Wamendag Optimis RI Menangi Gugatan Biodiesel Sawit di WTO

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020

Wamendag Optimis RI Menangi Gugatan Biodiesel Sawit di WTO

Kelapa sawit diakui sebagai adalah komoditas yang sangat strategis bagi Indonesia. Dalam perspektif perdagangan luar negeri , sawit memberikan kontribusi signifikan bagi ekspor Indonesia. Pada tahun 2019, ekspor kelapa sawit, crude palm oil (CPO) dan produk turunannya mencapai USD21,79 miliar atau menyumbang sebesar 12,1% terhadap total ekspor non-migas, atau sebesar 11,2% terhadap total ekspor Indonesia. Tahun ini, kontribusi sawit meningkat dimana sepanjang periode Januari–September 2020, ekspor kelapa sawit, CPO dan turunannya mencapai USD14,05 miliar atau ber kontribusi terhadap ekspor nonmigas sebesar 12,63%. Sawit juga merupakan sektor padat karya (labor intensive) sehingga membantu menciptakan banyak lapangan kerja. Saat ini, industri sawit menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 5,3 juta orang atau sejumlah 21,2 juta anggota keluarga yang hidup dari sawit. Namun, peran besar sawit Indonesia selama ini sering mendapatkan kampanye negatif di luar negeri. Oleh karena itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menegaskan pentingnya untuk terus berkampanye positif mengenai industri sawit. “Informasi mengenai sawit tidak berimbang, lebih banyak dibentuk oleh kampanye negatif. Ada beberapa hal yang tidak pas atau tidak mencerminkan realita dan peluang besar sawit itu sendiri. Karena itu, kami bertekad untuk terus lanjutkan kampanye positif agar informasi mengenai sawit lebih berimbang dan sawit tetap berperan sebagai industri strategis Indonesia,” kata Jerry dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/12/2020). Saat ini Indonesia tengah menghadapi gugatan biodiesel sawit dari Uni Eropa di WTO. Wamendag Jerry memimpin tim perundingan beberapa waktu lalu di Jenewa. Jerry juga memimpin tim untuk melakukan pembicaraan intensif baik dengan parlemen Uni Eropa (UE) maupun negara-negara strategis di Eropa.

Saat ini perkara sudah mulai masuk dalam tahap pembentukan panel. Melihat jalannya perkara di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jerry sangat optimis Indonesia menang. “Landasan gugatan Uni Eropa tak kuat. Itu sudah kita uji dalam sidang konsultasi Januari lalu. Jadi optimis kita akan menang di tingkat panel,” tandasnya. Jerry menjelaskan, isu sentral yang sering dialamatkan ke industri sawit adalah isu lingkungan. Padahal, faktanya, sawit adalah industri minyak nabati yang paling efisien dibandingkan minyak nabati lainnya. Sebagai perbandingan, dari sisi penggunaan lahan, 1 hektare (ha) sawit sama dengan 5-6 ha bunga matahari yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak nabati di Eropa. Selain itu, Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menjaga hutannya. Banyak negara Eropa yang saat ini tinggal mempunyai tutupan hutan sebesar 11%, sementara Indonesia jauh lebih besar dari itu. Menurut Jerry, komitmen lingkungan Indonesia juga terus diperbaharui dalam industri sawit. Indonesia punya standardisasi ISPO dan RSPO. Indonesia juga terus memenuhi standardisasi lingkungan di negara-negara tujuan. Dampak positif bagi lingkungan dari kelapa sawit juga ada dalam peluang pengembangan energi hijau. Saat ini Indonesia tengah menjalankan program penggunaan biodiesel secara bertahap mulai dari B20, B30, hingga mencapai biodiesel secara keseluruhan (100%). Dengan begitu diharapkan terjadi alih sumber energi secara massif dari energi tak terbarukan menjadi energi yang terbarukan. “Fakta-fakta itu harus diinformasikan secara baik ke publik sehingga perspektif publik menjadi makin positif. Dan itu harus dilakukan secara massif ke berbagai segmen, baik pembuat kebijakan, kelompok pejuang lingkungan dan dunia pendidikan,” tandasnya.

https://ekbis.sindonews.com/read/261588/34/wamendag-optimis-ri-menangi-gugatan-biodiesel-sawit-di-wto-1607465555?showpage=all

