Arifin Tasrif: Peran Penting Biodiesel untuk Ketahanan Energi Nasional

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Wartaekonomi.co.id | Selasa, 26 Januari 2021

Arifin Tasrif: Peran Penting Biodiesel untuk Ketahanan Energi Nasional

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menyampaikan pentingnya peran biodiesel dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Hal ini disampaikan saat menghadiri IRENA 11th Session Assembly pada sesi Renewables and Pathway to Carbon Neutrality–Innovation, Green Hydrogen and Socioeconomic Policies yang berlangsung secara virtual. Seperti diketahui sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah mengimplementasikan mandatori B30 dan terus dikembangkan menjadi B40. Menteri Arifin menjelaskan bahwa implementasi program B40 dan B50 saat ini sedang dalam tahap pengkajian komprehensif. “Implementasi program B40 dan B50 saat ini sedang dalam tahap pengkajian komprehensif mengenai komposisi campurannya, evaluasi ekonomi yang juga mencakup kesiapan, bahan baku dan infrastruktur pendukungnya. Uji jalan B40 akan dilanjutkan dengan uji coba pada pembangkit listrik tenaga diesel yang sudah ada,” kata Arifin dalam keterangan resminya, Senin (25/1/2021). Terkait upaya peningkatan penyediaan bahan baku biodiesel, Arifin mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia tengah berupaya mengembangkan berbagai bahan baku dari sumber daya alam domestik lainnya dengan disertai minimalisasi pembukaan lahan/hutan. “Kementerian ESDM bekerja sama dengan stakeholder terkait untuk menggunakan lahan reklamasi/pasca tambang dan mengupayakan tanaman yang cocok berdasarkan kondisi lahan dan iklim,” jelasnya. Hingga tahun 2020, realisasi pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan domestik sebesar 8,46 juta kiloliter. Pemanfaatan biodiesel ini berdampak pada penghematan devisa sebesar Rp38,31 triliun yang berdasarkan perhitungan menggunakan rata-rata MOPS solar 2020 sebesar US$50/BBL dengan kurs Rp14.400 per dolar Amerika Serikat. Tidak hanya itu, Arifin juga menyampaikan beberapa inovasi Indonesia menuju neutralitas karbon melalui co-firing PLTU, pemanfaatan Refuse Derived Fuel (RDF), penggantian diesel dengan pembangkit listrik energi terbarukan berbasis hayati, pemanfaatan non-listrik/non-fossil fuel seperti briket dan pengeringan hasil pertanian dan biogas. Pemerintah bersama BUMN (Pertamina) tengah mengembangkan Green Refineries untuk memproduksi Green Diesel, Green Gasoline, dan Green Avtur. Arifin juga menuturkan pada Juli 2020 lalu, Pertamina telah memproduksi D100 di kilang Dumai dengan kapasitas awal 1.000 barel per hari. Di sisi lain, pemerintah akan menyiapkan dukungan regulasi, insentif dan infrastruktur pendukung, termasuk mendorong pengembangan industri pendukung. Di samping pengembangan CPO Hidrogenasi, Demo Pabrik Mandiri Diesel Hijau juga tengah dalam tahap pengembangan yang diharapkan dapat diuji coba dan diuji produknya pada Desember 2021 mendatang.

https://www.wartaekonomi.co.id/read324733/arifin-tasrif-peran-penting-biodiesel-untuk-ketahanan-energi-nasional

