Dana Dampak Covid-19 Sebanyak Rp 2,78 Triliun Dialokasikan Untuk Industri Biodiesel

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Infosawit.com | Jum’at, 19 Juni 2020

Dana Dampak Covid-19 Sebanyak Rp 2,78 Triliun Dialokasikan Untuk Industri Biodiesel

Pemerintah menghadiahkan industri biofuel sebesar Rp 2,78 triliun dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Insentif akan dikelola melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Namun, sejak didirikan, dana tersebut telah didistribusikan kepada perusahaan multinasional untuk memperluas produksi biofuel. Pandemi Covid-19 telah menyebabkan penundaan dalam implementasi insentif biofuel di Malaysia. Namun, Indonesia belum menunda implementasi target biofuel untuk tahun ini. Dikatakan Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, dengan jatuhnya harga minyak, program biofuel Jokowi tidak masuk akal lagi, kecuali tujuannya adalah membuat para taipan kelapa sawit kaya menjadi lebih kaya. Lebih lanjut kata dia, dana minyak sawit dibangun berdasarkan janji untuk meningkatkan mata pencaharian petani. “Tapi ini tipuan saja. Perusahaan multinasional itu menggunakan alasan virus korona untuk melarang pekerja berkumpul dengan keluarga saat Idul Fitri, tapi mereka juga mendapat dana negara untuk dampak pandemi,” lanjut Darto dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Kamis (18/6/2020). Pemerintah juga telah meningkatkan retribusi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dari US$ 50 per ton menjadi US$ 55 per ton, guna meningkatkan pendanaan untuk dana minyak sawit. Pada 2017, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan dan penggunaan dana pungutan industri sawit yang dihimpun oleh BPDPKS dan beberapa pelaku besar industri sawit.

“Korupsi mengancam pembangunan dan memperdalam ketimpangan. Misalnya ketika orang-orang seperti Martua Sitorus, penyandang dana Wilmar dan raja kelapa sawit yang membayar pajak Rp 700 miliar tetapi menerima subsidi Rp 1,2 triliun. Dan ini dianggarkan di APBN, biasanya dana biofuel sudah dipisahkan dari iuran mereka. Tapi iuran mereka tidak cukup, mereka minta dikucurkan dari APBN juga,” kata ekonom Faisal Basri. Wilmar International adalah penerima manfaat tunggal terbesar dari dana tersebut. Pada 2015/16 pedagang minyak sawit terbesar di dunia ini menerima hampir 55% alokasi dari dana tersebut. Baru-baru ini (2017/18) Wilmar masih menerima hampir 40% dari total alokasi. Penerima manfaat terbesar kedua selama periode ini adalah Musim Mas dengan 17,5% diikuti oleh Darmax Agro sebesar 10,7% dan Sinar Mas 8%. Sementara diungkapkan, Jurukampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arkian Suryadarma, para ilmuwan telah menyatakan biofuel bukan solusi dalam menghentikan perubahan iklim, tetapi malah akan memperburuk. Tetapi perusahaan multinasional kelapa sawit telah secara praktis menetapkan aturan dalam dekade terakhir di Indonesia dan mereka tidak peduli. “Mereka gagal membayar kompensasi atas kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan, memusnahkan hutan tropis dan membuat jutaan anak berisiko terkena dampak kabut asap. Jadi bagaimana pemerintah dapat menjustifikasi menggelontorkan uang ke industri yang menghancurkan negara kita sambil mengucuri dana untuk pemulihan ekonomi akibat pandemi?,” tandas Arkian.

https://www.infosawit.com/news/9999/dana-dampak-covid-19-sebanyak-rp-2-78-triliun-dialokasikan-untuk-industri-biodiesel—

Kompas.com | Kamis, 18 Juni 2020

Pertimbangkan Aspek CCE, Indonesia Berkomitmen Wujudkan Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

