Pandemi, Pemangku Kepentingan Program B30 agar Berbagi Peran

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Beritasatu.com | Rabu, 17 Juni 2020

Pandemi, Pemangku Kepentingan Program B30 agar Berbagi Peran

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sri Adiningsih mengatakan mandatori biodiesel 30 (B30) merupakan program prioritas nasional. Oleh karena itu, program ini perlu diteruskan untuk penyelamatan dan pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19. Sri Adiningsih memaklumi kondisi saat ini dinilai berat. “Di masa pandemi, pemerintah perlu mengantisipasi dampak dan pemulihan ekonomi,” kata dia ketika dihubungi wartawan, Rabu (17/6/2020). B30 merupakan bahan bakar minyak untuk mesin diesel, yang campurannya terdiri atas 30 persen minyak kelapa sawit dan 70 persen solar. Di tengah pandemi, Sri menyarankan semua pemangku kepentingan terkait program B30, berbagi peran agar program ini tetap dilaksanakan. Misalnya, dunia usaha harus merelakan keuntungannya dikurangi seiring meningkatnya pungutan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, per 1 Juni lalu. Sementara produsen biodiesel melakukan efisiensi supaya produk yang dihasilkan harganya lebih kompetitif. Adapun pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 2,78 triliun kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk keberlanjutan program ini. Menurut Sri Adiningsih, alokasian anggaran negara tersebut tidak perlu dipersoalkan mengingat B30 yang merupakan bagian dari program energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) ini di awal-awal pelaksanaannya membutuhkan biaya tidak murah. “Di mana saja memang begitu. Brasil, Jerman dan di negara-negara yang akhirnya memberlakukan EBTKE, di awal melakukan subsidi. Tapi saat kapasitas produksinya banyak maka dengan sendirinya akan efisien,” tutur Sri Adiningsih.

Menurut Sri Adiningsih, program ini harus tetap dilaksanakan meski saat ini harga solar lebih murah dibandingkan biodiesel. Perlu diingat bahwa, harga solar fluktuatif dan pernah di atas harga CPO yang merupakan bahan baku biodiesel, seperti terjadi pada 2019. Program EBTKE itu, kata Sri Adiningsih, ke depan menjadi keharusan. Dunia ini tidak mungkin terus-terusan mengandalkan minyak bumi dan batu bara. Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat MP Manurung mengatakan program B30 menyelamatkan harga tandan buah segar (TBS) petani. Rata-rata harga TBS sejak Februari-Mei 2020 lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Padahal di tahun ini terjadi pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan semua sendi perekonomian dunia. Gulat mengatakan, harga TBS pada periode Februari-Mei 2020 relatif stabil di kisaran Rp 1.600-Rp 1.800 per kilogram (kg). Sementara itu pada periode yang sama tahun lalu harga rata-rata TBS petani hanya di kisaran Rp 1.100 per kg, bahkan ada yang sampai di bawah Rp 1.000. Menurut Gulat, stabilnya harga TBS di angka yang menguntungkan petani ini dipicu oleh implementasi B30. Pasalnya, industri biodiesel per tahunnya membutuhkan sekitar 7,8 juta ton CPO. “Nah dengan terpakainya 7,8 juta ton CPO tersebut mengkatrol harga TBS,” kata Gulat. Selain karena adanya penambahan pasar CPO di dalam negeri sebesar itu, kata Gulat, stabilnya harga TBS di tingkat yang menguntungkan petani tersebut juga dipicu oleh kebijakan Pemerintah Malaysia yang memberlakkan lockdown. Akibatnya, Malaysia sebagai produsen CPO nomor dua setelah Indonesia ini tidak bisa melakukan kegiatan ekspor.

https://www.beritasatu.com/ekonomi/646017/pandemi-pemangku-kepentingan-program-b30-agar-berbagi-peran

