Penyerapan Biodiesel di Semester I-2020: Better than Before

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Wartaekonomi.co.id | Jum’at, 4 September 2020

Penyerapan Biodiesel di Semester I-2020: Better than Before

Implementasi B30 sebagai inovasi bahan bakar menuju green energy di Indonesia memang sudah menjadi salah satu upaya dan komitmen pemerintah untuk mencapai daulat dan mandiri energi. Sejak diimplementasikan pada Januari 2020 lalu, penyerapan B30 dalam negeri hingga Semester I-2020 tercatat sebanyak 4,36 juta kiloliter atau sudah mencapai 68 persen dari angka penyerapan B20 di sepanjang tahun 2019. Data Kementerian ESDM mencatat, penyerapan konsumsi biodiesel naik signifikan sejak tahun 2016. Pada 2018, konsumsinya tercatat sebesar 3,75 juta kiloliter atau meningkat hampir 50 persen dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 2,57 juta kiloliter. Kebijakan mandatori dengan campuran FAME meningkat menjadi 30 persen berlanjut hingga 2019 sehingga konsumsi biodiesel berada pada angka 6,39 juta kiloliter. Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, mengatakan, “Pandemi ditengarai sedikit memperlambat penyerapan biodiesel akibat penurunan serapan sektor transportasi. Namun, pemerintah optimis, di akhir tahun penyerapan FAME lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebagai dampak implementasi B30.” Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan, mengatakan agar program mandatori B30 tetap berjalan meski di tengah banyak tantangan memang terdapat sejumlah hal yang perlu dilakukan. “Dengan penyesuaian dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) seperti menaikkan pungutan ekspor, pengurangan rentang harga solar dan biodiesel yang sudah dilakukan dalam tiga bulan ini, serta janji adanya pemberian dukungan anggaran dari pemerintah,” terangnya. Lebih lanjut Paulus juga menambahkan, “Dengan kondisi pandemi ini, investasi biodiesel juga melambat, baik untuk pengembangan maupun investasi baru. Namun, anggota kami tetap berupaya mempercepat investasi baru. Pandemi membuat ahli yang dibutuhkan untuk membangun pabrik terhambat masuk ke Indonesia, tapi ini akan dipercepat.”

https://www.wartaekonomi.co.id/read302582/penyerapan-biodiesel-di-semester-i-2020-better-than-before

BERITA BIOFUEL

Republika.co.id | Jum’at, 4 September 2020

Penyerapan Biodiesel Hingga Tengah Tahun Capai 4,36 Juta Kl

Hingga pertengahan tahun ini tercatat penyerapan biodiesel telah mencapai 4,36 juta kilo liter (kl) atau sudah mencapai sekitar 68 persen dibanding angka penyerapan sepanjang 2019. “Pandemi ditengarai sedikit memperlambat penyerapan biodiesel akibat penurunan serapan sektor transportasi, namun pemerintah optimistis di akhir tahun penyerapan FAME lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebagai dampak implementasi B-30,” kata Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Jumat (4/9). Peningkatan konsumsi biodiesel naik signifikan sejak 2016. Pada 2018, konsumsinya sebesar 3,75 juta kl atau meningkat hampir 50 persen dibandingkan pada 2017 dengan penyerapan sebesar 2,57 juta kl. Kebijakan mandatori berlanjut hingga 2019 sehingga konsumsi biodiesel berada pada angka 6,39 juta kl. Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar diharapkan mampu memberikan multiplier efek yang lebih besar kepada para petani sawit. Dukungan dan apresiasi dari berbagai pihak dilontarkan, salah satunya disampaikan oleh Manajer Riset Traction Energy Asia, Ricky Amukti. “Ke depannya dengan mandatori ini kami berharap petani swadaya bisa secara langsung berkontribusi dalam rantai pasok biodiesel. Selain itu saya juga berharap ada kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong kontribusi tersebut,” kata Ricky pada kesempatan terpisah. Ricky memberikan apresiasi atas upaya pemerintah dalam mendukung para petani sawit melalui kebijakan pemanfaatan biodiesel ini. “Dalam beberapa kesempatan pun, Presiden selalu mengatakan biodiesel akan mampu menyerap sawit produksi petani, seperti yang terakhir beliau sampaikan dalam pidato presiden pada Sidang Paripurna 14 Agustus lalu. Semoga akan ada lompatan besar mendukung kesejahteraan petani tersebut,” katanya.