Okezone.com | Selasa, 26 Januari 2021

Menanti Implementasi B40 di Tahun Ini

Program mandatori biodiesel 40% (B40) di 2021 akan sangat sulit akibat fluktuasi harga minyak dan sumber dana alternatif yang belum tentu ada. Periset Teknologi Energi dan Kendaraan Listrik Institute for Essential Services Reform (IESR) Idoan Marciano mengatakan, untuk subsidi program B30 di 2021 diperkirakan dapat mencapai Rp37 triliun hingga Rp54 triliun, melampaui pendapatan dari pungutan ekspor kelapa sawit. “Rencana tambahan kapasitas produksi biodiesel di tahun 2021 dapat menyebabkan adanya potensi kelebihan biodiesel untuk diekspor, di saat permintaan khususnya dari China sangat terbatas,” ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2021, Selasa (26/1/2021). Dia melanjutkan, pemerintah perlu menentukan alternatif sumber pendanaan program biodiesel. Opsi pungutan pada konsumsi BBM dan DMO perlu ditinjau kembali. “Penerapan perpres dan permen tentang ISPO perlu dilakukan dengan baik dan efektif, seperti peringatan pada perusahaan kelapa sawit yang belum bersertifikasi ISPO,” tandasnya. Sebelumnya, Direktur Bioenergi Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna mengatakan bahwa minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) memiliki berbagai kegunaan, terutama untuk biodiesel. “Kalau bisa kita kelola (minyak jelantah) dengan baik, bisa memenuhi sebagian kebutuhan biodiesel nasional,” ucap Andriah. Selain itu, pengembangan biodiesel berbasis minyak jelantah memiliki peluang untuk dipasarkan baik di dalam negeri maupun untuk diekspor. Dipasarkan di luar negeri pun memiliki peluang yang cukup besar. Dengan memanfaatkan minyak jelantah, biaya produksi pun bisa lebih hemat 35% dibandingkan dengan biodiesel dari minyak nabati yang dihasilkan dari tanaman buah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

https://economy.okezone.com/read/2021/01/26/320/2351262/menanti-implementasi-b40-di-tahun-ini?page=1

Suara.com | Selasa, 26 Januari 2021

Nadhatul Ulama Sumsel Ingin Sinergis Wujudkan Biodiesel Bersih

Ormas Islam Nahdatul Ulama (NU) Sumatera Selatan menyatakan ingin turut mewujudkan lingkungan hidup yang lebih baik. Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sumsel,  Amiruddin Nahrawi menyatakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan akibat dari ketimpangan kepemilikan lahan yang dimiliki oleh masyarakat dan perusahaan. Akibatnya, kerusakaan lingkungan terjadi dan merugikan masyarakat. “NU menerima serapan aspirasi dari masyarakat dari berbagai lembaga masyarakat sehingga bisa memberikan masukkan dan solusi terhadap persoalan bangsa,” ujarnya, belum lama ini. Karena itu, pemerintah juga hendaknya mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat agar tidak muncul berbagai fenomena yang merugikan.  Ormas juga bisa mendorong pemerintah agar lebih tegas terhadap perusahaan – perusahaan yang merugikan, misalnya perusahaan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (Kathutla). Karena menurut ia, kerusakan di bumi disebabkan karena masyarakat yang memiliki kekuasaan melakukan kerusakan. Misalnya, kerusakan yang muncul akibat adanya sifat tamak dan rakus. “Sehingga banyak perusahaan yang tidak profesional dan mengakibatkan kerusakan. Karena orang yang diberi amanah, cendrung tidak amanah dan tidak kompeten di bidangnya. Maka rusaklah kita, akhirnya berimbas pada kehidupan generasi selanjutnya,” terang ia. Perusahaan yang demikian hendaknya dihapus (blacklist), karena akan bisa mengakibatkan kerusakan lainnya. “Apalagi masyarakat juga tidak memperhatikan persoalan tersebut,” ucapnya. Dengan kondisi yang terus dibiarkan, Amiruddin memprediksikan potensi bencana akan lebih besar hingga akan mengakibatkan kerugian juga yang dirasakan masyarakat. “Karena itu, NU juga turut bekerjasama mengawasi implementasi program pemerintah pusat dan daerah terkait lingkungan hidup dan perhutanan sosial, terkait reforma agraria dan biodiesel yang bersih di Sumsel. Program demikian harus tepat sasaran hingga mampu meningkatkan  kesejahteraan umat dan lingkungan hidup yang lestari,” ungkapnya. Manajer Projec Perhimpunan Lingkar Hijau, Hadi Jatmiko kunjungan pada ormas islam ialah upaya pelestarian lingkungan dengan pendekatan pada tokoh-tokoh masyarakat islam. Sehingga, pesan pelestarian akan bisa sampai kepada umat dan masyarakat, misalnya guna mewujudkan biodiesel bersih. Pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri ESDM nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar mengatur mengenai pencampuran bahan bakar solar dengan biodiesel secara bertahap. “Pemerintah juga telah mengeluarkan KepMen ESDM Nomor 252.K/10/MEM/ 2020 terkait tentang Penetapan Bahan Usaha (BU) BBM dan BU BBN jenis biodiesel serta alokasi besaran volume untuk pencampuran bahan bakar minyak jenis solar. Kebijakan seperti ini hendaknya juga turut diawasi bersama dengan ormas agama,” terang Hadi.

