Imbas Corona, Ekspor Sawit Diprediksi Rontok Sepanjang 2020

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

CNNIndonesia.com | Rabu, 12 Agustus 2020

Imbas Corona, Ekspor Sawit Diprediksi Rontok Sepanjang 2020

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan ekspor komoditas kelapa sawit mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona. Ketua Gapki Joko Supriyono mengungkapkan, pada semester I 2020, kinerja ekspor komoditas terkontraksi atau minus 11 persen dari periode sama tahun lalu akibat penerapan penguncian wilayah (lockdown) di berbagai negara tujuan utama ekspor. Sementara, untuk semester II tahun ini, Joko memperkirakan kontraksi akan berlanjut meski tak separah pada semester sebelumnya. Namun, ia tak menyebut seberapa besar kontraksi yang dimaksudnya itu. Saya yakin semester II (ekspor) akan mengalami kenaikan, harapan sampai akhir tahun enggak (kontraksi) 11 persen tapi enggak bisa bilang berapa (karena) takut salah,” katanya lewat video conference, Rabu (12/8). Pasar ekspor merupakan penyerap terbesar produksi kelapa sawit RI. Sekitar 70 persen dari total produksi dipasarkan ke negara luar. Ada pun negara-negara tujuan ekspor kelapa sawit terbesar yaitu China, India, Eropa, negara kawasan Afrika, Timur Tengah, dan AS. Joko menyebut komoditas kelapa sawit menjadi penopang neraca perdagangan yang mencatatkan surplus sebesar US$5,49 miliar kumulatif hingga Juni 2020. Ia merinci pencapaian surplus non-migas hingga Juni 2020 sebesar US$9,05 miliar ditopang oleh nilai ekspor sawit yakni US$10,06 miliar untuk periode sama. Walau (neraca perdagangan) Indonesia surplus sampai Juni, namun itu karena non migas yang surplus US$9 miliar, itu sawitnya menyumbang US$10 miliar, kalau ga ada sawit non migas juga minus,” katanya. Dengan kata lain, menurut Joko, komoditas kelapa sawit memegang peran besar dalam perekonomian nasional. Pasalnya, untuk neraca perdagangan migas sendiri mencatatkan defisit sebesar minus US$3,56 miliar untuk periode sama 2020. Sementara itu, porsi konsumsi sawit dalam negeri berkisar 30 persen secara rata-rata.  Meski konsumsi dalam negeri meningkat selama 2020, Joko menyebut kenaikan tak signifikan. Hingga Juni 2020, rata-rata kenaikan dinyatakan sebesar 7 persen secara year on year.

Konsumsi Biodiesel Turun

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan menyatakan rata-rata konsumsi domestik biodiesel tercatat turun di kisaran 10 persen hingga Juni 2020. Rincinya, konsumsi untuk Januari sebesar 683 ribu kiloliter (kl) dari produksi sebesar 895 ribu kl. Terjadi kenaikan pada Februari yakni 769 ribu kl dari produksi 898 ribu kl. Lalu pada Maret sebesar 784 ribu dari total produksi bulanan 910 ribu kl. Kemudian, konsumsi April hanya sebesar 643 ribu kl dari produksi 841 ribu kl, diikuti Mei 2020 sebesar 669 ribu kl dari produksi 685 ribu kl. Terakhir, konsumsi Juni belum membaik yaitu 643 ribu kl dari 645 ribu kl.  “Secara total pengurangan tidak lebih dari 10 persen dari rata-rata target. Potensi pengurangan konsumsi pasti ada, namun harapan kami tidak lebih dari 10 persen pada akhir tahun nanti,” kata Paulus.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200812172044-92-535030/imbas-corona-ekspor-sawit-diprediksi-rontok-sepanjang-2020

