mechanism (CDM). CDM merupakan skema yang dicetuskan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang memungkinkan negara-negara untuk mendanai proyek pengurangan emisi di negara lain, untuk mengklaim emisi yang disimpan sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi target emisi di dalam negeri. Sebagai informasi, sejak masuk dalam produksi biofuel pada 2010 melalui anak usahanya GS Bio, GS Caltex telah memproduksi biodiesel sebanyak 100.000 ton per tahun. Selain itu, GS Caltex juga memproduksi 2,3-butanediol melalui teknologi manufaktur ramah lingkungan, yang menggunakan biomassa dan mikroorganisme non-transgenik. Senyawa kimia 2,3-butanediol ini adalah zat alami 100% yang mudah ditemukan di alam termasuk di tanah, hewan, dan makanan fermentasi. Senyawa ini memiliki efek pelembab dan pengawetan dan banyak digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan produk perawatan pribadi. Investasi biodiesel Indonesia tengah meningkat beberapa waktu terakhir. Ini terlihat dari rencana pembangunan beberapa pabrik baru di Indonesia. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) mencatat akan ada penambahan kapasitas terpasang sebanyak 1,6 juta kiloliter dengan bertambahnya tiga pabrik baru. Namun, asosiasi masih enggan menyebutkan nilai investasi maupun pemain baru yang akan masuk tersebut. &#8220;Ada investasi baru tahun ini. Ada 2-3 perusahaan sudah berbicara mau buat pabrik, bikin baru,&#8221; kata Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan di Jakarta, Senin (18\/4).<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/katadata.co.id\/agungjatmiko\/berita\/626f44334f40f\/gandeng-posco-gs-caltex-bakal-bangun-pabrik-biofuel-di-indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/katadata.co.id\/agungjatmiko\/berita\/626f44334f40f\/gandeng-posco-gs-caltex-bakal-bangun-pabrik-biofuel-di-indonesia&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw3uw3kmsfTGBhAX5rFiDr0Q\">https:\/\/katadata.co.id\/<wbr \/>agungjatmiko\/berita\/<wbr \/>626f44334f40f\/gandeng-posco-<wbr \/>gs-caltex-bakal-bangun-pabrik-<wbr \/>biofuel-di-indonesia<\/a><\/i><i><\/i><\/p>\n<p><b>Antaranews.com | Minggu, 1 Mei 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Ahmad Rusdi terpilih sebagai Ketua Yayasan Pramuka Asia Pasifik<\/b><\/p>\n<p>Gerakan Pramuka diharapkan bisa membentuk Yayasan untuk menggalang dana dari anggota dan masyarakat. Kak Ahmad Rusdi menyatakan penggalangan dana itu guna membantu kegiatan kepramukaan di berbagai daerah di Tanah Air. \u201cWarga dan pengusaha dapat direkrut menjadi anggota Yayasan seumur hidup,\u201d kata Kak Ahmad Rusdi, Wakil Ketua\/Ketua Komisi Luar Negri Kwarnas Pramuka, Selasa (3\/5\/2022). Hal tersebut disampaikan Kak Ahmad Rusdi setelah terpilih menjadi President of APR Scout Foundation Management Committee periode 2022-2025. Rapat Virtual Asia-Pacific Regional Scout Foundation Management Committee berlangsung pada 30 April 2022. Rusdi meraih suara terbanyak, mengalahkan calon dari India.\u00a0 \u201cSelamat dan sukses selalu Kak Rusdi, kami sangat bangga dan mendoakan Kakak sukses selalu dalam mengemban amanah yg luar bias aini,\u201d kata Ketua Kwarnas Pramuka Kak Budi Waseso. Tugas Komite Pengelola Yayasan Pramuka Kawasan Asia Pasifik adalah melakukan\u00a0 pencarian dana, mengawasi investasi dana abadi, mengidentifikasi kriteria dan proposal proyek kepramukaan yang dapat didanai Yayasan, dan memberikan laporan kepada Konferensi Kepanduan Asia Pasifik.\u00a0\u00a0\u00a0 Sumber pendanaan berasal dari investasi yang diinvestasikan kepada Yayasan Kepanduan Dunia dan sumbangan para anggota Yayasan. Dengan bertambahnya dana simpanan, setiap tahun Yayasan menyumbangkan ke beberapa proyek pembangunan berkelanjutan, bantuan kemanusiaan dan bencana, serta pelatihan kepada Pramua di 30 negara Asia Pasifik. Kak Ahmad Rusdi merupakan Pramuka Indonesia pertama yang menduduki jabatan sebagai Presiden atau Ketua Komite Pengelola Yayasan Pramuka Kawasan Asia Pasifik. Sebelumnya, Kak Paulus Tjakrawan, menjadi anggota Komite selama empat periode. Kak Paulus Tjakrawan saat ini menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kwarnas Gerakan Pramuka. Kak Ahmad Rusdi sebelumnya menjadi Ketua Komite Pramuka Kawasan Asia Pasifik untuk masa bakti 2028-2022, setelah di periode sebelumnya menjadi anggota Komite. Pengurus Ketua Komite Pramuka Kawasan Asia Pasifik yang baru telah menunjuk Ahmad Rusdi sebagai