https://sumsel.suara.com/read/2021/01/26/182408/nadhatul-ulama-sumsel-ingin-sinergis-wujudkan-biodiesel-bersih

Antaranews.com | Selasa, 26 Januari 2021

Tahun 2021, KAI kembangkan kecerdasan buatan untuk perawatan kereta

PT Kereta Api Indonesia akan mengembangkan teknologi untuk perawatan kereta berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), salah satu langkah adaptif sebagai bagian dari program KAI 2021. “Kami berencana mengembangkan digitalisasi perawatan sarana berbasis Artificial Intelligence,” kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa. Dia menjelaskan langkah adaptif didorong pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 yang masih mewabah hingga saat ini. Berbagai langkah akan dilakukan KAI yang meliputi transformasi digital, organisasi, dan proses bisnis. “Pada masa pandemi kami bekerja extraordinary, tidak seperti biasa. Kami optimistis dapat bangkit dan terus bertumbuh tahun ini dengan berbagai langkah yang adaptif, solutif, dan kolaboratif untuk Indonesia,” ujar Didiek. Langkah adaptif diwujudkan dengan terus berinovasi, cepat menyesuaikan diri, melakukan perbaikan mengikuti perkembangan teknologi, serta efisiensi. Pada 2021, KAI akan menambah fitur-fitur KAI Access serta menggunakan big data untuk mengetahui minat dan kebiasaan pelanggan, sehingga KAI dapat melayani dan menghadirkan layanan sesuai keinginan pelanggan. Didiek menambahkan selain itu, KAI akan mengembangkan aplikasi untuk operasional kereta api sehingga mampu mengefisienkan petugas dengan tetap memastikan operasional kereta api dengan lancar. Penggunaan aplikasi pun diterapkan termasuk untuk memudahkan perawatan dan pemantauan sarana dan prasarana.

KAI juga berinovasi untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan dengan terus mengujicobakan penggunaan B100 pada genset kereta. B100 merupakan 100 persen Biodiesel dengan bahan dasar sawit, sehingga akan lebih ramah lingkungan. Di samping itu, lanjut dia, 2021 merupakan tahun vaksinasi pandemi Covid-19, karena itu KAI tetap adaptif dan siap mendukung program tersebut dengan mendaftarkan seluruh pegawai untuk melakukan vaksinasi. Adapun dalam melayani pelanggan, KAI mewajibkan rapid test antigen bagi Awak Sarana Perkeretaapian dan petugas kesehatan serta rapid test antibodi untuk petugas frontline. “Kami menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan memastikan petugas yang melayani pelanggan semuanya dalam keadaan sehat,” kata Didiek. Langkah kedua dalam menghadapi 2021 yaitu Solutif. Hal ini telah tertuang dalam visi KAI yaitu Menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia. “Prinsip Solutif KAI adalah memberikan jalan keluar atau penyelesaian/pemecahan masalah demi pelayanan terbaik kepada pelanggan,” ujar Didiek.

https://jatim.antaranews.com/berita/451988/tahun-2021-kai-kembangkan-kecerdasan-buatan-untuk-perawatan-kereta

Kontan.co.id | Selasa, 26 Januari 2021

AKR Corporindo (AKRA) targetkan penjualan BBM tumbuh hingga 12% pada 2021

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) mengklaim berhasil memenuhi target volume penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) di tahun 2020. Perusahaan tersebut yakin penjualan BBM masih akan meningkat di tahun ini seiring adanya berbagai upaya pemulihan perekonomian nasional. Dalam berita sebelumnya, AKRA menargetkan volume penjualan BBM di tahun lalu di kisaran 2,35 juta kiloliter (KL) hingga 2,4 juta KL. Direktur AKR Corporindo Suresh Vembu bilang, pihaknya berhasil mencapai target penjualan BBM tersebut. Ia pun memproyeksikan, volume penjualan BBM AKRA di tahun ini dapat tumbuh sekitar 10%–12%. Hal ini didukung oleh pertumbuhan BBM industri seiring peningkatan pelanggan baru AKRA di sektor industri smelter, perkebunan kelapa sawit, hingga pertambangan. Belum lagi, AKRA juga kembali mendapat jatah distribusi BBM jenis solar dari BPH Migas. “Harga batubara sedang naik sehingga meningkatkan aktivitas produksi di sektor tersebut. Alhasil, permintaan BBM untuk industri tersebut juga meningkat. Tetapi, kami juga menjual BBM ke sektor tambang non batu bara,” ungkap dia, Selasa (26/1).

