Produsen biodiesel Bersiap Tambah Investasi

| Artikel
Bagikan Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Bisnis Indonesia | Rabu, 17 Juni 2020

Produsen biodiesel Bersiap Tambah Investasi

Produsen bahan bakar nabati berencana meningkatkan investasi untuk mendukung pengembangan industri biodiesel di Indonesia. Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan bahwa guna memenuhi kebutuhan fatty acid methyl ester (FAME) untuk program B30 maupun B40 pada 2022, sejumlah badan usaha bahan bakar nabati (BU BBN) tengah menyiapkan sejumlah rencana investasi. “Perusahaan sudah ada yang memiliki rencana, baik itu memperbaiki kualitas [FAME] maupun meningkatkan volume produksi. Ada investasi baru, baik itu perusahaan lama maupun perusahaan baru,” ujar Paulus kepada Bisnis, baru-baru ini Paulus memproyeksikan akan ada penambahan sekitar 5,5 juta kiloliter (kl) kapasitas produksi biodiesel hingga tahun depan.

Saat ini total kapasitas terpasang produksi sudah mencapai sekitar 11,6 juta kl dengan utilitas sampai sekitar 9,6 juta kl. Bila penambahan kapasitas terealisasi maka total kapasitas produksi biodiesel diperkirakan bisa mencapai 17,1 juta kl hingga tahun depan. Namun demikian, kata Paulus, pengembangan investasi biodiesel tersebut nampaknya sedikit terhambat karena situasi pandemi Covid-19. “Tahun ini seharusnya, kalau tidak ada Covid itu ada penambahan kapasitas sekitar 3 juta kl lebih tahun ini. Tahun depan 2,5 juta kl, tapi dengan Covid-19 butuh penyesuaian.” Terpisah, PT Pertamina (Persero) menyebutkan bahwa pada pertengahan 2021 mendatang, Kilang Cilacap siap untuk memproduksi biodiesel kadar 100% atau B100. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan Pertamina bakal memproduksi biodiesel murni itu dari Kilang Cilacap yang dimodifikasi. Nantinya, kilang tersebut bisa memproduksi bahan bakar B100 sebesar 3.000 barel per hari dan akan ditingkatkan hingga 6.000 barel per hari. “Juni tahun depan Kilang Cilacap sudah bisa memproduksi B100 langsung dari CPO,” katanya, Senin (15/6).

BERITA BIOFUEL

Bisnis.com | Selasa, 16 Juni 2020

Juni 2021, Kilang Cilacap Siap Produksi B100

PT Pertamina (Persero) menyebutkan bahwa pada pertengahan 2021 mendatang, Kilang Cilacap siap untuk memproduksi biodiesel 100. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjelaskan bahwa sesuai dengan yang ditargetkan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan program biodiesel seiring dengan melimpahnya sumber daya dalam negeri. Adapun, Pertamina bakal memproduksi biodiesel murni tersebut dari Kilang Cilacap yang dimodifikasi atau revamping. Nantinya, kilang tersebut bisa memproduksi bahan bakar B100 sebesar 3.000 barel per hari dan akan ditingkatkan hingga 6.000 barel per hari. “Juni tahun depan Kilang Cilacap sudah bisa memproduksi B100 langsung dari CPO,” katanya dalam diskusi yang diadakan Rakyat Merdeka, Senin (15/6/2020). Selain Kilang Cilacap, nantinya produksi B100 akan dilakukan di Kilang Plaju dengan produksi sebesar 20.000 barel per hari. Menurut Nicke, program pengembangan bahan bakar biodiesel telah dimulai dengan pencampuran kadar FAME yang digunakan hanyalah 2,5 persen.

Setelah itu, kata Nicke, pada 2018 bahan bakar B20 berhasil dikembangkan dan program B30 berhasil diselesaikan pada 2019 lebih cepat dari target semula yakni 2020. “Salah satu amanah yang disampaikan presiden bagaimana program biodiesel ini harus berjalan,” ungkapnya. Di lain pihak, Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengungkapkan bahwa pengembangan program biodiesel diperkirakan bakal melorot dari jadwal semula. Pasalnya, dengan bergesernya pengembangan program B40 membuat sejumlah target sebelumnya turut terdampak yang akhirnya akan bergeser. “Pastinya mungkin akan ada sedikit delay dari jadwal awal,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200616/44/1253495/juni-2021-kilang-cilacap-siap-produksi-b100