Advisor atau Penasihat APR. Yayasan Kepramukaan Asia Pasifik dibentuk pada 1991 dengan Asosiasi Pramuka Hong Kong sebagai wali amanat. Kantor Yayasan berada di Kawasan Makati, Filipina, bergabung dengan kantor Asia-Pacific Regional Support Center. Sampai tahun 2022, ada 839 individu dan yang menjadi anggota Yayasan Kepramukaan Asia Pasifik. Jumlah dana yang berhasil dihimpun mencapai US$2,9 juta. Para anggota dikelompokkan ke dalam tingkatan Bronze, Silver, Gold, dan Platinum berdasarkan besar sumbangan. Di antara 839 anggota Yayasan, terdapat 19 orang Pramuka Indonesia, termasuk Kak Ahmad Rusdi yang menyumbang Yayasan sebesar US$10.000. Kak Ahmad Rusdi juga menjadi anggota Yayasan Pramuka Dunia\u00a0 BP Fellowship dan Korea Scout Foundation untuk seumur hidup.<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2857685\/ahmad-rusdi-terpilih-sebagai-ketua-yayasan-pramuka-asia-pasifik\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/2857685\/ahmad-rusdi-terpilih-sebagai-ketua-yayasan-pramuka-asia-pasifik&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw0cP_tBOULsEqH2XiP9D-jY\">https:\/\/www.antaranews.com\/<wbr \/>berita\/2857685\/ahmad-rusdi-<wbr \/>terpilih-sebagai-ketua-<wbr \/>yayasan-pramuka-asia-pasifik<\/a><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>BERITA BIOFUEL<\/b><\/p>\n<p><i>\u00a0<\/i><\/p>\n<p><b><a href=\"http:\/\/republika.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/Republika.co.id&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw3gLSNj84Ei9lJ2JM6O8pNx\">Republika.co.id<\/a>\u00a0| Kamis, 28 April 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Dradjad: Milih Sawit untuk Pangan Apa Biodiesel?<\/b><\/p>\n<p>Pemerintah disarankan untuk merombak Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Pemerintah harus jelas terkait alokasi minyak sawit untuk biodiesel atau pangan. \u201cSecara konsep simple sebenarnya, pemerintah ini untuk minyak goreng maunya seperti apa? Kalau hanya memakai DMO (domestic market obligation), kalau hanya memakai HET (harga eceran tertinggi), kalau hanya memakai peraturan, akan banyak sekali permainan. Banyak sekali orang cari celah, dan itu tidak akan jalan,\u201d kata ekonom INDEF, Dradjad Wibowo, Rabu (27\/4). Kalau pemerintah ingin mengintervensi masalah minyak goreng, Dradjad meminta agar BPDPKS dirombak. Menurut dia, harus dibuat satu pilihan, apakah akan memilih pangan atau biodiesel, komposisi alokasi yang terbaik antara keduanya bagaimana. Pemerintah juga harus masuk di pasar melalui intervensi stok nasional untuk mengamankan harga. Ketika harga jatuh, pemerintah membeli stok, ketika harga melonjak, pemerintah melepas stok. Stok nasional ini harus didukung gudang yang cukup dan teknologinya bagus. \u201cTapi kalau pemerintah memang melepas minyak goreng ke mekanisme pasar, ya mau tidak mau biarkan saja harga CPO meledak, biarkan saja harga minyak goreng naik tinggi sesuai pasar. Ibu-ibu menjerit,\u201d kata Ketua Dewan Pakar PAN ini. BPDPKS dinilai Dradjad terlalu condong ke biodiesel. Kompetisi antara pangan (minyak goreng) dan energi (biodiesel), menurut Dradjad, akan terus terjadi. Pemerintah harus membuat pilihan. &#8220;Keseimbangan antara pangan dan biodiesel ini, mana yang paling cocok untuk Indonesia?\u201d kata Dradjad.\u00a0 BPDPKS, kata dia, jangan hanya seperti sekarang. Menurut dia, itu tidak sebanding dengan dana yang telah dikumpulkan. BPDPKS harusnya bisa dilibatkan dalam pengambilan keputusan pengamanan harga. \u201cDi sini BPDPKS tentu harus bekerja sama dengan Bulog. Bagaimana mekanismenya, silakan pemerintah cari.&#8221; &#8220;Kuncinya, kalau tidak mempunyai intervensi dalam tata niaga dan harga, persoalan minyak goreng seperti ini akan terjadi lagi,\u201d kata dia.<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/rb1isz318\/dradjad-milih-sawit-untuk-pangan-apa-biodiesel\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/rb1isz318\/dradjad-milih-sawit-untuk-pangan-apa-biodiesel&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw1P4EPwoOY03tgYTmXY-4eC\">https:\/\/www.republika.co.id\/<wbr \/>berita\/rb1isz318\/dradjad-<wbr \/>milih-sawit-untuk-pangan-apa-<wbr \/>biodiesel<\/a><\/i><i><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><a href=\"http:\/\/republika.co.