+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Tanggapan Pengusaha Soal Rencana B50 di 2020

Riau Pembaruan | Senin, 16 September 2019 Tanggapan Pengusaha Soal Rencana B50 di 2020 Program B50 yang direncanakan pemerintah jika diterapkan akan memberikan sejumlah manfaat. Ketergantungan impor BBM bakal berkurang, bahkan memungkinkan Indonesia menjadi negara eksportir produk renewable ini. Menyikapi rencana program B50, Himpunan Pengusaha Kosgoro DKI Jakarta menggelar seminar bertajuk "Indonesia menuju B50 Kelapa Sawit". Seminar dihadiri Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 Agung Laksono, Ketua PDK Kosgoro 1957 Slamet Riyadi, Ketua Harian APROBI Paulus Tjakrawan, Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono dan Rektor IBI Kosgoro 1957 Haswan Yunaz dan Ketua Himpunan Pengusaha Kosgoro 1957 DKI Jakarta, Syafi Djohan. Pada kesempatan itu, Syafi Djohan mengatakan, Indonesia diuntungkan karena memiliki produk renewable dan efisien yaitu sawit yang dapat menjadi potensi kepada Indonesia sebagai energy exportir. "Saat ini, hampir semua negara memiliki ketergantungan kepada minyak fossil fuel yang kita semua ketahui sebagai non-renewable dan juga merugikan kepada lingkungan. Ini adalah momen yang tepat untuk Indonesia menjadi negara yang energy independent melalui sawit," kata Syafi Djohan dalam keterangan tertulis kepada CNBC Indonesia, Minggu (15/9/2019). Syafi menilai pemerintah perlu mengambil langkah untuk melindungi industri sawit di mana kehidupan 20 juta orang bergantung pada industri ini. Sawit saat ini juga dihadapkan pada tekanan negara-negara Barat yang diskriminatif menyikapi produk unggulan Indonesia ini. Karena itu, ia menganggap investasi dari dalam negeri perlu diperhatikan untuk pengembangan masa depan sawit. "Saya berharap pemerintah bisa melindungi industri andalan kita dan juga mengambil langkah-langkah konkret untuk terus memajukan industri ini," katanya. Ia mengatakan dengan menerapkan program B50, Indonesia bisa menghemat US$15…

Read More

Sawit Tingkatkan Elektrifikasi Kalimantan Barat

Harian Seputar Indonesia | Senin, 16 September 2019 Sawit Tingkatkan Elektrifikasi Kalimantan Barat Komoditas sawit diyakini bisa meningkatkan elektrifikasi di Kalimantan Barat (Kalbar). Hal ini mengingat Kalbar merupakan penghasil sawit yang bisa dijadikan biofuel sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun biomassa. "Biomassa dihasilkan dari tangkos, cangkang, pelepah, dan batang sawit. Kami sudah melakukan penelitian dan berhasil," kata Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Gusti Hardiansyah ketika menjadi pembicara di Seminar \'Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi\' di Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), pekan lalu. Hardiansyah mengatakan, pembangkit listrik biomassa ini bisa menjadi solusi untuk meningkatkan elektrifikasi, terutama di desa-desa sekitar kebun sawit. Manfaat listrik desa dari biomassa sawit ini bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi dah pembangunan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan kebun sawit maupun hutan dan wilayah pedalaman. Manfaat lainnya, kata Hardiansyah, mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (fosil) untuk pembangkit listrik. "Selain itu, juga mereduksi potensi emisi gas rumah kaca dari sektor pembangkit listrik," katanya. Data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalbar menyebutkan, dari 2.130 desa/kelurahan, ter -diri atas desa berlistrik dari PLN sebanyak 1.451 (68%), desa berlistrik non-PLN sebanyak 225(ll%),dan sisanya 454 desa (21%) belum teraliri listrik. Diketahui, total luas kebun sawit di Kalbar seluas 1.455.182 hektare (ha) atau berada di urutan ketiga secara nasional di bawah Provinsi Riau seluas 2.430.508 ha dan Sumatera Utara (Sumut) 1.445.725 ha. Kalbar memiliki 70 pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan total produksi minyak sawit mentah (crude Palm Oil /CPO) tiap tahunnya sekitar 3,396 juta ton. "Kalbar memberikan kontribusi sekitar…