Sawitindonesia.com | Selasa, 16 Juni 2020

Menko Airlangga Hartarto: Program B30 Perlu Dilanjutkan

Menteri Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa era New Normal ini adalah era dimana vaksin belum ditemukan, oleh karena itu pemerintah mempersiapkan skenario “Indonesia Menang”, yaitu bagaimana agar tingkat kematian menjadi rendah dan peningkatan ekonomi cepat. Dijelaskan Airlangga dalam mewujudkan skenario tersebut pemerintah mempersiapkan beberapa langkah termasuk dukungan fiskal sebesar Rp. 686,20 T. Dari sisi ekonomi, wabah Covid-19 ini tentunya mengakibatkan pertumbuhan ekonomi turun PHK terjadi dimana-mana, para pekerja di rumahkan sehingga berdampak pada pengangguran dan kemiskinan naik. Hal ini diungkapkan Menko Airlangga Hartarto dalam diskusi yang diselenggarakan Ikatan Alumni Mahasiswa Australia (IKAMA) bertemakan “Perekonomian Memasuki Normal Baru”. Narasumber lainnya adalah Dr. Ir. Achmad Hermanto Dardak, M.Sc., Ketua IKAMA. Di sektor ekspor, menurut Airlangga, ada sejumlah sektor yang dapat bertahan dan juga terpuruk. Kelapa sawit salah satu sektor usaha yang mampu bertahan dan surplus sepanjang kuartal pertama 2020. Menurut Airlangga, pemerintah tetap melanjutkan program strategis seperti B30 yang telah berjalan semenjak awal tahun ini. Program ini dinilai mampu menghemat devisa negara untuk impor solar. Walaupun, saat ini harga minyak bumi jatuh sehingga memperlebar selisih harga minyak bumi dengan FAME. Upaya penyelesaiannya, pemerintah telah menaikkan pungutan ekspor sawit dan mengucurkan dana untuk menopang program sawit di bawah BPDP Kelapa sawit termasuk B30.

John Irwansyah Siregar , Sekjen Ikatan Alumni Mahasiswa Australia (IKAMA) mengakui industri sawit masih beroperasi normal sehingga dapat membantu perekonomian baik di tingkat lokal dan nasional. Oleh karenaitu, industri sawit membutuhkan dukungan dari pemerintah. “Kami berharap pemerintah terus menjamin kelancaran distribusi yang dibutuhkan dalam bisnis perusahaan minyak kelapa sawit,” lanjut John Irwansyah yang juga Ketua GAPKI Cabang Bengkulu. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh IKAMA ini, beliau menilai pandemi Covid-19 telah memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan kesehatan dimana diperlukannya peran serta dari seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama dapat mengakhiri situasi pandemic ini. Pemerintah dan swasta telah berupaya, melakukan kerjasama riset dan penelitian dengan negara China dan Korea dalam rangka menemukan vaksin tersebut. Dalam arahannya Menko berharap agar “IKAMA yang seluruh anggotanya adalah lulusan dari universitas di Australia, kiranya dapat menjadi jembatan untuk dapat dilakukannya kerjasama penelitian antara Universitas yang berada di Indonesia dengan Universitas di Australia untuk menemukan vaksin tersebut. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyiapkan insentif pemotongan pajak untuk litbang ini hingga 300%”.

Selanjutnya Menko juga sampaikan bahwa dalam upaya menaikkan permintaan ekonomi, biaya sebesar Rp 205 T disiapkan untuk program keluarga harapan, sembako, bansos, kartu pra kerja, diskon listrik, bantuan langsung tunai dana desa dengan total penerima sebanyak 100 juta penduduk Indonesia. Dari sisi pengadaan ekonomi, biaya sebesar Rp. 393 T disiapkan untuk subsidi bunga, penempatan dana untuk restrukturisasi UMKM, program padat karya, insentif perpajakan, pariwisata, pembiayaan investasi dan bantuan untuk pemda. Dengan stimulus ini diharapkan agar daya beli dapat bertahan, supply meningkat dan ekonomi bergerak kembali. Selain itu, pemerintah menilai bahwa pandemic ini menjadikan digitalisasi menjadi sebuah keharusan baru dan kenormalan baru, dimana dalam rangka mengurangi dampak Covid-19 penerapan work from home sudah dilakukan baik oleh pemerintah, pabrik dan kantor maupun proses belajar mengajar. Mengingat pentingnya akselerasi revolusi industry 4.0 ini, pemerintah telah mempersiapkan insentif pajak (super tax deduction) untuk kegiatan vokasi dan pelatihan bagi para wajib pajak dunia usaha dan dunia industry dalam rangka pengembangan SDM hingga 200%. Terakhir, Menko menghimbau dalam rangka mewujudkan Indonesia produktif dan aman secara kesehatan dalam normal baru ini, wajib adanya respon public untuk dapat disipin dalam menerapkan protocol baru kegiatan. Selain adanya syarat-syarat yang perlu disiapkan oleh daerah, beberapa protokol telah disiapkan seperti Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 oleh Menteri Kesehatan maupun surat edaran Menteri Perindustrian terkait prosedur wajib di tempat kerja dan industry agar bebas outbreak dan dapat menopang pertumbuhan ekonomi kita.

Gridoto.com | Rabu, 17 Juni 2020

Sering Isi Biodiesel B30 di Mobil Diesel Common Rail, Apakah Aman?