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=http:\/\/Republika.co.id&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw3gLSNj84Ei9lJ2JM6O8pNx\">Republika.co.id<\/a>\u00a0| Rabu, 4 Mei 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Tiga Sekawan Mendulang Cuan dari Ekspor Minyak Jelantah<\/b><\/p>\n<p>Minyak jelantah yang biasanya dibuang karena sudah tidak terpakai, ternyata bernilai ekonomis jika masyarakat mengetahuinya. Tiga sekawan, yaitu M. Rizky Ramadhan, Ahmad Khairul, dan Nifrianto Setiawan, berhasil memanfaatkan limbah minyak jelantah, bahkan mendulang untung dari pengolahannya. Melalui CV Arah Baru Sejahtera yang didirikan pada 2019 di Pekanbaru, Riau, minyak jelantah itu berhasil dikumpulkan menjadi bahan baku untuk dijadikan biodiesel. \u201cLalu, kami ekspor ke beberapa negara yang bisa mengolahnya menjadi biodiesel,\u201d ujar Rizky yang telah mengekspor produknya ke Singapura, Belanda, Italia, dan Korea Selatan. Untuk mendapatkan minyak jelantah, pihaknya telah menyiapkan gudang di beberapa kota di Indonesia. Setiap bulan tiap-tiap gudang menyetor minyak jelantah dalam jumlah berbeda-beda. Gudang di Medan, umpamanya, bisa mengumpulkan hingga 60 ton atau tiga kontainer (1 kontainer sekitar 20 ton). Lalu, di Aceh 10 ton, Pekanbaru 2-3 kontainer, Padang 10 ton, Bengkulu 5 ton, dan Makassar 500 kg. \u201cSelama ini yang paling banyak di Medan dan Pekanbaru karena kedua kota tersebut sudah dibangun sebagai gudang awal,\u201d ungkap pria kelahiran Pekanbaru 1996 ini. Dengan modal awal sekitar Rp 50 jutaan\u00a0\u2e3asetiap orang setor Rp 15 juta &#8211; 20 juta\u2e3a\u00a0usahanya kini mulai berkembang sangat baik. Pihaknya gencar melakukan program marketing dan sosialisasi, termasuk meyakinkan warga setempat untuk mengumpulkan minyak jelantah. \u201cJadi, untuk meyakinkan warga\/masyarakat dengan adanya kegiatan ini, kami melakukan sosialisasi dari tingkat RT sampai kecamatan. Itu kami sosialisasikan ke ibu-ibu rumah tangga, melalui program Bank Jelantah Pekanbaru,\u201d Rizky menceritakan perjuangannya. Bank Jelantah itulah yang menyalurkan limbah minyak. Biasanya, bank itu untuk meminjam dan menukar uang. Nah, kalau di Bank Jelantah, minyak jelantah bisa ditukar dengan uang. Pihaknya pun membentuk kelompok ibu rumah tangga di setiap RT untuk mengumpulkan minyak jelantah yang bisa ditukar dengan uang di tiap posko yang sudah dibentuk. Untuk melakukan sosialisasi ke setiap rumah, dibutuhkan waktu 1-2 bulan secara intens. Pihaknya secara door-to-door menjelaskan keuntungan bergabung untuk menyetorkan minyak jelantah ke Bank Jelantah. \u201cUntuk bergabung ke Bank Jelantah, bisa langsung ke saya melalui WhatsApp atau dari contact person yang dapat dihubungi di kota tersebut atau melalui laman media sosial kami di Facebook, bisa juga di Instagram, dan ada juga TikTok,\u201d kata Rizky. Selain menggandeng kelompok ibu rumah tangga dan komunitas, serta promosi melalui media sosial, pihaknya juga melakukan kerjasama dengan perusahaan\/pelaku usaha dan restoran yang menggunakan minyak goreng. Kemudian, membuat program sedekah dengan menggandeng yayasan, juga ada program menukar jelantah menjadi emas ataupun sembako untuk membantu masyarakat atau pelaku usaha yang membutuhkan. \u201cJadi, untuk program marketing-nya, kami usahakan dengan segala macam cara,\u201d ujarnya. Saat awal merintis bisnis ini di 2019, pihaknya baru bisa mengumpulkan sekitar 1 ton minyak jelantah dan itu dijual ke eksportir lokal. Setelah itu, sejalan dengan berbagai usaha yang dilakukannya, termasuk menggandeng beberapa supplier, perolehan minyak jelantahnya terus meningkat hingga 25 ton\/bulan di 2020 dan 40 ton lebih\/bulan di pertengahan 2021. \u201cSeiring berjalannya waktu, kami berkembang, baik secara kuantitas mitra maupun tonase. Saat 2020-2021, kami bisa mencapai 40 ton\/bulan. Namun, saat pandemi sedikit berkurang. Tapi sekarang, bisa mencapai 60 ton\/bulan,\u201d Rizky menginformasikan. Menurutnya, untuk pembelian, harga tergantung pada pasar karena minyak jelantah ini dari komoditas kelapa sawit sehingga harganya fluktuatif. \u201cKalau untuk sekarang, kisarannya Rp 6 ribu-7 ribuan per kg. Tapi, nanti ini belum tahu juga ke depannya, bisa jadi naik bisa jadi turun. Biasanya nanti kami konfirmasi ke supplier atau pelaku usaha yang sudah bekerjasama dengan kami,\u201d katanya sambil menyebutkan, harga ekspornya Rp 7 ribu -10 ribuan per kg, juga tergantung pada pasar. Menghadapi 2022, target perusahaan ini ialah membuka gudang minyak jelantah di seluruh Indonesia. Adapun target dalam lima tahun mendatang: mendirikan pabrik biodiesel sendiri. \u201cMasih perlu banyak hal yang diperlukan untuk bisa sampai ke sana,\u201d ujar Rizky. Harapannya, Indonesia bisa bebas dari minyak jelantah untuk mendukung program pemerintah menuju go green dan go health.