Okezone.com | Rabu, 9 Desember 2020

B30 Kurangi Defisit Neraca Dagang Sektor Migas dan Impor Solar

Kelapa sawit di Indonesia turut berkontribusi menjadikan Indonesia sebagai produsen Biodiesel atau energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Biodiesel dengan bahan baku berasal dari minyak sawit merupakan hasil pencampuran dengan minyak solar yang menghasilkan B30. Plt. Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, sejak Januari 2020, B30 telah menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam pemanfaatan campuran Biodiesel dalam BBM Solar terbesar di dunia “(B30) menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam pemanfaatan campuran Biodiesel dalam BBM Solar terbesar di dunia yang mengurangi ketergantungan negara kita asal impor minyak solar sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan sektor migas,” ujar Edi dalam Webinar bertajuk Prospek Bisnis Vitamin A & E Berbasis Minyak Kelapa Sawit, Rabu (9/12/2020). Selain itu, Edi menyebut, produk kelapa sawit turut mewarnai kehidupan sehari hari masyarakat Indonesia, dari mulai yang paling familiar minyak goreng dari sawit. Adapun produk turunan minyak sawit lebih luas lagi, seperti dalam produk sabun, shampoo, deterjen, lipstik, produk kosmetik, personal care, juga roti, cokelat, biskuit, krimer, margarin, susu formula bayi termasuk vitamin A dan E. “Penggunaan minyak sawit dan turunannya yang merupakan minyak nabati dengan produktivitas tertinggi menjadikan produk dapat digunakan oleh segenap kalangan masyarakat dengan harga relatif terjangkau,” kata dia. Edi menyampaikan, salah satu program yang dijalankan BPDPKS terkait program pendanaan penelitian dan pengembangan adalah dengan mendukung pendanaan untuk riset dan sekaligus dapat digunakan untuk melawan kampanye hitam kelapa sawit, diantaranya terkait dengan peningkatan aspek sustainability dan kesehatan. Adapun riset yang telah didanai BPDPKS adalah mitigasi isu kandungan 3-MPCD dan glycidol esters pada minyak sawit dan pengembangan proses produksi vitamin E dan Magnesium. “Riset-riset yang telah dilakukan ini diharapkan dapat dimanfaatkan seluruh stakeholder, baik perusahaan, pemerintah, masyarakat dan media untuk pengembangan dan menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit,” ucapnya.

https://economy.okezone.com/read/2020/12/09/320/2324541/b30-kurangi-defisit-neraca-dagang-sektor-migas-dan-impor-solar

Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020

Kelapa Sawit Tidak Hanya Bermanfaat untuk Campuran Biodiesel, Cek Faedah Lainnya!

Selain untuk campuran dalam biodiesel atau B30 , ternyata minyak kelapa sawit bisa bermanfaat untuk yang lainnya. Dalam dunia farmasi, kegunaan minyak kelapa sawit menarik untuk bahan penelitian. Kepala PUI-PT Nutrasetikal-Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB Elfahmi mengatakan kandungan kelapa sawit bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku obat suplemen makanan yang saat ini mayoritas masih diimpor. “Ini jadi tugas kita mengimplementasikannya karena prospeknya luar biasa. Karena selama ini sawit itu hanya digunakan minyaknya saja, tapi banyak kandungan yang bisa dieksplore,” ujar Elfahmi dalam Webinar bertajuk Prospek Bisnis Vitamin A & E Berbasis Minyak Kelapa Sawit, Rabu (9/12/2020). Dalam dunia farmasi, Elfahmi menjelaskan, senyawa murni dari vitamin A dan E, dari mana pun sumbernya memiliki efek yang sama, termasuk yang terdapat dalam kandungan kelapa sawit. “Kalau tidak dalam bentuk murni ini juga bisa dalam bentuk ekstrak kasar dan bisa dimasukkan dalam obat herbal. Ini peluang yang luar biasa lebar. Kesulitan kita adalah bahan baku yang kita produksi ada sertifikat analisis mengikuti high grade,” kata dia. Elfahmi menuturkan, vitamin A dan E merupakan sumber nutrisi dan mempunyai khasiat untuk aktivitas lain. Adapun vitamin A dan E sumbernya paling bagus dari minyak kelapa sawit dibanding minyak lainnya. Jadi, senyawa kimia dari daun, ampas dan lainnya bisa dimanfaatkan. “Saya ingin garis bawahi di sini, penelitian tentang vitamin A dan E terus berkembang dengan sangat cepat pada berbagai aspek. Minyak kelapa sawit sebagai sumber dengan kadar vitamin A dan E sangat tinggi mempunyai keunggulan dan pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial,” ucapnya. “Penggunaan senyawa murni vitamin A dan E, apapun sumbernya mempunyai sifat dan efek farmalogi yang sama. Penggunaan dalam bentuk material kasar merupakan nilai tambah bagi minyak kelapa sawit karena mengandung beberapa kandungan lain yang bisa memberikan efek farmalogis secara sinergis,” sambungnya.