https://republika.co.id/berita/qg55eh349/penyerapan-biodiesel-hingga-tengah-tahun-capai-436-juta-kl

Kontan.co.id | Sabtu, 5 September 2020

Ada corona, serapan biodiesel nasional capai 4,36 juta KL di semester I-2020

Sejak diimplementasikan pada Januari 2020, campuran 30% biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) dalam minyak solar (B30) mendongkrak penggunaan biodiesel di dalam negeri. Hingga pertengahan tahun 2020, tercatat penyerapan biodiesel telah mencapai 4,36 juta kilo liter (kL) atau sekitar 68% dibanding angka penyerapan sepanjang tahun 2019. Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan, peningkatan konsumsi biodiesel naik signifikan sejak tahun 2016. Pada 2018, konsumsinya sebesar 3,75 juta kL atau meningkat hampir 50% dibandingkan pada 2017 dengan penyerapan sebesar 2,57 juta kL.  Kebijakan mandatori berlanjut hingga 2019 sehingga konsumsi biodiesel berada pada angka 6,39 juta kL. Namun, dia tak menampik bahwa pandemi Covid-19 dapat memperlambat penyerapan biodiesel.  “Pandemi ditengarai sedikit memperlambat penyerapan biodiesel akibat penurunan serapan sektor transportasi, namun Pemerintah optimis di akhir tahun penyerapan FAME lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebagai dampak implementasi B-30,” kata Agung dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (3/9). Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, pemanfaatan biodiesel untuk bahan bakar diharapkan mampu memberikan efek multiplier yang lebih besar kepada para petani sawit.   Manajer Riset Traction Energy Asia, Ricky Amukti berharap, dengan mandatori ini ke depannya petani swadaya bisa secara langsung berkontribusi dalam rantai pasok biodiesel. “Selain itu saya juga berharap ada kebijakan-kebijakan yang mampu mendorong kontribusi tersebut,” ungkap dia. Apalagi dalam beberapa kesempatan, Presiden Joko Widodo pun mengatakan biodiesel akan mampu menyerap sawit produksi petani. “Seperti yang terakhir beliau sampaikan dalam pidato presiden pada Sidang Paripurna 14 Agustus lalu. Semoga akan ada lompatan besar mendukung kesejahteraan petani tersebut,” pungkas Ricky.

https://industri.kontan.co.id/news/ada-corona-serapan-biodiesel-nasional-capai-436-juta-kl-di-semester-i-2020

Infosawit.com | Sabtu, 5 September 2020

Program Biodiesel Sawit, Siapa Menikmati?

Komunitas Industri sebenarnya telah siap sejak awal 2019, Kendaraan Niaga seperti Krama Yudha Berlian Motor dan Hino juga telah riset dan menyesuaikan dengan bahan bakar biosolar. PLN bahkan sejak 2018 telah menggunakan biosolar ini dan saat ini sedang meneliti kemungkinan penggunaan CPO (crude Palm Oil) langsung sebagai bahan bakar tanpa proses esterisasi terlebih dahulu. Produsen mesin diesiel Isuzu, Tata Motor dan Don Feng juga melakukan hal yang sama. Hasil Uji coba B30 pada beberapa kendaraan ternyata tidak ada masalah apapun termasuk pada bagian luar mesin seperti selang, tangki dan filter, hanya saja masih memerlukan penyempurnaan pada kadar airnya. Program mandatori biodiesel sudah mulai diimplementasikan pada tahun 2008 dengan kadar campuran biodiesel sebesar 2,5%. Secara bertahap meningkat menjadi 7,5% tahun 2010, 10 % tahun 2014, 15% tahun 2015, 20 % tahun 2018 dan menjadi 30% pada tahun 2020 dan akhirnya pada tahun 2024 menjadi 100%. Program B30-plus Berperan jadi bantalan penurunan harga CPO, karena alokasi ekspor ke Uni Eropa dapat diserap oleh permintaan domestik. Jika program B100 dijalankan maka akan ada 15 juta ton CPO yang dibutuhkan. Jumlah tersebut adalah sekitar 35% dari Produksi Nasional, sehingga akan terjadi kelangkaan CPO di pasar global, artinya ada kenaikan harga. Siapa yang akan menikmatinya, tentu perusahaan asing karena mereka memiliki 57% dari areal perkebunan kelapa sawit. Mungkin jika dihitung dari segi produksi bisa sampai ke level 60%. Sisanya 35% perkebunan rakyat dan hanya 7% BUMN.