Delegasi Tetap G20 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia ( ESDM) Yudo Dwinanda Priaadi mengatakan, Indonesia berkomitmen menjadi bagian dunia dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Dia mengatakan itu dalam virtual meeting “The G20 Workshop on the Circular Carbon Economy (CCE) Guide” yang diusulkan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, Minggu, (14/6/2020). Dia menjelaskan, dengan adanya perkembangan global saat ini, CCE menjadi sebuah isu penting dan merupakan suatu prasyarat guna menciptakan ekonomi dunia yang berkelanjutan “Sebab, ketersediaan energi yang terjangkau dan ramah lingkungan menjadi prasyaratnya,” katanya seperti keterangan tertulis Kompas.com terima, Kamis (18/6/2020). Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM ini juga memaparkan, Indonesia mulai mempertimbangkan empat aspek CCE dari hulu sampai hilir. “Hal itu diwujudkan melalui pengurangan emisi, efisiensi energi, dan pengembangan energi terbarukan, khususnya bioenergi yang menjadi kebijakan kunci Indonesia,” terangnya. Yudo menambahkan, beberapa perkembangan aktivitas sektor energi Indonesia, antara lain potensi dan pengembangan proyek carbon capture, utilization, and storage (CCUS). Proyek ini bekerja dengan menangkap emisi CO2 dari lapangan gas lalu diinjeksikan kembali ke lapangan minyak, sehingga dapat meningkatkan produksinya. Nama lain dari proyek ini adalah enhance oil recovery (EOR).

Yudo menegaskan, energi terbarukan juga akan menjadi kunci penyediaan bahan bakar ke depannya. Saat ini Indonesia tercatat sebagai produsen listrik dari panas bumi terbesar kedua di dunia dengan kapasitas terpasang 2,1 Giga Watt. Adapun, selama ini Indonesia menerapkan kebijakan B30 atau 30 persen bahan bakar diesel yang berasal dari biodiesel berbahan sawit. Selain itu, Indonesia juga tengah menyiapkan pembangunan kilang hijau atau green refineries guna menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi dengan bahan baku minyak sawit. Indonesia saat ini telah berhasil menguasai teknologi pembuatan katalis lokal hasil kerja sama PT Pertamina dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan telah diujicobakan di beberapa kilang dengan system co-processing. “Tiap negara melakukan upaya masing-masing untuk melaksanakan CCE, dan akan mempercepat tujuan apabila negara-negara G20 berkolaborasi secara global,” ungkap Yudo. Adapun, virtual meeting CCE ini merupakan bagian dari rangkaian pertemuan tahunan G20 tahun 2020 di bawah Presidensi Arab Saudi yang mengundang seluruh ahli di bidang energi negara anggota G20. Pada kesempatan ini Indonesia merupakan satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20.

Pertemuan ini dipimpin Chair of the Energy Sustainability Working Group Fareed Alasaly dan President of King Abdullah Petroleum Studies and Research Center—KAPSARC Adam Sieminski. Lalu, diikuti pula oleh negara-negara anggota G20, di antaranya: Australia, Jepang, China, Turki, Argentina, India, dan Indonesia. Selain itu, hadir pula beberapa organisasi internasional, seperti International Energy Agency (IEA), International Renewable Energy Agency (IRENA), dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Program CCE sendiri digulirkan sebagai pendekatan dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan. Pembangunan ini pun didasari atas pentingnya melakukan tindakan menjaga kestabilan lingkungan sambil memastikan akses ke energi bersih dan terjangkau untuk semua. Sebab, CCE dipandang sebagai alternatif ekonomi dengan mempertimbangkan konsep Reduce, Reuse, Recycle, and Remove (4R) yang merupakan isu utama pada G20 tahun 2020. Untuk itu, pertemuan ini pun membahas perkembangan teknologi dan inovasi yang tersedia untuk masing-masing 4R. Laporannya nanti ditulis beberapa Organisasi Internasional dengan keahlian masing-masing untuk dibagikan dan diinformasikan kepada anggota negara G20 guna mendorong kegiatan-kegiatan yang dapat memajukan CCE. Beberapa negara memberikan tanggapan terkait atas perkembangan teknologi dan pengembangan hydrogen, efisiensi energi, bioenergi dan CCUS kaitannya dengan 4R. Perlu diketahui, G20 adalah kelompok 20 perekonomian terbesar dunia yang terdiri dari 19 negara ditambah Uni Eropa. Tujuan utama G20 adalah menghimpun para pemimpin negara-negara ekonomi maju dan berkembang utama dunia untuk mengatasi tantangan ekonomi global serta isu-isu lainnya yang menjadi prioritas bersama. Sementara itu, prioritas Indonesia di G20 pada sektor ESDM adalah meningkatkan akses terhadap energi di kawasan Asia. Forum G20 yang pada 2020 ini diketuai Arab Saudi akan segera merilis Pedoman CCE dan akan dipublikasikan secara resmi melalui website: www.cceguide.org.