https://ekbis.sindonews.com/read/262230/34/kelapa-sawit-tidak-hanya-bermanfaat-untuk-campuran-biodiesel-cek-faedah-lainnya-1607501557

Bisnis.com | Rabu, 9 Desember 2020

Ekonom Faisal Basri Kritik Pengembangan DME dan Biodiesel

Ekonom Senior Faisal Basri menilai kebijakan pengembangan dymethil ether (DME) dan biodiesel untuk menekan subsidi bukanlah langkah yang tepat. Menurutnya, pengembangan DME sebagai subtitusi LPG saat ini belum ekonomis dan harganya akan lebih mahal daripada LPG. Dengan demikian, penggunaan bahan bakar yang diolah dari batu bara tersebut sebagai subtitusi LPG berpotensi menimbulkan beban subsidi baru. “Ini tidak mungkin memproses batu bara jadi DME dapat bersaing dengan gas alam. Tuhan menganugerahi kita gas alam yang murah dan Anda mencoba hal yang berbeda dengan membuat proses yang lebih lama dan lebih mahal demi menghemat anggaran subsidi LPG,” katanya dalam webinar Indonesia Energy Transition Dialogue 2020, Rabu (9/12/2020). Di sisi lain, kebijakan mandatori campuran 30 persen biodiesel (FAME/fatty acid methyl ester) dalam minyak solar atau B30 juga dinilai kurang tepat. Berdasarkan studinya, biaya untuk impor solar lebih rendah dari opportunity cost menggunakan FAME. Pengembangan B30 yang diharapkan dapat menekan impor solar justru berdampak negatif terhadap neraca perdagangan. “Kita mau perbaiki neraca perdagangan atau current acount balance kita tapi nyatanya berkontribusi ke defisit, kalau tidak salah US$ 5 miliar,” ujar Faisal. Dia menambahkan, kebijakan pengembangan biodiesel juga bertentangan dengan kebijakan moratoriu pembukaan lahan perkebunan. Pasalnya, bila B30 terus dikembangkan, setidaknya dibutuhkan tambahan lahan sekitar 6-7 juta hektar lahan untuk biofuel pada 2025. “Ini bukan langkah yang tepat untuk transisi energi, transisi dari yang buruk ke yang lebih buruk,” katanya.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20201209/44/1328727/ekonom-faisal-basri-kritik-pengembangan-dme-dan-biodiesel

Antaranews.com | Selasa, 8 Desember 2020

Kadin Aceh dorong peningkatan campuran CPO untuk biodiesel

Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh mendorong peningkatan campuran “crude palm oli” (CPO) ke biodiesel, sehingga bisa menyerap produksi minyak sawit mentah dalam negeri.  “Kami terus mendorong campuran CPO dalam biodiesel terus ditingkatkan hingga 50 persen. Peningkatan ini akan berdampak pada serapan produksi CPO,” kata Ketua Kadin Aceh Makmur Budiman di Banda Aceh, Selasa. Saat ini, kata Makmur Budiman, campuran CPO untuk biodiesel masih berkisar 20 hingga 30 persen. Kadin Aceh mendorong agar campurannya bisa mencapai 50 persen. Dengan campuran 50 persen tersebut, kata Makmur Budiman, maka bisa menyerap semua CPO produksi dalam negeri, sehingga tidak tergantung dengan pasar luar negeri. “Jika ini terealisasi, maka pasar CPO Indonesia tidak lagi tergantung dengan pasar luar negeri. Dan ini tentu menguntungkan petani karena harga sawit bisa ditingkatkan,” kata Makmur Budiman. Selain mendorong peningkatan campuran CPO dalam biodiesel, Makmur Budiman juga mengajak kalangan pengusaha di Aceh berinvestasi membangun pabrik pengolahan CPO menjadi minyak goreng serta produk lainnya. Tujuannya, kata Makmur Budiman, agar Aceh tidak lagi menjual minyak mentah sawit, tetapi dalam bentuk pengolahan, sehingga meningkatkan nilai jualnya. “Kalau yang dijual CPO ke luar Aceh, kita beli lagi dalam bentuk sabun, minyak goreng, dan lainnya. Dan ini tentu menimbulkan biaya lebih besar, terutama biaya transportasi,” kata Makmur Budiman. Kalau pabrik pengolahannya ada di Aceh, kata Makmur Budiman, biaya transportasi bisa digeser untuk peningkatan harga sawit dan yang diuntungkan adalah petani. “Biaya transportasi mengangkut CPO ke luar Aceh hampir Rp300 miliar per tahun, jika ada pabrik pengolahan CPO, biaya transportasi CPO bisa digeser untuk petani, sehingga kesejahteraannya bisa meningkatkan,” kata Makmur Budiman.