Biodiesel B30 menjadi salah satu alternatif jenis bahan bakar yang digunakan untuk mobil dengan mesin diesel. Dimana kandungan biodiesel B30 merupakan campuran bahan bakar diesel dengan campuran senyawa nabati dari tanaman sebesar 30 persen. Sering menjadi polemik, apakah penggunaan bahan bakar biodiesel B30 aman untuk mesin diesel modern dengan common rail? “Biodiesel B30 dirancang untuk menekan kadar sulfur yang tinggi di petrolium diesel atau diesel murni menggunakan metil ester asam lemak,” terang Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung saat dihubungi GridOto.com. Namun menjadi perhatian Tri, metil ester asam lemak atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester) punya kecenderungan menarik uap air saat terjadi kondensasi di tangki bahan bakar, terutama jika sering kosong dan dibiarkan lama mengendap. Menurut Hans Steven, pemilik bengkel spesialis Speed’Z Performance, karakter dari biodiesel B30 inilah yang bisa menjadi sumber masalah pada mobil diesel common rail.  “Kandungan air jadi lebih tinggi dan bisa mengental seperti lendir kalau sudah terkena panas dan masuk ke saluran bahan bakar,” terang Hans. Lanjutnya, pengentalan ini menyebabkan filter solar harus bekerja ekstra saat menyaring bahan bakar sebelum masuk ke sistem common rail. “Biasanya filter solar hanya menyerap air, lendir ini bikin kertas filter solar jadi cepat basah dan menurunkan daya saringnya,” jelas Hans. “Kalau dibiarkan terus lendir ini juga bisa menyumbat injektor dan harus dilakukan pembongkaran karena tidak bisa mengabutkan bahan bakar,” ujar Hans.

https://www.gridoto.com/read/222197369/sering-isi-biodiesel-b30-di-mobil-diesel-common-rail-apakah-aman

CNBCIndonesia.com | Selasa, 16 Juni 2020

Pemerintah Guyur Rp 2,5 T untuk Sawit, Buat Apa?

Pemerintah berencana untuk melanjutkan program peremajaan sawit rakyat (PSR) atau replanting. Anggaran Rp 2,5 triliun sudah dikucurkan oleh pemerintah. Menko Airlangga Hartarto mengatakan, sampai dengan Desember 2019, penyaluran dana PSR sebesar Rp 2,47 triliun dengan luas lahan 98.935 hektare. “Perkebunan yang kita lakukan replanting sawit, karena saat ini momentum yang tepat untuk meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan sawit rakyat dan menyelesaikan masalah legalitas lahan,” jelas Airlangga dalam diskusi virtual, Selasa (16/6/2020). Replanting sawit, kata Airlangga menjadi penting untuk mendorong pemenuhan energi Indonesia lewat B30 atau B40 atau Green Refinery. Program B30 akan dituntaskan sampai akhir tahun 2020 dan 2021, dan pada program B40 destilasi diharapkan berjalan pada tahun 2022. Sementara pengembangan Green Refinery (D100 atau green diesel) bisa didorong bisa dilakukan pada 2026. Paket pemulihan ekonomi disalurkan untuk kegiatan PSR melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) dan pungutan ekspor CPO yang naikkan dari US$ 50 per ton menjadi US$ 55 per ton pada 2020.

“Dengan demikian program mandatori B30 dapat dituntaskan sampai Desember 2020. Mulai tahun depan, atau 2021, akan diperkenalkan green certificate atas penggunaan B30/B40 destilasi, yang dananya bersumber dari pengalihan subsidi BBM/solar,” jelas Airlangga. Percepatan pelaksanaan PSR dilakukan BPDPKS, Kementerian Pertanian dan semua instansi yang terkait, dengan didukung aplikasi PSR online yang diterapkan sejak Juni 2019 lalu. Data BPDPKS mencatat, selama periode 2016-2019 terdapat 106.150 hektare lahan sawit rakyat atau sekitar 4,3% dari target PSR yang sudah diremajakan (replanting). Jumlah pekebun yang terlibat pada program ini sebanyak 43.174 kepala keluarga (KK). Dari bahan paparan Airlangga, tercatat program PSR pada tahun 2019 telah direalisasikan di 21 provinsi dan 106 kabupaten yang tersebar di Indonesia. Lima provinsi di Indonesia dengan realisasi program PSR tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan 23.850 hektare dengan penyaluran dana Rp 596,2 miliar. Disusul Riau 14.740 ha dengan anggaran Rp367,05 miliar, Aceh 9.368 ha dengan anggaran Rp234,13 miliar, Jambi 8.236 hektare dengan anggaran Rp 205,9 miliar, dan Kalimantan Tengah 7.590 hektare dengan anggaran Rp189,76 miliar. Pemerintah menargetkan Peremajaan Sawit Rakyat ditargetkan akan terealisasi hingga 540 ribu ha dalam tiga tahun ke depan. Dengan rincian peremajaan bisa mencapai 180 ribu ha pada 2020, 180 ribu hektare pada 2021, dan 180 ribu hektare pada 2022.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200616173855-4-165849/pemerintah-guyur-rp-25-t-untuk-sawit-buat-apa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.