https://www.infosawit.com/news/10190/program-biodiesel-sawit–siapa-menikmati-

CNBCIndonesia.com | Sabtu, 5 September 2020

Duit Iuran Sawit Terkumpul Rp 10,4 T, Cukup buat Subsidi B30?

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyebut dana pungutan ekspor kelapa sawit dan produk turunannya sampai dengan Agustus 2020 mencapai Rp 10,4 triliun. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman, kepada wartawan, Jumat (04/09/2020). Eddy mengatakan dari dana yang terkumpul ini akan dimanfaatkan untuk peremajaan sawit rakyat, mendukung program biodiesel, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan promosi lainnya. Dia pun menyebut dana pungutan ini akan cukup untuk memberikan subsidi biodiesel (B30) hingga akhir tahun ini. “Sampai dengan Agustus untuk tahun 2020 ini sudah dikumpulkan pungutan sebesar Rp 10,4 triliun. Insya Allah cukup (subsidi biodiesel sampai akhir tahun),” paparnya di Gedung Prijadi Praptosuhardjo Kementerian Keuangan Jumat, (04/09/2020). Namun demikian, menurutnya dana yang sudah disalurkan sampai Agustus lebih tinggi daripada iuran yang telah dipungut, yakni mencapai sebesar Rp 13,2 triliun. Tapi sayang dia tidak menjelaskan alasan lebih lanjut. Dana tersebut menurutnya untuk membiayai subsidi bahan campuran untuk biodiesel yakni Fatty Acid Methyl Ester (FAME) di mana sampai dengan Agustus 2020 sudah disalurkan sebanyak 4,8 juta kilo liter (kl). “Sampai akhir tahun diproyeksikan sebesar 8,25 juta kl (FAME yang digunakan di dalam negeri),” ungkapnya.

Dia mengakui secara volume ini lebih rendah dibandingkan target awal 2020 di mana untuk kebutuhan biodiesel diproyeksikan akan menghabiskan FAME sebanyak 9,6 juta kl. Turunnya serapan FAME ini menurutnya sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menurun. “Proyeksi kami di 8,25 juta kl sampai akhir tahun karena ada penurunan demand (permintaan) akibat pandemi,” tuturnya. Pandemi Covid-19 sampai hari ini belum selesai, oleh karena itu BPDPKS memproyeksikan kebutuhan FAME untuk 2021 mencapai 9,59 juta kl atau tidak ada perubahan dari alokasi tahun ini. “Sampai saat ini masih ditetapkan B30. Kami masih menunggu dari Komite Pengarah, apakah rencana B40 pada Juli 2021 akan tetap dilanjutkan. Nah kalau iya, B40 itu berasal dari campuran 30% FAME dan 10% dari D100 yang diproduksi Pertamina, di-mix sehingga jadi 40%,” paparnya

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200905083557-4-184599/duit-iuran-sawit-terkumpul-rp-104-t-cukup-buat-subsidi-b30