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/18/13415121/pertimbangkan-aspek-cce-indonesia-berkomitmen-wujudkan-pembangunan-ekonomi?page=all

CNNIndonesia.com | Kamis, 18 Juni 2020

Pertamina Raih Laba Rp35 T Tahun Lalu

PT Pertamina (Persero) meraup laba bersih US$2,53 miliar pada 2019 lalu. Torehan laba itu setara Rp35,42 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat). Jika dibandingkan dengan posisi 2018 lalu, torehan laba itu stagnan. VP Corporate Communications Pertamina Fajriyah Usman mengungkapkan pendapatan perusahaan pada 2019 hanya US$54,58 miliar. Angkanya turun dari 2018 lalu yang mencapai US$57,93 miliar. Ia mengakui perekonomian sepanjang 2019 tertekan sejalan dengan apa yang terjadi di global. Kendati begitu, harga ICP dinilai masih cukup tinggi yaitu US$62 per barel dengan nilai tukar rupiah yang menguat di kisaran Rp14.146 per dolar Amerika Serikat (AS). Dengan kondisi tersebut, total pendapatan usaha Pertamina 2019 tercatat sebesar US$54,58 miliar dengan aset US$67,08 miliar,” kata Fajriyah dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (18/6). Dengan pencapaian ini, perusahaan menebar dividen sebesar Rp8,5 triliun. Jumlah dividen itu naik 7 persen dari setoran sebelumnya yang sebesar Rp7,95 triliun. Lebih lanjut Fajriyah mengungkapkan Pertamina mempertahankan produksi migas sepanjang 2019 lalu dengan melakukan pengeboran terhadap 322 sumur, 14 sumur eksplorasi, dan melakukan 751 workover, dan 13.683 well services. “Saat ini, Pertamina telah memiliki lapangan migas yang yang tersebar di 13 negara di benua Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Dari lapangan tersebut, kami berharap dapat mendukung aspirasi pemerintah mencapai 1 juta BOPD dan 4 ribu MMSCFD di tahun 2024,” kata Fajriyah.

Kemudian, ia mengklaim perusahaan berhasil menurunkan impor minyak sebesar 35 persen. Upaya ini menghemat devisia sebesar US$7,3 miliar atau Rp109 triliun. Sementara, perusahaan juga telah berhenti mengimpor solar dan avtur pada Februari dan Maret tahun lalu. Sebaliknya, Pertamina mencatat penjualan avtur di luar negeri naik menjadi 754 ribu KL. Perusahaan sejauh ini melayani maskapai domestik dan internasional di 40 bandara dan 20 negara. “Untuk menekan impor migas, Pertamina juga terus melanjutkan komitmen implementasi B30 lebih cepat pada November 2019,” katanya.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200618210453-85-514991/pertamina-raih-laba-rp35-t-tahun-lalu

Kontan | Jum’at, 19 Juni 2020

Berharap Permintaan Minyak Sawit Licin Lagi

Produsen minyak sawit mentah (CPO) berharap permintaan domestik meningkat tahun ini

Harga minyak sawit mentah dan produk turunannya masih fluktuatif. Kondisi ini akibat sentimen pasar dan efek pandemi korona (Covid-19) yang masih menekan banyak sektor industri.Tofan Mahdi, Senior Vice President of Corporale Communication Public Affair PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengatakan, harga tandan buah segar (TBS) sempat turun akibat pandemi.Namun penyerapan di pasar domestik mampu menahan harga sehingga tidak terlalu jatuh. “Penyerapan pasar domestik cukup baik menyusul program B30 dan pasar ekspor yang tidak turun terlalu tajam,” ujar dia kepada KONTAN, Kamis (18/6).Menurut Tofan, harga TBS akan sangat bergantung pada harga CPO di pasar global. Lantaran penyerapan pasar domestik masih bagus, maka harga CPO bisa terjaga, meski tidak sebaik harga di beberapa waktu yang lalu.Hal senada diungkapkan Elvi, Corporate Secretary PT Mahkota Group Tbk (MGRO). “Kemungkinan harga CPO memang akan terpengaruh seiring dengan permintaan dunia yang diyakini meningkat,” ujar dia.Manajemen Mahkota Group juga melihat pasar domestik akan berperan penting menjaga permintaan produk minyak sawit di pasaran. Bukan hanya program B30, tapi juga potensi pemulihan ekonomi.