Republika.co.id | Rabu, 12 Agustus 2020

Industri Sawit Mulai Fokus Perluas Pasar ASEAN

Ketua Umum Gabungan Pelaku Usaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, mengatakan, produsen sawit di Indonesia mulai melakukan perluasan diversifikasi pasar seiring mulai melemahnya permintaan dari pasar utama seperti Uni Eropa. Jok mengatakan, pelaku usaha melirik kawasan Asean yang memiliki potensi besar. “Kita selama ini sudah melakukan diversifikasi, seperti di regional Vietnam, Kamboja, Myanmar, dan Filipina yang juga ditekuni,” kata Joko dalam konferensi pers virtual, Rabu (12/8). Joko mengatakan, Vietnam menjadi salah satu pasar baru yang punya potensi besar dan dilirik para pengusaha. Pasalnya dengan jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan ekonomi Vietnam hingga kini masih tumbuh positif.  Sejauh ini, ekspor produk sawit ke Vietnam sudah menyentuh angka 400 ribu ton. “Vietnam menarik dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhannya juga sangat menonjol ini yang sedang kita bahas ke Dubes RI di Vietnam,” kata Joko. Menurut dia, dengan terbukanya pasar-pasar baru produk kelapa sawit, bakal memperluas diversifikasi pasar ekspor sawit. Di mana, 70 persen produksi minyak sawit Indonesia menempati pangsa pasar global sedangkan sisanya di dalam negeri. Diversifikasi pasar juga sekaligus merespons kampanye negatif yang dilakukan Uni Eropa hingga langkah pelarangan yang kini tengah dalam proses penyelesaian di World Trade Organization (WTO). “Kita harus siap hadapi ancaman, itu makanan sehari-hari jadi tidak perlu kaget. Kita harus yakinkan bahwa sawit berkelanjutan dengan kompetisi semaksimal mungkin,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, para produsen biofuel kini juga tengah mencari pasar-pasar baru untuk ekspor. Pasalnya, banyak hambatan perdagangan yang dilakukan oleh negara mitra dagang. Salah satunya, soal tuduhan subsidi dan dumping biodiesel dari Indonesia oleh Pemerintah Amerika Serikat. Ia mengatakan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan telah mengajukan gugatan kepada pengadilan di New York. Selain itu, kebijakan Renewable Energy Directive II oleh Uni Eropa yang akhirnya melarang penggunaan minyak sawit, termasuk dari Indonesia. Paulus mengatakan, pemerintah telah mengajukan gugatan ke WTO dan telah mendapatkan nomor perkara. Pada 29 Juli 2020, kata dia, pemerintah telah meminta WTO untuk membentuk panel kehakiman. Kasus selanjutnya, tuduhan subsidi biofuel dari Uni Eropa kepada Indonesia. Ia menjelaskan, pihaknya telah mengadakan konsultasi dengan pihak Uni Eropa. Namun, sikap Uni Eropa tetap tidak berubah dan alasan-alasan rasional yang disampaikan tidak diterima. “Itu juga akan ke WTO. Tapi oleh pemerintah karena kalau ranah WTO itu langsung oleh pemerintah,” kata dia.

https://republika.co.id/berita/qey7w3383/industri-sawit-mulai-fokus-perluas-pasar-asean

Globalplanet.news | Rabu, 12 Agustus 2020

Sejuta Manfaat Sawit, Peluang Kemandirian Energi

Fakta dan mitos seputar kelapa sawit terus berkembang. Industri kelapa sawit terus dihadapkan isu negatif yang tidak berlandaskan fakta, padahal faktanya memberikan sejuta manfaat dan peluang Indonesia memiliki kedaulatan energi. Hal ini disampaikan Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Aprobi (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia) dalam Webinar Grow with Sawit Part III dengan tema “Sejuta Manfaat Sawit: Proses dan Produk Hilirisasi Sawit”. Webinar series ini merupakan gelaran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel yang diikuti sebanyak 180 peserta, Rabu (22/08/2020). Paulus Tjakrawan mengatakan, bahan bakar fosil terus berkurang. Dahulu Indonesia adalah negara penghasil minyak sehingga saat itu terlibat mendirikan OPEC. Indonesia serdiri pernah menjadi presiden OPEC. “Pada era 70 sampai 80-an anggaran belanja negara ini 80% dari minyak. Kemudian terus menurun dan bahan bakar nabati diantaranya biodiesel dari sawit menjadi pilihan karena bahan baku yang tersedia kapanpun. Sebelumnya sempat melirik tanaman Jarak,” katanya.  Minyak kelapa sawit menjadi alternatif karena memiliki banyak keunggulan. Manfaat yang didapatkan bukan hanya dari sisi ekonomi, namun juga lingkungan.  