Republika.co.id | Jum’at, 4 September 2020

T.Care Gelar Aksi Sosial Atasi Masalah Jelantah di Jakarta

Berdasarkan hasil Penelitian Pengelolaan Limbah Minyak Goreng untuk Kegiatan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Lingkungan dan Kebersihan (Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta), ditemukan bahwa 97,6 persen masyarakat di DKI Jakarta membuang minyak jelantah ke saluran air dan ke tanah. Hal ini berarti setiap bulannya ada jutaan liter minyak jelantah yang berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu, penggunaan minyak goreng hingga lebih dari tiga kali penggorengan dampaknya dapat merusak gizi dan vitamin yang ada di makanan, juga berpotensi memicu penyakit kanker dan penyakit kritis lainnya. Oleh karena itu, perlu metode pengelolaan minyak jelantah dengan baik agar tidak merusak lingkungan maupun kesehatan.  Melihat masalah tersebut Tunasmuda Care (T.Care) tergerak untuk menjalankan program Jelantah Bawa Berkah dengan metode sedekah. Pada tahun 2020, T.CARE bekerjasama dengan perusahaan teknologi biodiesel dengan sertifikasi ISCC (Internasional) untuk mengumpulkan minyak jelantah di Jabodetabek.  Program pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga sebagai sedekah memiliki keselarasan dan bersifat saling dukung dengan program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga. Saat ini T.Care memfokuskan ruang gerak untuk Program Jelantah Bawa Berkah pada 5 kecamatan di Jakarta Timur, yakni Kecamatan Ciracas, Kecamatan Cipayung, Kecamatan Pasar Rebo, Kecamatan Kramat Jati, serta Kecamatan Makasar. “Satu bulan terakhir kami melakukan audiensi baik dari pihak kecamatan atau kelurahan setempat maupun terjun langsung untuk sosialisasi ke RT/RW untuk program Jelantah Bawa Berkah ini.” Cerita Pak Reby Bagja Herdian, selaku Manager Funding T.Care.

Program Jelantah Bawa Berkah ini mendapat respon yang positif dari kalangan masyarakat. Permintaan yang tinggi untuk pengadaan jerigen donasi jelantah di lingkungan masyarakat menjadi tanda bahwa masyarakat mulai peduli dengan masalah sosial-lingkungan terkait dengan masalah minyak jelantah.   Program ini pun mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Info melalui laman instagram @dinaslhdki, saat ini jerigen donasi jelantah T.Care sudah ada pada tiap ruang kerja di Kantor Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.  Harapannya karyawan di sana dapat membawa minyak jelantah dari rumahnya untuk didonasikan pada Program Jelantah Bawa Berkah. “Bukan hanya dalam bentuk rupiah dengan jelantah kita juga bisa sedekah,” kata Yogi Ikhwan, Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta (Jumat, 3/9).  T.Care membuka seluas-luasnya peluang menjadi #KolaboratorKebaikan dalam Program Jelantah Bawa Berkah agar semakin banyak manfaat yang dirasakan yatim maupun dhuafa dari sedekah program ini. Gunakan pula tagar #JelantahBawaBerkah dan #DonasiJelantah sebagai bentuk support sosial yang dapat dilakukan.

https://republika.co.id/berita/qg542h349/tcare-gelar-aksi-sosial-atasi-masalah-jelantah-di-jakarta

Merdeka.com | Jum’at, 4 September 2020

Imbas Corona, Serapan FAME Program B30 Tahun ini Diproyeksi Tak Capai Target

Alokasi serapan kebutuhan unsur nabati atau fatty acid methyl ester (FAME) untuk produksi biodiesel 30 persen (B30) pada 2020 telah ditetapkan sebanyak 9,59 juta kiloliter (KL). Sementara, sampai dengan Agustus 2020, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mencatat realisasi volume B30 yang sudah disalurkan sebanyak 4,98 KL. Dengan proyeksi serapan hingga akhir 2020 sebanyak 8,25 KL. “B30 dari Januari sampai Agustus (2020) ini volume yang sudah disalurkan 4,98 juta KL,” ujar Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrachman, usai launching dan penyerahan sabun cuci tangan dan penyanitasi berbahan sawit, di Gedung Prijadi Praptosuhardjo Kementerian Keuangan, Jumat (4/9). “Targetnya 9,59 KL, tapi proyeksi kita itu kemungkinan antara 8,25 juta sampai akhir tahun karena ada penurunan demand akibat pandemi,” sambung Eddy.