Sementara itu, Head of Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) Michael Kesuma menganggap, pembukaan kembali aktivitas ekonomi pada sejumlah sektor di Indonesia berpotensi mengerek kebutuhan energi. Alhasil, hal tersebut turut mengungkit penyerapan CPO domestik. Namun hal ini tidak serta merta mengerek harga CPO, sebab pergerakan harga mi- nyak sawit belakangan ini cenderung fluktuatif dan rentan dipengaruhi oleh berbagai sentimen. “Pada saat gonjang gaming seperti ini, harga akan naik turun, fluktuatif, seperti halnya pasar saham,” jelas Michael saat dihubungi KONTAN, Kamis (18/6). Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) Lucas Kurniawan melihat, permintaan CPO berpeluang membaik di semester kedua tahun ini seiring pembukaan kembali aktivitas sejumlah sektor industri seperti hotel restoran dan kafe (hore-ka). “Namun permintaan CPO saat penerapan new normal diperkirakan belum mencapai jumlah permintaan seperti kondisi normal. Hal ini mengingat aktivitas belum pulih sepenuhnya,” imbuh Lucas. Demi mengantisipasi risiko penurunan harga jual CPO, manajemen ANJT telah menyiapkan sejumlah strategi. “Kami telah mengantisipasi penurunan harga jual CPO salah satunya dengan melakukan efisiensi,” ujar Lucas. Corporate Secretary PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) juga memproyeksikan peluang penguatan harg CPO. Oleh sebab itu, SSMS menggenjot pemasaran. “Ada yang sudah kontrak, ada yang penjajakan dulu, karena ada pula konsumen yang konservatif,” jelas dia.

Gridoto.com | Kamis, 18 Juni 2020

Biodiesel B30 Bikin Filter Bahan Bakar Mobil Mesin Diesel Cepat Kotor?

Pemerintah Indonesia semakin gencar melakukan sosialisasi implementasi Biodiesel B30 untuk kendaraan mesin diesel. Biodiesel B30 sendiri merupakan jenis bahan bakar diesel campuran petrolium diesel (diesel murni) dengan senyawa nabati sebesar 30 persen. Ada potensi penggunaan bahan bakar Biodiesel B30 membuat filter bahan bakar mobil diesel jadi lebih cepat kotor. “Ya benar, tapi saya tekankan kondisi itu hanya berlangsung saat pemakaian di awal-awal,” tegas Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung kepada GridOto.com. Menurut Tri, penyebab filter solar lebih cepat kotor adalah penggunaan bahan methanol dalam pembuatan bahan bakar Biodiesel B30. “Methanol di dalam kandungan B30 akan bereaksi dan membentuk senyawa sejenis deterjen, dimana dia punya sifat cleaner,” terang Tri. Lanjutnya, senyawa ini akan mengikis kerak kotoran pada dinding tangki bahan bakar yang sudah lama mengendap dan larut di dalam bahan bakar sampai masuk ke filter solar. “Jumlah kotoran jadi banyak karena kotoran di tangki ikut, tidak hanya dari bahan bakar, dalam waktu singkat akan memenuhi tampungan filter solar,” sebut  Efeknya filter solar jadi lebih cepat kotor dan harus dilakukan penggantian lebih cepat dari interval normal. “Setelah dua sampai tiga kali ganti filter sudah pasti aman, malah lebih baik karena saluran bahan bakar lebih bersih,” tutup Tri.

https://www.gridoto.com/read/222199303/biodiesel-b30-bikin-filter-bahan-bakar-mobil-mesin-diesel-cepat-kotor

Leave a Reply

Your email address will not be published.