Pertamina Akan Keruk Minyak di Dalam dan Luar Negeri

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

CNNIndonesia.com | Selasa, 6 Oktober 2020

Pertamina Akan Keruk Minyak di Dalam dan Luar Negeri

PT Pertamina (Persero) menyatakan bakal meningkatkan kapasitas eksplorasi di blok minyak dan gas (migas) yang tersebar di dalam maupun luar negeri. Itu untuk mengejar target produksi 1 juta barel per hari pada 2023. Target produksi ini berasal dari pemerintah. Dari target itu, 40 persennya biasa diisi oleh Pertamina. “Pemerintah tetapkan target produksi 1 juta barel per hari di 2023. Tahun ini 750 ribu barel per hari dengan sekitar lebih dari 40 persennya dikontribusikan Pertamina. Nah, mulai tahun depan kami akan memberikan kontribusi yang lebih tinggi lagi,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam seminar yang diselenggarakan Lemhannas, Selasa (6/10). Dari dalam negeri, peningkatan produksi dan cadangan migas akan dilakukan dengan memaksimalkan blok migas yang sudah ada maupun yang baru. Salah satunya, Blok Rokan, yang belum lama dialihkelolakan ke perusahaan pelat merah itu. Nicke menargetkan kehadiran Blok Rokan bisa membuat produksi meningkat menjadi 420 ribu barel per hari. Lalu, meningkat lagi menjadi 1 juta barel per hari pada 2025. “Tapi ini belum cukup memenuhi kebutuhan di dalam negeri, sehingga kita masih impor hasil upstream,” ucapnya. Dari luar negeri, Nicke bilang saat ini Pertamina akan meningkatkan produksi dari 14 aset di luar negeri yang tersebar di Algeria, Malaysia, Irak, Kanda, Prancis, Italia, Nambia, Tanzania, Gabon, Nigeria, Kolombia, Angola, Venezuela, hingga Amerika Serikat. Sayangnya, ia tidak menyebut berapa target peningkatan produksi dan cadangan minyak dari aset-aset di luar negeri itu.

Namun pastinya, jumlahnya diharapkan meningkat dari total produksi saat ini sekitar 150 ribu barel. Sementara cadangannya mencapai 410 juta barel. “Kenapa ini penting dilakukan? Potensi produksi di dalam negeri belum cukup oleh karena itu Pertamina melakukan akuisisi di luar negeri dan membawa minyaknya ke dalam. Ini adalah bagaimana kita meningkatkan ketahanan dari sisi crude,” terangnya. Dari hasil peningkatan produksi di blok-blok migas yang ada, perusahaan minyak raksasa itu menargetkan kapasitas kilang juga bisa meningkat dari kisaran 1 juta barel per hari menjadi 1,8 juta barel per hari. Peningkatan ini akan dikejar melalui pengelolaan empat kilang, yaitu RDMP di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai serta satu kilang baru yang diintegrasikan dengan petrochemical di Tuban. “Ini untuk mencapai ketahanan penyediaan BBM? Ada beberapa program dengan peningkatan kapasitas kilang-kilang eksisting maupun yang baru,” jelasnya. Di sisi lain, Pertamina juga akan meningkatkan produksi energi campuran antara solar dan minyak nabati (FAME). Saat ini, perusahaan sudah berhasil mencampur 30 persen FAME ke solar atau dikenal dengan sebutan biodiesel 30 persen (B30). “Nanti akan diterapkan biorefinery yang bisa 100 persen menjadi biodiesel, hari ini sudah kita coba di Dumai 1000 barel per hari,”tuturnya. Targetnya, produksi B100 mencapai 3.000 barel per hari pada 2021. Lalu, naik lagi menjadi 6.000 barel per hari pada 2022 dan 20 ribu barel per hari pada 2023.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201006130302-85-554918/pertamina-akan-keruk-minyak-di-dalam-dan-luar-negeri

CNNIndonesia.com | Selasa, 6 Oktober 2020

Harga Biosolar Ekspor Pertamina Lebih Murah Ketimbang di RI

PT Pertamina (Persero) mengakui harga produk minyak solar atau biosolar jenis high speed diesel (HSD) yang diekspor lebih murah ketimbang yang dijual di dalam negeri. Alasannya, jumlah solar berlebih di tengah rendahnya permintaan solar di masa pandemi virus corona. Direktur Utama PT Kilang Pertamina International (KPI) Ignatius Tallulembang menjelaskan pihaknya mengoperasikan kilang pada kapasitas minimal selama pandemi, yaitu 75 persen. Kendati sudah beroperasi dengan kapasitas minimal, jumlah solar yang dihasilkan masih berlebih. “Selama masa pandemi konsumsi masyarakat memang rendah, sehingga penampungan kami tidak mampu lagi,” kata Ignatius dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (5/10). Dengan situasi itu, Pertamina dihadapkan pada dua pilihan yakni menyetop produksi unit atau cari alternatif dengan memasarkan hasil produksi. Di sini, perusahaan memilih tetap memasarkan karena tak bisa menyetop produksi unit. “Setop tidak hanya solar saja, tapi juga yang lain, seperti gasoline, LPG, kasus kemarin tidak ada pilihan,” imbuh dia. Oleh karena itu, ekspor perlu dilakukan. Ignatius bilang jumlah yang dijual terbatas, yakni 1 kargo dengan volume 30 ribu kiloliter (KL). “Ini untuk menghindari setop operasi kilang,” tegasnya. Sebelumnya, Pertamina Refinery Unit V Balikpapan mengekspor produk High Speed Diesel (HSD) 50 PPM Sulphur ke negeri jiran Malaysia. Ekspor perdana sebesar 200 ribu barrels atau setara dengan 31.800 KL ini senilai US$9,5 juta. Mengutip Antara, General Manager Refinery Unit V Balikpapan Eko Sunarno menyebut ekspor merupakan salah satu jawaban dari tantangan yang dihadapi Pertamina selama pandemi virus corona. Eko mengungkapkan bahwa produk ini merupakan hasil dari fraksi diesel di Unit Secondary Kilang RU V Balikpapan yang memiliki kualitas Sulphur 50 ppm atau setara dengan produk diesel standard Euro 4. Ini merupakan bahan bakar mesin diesel terbaru yang pernah diproduksi kilang RU V.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201005203847-85-554687/harga-biosolar-ekspor-pertamina-lebih-murah-ketimbang-di-ri

Leave a Reply

Your email address will not be published.