Target Serapan FAME 2021 Tetap 9,5 KL

Sementara itu, untuk proyeksi tahun depan Eddy menyebutkan tidak ada kenaikan, atau masih berpatok pada kisaran 9,5 KL untuk B30. “Tahun depan ya masih jadi kita perhitungkan ya 9,5 juta itu kira-kira seperti itu ya. Jadi tidak ada kenaikan,” kata dia. Kemudian untuk rencana B40 yang direncanakan dimulai pada Juli 2020, Eddy mengaku masih menunggu arahan dari komite terkait. “Jadi sampai sekarang ini masih ditetapkan B30. Kita masih menunggu dari komite pengarah, apakah target rencana B40 yang akan dimulai Juli tahun 2021 itu akan dilanjutkan (atau tidak). Kalau iya, itu nanti B40, yang 30 persen-nya itu dari FAME, yang 10 persen-nya dari D 100 yang pertamina itu. Nanti di-mix menjadi 40 persen,” jelas dia.

https://www.merdeka.com/uang/imbas-corona-serapan-fame-program-b30-tahun-ini-diproyeksi-tak-capai-target.html

Okezone.com | Minggu, 6 September 2020

Perdana, Pertamina Ekspor 200 Ribu Barel Solar HSD ke Malaysia

PT Pertamina (Persero) melalui Refinery Unit (RU) V Balikpapan, selaku pemain hilir, melakukan penyaluran perdana atau ekspor produk High Speed Diesel (HSD) 50 PPM Sulphur ke Malaysia sejumlah 200,000 Barrels atau setara dengan 31,800 KL melalui kapal MT. Ridgebury Katherine Z. Kapal yang mengangkut produk ini akan menempuh waktu 4-5 hari hingga sampai ke Malaysia dengan bernilai ekspor USD9,5 Juta. General Manager Refinery Unit (Kilang) V BalikpapanEko Sunarno mengungkapkan, bahwa produk ini merupakan hasil dari fraksi diesel di Unit Secondary Kilang RU V Balikpapan, memiliki kualitas Sulphur 50 ppm atau setara dengan produk diesel standard Euro 4. “Tentunya akibat pandemic covid-19 menyebabkan adanya penurunan demand akan bahan bakar, milestone yang baik bagi kita Pertamina terkhusus RU V untuk berkomitmen mengupayakan keberlanjutan pasokan energi dan operasional kilang dengan menjawab tantangan dan demand pasar akan produk HSD tersebut,” katanya dalam keterangan resminya, Minggu (6/9/2020).

Selain produk diesel yang berstandar Euro 4 dan memiliki kualitas Sulphur 0.005-%S atau 50 ppm, produk ini memiliki kelebihan lain yaitu Cetane Index minimal 50 (Cetane Number minimal 53), dan flash point minimal 60 derajat Celcius. Lebih lanjut, Eko menambahkan bahwa jenis BBM HSD 0.005%S ini sudah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. 20 Tahun 2017, yaitu ditetapkan spesifikasi BBM jenis Solar memiliki angka Cetane Number minimal 51 dan kandungan sulfur maksimal 50 ppm. “Patut berbangga, bahwa di Indonesia yang dapat memproduksi produk tersebut hanya RU V Balikpapan dengan kapasitas 200,000 Barrels per bulan dan RU II Dumai dengan kapasitas saat ini 100,000 Barrels per bulan,” tambahnya. Dia berharap setiap insan Pertamina terkhusus di Kilang RU V untuk melakukan inovasi. Sebab, produk ini merupakan satu bukti bahwa kilang Balikpapan memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan diri. “Ke depannya, akan ada rencana ekspor kembali pada periode Oktober hingga Desember 2020, sejumlah 200,000 Barrels ( 31,800 KL) setiap bulannya dengan tujuan pasar internasional,” tutup Eko.