Read More

Kemendag Sarankan Importir Jangan Beli Susu Dari Eropa

Rakyat Merdeka | Jum’at, 13 September 2019 Kemendag Sarankan Importir Jangan Beli Susu Dari Eropa Pengenaan bea masuk sebesar 20-25 persen terhadap produk susu dan turunan (dairy product) Uni Eropa belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Namun, pemerintah akan mengirimkan nota keberatan dan protes kepada Uni Eropa dengan menunjuk kuasa hukum (law firm). Penunjukan kuasa hukum untuk melawan diskriminasi sawit dan biodiesel dari Uni Eropa atas produk biodiesel Indonesia yang dikenakan bea masuk sebesar 8-18 persen. Menteri Perdagangan (Men-dag) Enggartiasto Lukita mengatakan, butuh proses yang panjang sebelum kebijakan tersebut diterapkan. "Saat ini belum ada tindak lanjut. Tapi, akan kita lihatlah soal pengenaan bea masuk dairy product," kata Enggar di Gedung DPR, Jakarta, kemarin. Pemerintah, lanjut Enggar, juga perlu mengumpulkan para importir produk olahan susu Eropa terlebih dahulu. Namun, ia menyarankan lebih baik para importir mencari sumber impor produk olahan susu selain dari Eropa. "Para importir ini sama dengan kita punya semangat nasionalisme tinggi. Akan kita aturlah pertemuannya. Kalau bisa jangan pakai dairy product dari sana (Eropa). Kan banyak produk sejenis yang dari Amerika, kualitasnya bagus," ujar Enggar. Menanggapi pernyataan Uni Eropa terkait pengenaan tarif 20-25 persen produk olahan susunya dapat merusak perekonomian Indonesia, menurut Enggar, hal tersebut akan berlaku sama di Eropa apabila mereka mengenakan tarif 8-18 persen terhadap biodiesel Indonesia. "Ya dikenakan 8-18 persen (biodiesel Indonesia) apa tidak merusak ekonomi Eropa?" tegas Enggar. Selain menyiapkan aksi balasan terhadap diskriminasi Uni Eropa terhadap sawit RI, pemerintah tengah menyiapkan perlawanan melalui jalur hukum perdagangan internasional. Sekretaris Jenderal Kemendag Oke Nurwan mengatakan,…

Read More

TBLA Ketiban Berkah Beleid Biodiesel

Harian Kontan | Kamis, 12 September 2019 TBLA Ketiban Berkah Beleid Biodiesel Tak seperti emiten minyak sawit mentah atau crudepalm oil (CPO) lainnya, kinerja PT Tunas Baru Lampung Tbk di tahun ini cukup mentereng. Lihat saja, perusahaan dengan kode emiten TBLA ini berhasil mencetak kenaikan laba bersih di semester 1-2019 lalu. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih TBLA naik 2,74% menjadi Rp 359,13 miliar di paruh pertama 2019 ini. Di periode yang saham tahun lalu, laba bersih perusahaan ini tercatat sebesar Rp 349,56 miliar. Kenaikan laba bersih ini ditopang laju pendapatan yang juga cukup kencang. Hingga akhir Juni lalu, pendapatan TBLA tumbuh 3% dari Rp 4 triliun di Juni 2018 menjadi Rp 4,12 triliun. Padahal di enam bulan pertama 2019, harga CPO global sedang dalaVn tekanan akibat rendahnya permintaan. Di saat yang sama, produksi CPO justru naik. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad\'Nafan Aji mengatakan, kinerja TBLA di paruh kedua tahun ini bakal lebih kinclong. Mengingat, kini harga CPO sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Harga CPO menguat usai China mengenakan bea masuk pada produk pertanian asal Amerika Serikat (AS), salah satunya adalah minyak kedelai. CPO yang merupakan substitusi dari minyak kedelai ketiban berkah. Nafan menilai, dari dalam negeri, CPO juga mendapat dorongan positif dari penerapan program biodisel. "Demand meningkat dari kebutuhan domestik terkait penerapan B20," ujar Nafan. TBLA memang menjadi salah satu perusahaan CPO yang diuntungkan kebijakan biodisel tersebut. Implementasi B20 ini menuntut TBLA menambah produksi biodiesel. "Ini dalam rangka untuk mencari profit gain juga," terang Nafan. Bisnis gula Selain masa depan CPO…

Read More