Secara ekonomi, penggunaan biodiesel berdampak pada pengurangan impor solar sehingga menghemat devisa. “Pemakaian bahan bakar di Indonesia sekitar 1,4 juta barel per hari. Sedangkan Indonesia menghasilkan hanya 778 ribu barel per hari. Berdasarkan data, pengurangan impor minyak solar terlihat cukup signifikan sejak empat tahun terakhir,” ujarnya. Contoh pada 2017, Indonesia mampu mengurangi 2,5 juta kiloliter (kl) atau setara USD 1,1 miliar. Lalu pada 2019 biodiesel mampu menghemat devisa sekitar Rp50 triliun atau setara USD3,34 miliar.  Proyeksi 2020, pengurangan impor solar mencapai 9,6 juta kl atau setara USD 5 miliar. Saat ini program biodiesel telah mencapai B30 dan target B40 di pertengan tahun depan. Kapasitas saat ini 11,6 juta kl terpasang dari 19 perusahaan. “Proyeksi tahun ini kapasitas akan bertambah 3,5 juta kl kalau tidak ada Covid-19. Tahun selanjutnya bertambah 3 juta lagi,” katanya. Kemudian dari sisi lingkungan, Indonesia telah mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 45 persen pada 2019. Setara dengan 17,5 juta ton CO2 equivalent. Artinya biodiesel jauh lebih ramah lingkungan. Lebih tidak beracun dibandingkan solar, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih kecil dan mengurangi polusi. Menariknya, sawit tak hanya ke biodiesel. Potensinya begitu luas untuk membuat energi terbarukan lainnya green diesel, green gasoline, dan green avtur. Kemudian biogas, biomass, dan electricity. Dia meyakini, industri ini akan berdampak besar nantinya. Jika industri maju, negara maju, tentu bahan bakar yang dibutuhkan akan lebih besar. “Saya sering dengar negara lain mengurangi produksi biofuel, tapi buktinya sampai sekarang produksi bahan bakar nabati (BBN) ini selalu bertambah 10 tahun terakhir. Bertambah 100 persen atau dua kali lipat,” tuturnya.

http://globalplanet.news/berita/27821/sejuta-manfaat-sawit-peluang-kemandirian-energi

Investor.id | Rabu, 12 Agustus 2020

Di Tengah Pandemi, Ekspor dan Harga Sawit Membaik

Di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia, industri minyak kelapa sawit masih menunjukkan kinerja yang positif. Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) meski ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) turun 11% pada semester I-2020, nilai ekspor komodoti sawit naik dari US$ 1,474 miliar menjadi US$ 1,624 miliar. Dari sisi harga, harga CPO juga masih menunjukkan kenaikan dari rata-rata US$ 526 pada bulan Mei menjadi US$ 602 per ton-Cif Rotterdam pada bulan Juni. Demikian dikemukakan Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam press conference Gapki secara virtual di Jakarta, Rabu (12/8/2020). Hadir dalam acara ini antara lain Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, Ketua Apolin Rapolo Hutabarat, Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, dan Ketua Bidang Komunikasi Gapki Tofan Mahdi. Joko Supriyono menjelaskan, penurunan ekspor CPO terjadi karena berbagai negara tujuan ekspor seperti Eropa, India, dan Tiongkok melakukan lockdown akibat pandemi Covid -19.    “Sebanyak 70% sawit yang diproduksi di dalam negeri diekspor. Sementara permintaan dari hampir semua negara tujuan ekspor terkontraksi karena lockdown sejak awal tahun,” jelasnya. Joko mengatakan, jika dibandingkan Januari-Juni 2019 produksi CPO dan palm kernel oil (PKO) Januari-Juni 2020 sebesar 23.504 ribu ton adalah 9,2% lebih rendah, konsumsi dalam negeri sebesar 8.665 ribu ton atau 2,9 % lebih tinggi, volume ekspor adalah 15.503 ribu ton atau 11,7% lebih rendah dan nilai ekspornya 6,4% lebih tinggi menjadi senilai US$ 10.061 juta. “Produksi bulan Juni yang lebih tinggi dari bulan Mei 2020 diduga selain karena carry over produksi bulan Mei yang terkendala karena lebaran juga sebagian provinsi telah masuk ke periode tren produksi naik,” katanya. Menurut Joko, konsumsi dalam negeri bulan Juni yang masih lebih rendah dibandingkan dengan bulan Mei, diduga masih disebabkan oleh PSBB.

