BIMBANG DI PERSIMPANGAN

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Bisnis Indonesia | Senin, 21 Desember 2020

BIMBANG DI PERSIMPANGAN

Belum adanya peta jalan atau road map yang jelas tentang program campuran 40% biodiesel dalam minyak solar (B40) membuat pelaku industri terkait menjadi bimbang, kendati pemerintah terus mendorong implementasinya. Pelaku industri alat berat dan otomotif, misalnya, sampai kini masih menantikan kepastian pemerintah untuk program B40 tersebut, agar dapat menyesuaikannya. “Penetapan peraturan atau roadmap B40-B50 itu terlebih dahulu harus ditetapkan agar ada kepastian bagi industri untuk mempersiapkannya, termasuk spesifikasinya kapan mulainya,” kata Sekretaris Gabungan Kepala Kompartemen Teknik lingkungan dan Gabungan Industri Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Abdul Rochim dalam webinar, belum lama ini. Menurut dia, tahapan studi dan evaluasi B40 sebaiknya mengikuti program pengembangan biodiesel sebelumya dan dikonfirmasi melalui tes jalan [road test). Untuk implementasi, sebaiknya diberikan waktu yang cukup bagi industri. “Industri melakukan penyesuaian karena ada komponen yang berdampak langsung dengan bahan bakar, at least berdasarkan roadmap sebelumnya minimal 3 tahun setelah ditetapkan regulasi itu baru kami bisa implementasi.” Senada, Komisi Teknis Himpunan Industri Alat Berat Indonesia Fahmi meminta pemerintah memberikan kejelasan campuran yang digunakan dalam B40. Dia mengusulkan campuran yang digunakan memiliki tingkat kestabilan yang tinggi atau setara dengan B30. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna menjelaskan berbagai kajian sudah dilakukan, termasuk soal campuran yang dibutuhkan untuk B40. Kementerian ESDM bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi tengah menguji campuran FAME [fatty acid methyl ester) dan D100 untuk digunakan pada B40. “Kajiannya masih sedikit delay, mudah-mudahan di akhir tahun ini atau di awal Januari, kita bisa dapat kajian teknis dan juga teknoekonomi untuk penerapan B40,” katanya. Andriah menjelaskan kajian teknis tersebut akan digunakan sebagai salah satu masukan untuk perubahan regulasi penerapan program B40. “Memang target kami bagaimana membuat bahan bakar itu benar-benar comply dengan engine, dan dekat dengan karakteristik solar,” jelasnya. Namun, dia tidak menampik bahwa sejumlah persiapan dan kajian tersebut harus terhambat karena pandemi Covid-19. Pandemi juga menyebabkan harga minyak dunia melemah, sementara harga crude Palm Oil (CPO) tetap tinggi. Kondisi itu berdampak pada selisih harga biodiesel yang perlu ditanggung oleh insentif makin besar, sehingga implementasi B40 makin tidak memungkinkan. Kondisi terberat yang dihadapi pada tahun ini, kata dia, program biodiesel sangat didukung oleh insentif yang bersumber dari pungutan ekspor dari produk CPO dan turunannya. Begitu juga dengan peluang pembangunan pabrik baru FAME menjadi dilematis karena belum ada kepastian bahan campuran untuk program biodiesel 40%. “Ini menjadi dilema karena memang kalau kita misalnya MO, B50 kalau kita berbasis FAME, masih butuh tambahan kapasitas tapi kalau akan menggunakan green diesel kemungkinkan akan berlebih,” katanya. Selain itu, seperti yang dikatakan Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan, mayoritas pabrik FAME berlokasi di Sumatra, sehingga ongkos angkut untuk pasokan di wilayah Indonesia timur membengkak. Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) telah melaksanakan mandatori B30 dan akan meneruskan program biodiesel tersebut ke B40 yang kajiannya ditargetkan selesai pada kuartal 1/2021.

BEA KELUAR CPO

Di sisi lain, Gabungan Industri Mi- nyak Nabati Indonesia (GIMNI) berharap agar pemerintah tidak menaikkan bea keluar CPO karena dinilai tidak berdampak langsung pada industri Kelapa Sawit nasional. Selain itu, kata Ketua Umum GIMNI Sahat Sinaga, bea keluar juga tidak memiliki implikasi langsung dalam mendukung program biodiesel nasional. “Bea keluar ini langsung ke negara. Balik dari negara ke aktivitas [industri kelapa sawit] ini belum terlihat, itu alasannya,” katanya kepada Bisnis, Minggu (20/12). Menurut dia, kenaikan dana pungutan ekspor menjadi langkah yang tepat untuk menutupi selisih antara harga biodiesel dan solar. Selain itu, petani Kelapa Sawit juga diuntungkan secara langsung dengan bertambahnya dana penanaman kembali, pelatihan, dan program lain yang diadakan Badan Pengelola Dana Pungutan Kelapa Sawit.

MANDATORI BIODIESEL

Pemerintah terus mendorong penghiliran industri minyak Kelapa Sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke arah industri bahan bakar nabati, sejalan dengan pelaksanaan program mandatori campuran 30% biodiesel (FAME/-fatty acid methyl ester) dalam minyak solar (B30).