https://aceh.antaranews.com/berita/181592/kadin-aceh-dorong-peningkatan-campuran-cpo-untuk-biodiesel

Medcom.id | Rabu, 9 Desember 2020

2021, Pemerintah Targetkan Penyaluran Biodiesel 9,2 Juta KL

Pemerintah menargetkan penyaluran biodiesel melalui program B30 pada tahun depan sebesar 9,2 juta kiloliter (kl). Pemerintah juga berkomitmen melanjutkan program B30 guna mendukung target bauran energi Indonesia sebesar 23 persen di 2025. “Program mandatory B30 yang telah dijalankan menciptakan instrumen pasar domestik sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam keterangan resminya, Rabu, 9 Desember 2020. Dengan terjaganya konsumsi biodiesel dalam negeri melalui program mandatory B30, diharapkan dapat menyerap produksi CPO minimal sekitar sembilan juta ton setiap tahunnya. Hal ini dinilai dapat menjaga keberlanjutan industri hulu sampai hilir. “Selain itu, diharapkan juga dapat menciptakan kestabilan harga CPO yang pada akhirnya akan memberikan dampak positif pada harga Tandan Buah Segar di tingkat petani,” jelas dia. Ia menambahkan dukungan pemerintah terhadap hilirisasi produk kelapa sawit juga terus dilakukan baik untuk sektor industri maupun pada skala kecil di tingkat petani. Dukungan pada sektor industri dilakukan dengan mendorong perkembangan industri oleokimia. “Sementara pada usaha skala kecil dilakukan melalui dukungan pembentukan Pabrik Kelapa Sawit Mini yang dikelola oleh Koperasi/Gabungan Kelompok Tani,” pungkasnya.

https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/zNA3Y1zk-hl-2021-pemerintah-targetkan-penyaluran-biodiesel-9-2-juta-kl

Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020

Gaes Yuks Bisnis Minyak Jelantah: Dapat Omzet Lumayan dan Jaga Lingkungan

Salah satu sumber energi alternatif yang belakangan ini mendapatkan banyak perhatian adalah fatty acid methyl ester (FAME) atau yang lazim dikenal sebagai biodiesel . Biodiesel ini dapat menggantikan bahan bakar solar tanpa modifikasi lebih lanjut, sehingga menjadikannya sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. Sejak 2018 biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit dijadikan mandatori oleh pemerintah dan saat ini implementasinya sudah sampai B30, dengan campuran FAME 30% dan solar 70%. Tak hanya dari kelapa sawit, FAME juga bisa dihasilkan dari minyak hewani, minyak nabati, bahkan minyak goreng bekas. Menilik potensinya, produk turunan minyak sawit, yaitu minyak goreng sawit bekas atau yang lebih dikenal dengan minyak jelantah pun menjadi salah satu opsi bisnis menjanjikan di masa depan. Staf Ahli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh Abdurrahman menyampaikan, pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel menjadi salah satu opsi yang baik sebagai bagian dari peningkatkan sirkular ekonomi, yaitu melakukan daur ulang pemanfataan sumber daya untuk terus menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. “Mengingat besarnya potensi minyak jelantah bisa menjadi potensi bisnis yang bagus termasuk bagi generasi muda di Indonesia,” ungkap Saleh di Jakarta, Rabu (9/12/2020). Kajian awal TNP2K dan Traction Energi Asia tentang Potensi Minyak Jelantah Untuk Biodiesel dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia (2020) mencatat bahwa pada tahun 2019, konsumsi minyak goreng sawit nasional mencapai 16,2 juta kilo liter (KL). Dari angka tersebut, rata-rata minyak jelantah yang dihasilkan berada pada kisaran 40-60% atau berada di kisaran 6,46-9,72 juta KL. Sayangnya minyak jelantah yang dapat dikumpulkan di Indonesia baru mencapai 3 juta KL atau hanya 18,5% dari total konsumsi minyak goreng sawit nasional.