Konsumsi untuk pangan turun 3,9% menjadi 638 ribu ton. “Persentase penurunan konsumsi pangan lebih rendah dari rata-rata penurunan 3 bulan sebelumnya sebesar 5,4%,” jelasnya. Sedangkan konsumsi biodiesel, pada Juni turun sebesar 5,4% dari bulan Mei menjadi 551 ribu ton. Dibandingkan dengan Januari-Juni 2019, konsumsi biodiesel 2020 adalah 25% lebih tinggi dikarenakan implementasi program B30. Konsumsi dalam negeri bulan Juni untuk oleokimia masih naik dengan 6,8% dibandingkan bulan Mei meskipun dengan laju yang lebih rendah. Kenaikan ekspor cukup tinggi pada bulan Juni, setelah turun pada bulan sebelumnya. Joko memaparkan, kenaikan terjadi pada CPO (31%), refined palm oil (10,2%), minyak laurik (6%) dan juga adanya ekspor biodiesel. Kenaikan terbesar untuk ekspor dengan tujuan India (52%) menjadi 583 ribu ton, Afrika (43,3%) menjadi 271 ribu ton, Tiongkok (33%) menjadi 440 ribu ton, dan Pakistan (32%) menjadi 203 ribu ton. Kenaikan ekspor CPO ke India mencapai 206 ribu ton dari total kenaikan sebesar 200 ribu ton, namun terjadi penurunan pada ekspor produk lain terutama refined palm oil. Joko menilai permintaan akan minyak nabati untuk kebutuhan domestik di Tiingkok, India, dan banyak Negara akan naik menyusul mulai pulihnya kegiatan ekonomi. Demikian juga Indonesia, kegiatan ekonomi sudah mulai pulih sehingga ke depan permintaan minyak sawit untuk pangan diperkirakan juga akan naik mengikuti permintaan oleokimia dan biodiesel. Kenaikan permintaan dan membaiknya harga minyak bumi diperkirakan akan menyebabkan harga minyak nabati naik.

https://investor.id/business/di-tengah-pandemi-ekspor-dan-harga-sawit-membaik

Katadata.co.id | Kamis, 13 Agustus 2020

Realisasi Investasi Pabrik Biodiesel Terhambat Pandemi Corona

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menargetkan tambahan produksi sebesar 3,6 juta kiloliter pada tahun ini. Namun, target tersebut terancam tak tercapai karena investasi pembangunan pabrik baru biodiesel terhambat pandemi corona. “Terjadi perlambatan karena pabrik yang akan didirikan kesulitan, dengan tenaga ahli yang tidak bisa masuk karena Covid-19,” kata Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan dalam webinar sawit, Rabu (12/8). Selain kendala di dalam negeri, investasi tersebut juga terhambat lantaran para investor tidak bisa berkunjung ke Indonesia selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Meski begitu, ia memastikan investasi tersebut tidak dibatalkan. Guna mengatasi kendala ini, pihaknya tengah berupaya bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Tenaga Kerja, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Paulus berharap, pemerintah dapat mempermudah izin pembangunan pabrik, sehingga investasi tersebut bisa terealisasi.