Suresh melanjutkan, AKRA juga akan fokus memperkuat penjualan BBM ritel, baik melalui SPBU AKR maupun SPBU BP-AKR yang dikelola anak usahanya, PT Aneka Petroindo Raya. Perusahaan ini akan terus melakukan ekspansi penambahan SPBU di berbagai wilayah Indonesia di masa mendatang. Berdasarkan data materi presentasi perusahaan, SPBU AKR melayani pasar BBM ritel sejak tahun 2010 dan memperoleh alokasi solar bersubsidi dari BPH Migas. Hingga saat ini, SPBU AKR tersebar di 137 lokasi yang terdiri dari 54 SPBU di Jawa-Bali, 39 SPBU di Sumatra, dan 44 SPBU di Kalimantan. Dari total 137 SPBU tersebut, 10 di antaranya ditujukan untuk distribusi BBM Satu Harga. Selain itu, SPBU BP-AKR telah beroperasi sejak akhir tahun 2018 dan sudah ada 16 unit hingga saat ini. AKRA menargetkan penambahan total 350 SPBU BP-AKR dalam 10 tahun. SPBU ini membuat AKRA memperoleh pendapatan dari penjualan bahan bakar maupun produk non bahan bakar. Tak ketinggalan, AKRA juga akan fokus melakukan penjualan bahan bakar avtur untuk industri penerbangan. “Tahun ini kami juga akan mengoperasikan depo avtur baru. Diharapkan ini juga berkontribusi pada volume penjualan BBM, meski masih kecil persentasenya,” tandas dia. Sekadar catatan, pendapatan AKRA turun 8% (yoy) menjadi Rp 13,86 triliun hingga kuartal III-2020. Namun, laba bersih mereka melonjak 18% (yoy) menjadi Rp 665 miliar di periode yang sama. Kontribusi segmen bisnis perdagangan dan distribusi BBM dan bahan kimia AKRA berada di kisaran 79%.

https://industri.kontan.co.id/news/akr-corporindo-akra-targetkan-penjualan-bbm-tumbuh-hingga-12-pada-2021

Sindonews.com | Selasa, 26 Januari 2021

Implementasi B40 Akan Sulit Diterapkan di 2021

Implementasi program mandatori biodiesel 40% (B40) di tahun 2021 akan sangat sulit akibat fluktuasi harga minyak dan sumber dana alternatif yang belum tentu ada. Periset Teknologi Energi dan Kendaraan Listrik Institute for Essential Services Reform (IESR) Idoan Marciano mengatakan, untuk subsidi program B30 di tahun 2021 diperkirakan dapat mencapai Rp37 triliun hingga Rp54 triliun, melampaui pendapatan dari pungutan ekspor kelapa sawit. “Rencana tambahan kapasitas produksi biodiesel di tahun 2021 dapat menyebabkan adanya potensi kelebihan biodiesel untuk diekspor, di saat permintaan khususnya dari China sangat terbatas,” ujarnya dalam Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2021, Selasa (26/1/2021). Dia melanjutkan, pemerintah perlu menentukan alternatif sumber pendanaan program biodiesel. Opsi pungutan pada konsumsi BBM dan DMO perlu ditinjau kembali. “Penerapan perpres dan permen tentang ISPO perlu dilakukan dengan baik dan efektif, seperti peringatan pada perusahaan kelapa sawit yang belum bersertifikasi ISPO,” tandasnya.

https://ekbis.sindonews.com/read/314906/34/implementasi-b40-akan-sulit-diterapkan-di-2021-1611673280