https://economy.okezone.com/read/2020/09/06/320/2273373/perdana-pertamina-ekspor-200-ribu-barel-solar-hsd-ke-malaysia

Tribunnews.com | Sabtu, 5 September 2020

Menakar CPO Indonesia dan Sulsel Sebagai Energi Terbarukan di Masa Depan

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menyusun Peta Jalan Pengembangan Biofuel Berbasis Crude Palm Oil (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah untuk memenuhi target bauran energi 2020-2045. CPO turunannya merupakan penghasil Bio-diesel sama dengan energi terbarukan. Hal inilah yang mutlak menjadikan CPO sumber energi masa depan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM, Dadan Kusdiana menguraikan, peta jalan ini tidak akan berisi angka semata, namun sudah dilengkapi dengan pembagian tugas para pemangku kepentingan dan parameter keberhasilan program, termasuk peran litbang. Supervisi kegiatan ini adalah Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM. Penyusunan road map ini akan menjadi panduan, seberapa besar investasi untuk mencapai target yang ditetapkan, jumlah insentif, jumlah bahan baku, jenis bahan baku hingga cara mencapainya. Untuk mendukung pasokan CPO sebagai bahan baku biofuel, pemerintah akan mendorong produksi di wilayah timur Indonesia mengingat wilayah barat sudah mulai jenuh. Sulawesi Selatan juga penuh dengan potensi untuk CPO. Dari data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, produksi CPO sebesar 121.628 ton pada tahun 2020. Angka itu naik dari tahun 2019 dengan produksi 113.565 ton, atau tumbuh 6,72 persen. Secara nasional, Indonesia memproduksi 49.117.260 ton di tahun 2020. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai penghasil CPO terbesar di dunia mengalahkan Malaysia.

Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah sentra penghasil sawit di Sulawesi Selatan. Kebun kelapa sawit pada tahun 2018 seluas 18.360 hektar. Produksinya mencapai 336.426 ton tandan buah segar (TBS) per tahun. Kebun sawit Luwu Utara terdiri dari 2.987 hektare tanaman belum menghasilkan. Kemudian 14.097 hektare tanaman menghasilkan dan 1.375 hektare tanaman tua. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulawesi Selatan, La Tunreng menyampaikan, ada banyak turunan dari CPO yang bisa menjadi energi terbarukan. Salah satunya adalah cangkangnya yang bisa menjadi Bio Diesel. Cangkang Sawit berguna sebagai bahan bakar Boiler yakni mengubah limbah menjadi uap yang dapat menggerakkan mesin turbin. Selain itu, berfungsi pula untuk mengoperasikan segala mesin yang berbasis uap. Indonesia yang merupakan produsen cangkang sawit melimpah dapat memanfaatkan potensi pasar tersebut. “Cangkang Sawit adalah salah satu bahan energi terbarukan. Kami mendorong, pemerintah dan pengusaha menghadirkan teknologi yang bisa mengelola Cangkang Sawit sebagai energi terbarukan,” kata La Tunreng, Sabtu (5/9/2020). Tak hanya itu, dia meminta peran pemerintah dalam mendorong pengusaha dan seluruh pihak untuk menghadirkan teknologi itu. “Pemerintah harus mendukung pengusaha untuk menghadirkan teknologi energi terbarukan dari bahan dasar Cangkang Sawit. Pemerintah juga harus mendukung soal stimulus perpajakan supaya pengusaha bisa leluasa berinvestasi,” katanya. Salah satu bentuk dukungan pemerintah adalah pembebasan pajak produksi untuk Cangkang Sawit sebagai upaya mendukung energi terbarukan di Indonesia.

https://makassar.tribunnews.com/2020/09/05/menakar-cpo-indonesia-dan-sulsel-sebagai-energi-terbarukan-di-masa-depan?page=all

Leave a Reply

Your email address will not be published.