<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/rbcwx7151269527621000\/tiga-sekawan-mendulang-cuan-dari-ekspor-minyak-jelantah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/rbcwx7151269527621000\/tiga-sekawan-mendulang-cuan-dari-ekspor-minyak-jelantah&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw1HtU4i6VnlJrfQ3T31wZKp\">https:\/\/www.republika.co.id\/<wbr \/>berita\/rbcwx7151269527621000\/<wbr \/>tiga-sekawan-mendulang-cuan-<wbr \/>dari-ekspor-minyak-jelantah<\/a><\/i><i><\/i><\/p>\n<p><b>Kumparan.com | Jum\u2019at, 29 April 2022<\/b><\/p>\n<p><b>Dosen UMY Manfaatkan Limbah Menjadi Biosolar dengan Program Sodaqoh Sampah<\/b><\/p>\n<p>Dr. Dessy Rachmawatie, M.Si, Dosen Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), lakukan pengabdian kepada masyarakat dengan pemberdayaan perempuan dalam pemanfaatan limbah sampah menjadi biosolar melalui program sodaqoh sampah. Pengabdian ini dilakukan di Brajan, Tamantirto, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jum&#8217;at (8\/4\/22) dengan dihadiri oleh 30 peserta dari pegiat gerakan masyarakat sodaqoh sampah Kampung Brajan. Pengabdian yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengolahan sampah rumah tangga ini dimulai dengan pendalaman masalah dan kebutuhan mitra pengabdian masyarakat, melalui diskusi dengan Ketua Pengelola Sodaqoh Sampah, Ananto. Selanjutnya, mulai dilakukan pemetaan solusi kegiatan melalui kegiatan pelatihan pengelolaan limbah sampah rumah tangga menjadi biosolar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/umylpm\/dosen-umy-manfaatkan-limbah-menjadi-biosolar-dengan-program-sodaqoh-sampah-1xydS0tEA8z\/full\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-saferedirecturl=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/kumparan.com\/umylpm\/dosen-umy-manfaatkan-limbah-menjadi-biosolar-dengan-program-sodaqoh-sampah-1xydS0tEA8z\/full&amp;source=gmail&amp;ust=1652158212342000&amp;usg=AOvVaw2LlIcFghrc0xmLybYu65Vj\">https:\/\/kumparan.com\/umylpm\/<wbr \/>dosen-umy-manfaatkan-limbah-<wbr \/>menjadi-biosolar-dengan-<wbr \/>program-sodaqoh-sampah-<wbr \/>1xydS0tEA8z\/full<\/a><\/i><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akurat.co | Jum\u2019at, 29 April 2022 Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan menilai ungkapan &#8216;kelangkaan&#8217; bukan istilah yang tepat untuk mengekspresikan isu minyak goreng yang terjadi belakangan. Menurutnya, kunci utama masalah tersebut bukanlah soal pasokan minyak goreng itu sendiri, melainkan harga dan mekanisme distribusi. &#8220;Minyak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-6697","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Istilah &#039;Kelangkaan&#039; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? - APROBI<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Istilah &#039;Kelangkaan&#039; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? - APROBI\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Akurat.co | Jum\u2019at, 29 April 2022 Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan menilai ungkapan &#8216;kelangkaan&#8217; bukan istilah yang tepat untuk mengekspresikan isu minyak goreng yang terjadi belakangan. Menurutnya, kunci utama masalah tersebut bukanlah soal pasokan minyak goreng itu sendiri, melainkan harga dan mekanisme distribusi. &#8220;Minyak [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"APROBI\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-05-09T05:28:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"800\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"aprobi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@aprobi_id\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"aprobi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"aprobi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\"},\"headline\":\"Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?\",\"datePublished\":\"2022-05-09T05:28:39+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/\"},\"wordCount\":2073,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"articleSection\":[\"Berita\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/\",\"name\":\"[:en]Istilah 'Kelangkaan' Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?