Liputan6.com | Rabu, 17 Juni 2020

Masuk Program Prioritas, Mandatori B30 Harus Berlanjut

Pemerintah memasukkan Mandatori B30 dalam program prioritas nasional. Program ini dinilai perlu berlanjut demi penyelamatan dan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sri Adiningsih mengakui jika kondisi saat ini sangat berat. Mesko demikian, pemerintah telah bekerja keras untuk mengatasi pandemi Covid-19. Mulai dari mengatasi dampak hingga langkah pemulihan ekonomi. Menurut dia, jika terjadi krisis seperti saat ini yang perlu dilakukan adalah melakukan penyesuaian terhadap program pembangunan yang sudah berjalan. Khusus program B30, semua pemangku kepentingan dinilai sebaiknya berbagi peran agar program ini tetap bisa terlaksana. “Misalnya saja, dunia usaha harus merelakan keuntungannya dikurangi seiring dengan meningkatnya pungutan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya, per 1 Juni lalu,” jelas dia seperti melansir Antara, Rabu (17/6/2020). Sementara itu, produsen biodiesel harus melakukan efisiensi supaya harga produk yang dihasilkan bisa lebih kompetitif. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp 2,78 triliun kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk keberlanjutan program ini. Menurut Sri Adiningsih, pengalokasian anggaran negara tersebut tidak perlu dipersoalkan mengingat B30 yang merupakan bagian dari program energi baru terbarukan dan konservasi energi (EBTKE) ini memang membutuhkan biaya yang tidak murah pada awal pelaksanaannya. “Di mana saja memang begitu. Brasil, Jerman dan di negara-negara yang akhirnya memberlakukan EBTKE, di awal-awalnya semuanya juga melakukan subsidi. Jadi, program ini harus tetap dilaksanakan walaupun saat ini harga solar lebih murah dibandingkan dengan biodiesel,” lanjut dia. Program EBTKE itu, dikatakan ke depan menjadi keharusan, karena tidak mungkin terus-terusan mengandalkan minyak bumi dan batu bara, sebaliknya Indonesia beruntung memiliki sawit melimpah yang menjadi resources untuk energi.

Selamatkan Harga TBS

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat MP Manurung mengatakan program B30 mampu menyelamatkan harga tandan buah segar (TBS) petani. Rata-rata harga TBS sejak Februari-Mei 2020 lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, padahal di tahun ini terjadi pandemi Covid-19 yang menurunkan perekonomian dunia. Gulat mengatakan, harga TBS pada periode Februari-Mei 2020 relatif stabil di kisaran Rp1.600-Rp1.800/kg sementara pada periode yang sama tahun lalu di kisaran Rp1.100/kg bahkan ada yang sampai di bawah Rp1.000. “Stabilnya harga TBS di angka yang menguntungkan petani ini dipicu oleh implementasi B30. Pasalnya, industri biodiesel per tahun membutuhkan sekitar 7,8 juta ton CPO,” katanya. Selain itu, stabilnya harga TBS di tingkat yang menguntungkan petani tersebut juga dipicu oleh kebijakan Pemerintah Malaysia yang memberlakukan lockdown akibatnya sebagai produsen CPO nomor dua setelah Indonesia, negara itu tidak bisa melakukan ekspor. Pemicu lainnya menurut dia, adanya tambahan permintaan dari industri sanitasi dunia sejak pandemi COVID-19, sehingga pemanfaatan CPO untuk deterjen dan produk sanitasi lainnya, meningkat 2,5-3,5 persen yang dikirim ke seluruh dunia

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4282055/masuk-program-prioritas-mandatori-b30-harus-berlanjut

Medcom.id | Rabu, 17 Juni 2020

Pertumbuhan Energi Terbarukan Indonesia Tertinggi di Dunia

Indonesia menjadi negara menyumbang pertumbuhan energi terbarukan terbesar di dunia, salah satunya tercermin dari peningkatan produksi biodiesel sebesar 13 persen, mengalahkan Amerika Serikat yang mengalami penurunan produksi biodiesel sekitar tujuh persen. Indonesia juga meluncurkan mandat untuk mencampur biodiesel 30 persen dalam solar (B30), naik dari persyaratan 20 persen sebelumnya sehingga merupakan bauran wajib tertinggi di dunia. Berdasarkan data Laporan Status Global Terbarukan 2020 yang dirilis REN21, secara keseluruhan Indonesia menyumbang pengembangan biodiesel di dunia dalam rangka peningkatan energi baru terbarukan. “Tahun demi tahun kami melaporkan keberhasilan demi keberhasilan di sektor energi terbarukan yang mengalahkan bahan bakar lain dalam hal pertumbuhan dan daya saing. Tetapi laporan kami juga mengirim sinyal peringatan yang jelas bahwa kemajuan di sektor kelistrikan hanya bagian kecil dari situasi yang sesungguhnya. Jika kita tidak mengubah seluruh sistem energi, kita menipu diri sendiri,” kata Direktur Eksekutif REN21 Rana Adib seperti dilansir Antara, Rabu, 17 Juni 2020.