Kajian tersebut menemukan bahwa hanya sebagian kecil minyak jelantah di Indonesia yang dimanfaatkan sebagai biodiesel. Dari tiga juta KL yang berhasil dikumpulkan, hanya sekitar 570 KL yang dikonversi untuk biodiesel dan kebutuhan lainnya, sementara sisanya sekitar 2,4 juta kilo liter digunakan untuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. TNP2K dan Traction Energy Asia menyebut, kondisi itu disebabkan belum adanya mekanisme pengumpulan minyak jelantah, baik dari restoran, hotel, maupun rumah tangga. Sebaran lokasi sumber minyak jelantah yang tidak simetris dengan lokasi pabrik pengolahan biodiesel, teknologi pengolahan (terutama yang dikelola oleh masyarakat) yang belum cukup efisien dan kualitas biodiesel hasil olahan minyak jelantah yang masih perlu diuji lebih jauh, menjadi tantangan selanjutnya. Padahal, pengolahan minyak jelantah untuk biodiesel, khususnya jika dilakukan oleh masyarakat, akan mendatangkan banyak manfaat baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan. Dari sisi ekonomi, Sardji Sarwan, pengelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di Tarakan Timur mengatakan bahwa omzet produksi biodiesel yang dihasilkan kelompoknya sudah mencapai Rp2 juta per hari dengan mempekerjakan sembilan karyawan yang bekerja empat jam per hari, dengan bayaran Rp2 juta per bulan per orang. Produk biodiesel yang dihasilkan bisa mencapai 180 liter per hari dan dijual dengan harga Rp11.000 per liter. Walaupun data yang ada memang menunjukkan bahwa biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak jelantah lebih besar daripada biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit, namun harga indeks produksi (HIP) minyak jelantah untuk biodiesel lebih rendah dibanding HIP minyak kelapa sawit karena faktor bahan baku. Dari sisi kesehatan, serapan minyak jelantah untuk produksi biodiesel bisa mengurangi alokasi penggunaan minyak jelantah yang didaur-ulang sebagai bahan masakan, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi risiko meningkatnya kadar HNE (zat beracun yang mudah diserap dalam makanan) pada makanan yang dapat mengakibatkan stroke, alzheimer dan parkinson. Dari sisi lingkungan, pengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel bisa berdampak positif terhadap pengurangan limbah B3. Mengolah kembali minyak jelantah berarti juga mengurangi pembuangan minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu ekosistem. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatnya kadar chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang mendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air tanah.

https://ekbis.sindonews.com/read/261790/34/gaes-yuks-bisnis-minyak-jelantah-dapat-omzet-lumayan-dan-jaga-lingkungan-1607483521

CNBCIndonesia.com | Rabu, 9 Desember 2020

Pertamina Targetkan 10 GW Pembangkit Energi Bersih pada 2026

PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Power Indonesia, Subholding Power & New, Renewable Energy, menargetkan memiliki pembangkit listrik energi bersih dengan kapasitas terpasang 10 ribu megawatt (MW) atau 10 gigawatt (GW) pada 2026. Untuk mewujudkan targetnya tersebut, Pertamina mengidentifikasi tiga tantangan utama yang perlu dicarikan solusinya bersama-sama seluruh pihak, yaitu komersialisasi, lahan dan pembiayaan investasi. Ernie D Ginting, Director of Strategic Planning and Business Development PPI, mengatakan Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan kontribusinya dalam mendukung Pemerintah mencapai target NRE dalam bauran energi. Pertama, pengembangan geothermal. Pertamina sebagai pengelola Wilayah Kerja Panas Bumi terbesar di Indonesia akan terus mengupayakan pengembangan geothermal melalui skema IPP (Independent Power Producer). Kedua, pengembangan PLTS. Pertamina juga akan membangun PLTS di area yang memiliki iradiasi matahari yang tinggi dan menjalin kemitraan untuk membangun solar cell manufacture. Menurut Ernie, salah satu isu dalam membangun PLTS adalah persyaratan TKDN sehingga rencana membangun solar cell manufacture, diharapkan akan menurunkan harga jual listrik dari PLTS dan meningkatkan TKDN tersebut. Ketiga, pengembangan biofuel. Pertamina juga mendukung pemerintah untuk memproduksi biodiesel, bahkan lebih dari B30 dan menuju B100 melalui green refinery dan CPO processing. “Kami juga akan membangun battery manufacturing dengan partnership bersama battery technology provider dan BUMN lain. Kami akan gunakan distribusi Pertamina yang sangat ekstensif ini untuk membangun battery swapping and charging infrastruktur mengingat ke depannya EV akan bertumbuh,” kata Ernie. Pertamina juga mengembangkan DME untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG, yang 70% di antaranya berasal dari impor. “Ini adalah beberapa inisiatif Pertamina untuk mendukung perkembangan NRE dan mencapai target bauran energi Pemerintah,” katanya.