Harian Kontan | Selasa, 26 Januari 2021

AKRA Melicinkan Bisnis Pelumas

PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) memperkuat bisnis dengan menjual produk pelumas ke sektor pertambanga. Manajemen PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) terus mengembangkan bisnis pelumas. AKRA meyakini bisnis perdagangan dan distribusi pelumas melalui anak usahanya, PT Anugerah Lubrindo Raya akan terus berkembang di masa mendatang. AKR Corporindo mendirikan Anugerah Lubrindo Raya pada awal tahun 2019. Perusahaan ini menjual dan mendistribusikan pelumas dengan merek Castrol. Direktur PT AKR Corporindo Tbk, Suresh Vembu Tbk menyampaikan, lantaran belum lama beroperasi, kontribusi bisnis pelumas tergolong masih rendah terhadap pendapatan dari segmen perdagangan dan distribusi AKRA secara konsolidasi. “Kami melihat bisnis pelumas akan memperluas portofolio produk kami dalam melayani pelanggan industri,” kata dia, Selasa (26/1). Sejak awal berdiri hingga tahun lalu, Suresh menyebutkan, Anugerah Lubrindo fokus mendistribusikan produk pelumas kepada industri perkapalan. Memasuki tahun 2021, mereka akan melebarkan sayapnya dengan menjual pelumas ke industri pertambangan, termasuk batubara. Targetnya, AKRA ingin memasok pelumas untuk alat-alat berat hingga mesin-mesin produksi pertambangan. Manajemen AKRA meyakini upaya perluasan pasar tersebut bisa berjalan dengan baik, mengingat perusahaan ini mendistribusikan produk pelumas bermerek Castrol yang kualitasnya sudah diakui secara global. Permintaan produk pelumas dari sektor pertambangan juga diperkirakan tumbuh positif seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas tambang”. “Kami sudah pernah menjual solar ke industri tambang dan sekarang sudah saatnya mendistribusikan pelumas,” ungkap Suresh. Penjualan BBM Di sisi lain, AKR Corporindo mengklaim berhasil memenuhi target volume penjualan bahan bakar minyak (BBM) di sepanjang 2020. Pada tahun lalu, AKRA menargetkan volume penjualan BBM tahun lalu di kisaran 2,35 juta kiloliter (kl) hingga 2,4 juta kl. AKRA juga optimistis penjualan BBM masih meningkat pada tahun ini, seiring berbagai upaya pemulihan perekonomian nasional. Suresh memproyeksikan, volume penjualan BBM AKRA pada tahun ini tumbuh sekitar 10%-12% year-on-year (yoy) menjadi 2,59 juta kl-2,69 juta kl. Hal ini didukung pertumbuhan BBM industri seiring peningkatan pelanggan baru di segmen industri smelter, perkebunan Kelapa Sawit hingga pertambangan. Belum lagi, AKRA kembali mendapatkan jatah distribusi BBM jenis solar dari BPH Migas. Suresh menuturkan, AKRA akan fokus memperkuat penjualan BBM ritel, baik melalui SPBU AKR maupun SPBU BP-AKR yang dikelola anak usahanya, PT Aneka Petroindo Raya. Perusahaan ini akan te- rus berekspansi menambah SPBU di berbagai wilayah di masa mendatang. Selain itu, SPBU BP-AKR telah beroperasi sejak akhir 2018 dan sudah ada 16 unit hingga saat ini. AKRA menargetkan penambahan total 350 SPBU BP-AKR dalam 10 tahun. AKRA juga fokus melakukan penjualan bahan bakar avtur untuk industri penerbangan. “Tahun ini kami mengoperasikan depo avtur baru,” kata dia AKRA pun mengembangkan bisnis kawasan industri Java Integrated and Ports Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur. Pada tahun 2023 mendatang, kontribusi JIIPE bagi pendapatan AKRA diharapkan mencapai 22%. Untuk mendukung agenda bisnis tahun ini, AKR Corporindo menyiapkan dana belanja modal sekitar Rp 250 miliar hingga Rp 300 miliar. “Tahun ini kami berencana mengeluarkan capex yang tak jauh berbeda seperti tahun 2020,” ujar Suresh. Hingga kuartal III-2020, pendapatan AKRA turun 8% menjadi Rp 13,86 triliun. Adapun laba bersihnya tumbuh 18% menjadi Rp 665,41 miliar per 30 September 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.