Strategi Bioavtur sebagai Sayap Dekarbonisasi Penerbangan Indonesia

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp
Strategi Bioavtur sebagai Sayap Dekarbonisasi Penerbangan Indonesia. Sumber: Detik

Sektor transportasi udara sering disebut sebagai salah satu sektor yang paling sulit untuk di dekarbonisasi (hard-to-abate sector). Berbeda dengan transportasi darat yang bisa beralih ke tenaga listrik secara masif, pesawat terbang membutuhkan bahan bakar dengan densitas energi tinggi untuk menempuh jarak ribuan kilometer. Di tengah tantangan ini, Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) muncul sebagai pahlawan baru dalam menjaga keberlanjutan langit Indonesia.

Dalam acara Booth Camp Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) di Jakarta pada akhir Januari 2026, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan komitmennya untuk mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati di sektor udara. Langkah ini bukan sekadar mengejar target emisi, melainkan upaya strategis menjaga daya saing penerbangan nasional di mata dunia.

Biovatur: Strategi Udara Rendah Emisi

Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Transportasi Kemenhub, Dodhy, menjelaskan bahwa transisi menuju bioavtur adalah keharusan. Sektor penerbangan memiliki peran strategis dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) nasional. Penggunaan bioavtur dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada avtur fosil secara signifikan tanpa mengganggu aspek krusial dalam penerbangan: keselamatan.

Bioavtur dirancang sebagai bahan bakar drop-in, yang artinya dapat langsung dicampurkan dengan avtur fosil dan digunakan pada mesin pesawat yang sudah ada tanpa memerlukan modifikasi teknis yang besar. Hal ini memungkinkan maskapai untuk bertransisi secara mulus dari sisi operasional.

Realisasi Saat Ini: Dari Minyak Jelantah ke Skala Industri

Indonesia sebenarnya sudah mulai mengangkasa dengan bahan bakar hijau. Saat ini, maskapai Pelita Air telah menjadi pionir dalam penggunaan bioavtur yang diolah dari minyak jelantah (Used Cooking Oil). Meski membanggakan, tantangan besar membentang di depan mata: kapasitas produksi. Minyak jelantah memang memiliki citra “paling hijau” di pasar global, namun volumenya terbatas. Solusi yang paling masuk akal bagi Indonesia adalah beralih ke minyak sawit, mengingat status kita sebagai produsen terbesar di dunia.

Menepis Isu Keberlanjutan Sawit

Salah satu kendala utama yang disoroti oleh Kemenhub adalah persepsi internasional terhadap kelapa sawit. Di pasar global, masih ada keraguan mengenai apakah bioavtur berbasis sawit benar-benar berkelanjutan atau justru memicu deforestasi.

“Kendalanya sawit masih menjadi isu, orang menganggap belum sustainable. Langkah ke depan, sawit untuk bioavtur ini kita harus bisa membuktikan bahwa bahan bakunya itu sustainable,” tegas Dodhy.

Pembuktian ini menjadi tugas besar bagi kolaborasi lintas sektor. Indonesia perlu memperkuat mekanisme sertifikasi seperti ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) dan melakukan audit rantai pasok yang transparan agar bioavtur kita dapat diterima oleh pasar penerbangan internasional yang sangat ketat terhadap aturan lingkungan.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci

Transisi menuju penerbangan rendah emisi tidak bisa dilakukan oleh Kementerian Perhubungan sendirian. Diperlukan ekosistem yang melibatkan:

  • Kementerian ESDM & Pertamina: Sebagai penyedia energi yang menjamin ketersediaan pasokan dan kualitas bioavtur.
  • Industri Penerbangan (Maskapai & Pengelola Bandara): Untuk kesiapan operasional dan komitmen penyerapan bahan bakar.
  • Lembaga Riset (BRIN): Untuk terus berinovasi dalam meningkatkan efisiensi produksi bioavtur.
  • Petani & Pengusaha Sawit: Untuk memastikan suplai bahan baku yang memenuhi standar keberlanjutan.

Bioavtur adalah “sayap” bagi Indonesia untuk tetap terbang tinggi di tengah tekanan isu perubahan iklim. Dengan dukungan regulasi yang kuat dan pembuktian keberlanjutan bahan baku, Indonesia berpotensi tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pemain utama (ekspor) bioavtur di kawasan regional. Langit yang lebih bersih kini bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang tengah kita tuju dengan kepastian teknis dan riset.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *