+62 2129380882 office@aprobi.co.id

Penggunaan biodiesel Dipacu

Bisnis Indonesia | Selasa, 21 Mei 2019 Penggunaan biodiesel Dipacu Pemerintah terus mendorong produksi dan penggunaan balian bakar nabati untuk mengurangi impor bahan bakar minyak. Adapun, pelaku usaha berharap penggunaan campuran biodiesel sesuai dengan standar emisi Euro 4 yang bakal berlaku pada 2021. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, Kemen-perin berusaha mendongkrak kontribusi industri nonmigas dengan mendorong produksi bahan bakar yang masih ketergantungan pada impor, di antaranya memproduksi green fuel seperti biodiesel B20 dan B30. "Sekarang pemerintah memiti-gasinya dari sektor industri adalah penggunaan biofuel, bahkan pemerintah akan mendorong penggunaan green fuel, green diesel, green gasoline, dan green avtur. Tetapi berproduksi itu membutuhkan waktu," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/5). Airlangga menjelaskan, salah satu sumber minyak nabati atau metil ester adalah minyak Kelapa Sawit {palm oil). Dari sisi bahan baku, penggunaan biofuel sangat memungkinkan, karena beberapa Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia. "Kami juga sudah meminta pada pelaku usaha agar mendukung penuh penggunaan biodiesel bisa dijalankan," ujarnya. Selain biodiesel, Airlangga memaparkan, pengembangan kendaraan listrik juga akan mengurangi ketergantungan pada pemakaian BBM serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Hal ini bakal berpotensi menghemat devisa sekitar Rp789 triliun. Adapun, untuk sektor otomotif melalui program LCEV pemerintah mencanangkan tiga sub program yakni low cost green car (LCGC), kendaraan listrik, dan flexy engine. Ditemui di Tangerang, Director Sales and Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Duljatmono mengatakan, kendaraan Mitsubishi Fuso siap untuk menerapkan stadar emisi Euro 4. Dari sisi bahan bakar diharapkan pemerintah menyediakan bahan bakar yang sesuai dengan Euro 4 yang akan berlaku…

Read More

Ekspor Minyak Sawit Ditargetkan Naik 3,4%

Harian Seputar Indonesia| Senin, 20 Mei 2019 Ekspor Minyak Sawit Ditargetkan Naik 3,4% Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memproyeksi ekspor komoditi sawit Indonesia (termasuk di dalamnya crude palm 0i7/CPO dan turunannya, biodiesel dan produk oleokimia) tahun ini hanya akan tumbuh 3,4%. Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga mengatakan, pihaknya merevisi proyeksi pertumbuhan ekspor yang sebelumnya dipatok 5,7% di awal tahun akibat kinerja mengecewakan sejauh ini. "Hingga Juni, penjualan jauh dari harapan. Kalau ada perbaikan di regulasi pada semester II, baru kita bisa meningkat. Proyeksi ekspor semester I hanya tumbuh di CPO, tapi produk hilir di refinery menurun. Secara keseluruhan steady, segitu-segitu saja," kata Sahat di Jakarta, pekan lalu. Data GIMNI menunjukkan, ekspor seluruh produk sawit Indonesia pada semester 1/2019 ini diproyeksikan sebesar 17,35 juta ton, dengan ekspor CPO sebesar 5,07 juta ton dan produk hilir olahan sawit sebesar 12,28 juta ton. Total ekspor ini turun 5,34% dibandingkan semester I tahun lalu (year-on-year/yoy). Adapun konsumsi domestik hingga tengah tahun ini diperkirakan mencapai 8,73 juta ton terdiri atas 5,08 juta ton untuk produk olahan pangan, 496.000 ton untuk produk olahan oleokimia, 3,14 juta ton untuk biodiesel (fatty acid methyl ester /F\'AME), dan 14.000 ton produksigreendiesel. Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat mengungkapkan .total volume ekspor oleochemkal hingga ku-artalI/2019 mencapai 664.000 ton. Jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode -sama tahun lalu tercatat 619.000 ton. Kendati secara volume ekspor mengalami peningkatan, namun nilai ekspor produk oleochemical pada kuartal 1/2019 mengalami penurunan. Jika pada kuartall/2018 nilai ekspor-nya USD648 juta, sementara…

Read More

Minyak Sawit Indonesia Berpotensi Tergerus

Bisnis Indonesia | Jum’at, 17 Mei 2019 Minyak Sawit Indonesia Berpotensi Tergerus Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) menilai bahwa perang dagang akan menggerus kinerja kelapa sawit, sedangkan biodiesel belum tentu bisa jadi tumpuan. Dewan Pembina Perhepi Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa perang dagang antara China dan Amerika Serikat berisiko ikut memengaruhi harga dan pasar Kelapa Sawit pada tahun ini. Hal itu mulai terlihat dari harga kedelai yang sudah turun dari USS380 per ton menjadi US$318 per ton. "Itu sudah pada harga pada tingkat petani, bukan kedelai stok. Apalagi tambah dengan yang baru panen kemarin. Sektor kedelai AS menderita maka harga kedelai dunia ikut jatuh. Karena harga minyak kedelai jatuh, tekanan harga pada minyak sawit akan terus berlanjut," katanya, Rabu (16/5). AS menjadi salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Salah satu pasar terbesar kedelai AS adalah China. Menurutnya, masih ada kemungkinan volume ekspor minyak sawit akan terus naik. Namun, tidak disertai dengan peningkatan nilainya seperti tahun lalu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor minyak Kelapa Sawit {crude palm oil/CPO) pada tahun lalu sebesar US$17,9 miliar, turun 12,02% dibandingkan dengan 2017 sebesar US$20,34 miliar. "Kalau [perang dagang AS-China] terus berlangsung yang merasakan paling berat adalah harga buah, petani akan rasakan dampak terberat Sebagian pelaku usaha mereka akan ambil profit dari produk hilir, makanya minyak goreng tidak turun harganya," imbuhnya. Bayu menyarankan agar pemerintah dan industri mencari cara untuk meningkatan pemanfaatan CPO di dalam negeri sehingga tidak hanya bergantung pada pasar ekspor. Pemanfaatan Dahan bakar nabati, menurutnya, sudah bagus, tetapi itu…

Read More

Pemerintah Susun Roadmap Pengembangan BI00

Investor Daily Indonesia | Kamis, 16 Mei 2019 Pemerintah Susun Roadmap Pengembangan BI00 Pemerintah sedang menyusun peta jalan (roadmap) biodiesel 100% (B100) yang ditargetkan rampung paling lambat pada Juli mendatang. B100 merupakan bahan bakar nabati yang berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO). Jenis bahan bakar ini akan menggantikan bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar yang berdampak positif dalam mengurangi impor. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM EX. Sutijastoto mengatakan penyusunan roadmap ini dilakukan agar pengembangan B100 masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) lima tahun ke depan. "Rencananya sebulan dua bulan roadmap selesai supaya masuk RPJMN Bappenas," kata Sutjiastoto di Jakarta, Rabu (15/5). Sutijastoto menuturkan dalam roadmap itu memuat mengenai kilang minyak yang akan mengolah CPO. Saat ini Pertamina sedang menguji coba kilang eksisting untuk menghasilkan B100. Selain itu ada usulan agar perusahaan sawit didorong untuk membangun kilang. Namun dia belum bisa memastikan kisaran harga B100 tersebut lantaran formulanya masih disusun. "Apakah nanti ada semacam DMO (domestic market obligation) atau yang lain. Yang jelas semangatnya harga sawit tetap terjamin," ujarnya. Dikatakannya roadmap bukan hanya terkait pembangunan kilang saja. Melainkan memuat keterlibatan masyarakat dalam memasok CPO ke kilang tersebut. Dia menyebut ada rencana hasil petani Kelapa Sawit didorong sebagai pemasok kilang. Dengan begitu diharap- kan harga sawit stabil. Namun dia belum bisa membeberkan lebih lanjut rencana tersebut. "Ini semua sedang dibuat road-mapnya," katanya. Pemerintah berkomitmen meningkatkan pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar alternatif. Bahkan, CPO nantinya tak sebatas diolah menjadi solar hijau, tetapi…

Read More