Menurut Ernie, aksi strategis ini menunjukkan komitmen yang tinggi dari Pertamina, tidak hanya untuk mengambil bagian tetapi menjadi pemimpin dalam transisi energi di Indonesia. “Visi kami adalah memimpin transisi energi di Indonesia melalui inovasi energi bersih. Geothermal akan tetap menjadi salah satu pilar dari bisnis kami,” ujarnya. Inisiatif yang dilakukan Pertamina dalam pengembangan NRE merupakan jawaban atas pergerakan energi sejak pandemi Covid-19. Pada gelar Pertamina Energy Webinar 2020 tersebut, Hery Haerudin, Vice President Pertamina Energy Institute, memaparkan pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan kebutuhan energi sebesar 16% pada 2020 dan 3% pada 2050 dibanding proyeksi sebelum pandemi dan recovery kebutuhan energi paling cepat terjadi pada 2022. Energi terbarukan menjadi energi primer dengan tingkat kebutuhan paling tinggi dengan porsi mencapai 29% di skenario market driven dan 47% pada skenario green transition pada 2050. Pemanfaatan gas juga meningkat dengan porsi relatif stabil. Di sisi lain, penggunaan batu bara dan minyak mengalami penurunan karena transisi energi, “Untuk mencapai penurunan emisi sesuai skenario diperlukan EBT paling sedikit 16% pada 2030 yang didukung oleh disrupsi energi lainnya, seperti EV, biofuel, dan peningkatan pemanfaatan gas,” katanya. Mengingat salah satu tantangan pengembangan NRE adalah pembiayaan, dipandang perlu bagi perusahaan di sektor minyak dan gas bumi untuk melakukan transisi energi yang lebih memperhatikan dampak lingkungan, sosial dan tata kelola (Environment, Social and Governance/ESG). Sementara itu, di tengah meningkatnya tuntutan pasar keuangan terhadap credit rating terkait dengan ESG, Moody’s memasukkan penilaian ESG ke dalam profil perusahaan-perusahaan. Moody’s Investors Service, menilai perusahaan-perusahaan oil dan gas ke dalam peringkat moderate risk dalam Environment dan Social scorecard. Moody’s melakukan penilaian credit rating terhadap 11 sektor yang terdampak oleh risiko lingkungan, di mana sektor batu bara menjadi sektor yang dianggap berisiko paling tinggi. Untuk sektor yang termasuk ke dalam profil risiko moderat untuk kategori lingkungan dan sosial, Moody’s menilai perusahaan perlu melakukan mitigasi risiko lingkungan dan sosial ini. Hui Ting Sim, Analyst Corporate Finance Group dari Moody’s Investors Service, mengatakan sektor migas terdampak dengan carbon transition risk. “Penting bagi perusahaan mengambil tindakan untuk memitigasi risiko dampak lingkungan agar memperbaiki credit rating score,” katanya. Hui Ting menyatakan ada beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan migas untuk memperbaiki credit rating score mereka, di antaranya adalah mendiversifikasi usaha dan menanggulangi risiko transisi energi. “Jika perusahaan tidak melakukan apa-apa, skor risiko lingkungan mereka akan menjadi negative,” katanya.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201209120756-4-207877/pertamina-targetkan-10-gw-pembangkit-energi-bersih-pada-2026

Leave a Reply

Your email address will not be published.