[:] - APROBI\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\"},\"datePublished\":\"2022-05-09T05:28:39+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"name\":\"APROBI\",\"description\":\"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#organization\",\"name\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":800,\"caption\":\"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/Aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/x.com\\\/aprobi_id\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/aprobi.id\",\"https:\\\/\\\/www.youtube.com\\\/channel\\\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df\",\"name\":\"aprobi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"aprobi\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.aprobi.or.id\\\/id\\\/author\\\/aprobi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Istilah 'Kelangkaan' Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? - APROBI","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Istilah 'Kelangkaan' Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? - APROBI","og_description":"Akurat.co | Jum\u2019at, 29 April 2022 Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa? Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan menilai ungkapan &#8216;kelangkaan&#8217; bukan istilah yang tepat untuk mengekspresikan isu minyak goreng yang terjadi belakangan. Menurutnya, kunci utama masalah tersebut bukanlah soal pasokan minyak goreng itu sendiri, melainkan harga dan mekanisme distribusi. &#8220;Minyak [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/","og_site_name":"APROBI","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","article_published_time":"2022-05-09T05:28:39+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":800,"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"aprobi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@aprobi_id","twitter_site":"@aprobi_id","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"aprobi","Estimasi waktu membaca":"10 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/"},"author":{"name":"aprobi","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df"},"headline":"Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?","datePublished":"2022-05-09T05:28:39+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/"},"wordCount":2073,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"articleSection":["Berita"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/","name":"[:en]Istilah 'Kelangkaan' Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?[:] - APROBI","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website"},"datePublished":"2022-05-09T05:28:39+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/istilah-kelangkaan-migor-dinilai-tidak-tepat-kenapa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Istilah &#8216;Kelangkaan&#8217; Migor Dinilai Tidak Tepat, Kenapa?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#website","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","name":"APROBI","description":"Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#organization","name":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/wp-content\/uploads\/logo-aprobi-1600x800-1.jpg","width":1600,"height":800,"caption":"APROBI - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/Aprobi.id","https:\/\/x.com\/aprobi_id","https:\/\/www.instagram.com\/aprobi.id","https:\/\/www.youtube.com\/channel\/UC9uG7ugbW0xZOJXd0Dtskiw"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/#\/schema\/person\/7af341811f64e6538bbcd2eda626e8df","name":"aprobi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/201d08b91a6e223b9b5c8437074d9dc298439a5d370961ed4aa90a6ac086e9f9?s=96&d=mm&r=g","caption":"aprobi"},"url":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/author\/aprobi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6697","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6697"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6697\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6698,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6697\/revisions\/6698"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6697"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6697"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6697"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}