Selain itu, harapan mengenai energi terbarukan terus meningkat dan membuat kemajuan. Namun di saat bersamaan, arah menuju bencana iklim juga terus berlanjut -kecuali bila ada langkah konkret untuk segera beralih ke energi yang efisien dan terbarukan di semua sektor setelah pandemi covid-19. Untuk pembangkit panas bumi, diperkirakan ada 0,7 GW kapasitas baru yang mulai beroperasi pada 2019, menjadikan total global sekitar 13,9 GW. Seperti tahun 2018, Turki dan Indonesia memimpin dengan instalasi baru, diikuti oleh Kenya; bersama-sama ketiga negara mewakili tiga perempat instalasi baru secara global. Laporan REN21 menunjukkan keberhasilan energi terbarukan di sektor kelistrikan tidak dibarengi dengan kesuksesan di sektor lain seperti pemanasan, pendinginan, dan transportasi. Menurut laporan tersebut, hambatannya masih hampir sama dengan 10 tahun lalu. “Kita harus berhenti memanaskan rumah kita dan mengendarai mobil kita dengan bahan bakar fosil,” ujar Adib. Setelah penurunan ekonomi yang luar biasa akibat covid-19, International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa emisi CO2 terkait energi akan turun hingga delapan persen tahun ini. Tetapi emisi tahun 2019 tetap yang tertinggi yang pernah ada, dan penurunan akibat pandemi itu hanya sementara. Sementara, untuk memenuhi target Perjanjian Paris membutuhkan penurunan tahunan setidaknya 7,6 persen selama 10 tahun ke depan. Adib mengatakan sekalipun kebijakan lockdown berlanjut selama satu dekade, perubahan itu tidak akan cukup. Dengan sistem dan aturan pasar saat ini, dibutuhkan komitmen dunia selamanya untuk mendekati sistem tanpa karbon.

https://www.medcom.id/ekonomi/sustainability/GNl47d5N-pertumbuhan-energi-terbarukan-indonesia-tertinggi-di-dunia

Gridoto.com | Rabu, 17 Juni 2020

Biodiesel B30 Bikin Ruang Bakar Mesin Diesel Cepat Korosif, Kok Bisa?

Biodiesel B30 merupakan jenis bahan bakar campuran petrolium diesel dengan senyawa nabati yang diambil dari olahan minyak sawit. Biodiesel B30 dirancang untuk menurunkan kadar sulfur dari bahan bakar diesel murni agar hasil pembakaran lebih bersih. Meski begitu, ada potensi penggunaan bahan bakar biodiesel B30 di mobil diesel bisa mengakibatkan ruang bakar mesin korosif. “Biodiesel B30 cenderung punya kadar asam yang cukup tinggi karena senyawa nabati yang digunakan sebagai campuran,” ungkap Alvin Suwarna, Director PTT Oil Indonesia kepada GridOto.com.  Menurut Alvin, kandungan nabati sejatinya dihasilkan dari makhluk hidup, dimana akan terdapat bakteri hidup di dalamnya. “Pertumbuhan bakteri ini memicu peningkatan kadar asam dari cairan bahan bakar di dalam mobil,” terang Alvin. “Sewaktu dikabutkan ke bahan bakar, senyawa asam mempercepat material logam piston dan dinding silinder lebih cepat korosif,” jelas Alvin. Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung menekankan mikroba atau bakteri hidup punya potensi tumbuh di bahan bakar biodiesel. “Karena biodiesel dibuat menggunakan metil ester asam lemak yang cenderung menarik uap air dari udara saat kondensasi, ketika tercampur air disitulah mikroba bisa tumbuh,” tutur Tri. Namun Tri menegaskan, pertumbuhan mikroba sampai mengubah kadar asam bahan bakar diesel bisa terjadi bila tangki bahan bakar sering dalam keadaan kosong dan dibiarkan lama mengendap tanpa dikuras atau sirkulasi.

https://www.gridoto.com/read/222197397/biodiesel-b30-bikin-ruang-bakar-mesin-diesel-cepat-korosif-kok-bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published.