BERITA BIOFUEL

Bisnis.com | Senin, 21 Desember 2020

Jadi Ketua Umum APDM, Ridwan Kamil Bakal Garap Biofuel

Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas (APDM) Ridwan Kamil akan mendorong konsentrasi daerah terhadap sumber energi baru terbarukan di masa kepemimpinannya. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan APDM harus mengantisipasi sumber energi terbarukan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN). Biofuel merupakan energi yang terbuat dari materi hidup, biasanya tanaman, kotoran hewat, atau sampah domestik, dan termasuk ramah lingkungan karena rendah karbon serta mengurangi peran dari bahan bakar fosil. “Saya kira intinya kita harus mengantisipasi teori baru dalam energi terbarukan, yang muncul ke permukaan misalnya ada biofuel, dengan tanpa meninggalkan apa yang ada di depan mata yang dalam hitungan masih ada dalam 30-50 tahun ke depan,” katanya, Senin (21/12/2020). Sebelumnya, Ridwan Kamil terpilih lewat Musyawarah Nasional (Munas) IV ADPM “Bangkit Migas Indonesia” di The Anvaya Beach Resort, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Senin (21/12/2020). Di masa kepemimpinannya sebagai Ketum ADPM, Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– berujar akan maksimalkan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari masing-masing provinsi penghasil migas untuk terlibat aktif dalam berbagi peran menyejahterakan masyarakat. Menurutnya, hal tersebut akan menjadi kekuatan utama pemerataan peningkatan ekonomi di masa mendatang. “Di pengurusan baru, penguatan kepada manajemen daerah akan dimaksimalkan. Kita harus pahami tujuan kita sama dengan pusat yaitu menyejahterakan masyarakat,” ujar Kang Emil. Selain itu, Kang Emil akan mencoba menekankan sisi keadilan organisasi dengan mengikutsertakan seluruh wilayah di Indonesia untuk berbagi peran dalam mengembangkan potensi energi migas. Hal itu, lanjutnya, sesuai sila kelima Pancasila yaitu “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Berikutnya, pelaksanaan Munas akan dilakukan di wilayah Jabar dengan agenda membentuk kepengurusan ADPM Periode 2020-2025. Nantinya, turut dibahas beberapa potensi wilayah penghasil migas yang ada di Jabar. “Intinya membentuk kepengurusan dari organisasi ADPM yang lebih baik lagi. Kita perbanyak kata kolaborasi, kurangi rasa kompetisi. Sesuai amanat, satu bulan dari sekarang kita akan umumkan kepengurusan,” ujar Kang Emil.

https://bandung.bisnis.com/read/20201221/550/1333886/jadi-ketua-umum-apdm-ridwan-kamil-bakal-garap-biofuel

Pikiran-Rakyat.com | Senin, 21 Desember 2020

Hibahkan 4 Bus, Bertenaga Listrik dan Biodiesel ke UGM, Airlangga Hartarto: Saya Bangga Jadi Alumni

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto memberikan sambutan dalam acara Dies Natalis ke-71 Universitas Gajah Mada (UGM )secara virtual, pada Sabtu 19 Desember 2020. Selain sambutan atas Dies Natalis UGM yang ke-71, Airlangga memberikan bantuan hibah berupa 4 buah bus, yakni diantaranya 2 bus elektrik (listrik) dan 2 bus bio diesel untuk digunakan di lingkungan kampus UGM.  Airlangga  mengungkapkan alasan dibalik hibah dengan dua teknologi tersebut. Dia menyatakan bahwa keempat bus itu adalah simbol dair teknologi yang sedang berkembang ke depan.  “Ini sebuah simbol dari teknologi yang sedang berkembang ke depan,” ujarnya. Airlangga mengatakan bahwa bus elektrik ini membutuhkan waktu untuk sampai di UGM, karena sedang disiapkan teknologinya di skywell. Selanjutnya untuk seluruh proses manufaktur akan dilakukan di Magelang, Jawa Tengah. Sementara untuk bus biodiesel, sudah langsung dapat digunakan. Airlangga pun menjelaskan alasan pemilihan unit bio diesel. “Kenapa biodiesel? Karena ini dikaitkan dengan program pemerintah B30, dimana tentu biodiesel ini menjadi bagian dari sistem kita kedepan, karena ini mempekerjakan lebih dari 17 juta tenaga kerja yang bekerja di sektor kelapa sawit, dan devisa sebesar 20 milyar (Dolar Amerika-red),” jelasnya. Dalam sambutannya itu, Airlangga menjelaskan mengenai teknologi trick, yang sekarang sedang ada pertempuran antara baterai liquid dan solid. Sebagaimana baterai solid itu berbasis pada nikel mangan copald yang Indonesia sudah punya dari hulu sampai ke hilir. Dalam hal ini Indonesia pun juga akan menguasai seluruh value chip dari hal itu. “Di satu sisi, kita juga dapat tantangan dari pure selfs liquid baterai di mana sebetulnya Indonesia juga punya resources dalam bentuk hydrogen dengan adanya hydro power baik itu masa depan maupun sekarang,” kata Airlangga. Ia pun menegaskan, hal itu intinya adalah representasi dari teknologi yang akan dikembangkan ke depan, yang selanjutnya adalah mengulangi persaingan teknologi antara 100 tahun yang lalu antara Elllyson general elektrik isi power, Resmiko ac power, kemudian Nicolla Tesla yang menyiapan sistem elektrik ac saat sekarang. Airlangga mengharapkan agar civitas akademika Universitas Gajah Mada (UGM) semakin proaktif dalam pengembangan dua teknologi tersebut, sehingga nantinya Indonesia dapat memproduksi sendiri.  “Saya berharap semoga UGM bisa leading di sektor tersebut dan saya pun mengucapkan sekali lagi selamat atas Dies Natalis UGM dan saya bangga menjadi alumni Universitas Gajah Mada,” ujar Airlangga menutup sambutannya.

https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011143968/hibahkan-4-bus-bertenaga-listrik-dan-biodiesel-ke-ugm-airlangga-hartarto-saya-bangga-jadi-alumni

Leave a Reply

Your email address will not be published.