Peningkatan kapasitas produksi tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan biodiesel yang diperkirakan naik sekitar 3,2 juta kiloliter. Kenaikan itu dipicu oleh adanya program bauran bahan bakar biodiesel 40% (B40) yang dimulai pada tahun depan.  Adapun saat ini, program B40 masih dalam tahap uji jalan oleh pemerintah dan asosiasi terkait. Aprobi mencatat, saat ini kapasitas terpasang pabrik biodiesel saat ini mencapai 11,6 juta kiloliter. Pada 2021, asosiasi menargetkan ada peningkatan kapasitas sebesar 3 juta kiloliter. “Itu sudah komitmen,” ujar dia. Sepanjang semester I 2020, total produksi biodiesel mencapai 4,87 juta kiloliter. Adapun, produksi biodiesel pada Juni 2020 rpoduksinya menurun 5,8% menjadi 645,05 ribu kiloliter dibandingkan Juni 2020 sebesar 685,3 ribu kiloliter. Sementara itu, total konsumsi biodiesel domestik pada semester I 2020 mencapai 4,1 juta kiloloter. Khusus di bulan Juni, konsumsi biodiesel menurun3,8% menjadi 643,6 ribu dibandingkan Mei sebesar 669,7 ribu. Ia pun beharap, konsumsi biodiesel akan meningkat secara bertahap sejalan dengan program B30 di masa Covid-19. Hal ini dapat dilakukan dengan penyesuaian dukungan BPDPKS, seperti menaikkan pungutan ekspor. Kemudian, perlu ada pengurangan rentang harga solar dan harga biodiesel untuk meningkatkan permintaan serta dukungan anggaran pemerintah. Indonesia merupakan salah satu produsen biodiesel terbesar dunia. Produksi minyak sawit yang berlimpah mendukung produksi bahan bakar diesel yang dicampur dengan minyak nabati (minyak sawit).

Mandatori pemakaian bahan bakar diesel dengan kandungan minyak sawit sebesar 20% (B20) telah mendongkrak permintaan biodiesel di Tanah Air. Kendati memiliki potensi penyerapan yang besar di dalam negeri, ekspor biodiesel kerap menghadapi kendala dan hambatan dagang.  Salah satu negara yang gencar menjegal produk tersebut yakni Uni Eropa.  Produk biodiesel Indonesia terkena bea masuk anti-subsidi atu countervailing duties (CVD) oleh Benua Biru sejak Agustus 2019. Alhasil, ekspor biodiesel Indonesia ke Benua Biru menurun drastis sejak terkena hambatan dagang tersebut. “Ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa turun drastis 99,99%,” kata Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam diskusi sawit, Senin (15/6). Kemendag mencatat, ekspor biodiesel ke Uni Eropa pada periode Januari-Maret 2019 mencapai 155,1 ribu ton. Sedangkan sepanjang triwulan I 2020, Indonesia sama sekali tak mengekspor biodiesel ke Benua Biru akibat pengenaan CVD tersebut. Sepanjang tahun lalu, total ekspor biodiesel ke Uni Eropa mencapai 501,9 ribu ton. Jumlah tersebut menurun bila dibandingkan total ekpsor biodiesel ke Uni Eropa pada 2018 sebesar 807,4 ribu ton. Sebagaimana diketahui, biodiesel Indonesia ke Uni Eropa terkena bea masuk anti-subsidi sebesar 8-18%. Pemerintah pun telah menempuh berbagai cara untuk mengembalikan ekspor, baik melalui forum dengar pendapat hingga menyampaikan submisi dengan Uni Eropa.

https://katadata.co.id/ekarina/berita/5f341b0eb78c2/realisasi-investasi-pabrik-biodiesel-terhambat-pandemi-corona

BERITA BIOFUEL

Kontan.co.id | Rabu, 12 Agustus 2020

BWPT berharap tren harga minyak sawit membaik dan kebijakan biodiesel berjalan lancar

PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) berharap dapat membukukan kinerja positif hingga akhir tahun 2020. Harapan ini berpedoman pada membaiknya harga minyak sawit dunia belakangan ini. Membaiknya harga minyak kelapa sawit ini dikabarkan akibat dari meningkatnya kebutuhan minyak kelapa sawit dunia terutama dipicu peningkatan impor oleh China. Sementara stok produksi minyak kelapa sawit khususnya Malaysia justru menurun. “Perseroan dapat memanfaatkan momentum yang baik ini guna mendongkrak kinerja hingga akhir tahun dan diharapkan terus berlanjut di masa mendatang,” kata Henderi Djunaidi, Direktur BWPT, pada paparan publik perseroan secara virtual, Rabu (12/8). Selain membaiknya harga minyak kelapa sawit, seperti diketahui, dorongan pemerintah dalam pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar melalui kebijakan B30 yang terus dipercepat terwujudnya B100, telah memberikan prospek jangka panjang bagi komoditas kelapa sawit ini. Henderi menjelaskan, meski situasi makro dalam jangka pendek ini memberikan harapan positif, Perseroan harus tetap berhati-hati dalam pengelolaan operasional dan keuangan agar tetap berjalan secara optimal dan berkesinambungan. “Pengelolaan produktivitas tandan buah segar dan minyak kelapa sawit juga membutuhkan kecermatan dan strategi agar tepat dalam pemanfaatan momentum ini,” katanya. Salah satu strategi Perseroan, lanjutnya, adalah menjaga dan meningkatkan kualitas produksi tandan buah segar dan minyak kelapa sawit secara konsisten sehingga mendapatkan harga premium. Berdasarkan kinerja hingga periode semester pertama tahun ini, Perseroan mencatat kenaikan pendapatan usaha sebesar 1% dibanding periode yang sama atau menjadi Rp 1,2 triliun. Peningkatan ini lebih dikontribusikan oleh faktor kenaikan harga. Adapun perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 428,6 miliar di semester pertama tahun ini atau turun sebesar 15% secara tahunan.

https://industri.kontan.co.id/news/bwpt-berharap-tren-harga-minyak-sawit-membaik-dan-kebijakan-biodiesel-berjalan-lancar

Republika.co.id | Rabu, 12 Agustus 2020

ESDM Ubah Lagi Formula Harga Solar

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali melakukan perubahan formula harga bahan bakar minyak (BBM). Jika sebelumnya harga solar antara Pertamina dan AKR selaku penyalur solar bersubsidi punya satu formula, kini, pemerintah memberlakukan dua perhitungan yang berbeda bagi dua perusahaan ini. Peraturan Menteri ESDM Nomor 148 K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan memberikan nilai penambahan yang lebih murah bagi AKR dibandingkan Pertamina. Harga minyak solar (gas oil) yang disediakan dan didistribusikan oleh PT Pertamina (Persero), formulanya ialah 97,5 persen HIP minyak solar ditambah Rp 900 per liter. Sementara, harga solar yang disediakan dan didistribusikan oleh PT AKR Corporindo, Tbk ditetapkan dengan formula 97,5 persen HIP solar ditambah Rp 843 per liter.

Harga minyak tanah (kerosene) ditetapkan dengan formula 102,49 persen Harga Indeks Pasar (HIP) minyak tanah ditambah Rp 263 per liter. Formula harga dasar untuk Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan jenis bensin (gasoline) RON minimum 88 ditetapkan dengan formula 96,46 persen HIP bensin RON minimum 88 ditambah Rp 821 per liter. “Formula harga dasar tersebut digunakan sebagai acuan untuk menetapkan harga dasar setiap liter jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan,” dikutip dari situs Ditjen Migas Kementerian ESDM, Rabu (12/8). Selain itu, bila diperlukan maka formula harga dasar yang baru dapat dievaluasi dengan mempertimbangkan realisasi faktor yang mempengaruhi penyediaan dan pendistribusian jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan.

https://republika.co.id/berita/qez8bw370/esdm-ubah-lagi-formula-harga-solar

Leave a Reply

Your email address will not be published.