Jalan Mulus Implementasi B35 (BAHAN BAKAR NABATI)

| News
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Bisnis Indoinesia | Kamis, 10 Agustus 2023

Jalan Mulus Implementasi B35 (BAHAN BAKAR NABATI)

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS telah mengucurkan Rp4,04 triliun untuk penyaluran 5,41 kiloliter program biodiesel B35 sepanjang semester 1/2023. Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS Achmad Maulizal Sutawijaya mengatakan, pihaknya memperkirakan pembiayaan program B35 tahun ini tidak akan jauh berbeda dengan perkiraan yang telah ditetapkan. Berdasarkan catatan Bisnis, BPDPKS tahun ini menyediakan insentif dana sawit senilai Rp30 triliun- Rp31 triliun untuk menyalurkan 13,15 juta kiloliter biodiesel dalam program B35 tahun ini. “BPDPKS masih memantau [penyaluran biodiesel], pendanaannya sudah kami siapkan,” katanya, Selasa (9/8). Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Eddy Martono memperkirakan volume crude Palm Oil (CPO) yang disalurkan untuk program B35 tahun ini sebanyak 2 juta ton. Dengan begitu, konsumsi CPO di dalam negeri pada 2023 akan berkisar sebanyak 23-24 juta ton. Eddy memastikan, program B35 tidak akan mengganggu pasokan CPO untuk minyak goreng maupun impor CPO, karena produksi nasional menyentuh 46,7 juta ton. “Tidak masalah, karena [kebutuhannya] masih di bawah produksi nasional. Program B35 tidak akan mengganggu pasokan dalam negeri.” Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan alokasi biodiesel untuk program mandatori B35 tahun ini sebanyak 13,15 juta kiloliter. Alokasi tersebut naik 19% dibandingkan dengan kuota 2022 sebanyak 11,02 juta kiloliter. Pelaksanaan program mandatory B35 itu pun diperkirakan bisa menghemat belanja negara sekitar US$10,75 miliar. Selain itu, B35 juga diharap mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1.653.974 orang, serta pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 34,9 juta ton CO2e. Adapun, insentif dana sawit program B35 disalurkan untuk menutup selisih antara harga indeks pasar (HIP) ba-han bakar minyak jenis Solar dan HIP bahan bakar nabati jenis biodiesel. Selisih tersebut berlaku untuk semua jenis Solar, besaran dana untuk kepentingan penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati jenis biodiesel diberikan kepada badan usaha setelah dilakukan verifikasi oleh Kementerian

Bisnis.com | Kamis, 10 Agustus 2023

Daftar Konglomerat Penikmat Dana Sawit untuk Insentif Biodiesel B35

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah menggelontorkan insentif program biodiesel B35 sebesar Rp4,04 triliun hingga Juni 2023. Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS Achmad Maulizal Sutawijaya mengatakan, dana yang dikucurkan tersebut untuk realisasi penyaluran mandatori B35 atau campuran Solar dengan 35 persen bahan bakar nabati berbasis sawit sebanyak 5,41 juta kiloliter (kl). Berdasarkan catatan Bisnis, BPDPKS menyediakan anggaran insentif biodiesel sebesar Rp30-Rp31 triliun untuk penyaluran B35 sebanyak 13,15 juta kl pada tahun ini. “BPDPKS masih memantau, pendanaan sudah kami siapkan,” ujar Maulizal saat ditemui di Jakarta, Selasa (8/8/2023). Insentif biodiesel merupakan insentif yang diberikan kepada badan usaha bahan bakar nabati pemasok biodiesel untuk menutup selisih kurang antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar minyak jenis minyak solar dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel. Dana yang digunakan berasal dari dana sawit hasil pungutan dari perusahaan-perusahaan sawit yang melakukan ekspor komoditas sawit. Adapun, beberapa pemasok biodiesel merupakan perusahaan-perusahaan sawit milik para konglomerat di Indonesia, antara lain sebagai berikut: 1. Martua Sitorus Wilmar Group melalui anak usahanya, PT Energi Unggul Persada, PT Wilmar Bioenergi Indonesia, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Multimas Nabati Asahan, dan PT Multi Nabati Sulawesi menjadi salah satu pemasok biodiesel terbesar dalam program B35 tahun ini. Wilmar Group didirikan oleh Martua Sitorus yang dikenal sebagai raja minyak sawit di Tanah Air. Sosoknya masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia 2022 versi Forbes, di mana Martua menempati posisi ke-17, dengan harta kekayaan US$3,1 miliar atau setara dengan Rp44 triliun. 2. Sukanto Tanoto Sukanto Tanoto merupakan pengusaha Medan pemilik grup usaha Royal Golden Eagle (RGE) yang dulu dikenal sebagai Raja Garuda Mas (RGM) pada 1973. Sebagai sosok pengusaha sukses, kekayaannya telah mencapai US$3 miliar atau setara dengan Rp44,6 triliun. Sosoknya pun menjadi orang terkaya ke-18 di Indonesia per 2022. Beberapa perusahaan di bawah kelompok usaha RGE, Apical Group, yang menjadi pemasok biodiesel B35 tahun ini, antara lain PT Kutai Refinery Nusantara, PT Sari Dumai Oleo, dan PT Sari Dumai Sejati. 3. Bachtiar Karim Bachtiar Karim merupakan konglomerat pemilik Grup Musim Mas. Raja sawit yang juga berasal dari Medan ini berada pada urutan ke-11 daftar orang kaya di Indonesia pada 2023 dengan kekayaan mencapai US$4 miliar. Beberapa perusahaan pemasok biodiesel yang berada di bawah naungan Grup Musim Mas, yakni PT Musim Mas, PT Sukajadi Sawit Mekar, dan PT Intibenua Perkasatama. 4. Ciliandra Fangiono PT Ciliandra Perkasa menjadi salah satu pemasok biodiesel untuk program B35 tahun ini. Perusahaan ini merupakan anak usaha First Resources Ltd. First Resources Ltd dipimpin oleh sosok orang kaya termuda di Indonesia, Ciliandra Fangiono. Ciliandra yang berusia 43 tahun berada di urutan ke-23 orang terkaya RI. Menurut Forbes, kekayaannya ditaksir mencapai US$1,37 miliar atau sekitar Rp19,30 triliun. Ia mengumpulkan pundi-pundinya dari bisnis kelapa sawit. Ia tercatat sebagai CEO First Resources Ltd., perusahaan kelapa sawit yang berkantor pusat di Singapura. 5. Robert Wijaya Permata Hijau Group menjadi pemasok biodiesel B35 melalui PT Pelita Agung Agrindustri dan PT Permata Hijau Palm Oleo. Permata Hijau Group adalah perusahaan sawit yang hadir sejak 1984. Perusahaan dengan bisnis utama perkebunan dan pengolahan sawit ini dimiliki oleh oleh pengusaha bernama Robert Wijaya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20230810/44/1683425/daftar-konglomerat-penikmat-dana-sawit-untuk-insentif-biodiesel-b35